Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Sengajakah...?


__ADS_3

Assalamualaikum readers ku....


Terima kasih masih setia mengikuti cerita ini.


Lanjut yaaa....


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hemhh.... tidurlah ! Aku akan menjagamu...!!


Cukup lama Bagas berdiri menatap Kyara melalui kaca jendela. Hingga suara azan subuh menghentikan kegiatannya. Ah..., sepertinya dia belum sadar, lebih baik aku solat dulu... Bagas kemudian pergi ke mushola yang berada di lantai ini.


Selesai solat, dia kembali untuk menjaga Kyara. Bagas duduk di kursi tunggu, sampai rasa kantuk menyerangnya. Tidak ada orang, tidur sebentar, aku rasa tidak jadi masalah... Kemudian Bagas merebahkan dirinya, dan tertidur...


****


Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Kesibukan sudah mulai tampak di rumah sakit ini.


"Oh...so sweet...!" kata seorang perawat yang melihat Bagas tertidur di kursi tunggu. "Dia pasti sangat mencintai istrinya, sampai dia rela tertidur di sana." lanjutnya.


"Iya...! Benar-benar suami idaman." timpal perawat kedua.


"Iya...! Ah...aku jadi nggak tega banguninnya...!"


"Iya, sama... Tapi, kita harus tetap membangunkannya. Ini sudah siang, dan sebentar lagi pasti banyak orang yang lalu lalang di sini."


"Ya...! Kamu benar, ayo kita bangunkan...!"


"Pak...pak..." perawat pertama menggoyangkan bahu Bagas, berharap dengan cara itu, Bagas bisa segera bangun.


Bagas mengerjapkan matanya. Tampak dua orang perawat berdiri di hadapannya. "Eh, maaf..! Saya ketiduran." ujar Bagas seraya bangkit untuk duduk.


"Iya, tidak apa-apa, pak !" jawab perawat kedua


"Apa dia sudah sadar ?" tanya Bagas


"Belum, pak ! Kami baru akan memeriksanya." jawab perawat itu lagi.


"Oh, baiklah..." lanjut Bagas


Kedua perawat itu segera menuju ke ruang ICU. Tapi, belum sempat mereka membuka pintu, tiba-tiba Bagas menghampirinya.


"Sus, bolehkah saya titip dia dulu sebentar ? Pakaian saya sudah tidak nyaman, saya mau pulang dulu untuk ganti pakaian." pinta Bagas


"Oh, iya.... silakan, pak ! Bapak tidak usah khawatir, sudah tugas kami untuk menjaga dan merawat pasien." jawab perawat kedua.


"Oke...! Thanks...!" Bagas kemudian pergi.


Setelah kepergian Bagas, kedua perawat itu pun segera memasuki ruang ICU. Mereka mengecek alat yang mendeteksi organ-organ vital dalam tubuh Kyara. Cukup telaten mereka memeriksa Kyara.


"Bagaimana keadaannya ?" tanya perawat kedua

__ADS_1


Perawat pertama mengamati layar monitor yang berada di samping Kyara. "Detak jantung dan tekanan darahnya, normal. Mudah-mudahan saja dia bisa segera sadar." jawab perawat pertama


Samar-samar Kyara mendengar percakapan di hadapannya, tapi entah kenapa, matanya begitu berat untuk dibuka.


"Aku tidak bisa bayangkan, apa yang akan terjadi padanya nanti ?" lanjut perawat pertama.


"Iya, pasti menyakitkan kehilangan seorang anak. Tapi untungnya, suaminya begitu baik." perawat kedua menimpali.


Kehilangan anak...? Suami...? Apa maksudnya...? Kyara ingin bertanya kepada salah seorang sumber suara itu, namun mulutnya seakan terkunci.


"Iya...! Sudah tampan, baik pula...! Pasti dia type lelaki setia dan sangat mencintai istrinya. Mereka pasangan yang masih sangat muda. Semoga saja Tuhan segera menggantinya kembali." ujar perawat pertama.


"Aamiin..., ya, semoga mereka segera bisa mendapatkan momongan lagi." perawat kedua mengaminkan do'a temannya.


"Ah....aku tidak bisa membayangkan akan selucu apa bayi mereka kelak. Ayahnya tampan, ibunya cantik..., pasti anaknya menggemaskan ya...? He...he..he.." perawat pertama terkekeh membayangkan bayi Kyara dan Bagas kelak.


