
"Thanks for everything !" bisik Kyara seraya memeluk erat suaminya.
Bagas pun membalas pelukan Kyara.
"Sayang, apa kau ingin melihat kamarnya ?" tanya Bagas.
Kyara mengangguk.
Bagas kemudian menggandeng tangan Kyara dan membawanya pergi ke lantai 2. Tiba di sana, mereka memasuki kamar yang ukurannya lebih besar dari kamar di apartemennya. Ada banyak cermin di dalam kamar itu. Bahkan dinding di sekitar balkon samping dan depannya terbuat dari kaca.
saat Kyara membuka tirai samping, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah taman yang dipenuhi oleh bunga berwarna-warni. Sedangkan kaca depan kamarnya menghadap ke kolam renang yang terdapat di belakang rumahnya. Bahkan dari balkon depan terdapat tangga yang langsung terhubung ke area kolam.
"Apa kau suka ?" tanya Bagas seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Ya, aku suka kakang ! Terima kasih, ini indah sekali." bisik Kyara seraya membelai lembut wajah suaminya.
"Oh iya, aku sengaja membuat tangga di balkon ini yang langsung terhubung ke kolam. Nanti jika kau ingin berenang, kau tidak harus melewati tangga rumah."
"Ish, kakang ! Apa kau lupa kalau aku ini tidak bisa berenang ?"
"Tidak, aku tidak lupa sayang ! Nanti, setiap 2 hari sekali, aku akan mengajarimu berenang. Apa kau setuju ?"
"Tidak...!" ujar Kyara menjawab secepat kilat.
"Kau kenapa ? Berenang itu aktivitas yang sangat menyenangkan.
"Kakang, aku pernah mengalami trauma tentang berenang. Jadi aku mohon jangan paksa aku, oke !" ujar Kyara seraya mengatupkan kedua tangannya.
Bagas pun memegang tangan Kyara.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu ! Kita lakukan setelah kau siap !" ujar Bagas.
Kyara kembali mengangguk.
"Kakang, kapan kita akan pindah kemari ?"
"Kenapa ? Apa kau ingin segera menempatinya ?"
Kembali Kyara mengangguk.
"Kau tidak suka kita tinggal di apartemen ?"
"Bukan begitu kakang, aku ini cuman gadis kampung. Rasanya aneh aja harus tinggal di apartemen. Apalagi kalau kakang lembur, sepi banget. Tapi kalau kita tinggal di wilayah perumahan, aku kan bisa bersosialisasi dengan tetangga." rengut Kyara.
"Aku mengerti sayang. Tidak usah khawatir, hari ini kau bisa tempati kamar ini !" ujar Bagas seraya membalikkan badannya dan terlentang di atas kasur.
"Barang-barang kita ? Pakaian kita ?" tanya Kyara menghampiri suaminya dan duduk di tepi ranjang menghadap suaminya.
"Tidak usah khawatir, semuanya telah siap di rumah ini. Kalau tidak percaya, sana ! Periksa saja isi lemari pakaianmu !" ujar Bagas seraya memejamkan matanya.
Kyara menghampiri lemari pakaian yang cukup besar itu. Dia pun membukanya. Kyara terkejut melihat semua isi di dalamnya. Tampak begitu banyak pakaian branded luar negeri tersusun di sana. Di tambah lagi ada banyak tas berjejer di tempat paling atas. Kyara mulai memeriksanya satu persatu.
"Kakang !" panggilnya.
"Hmm...!"
Bagas menjawabnya dengan masih memejamkan matanya.
"Kakang..ih..., lihat dulu...!" rajuk manja Kyara.
"Ada apa sayang ?"
Bagas membuka matanya dan melihat ke arah istrinya.
Kyara menunjukkan tas yang dipegangnya. "Ini, punya siapa ?"
"Punyamu ?" jawab Bagas enteng lalu kembali memejamkan matanya.
Kyara heran, dia pun menghampiri suaminya dan kembali duduk di samping suaminya.
"Kakang, tas itu begitu banyak dan bermerk. Apa semua itu punyaku ?"
"Hmmm..."
"Kapan kakang membeli semua itu ? Kenapa kakang tidak mengajakku ? Memangnya kakang tahu seleraku seperti apa ?"
"Astaghfirullah hal adzim, nyonya Anggara...! Aku baru tahu jika kamu secerewet ini...!" ledek Bagas menanggapi pertanyaan istrinya.
"Kakang ih..., bangun dulu ! Ayo jelaskan padaku ! Jangan-jangan, semua ini punya Rachella ! Itu kan barang mahal semua !" ada nada cemburu dalam suaranya.
Seketika Bagas membuka matanya saat Kyara menyebutkan nama yang tidak pernah ingin di dengarnya. Dia langsung menyambar tas yang dipegang istrinya dan menatap tajam ke arah istrinya.
"Dengar nona ! Semua tas ini aku beli di berbagai negara yang pernah aku kunjungi untuk perjalanan bisnisku saat aku masih tinggal di Jerman. Dulu aku memang tidak pernah tahu untuk siapa semua tas ini. Tapi saat aku membelinya, yang terbayang adalah dirimu yang sedang memakai tas selempang mu dulu, karena itu, semua modelnya hampir sama. Jika kau memang tak suka, kau bisa bagikan semua tas itu pada kawan-kawanmu ! Dan jangan pernah bawa nama gadis itu dalam kehidupan rumah tangga kita !" ucap Bagas, kesal.
Kyara terkejut melihat reaksi suaminya yang begitu dingin menatapnya.
"Maaf...!"
Hanya kata itu yang mampu Kyara ucapkan. Dia sadar jika dia sudah sangat keterlaluan menuduh suaminya seperti itu.
Bagas selalu luluh oleh sikap istrinya. Dia pun merentangkan kedua tangannya, sebagai isyarat agar Kyara memeluknya.
Brugh...!
Seketika Kyara menjatuhkan dirinya dalam pelukan Bagas.
"Aku tidak tahu jika ucapanku sangat melukaimu, maafkan aku kakang !" ujar Kyara pelan.
"Sudahlah ! Aku tidak terluka, aku hanya tidak ingin ada orang lain dalam rumah tangga kita. Aku tidak suka Kya, sekalipun hanya sekedar menyebutkan nama saja. Aku tidak suka ada nama orang lain dalam hubungan kita." ujar Bagas, membelai lembut rambut istrinya.
Kyara mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Oh iya sayang, besok aku harus pergi ke luar kota untuk melihat lahan yang akan dijadikan pabrik di sana. Apa kau tidak apa-apa aku tinggal sendirian ? Atau kau ingin ke rumah kak Indah, biar tidak terlalu kesepian." ujar Bagas.
"Berapa hari kakang pergi ?" Bukannya menjawab, Kyara malah balik bertanya.
"Mungkin empat sampai lima hari."
"Apa kakang pergi sendirian ?"
"Tidak, aku pergi bareng Doni."
"Lalu si gitar spanyol itu ? Apa dia juga bakalan ikut bersama kakang ?"
Nada bicara Kyara mulai berbeda saat menyebutkan julukan untuk sekretaris suaminya.
"Oh iya, aku lupa memberitahumu ! Sebenarnya kak Gun sudah menarik dia dari perusahaanku dan menggantinya dengan sekretaris baru."
"Benarkah ?"
Kyara mengangkat tubuhnya dari pelukan Bagas. Dia menatap suaminya dengan binar mata yang sulit diartikan.
Bagas mengangguk.
"Lalu sekarang, siapa sekretarismu ? Apa dia lebih cantik dari sekretarismu yang dulu ?" tanya Kyara.
"Apa kau sedang cemburu ? Dengar sayang, aku punya ide bagus. Bagaimana kalau kau kujadikan sebagai sekretarisku, kan enak tuh, kita akan selalu terus berdekatan, dan aku tidak perlu menggajimu. Cukup menggajimu dengan ini saja !" Bagas meraih tangan Kyara dan meletakkannya di atas benda yang sudah mulai mengeras.
Wajah Kyara merona saat tangannya menyentuh benda itu. Seketika dia menarik tangannya.
"Ish kau ini ! Masih sore, kok pikirannya mesum terus !" ujar Kyara kesal.
"Berarti, kalau malam, boleh ya, yang !" tatap Bagas penuh harap.
"Sudah sana, mandi ! Bau...!" ucap Kyara yang seketika mengurungkan niat suaminya yang akan memeluknya.
"Ish, kau ini !" rengut Bagas seraya pergi ke kamar mandi.
Kyara tersenyum melihat tingkah suaminya, kembali dia merapikan kembali lemarinya. Dia pun mulai mengambil piyama tidur untuk suaminya. Namun saat dia ingin mengambil piyamanya sendiri, tak ada satupun yang nampak di dalam lemari itu. Dia pun berteriak untuk menanyakan tempat di mana suaminya menaruh baju tidur.
"Kakang, kau letakkan di mana baju-baju tidurku ? Aku tidak melihatnya sama sekali di lemari kita !"
"Di lemari sebelahnya, yang !" teriak Bagas dari dalam kamar mandi.
Kyara melirik salah satu lemari satu pintu. Dia pun membukanya. Kyara tampak terkejut melihat isi dalam lemari tersebut. Banyak sekali baju tidur tergantung di sana, namun semuanya begitu tipis dan terbuka.
"Yang benar saja...! Apa setiap malam aku harus memakai pakaian seperti ini ?" ujar Kyara seraya membentang-bentangkan pakaian tipis tersebut
***
Bima mulai berselancar di dunia maya. Kejadian tadi sore membuat Bima terus mencari tahu tentang Bagas dan semua kegiatannya.
"Yes, dapat !" seru Bima.
Bima segera menyalin alamat kantor Bagas.
Keesokan harinya...
"Permisi mbak ! Apa saya boleh bertemu dengan kak Bagas ?" tanya Bima pada salah seorang resepsionis yang bertugas.
"Apa anda sudah membuat janji dengan pak Bagas ?" resepsionis itu balik bertanya.
"Saya adiknya, apa saya harus membuat janji untuk bertemu dengan kakak saya."
"Tapi maaf dek, pak Bagas nya sedang keluar."
"Mbak tidak usah bohong ! Saya mohon, saya harus segera bertemu dengan kak Bagas. Ini penting, mbak !"
"Untuk apa saya berbohong sama kamu ! Kenal juga nggak !" akhirnya suara sinis pun terdengar juga.
"Sudah sana pergi ! Saya masih banyak urusan !" lanjut resepsionis itu mengusir Bima.
Bima yang menyadari kesalahannya karena telah salah menuduh, akhirnya meminta maaf. Tapi dia tetap tidak ingin beranjak pergi.
"Ada apa ini ?" tanya seorang lelaki kemayu yang ternyata sekretarisnya Bagas.
"Ini Je, ni bocah pengen ketemu bos. Udah dibilangin nggak ada, eh malah nuduh gue bohongi dia. Bete kan jadinya..." sekretaris itu mengadu.
"Tapi saya kan sudah minta maaf, mbak nya aja yang baperan." sanggah Bima.
"Sudah-sudah ! Jangan bikin ribut di kantor, malu ! Kamu kembali kerja, Say ! Dan kamu !" Jeje menunjuk Bima. "Ikut saya !" lanjutnya.
Jeje mengajak Bima pergi ke ruangannya. Tiba di sana.
"Katakan, apa tujuanmu mencari bos Bagas !" tanya Jeje.
"Bukan urusanmu !" jawab Bima.
"Ho...ho...ho, anak muda...! Jelas itu urusanku, saya sekretarisnya pak Bagas ! Jadi saya harus menyelidiki orang-orang yang ingin menemui beliau. Siapa tahu mereka bermaksud tidak baik kepada beliau..." cibir Jeje.
Bima sudah merasa frustasi berhadapan dengan orang seperti Jeje.
"Cepat katakan ! Di mana ruangan kak Bagas !" ujar Bima geram.
Jeje menunjuk sebuah ruangan yang berpintu kaca gelap. Namun saat Bima hendak melangkahkan kakinya menuju ruangan itu, Jeje berteriak.
"Percuma kamu mendatangi ruangan itu, bos tidak ada di sana ! Beliau sedang pergi ke Samarinda untuk perjalanan bisnisnya !"
Langkah Bima terhenti mendengar ucapan sekretaris itu.
Shitt...! Dasar sekretaris bencong, kenapa dia tidak bilang dari tadi ? Buang-buang waktu saja ! dengus Bima, kesal.
***
__ADS_1
Waktu terus berlalu. Karena mendapatkan tekanan dari pihak rumah sakit, akhirnya dokter Firman terpaksa merujuk Ajay untuk di rawat di rumah sakit jiwa. Hati tuan Ali merasa sakit melihat semua ini. Terlebih lagi, nyonya Diana semakin menyalahkan dirinya. Namun tuan Ali tidak pernah punya pilihan lain. Kyara hilang begitu saja, orang-orang tuan Ali pun belum mendapatkan kabar apa pun. Akhirnya tuan Ali hanya bisa pasrah, berharap keajaiban menghampirinya.
Seminggu telah berlalu. Kyara merasa senang bisa menempati rumah barunya. Setidaknya di sini dia bisa berinteraksi dengan orang luar, meskipun hanya sekedar bertegur sapa. Dia juga tidak harus merasa kesepian jika suaminya sedang melakukan perjalanan dinas ataupun kerja lembur, karena dia ditemani oleh seorang asisten rumah tangga untuk membantunya mengurus rumah sebesar ini.
"Bapak pulang sekarang ya, bu ?" tanya bik Lilis, asisten rumah tangganya Kyara.
"Tidak bik, katanya 2 hari lagi dia akan pulang." jawab Kyara.
"Kok tumben ibu masak nya banyak. Mau ada tamu ya ?" tanya bik Lilis lagi
"Enggak juga. Nggak tau tuh bi, kok sekarang, Kya bawaannya pengen makan mulu...he... he...he...!"
"Nggak apa-apa, bu...! Justru itu bagus buat kesehatan ibu."
"Oh iya bik, nanti kalau sudah beres, tolong dirapikan ya ! Kya kebelet mau ke kamar mandi dulu."
"Siap, bu !"
Kyara pun pergi ke kamar mandi, karena sudah merasa tidak tahan dengan rasa mulas di perutnya. Saat dia membuka ****** ********, Kya sedikit tertegun melihat bercak darah di celananya. Darah...?? Ini kan bukan jadwalnya menstruasi..., gumam Kyara. Namun Kyara tidak mau ambil pusing, dia pun segera membersihkan celana itu dan menuntaskan hajatnya.
***
Pukul 22.45. Bagas tiba di rumahnya. Bik Lilis yang membukakan pintu sempat terkejut dengan kedatangan majikannya.
"Ba... bapak...?"
"Kenapa terkejut seperti itu, bik ?"
"Anu, pak ! Tadi kata ibu, bapak pulangnya lusa."
"Ah ya ! Alhamdulillah, pekerjaan saya sudah beres bik ! Ibu sudah tidur ?" tanya Bagas.
"Sudah pak !"
"Ya sudah bik, saya ke atas dulu ya ! Tolong kunci lagi pintunya !"
"Siap pak !"
Tiba di kamar,Bagas melihat istrinya tengah tidur menyamping. Dengan mengendap-endap, dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 20 menit kemudian, Bagas keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk tidur. Namun saat dia mendekati ranjangnya, dia melihat selimut yang digunakan istrinya sedikit tersingkap.
Darah Bagas berdesir saat melihat bayangan tubuh istrinya yang hanya terbalut oleh kain tipis berwarna merah. Mata Bagas mulai mengembun terhalang kabut gairah. Bagas merangkak ke atas ranjang. Bibirnya mulai menyusuri ujung kaki Kyara hingga ke pangkal paha.
Kyara menggeliat merasakan hawa panas yang merayap di sekitar tubuh bagian bawahnya. Tiba-tiba dia merasakan kain berbentuk segitiga yang melekat di bagian bawahnya mulai melorot turun. Kyara mengerjapkan matanya dan tersentak kaget melihat suaminya sedang asyik bermain di area bawah sana.
"Ka...kang... isshhh....aahh....ka...pan....isshh...."
Pertanyaan Kyara tak mampu dia ungkapkan karena permainan bibir suaminya di area sensitifnya. Kyara sudah merasa tidak tahan lagi, dia lalu menarik tangan suaminya. Mata penuh kerinduan beradu pandang, menyiratkan rasa yang selama seminggu ini terpendam.
Entah kegilaan apa yang merasuki diri Kyara hingga dia mulai berani mencium suaminya dengan rakusnya.
"Kakang..., aku merindukanmu...! Jangan pernah pergi terlalu lama, Kya nggak sanggup...!" ucap serak Kyara yang sedang menahan tangisnya.
"Ssstt...., jangan menangis sayang ! Aku sudah pulang, aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi !" ujar Bagas seraya kembali mencium Cherry itu penuh kelembutan.
***
"Assalamualaikum, bu ! Ini ada berkas bapak yang bibik temukan di meja tamu, apa itu penting ya bu !" ujar bik Lilis di ujung telpon sana.
Ish, kenapa kakang ceroboh sekali ?
"Ya sudah bik. Coba tolong suruh kurir untuk mengantarkannya ke sekolah saya ya bik !" pinta Kyara.
"Baik bu !"
Kyara menutup telponnya. Biar nanti menjelang makan siang, aku antar saja ke kantor kakang, sekalian makan siang sama-sama...
Pukul 11.35 di kantor BA Group.
"Permisi, bos ! Ada anak muda yang ingin bertemu bos ! Katanya dia adeknya bos !"
Bagas mengernyitkan dahinya, siapa....? tanyanya dalam hati.
"Suruh dia masuk, Je !" perintahnya.
Seseorang yang telah diperintahkan masuk kini berdiri di hadapan Bagas.
Bagas terkejut mendapati jika tamunya adalah Bima. "Silakan duduk, Bim !" ujar Bagas datar mencoba mengatasi keterkejutannya.
"Bima datang ke sini untuk meminta penjelasan dari kakak !" ujar Bima tanpa banyak berbasa-basi.
"Penjelasan apa ?" Bagas menatap Bima.
"Kenapa kakak melakukan semua itu ? Bima percaya sama kakak, tapi kenapa kakak tega bohongi Bima ?" ujar Bima lirih menahan rasa sesaknya.
"Apa maksud kamu, Bim ? Kakak tidak mengerti ?"
"Jangan pura-pura bego ! Kakak sudah ketemu kak Kya, kan ? Bima lihat sendiri, kakak menjemput kak Kya di hotel Shangrila. Kakak sama kak Kya terlihat sangat akrab waktu itu. Artinya kakak tahu di mana kak Kya. Lalu kenapa kakak tega bohongi Bima dan papih ! Kenapa ?" emosi Bima meluap mengingat kembali pertemuan Bagas dan Kyara seminggu yang lalu.
"Tenanglah Bim ! Kakak bisa menjelaskan semuanya." ujar Bagas mencoba menenangkan Bima.
"Penjelasan apalagi, kak ! Penjelasan apalagi yang bisa kakak katakan ! Semua penjelasan kakak tidak akan merubah segalanya ! Semuanya telah terlambat ! Kakak tahu kondisi kak Ajay seperti apa ! Kakak tahu jika satu-satunya yang bisa membuat kak Ajay sadar adalah kak Kyara, tapi kenapa kakak tidak mau membantu kami ! Kenapa kakak tega menyembunyikan kebenaran jika kakak tahu keberadaan kak Kya ! Punya salah apa kak Ajay sama kakak, sampai kakak tega menyembunyikan kak Kya !"
"Cukup Bima ! Kakak bisa jelaskan semuanya, duduklah !"
"Percuma...! Penjelasan kakak sudah tidak berarti lagi. Sekarang kak Ajay sudah dimasukkan ke rumah sakit jiwa ! KAKAK PUAS....!!
BRAKK....!!
Bersambung....
Mohon maaf, telat up...
__ADS_1
Kemarin othor nya ujian dulu...
Semoga masih suka ceritanya yaaa...