"Makanya, cepatlah minta dilamar sama pacarmu itu ! Biar cepat-cepat nikah dan punya anak. He..he...he.. "


Kyara tersenyum mendengar percakapan mereka. Rasanya, ia ingin sekali ikut bergabung dengan mereka yang sedang membicarakan anak. Anak...? Anakku...? Samar-samar Kyara melihat seorang anak perempuan berbaju putih yang sedang berdiri di hadapannya... "Bunda...bunda...! Anak itu menghampiri Kyara, kemudian memeluk Kyara. Kyara pun memeluknya erat, "Anakku.... cantik sekali... Kyara membelai lembut wajah gadis kecil itu, kemudian kembali memeluknya. Tiba-tiba, gadis kecil itu memberontak, "Lepaskan bunda....aku pelgi...aku pelgi bunda.... gadis kecil itu melepaskan pelukannya... daah bunda...aku pelgi...daah...daah... gadis kecil itu terus menjauh sambil melambaikan tangannya kepada Kyara. "Jangan nak...! Jangan tinggalin bunda sayang...! Jangan pergi nak...! Jangan...tidak...tidak..."Tidak !!" tanpa sadar Kyara berteriak.


"Masya Allah...! Dia sadar...! Ana, cepat panggil dokter !" ujar perawat kedua.


"Iya, kak...!" orang yang dipanggil Ana pun segera berlari keluar untuk memanggil dokter. Ah... entah kenapa, jika dalam keadaan terkejut seperti ini, mereka selalu lupa akan tombol darurat untuk memanggil dokter...


"Alhamdulillah...ibu sudah sadar." kata perawat yang memeriksa Kyara.


Kyara masih diam, menjelajahi ruangan ini dengan matanya. Pikirannya masih mencerna apa yang terjadi padanya sebelum dia berada di ruangan ini. Tiba-tiba saja, ya...! Dia ingat... darah....darah, ada banyak darah yang keluar dari... dia memegang perutnya.


"Bagaimana anakku, sus...?" bibirnya bergetar menyebutkan kata anak.


"Katakan, sus..!!" nada bicara Kyara mulai meninggi.


"Ibu mohon bersabarlah dulu ! Biar dokter memeriksa kondisi ibu terlebih dahulu !" jawab perawat itu, mencoba menenangkan Kyara.


Dokter kemudian masuk, "Bagaimana keadaannya, sus ?" tanya dokter.


"Detak jantung dan tekanan darahnya normal, dok." jawab perawat itu seraya memberikan laporan hasil catatan pemeriksaan Kyara tadi.


"Sebentar ya bu, saya periksa dulu !" dokter pun kemudian memeriksa seluruh bagian organ-organ vital Kyara. "Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu pemulihan pasca operasi saja."


"Operasi...?! Operasi apa...? Apa yang terjadi padaku, dok ?" tanya Kyara, gusar.


"Ibu yang sabar ya...! Saya yakin, ibu akan segera mendapatkan momongan kembali..."


"Ma... maksud...dok...ter...?"


"Mohon maaf bu, karena pendarahan yang sangat hebat, membuat janin ibu tidak bisa bertahan. Karena itu, kami terpaksa mengeluarkannya.


"Jadi....anak... anakku...! Aku... kehilangan anakku...!!" Kyara mulai berteriak, "Tidak...! Tidak mungkin...! Bohong...! Kamu bohong...! Tidak mungkin..! Tidak..!!" Kyara berteriak histeris, dia menjambak rambutnya sendiri, memberontak dan hendak turun dari ranjangnya, membuat infusan yang ada di tangannya terlepas, darah keluar dari bekas jarum infus yang tadi menancap di tangan Kyara.


"Ibu... tenanglah..! Suster...! Cepat beri dia suntikan penenang !"

__ADS_1


"Ada apa, dok ?" tiba-tiba Bagas telah muncul di hadapan dokter. Ya..! Dia baru saja tiba di depan ruang ICU, saat dia mendengar teriakan dari dalam, dia pun segera masuk. "Kenapa dia, dok ?"


"Ah... syukurlah bapak sudah datang. Ibu Kyara hanya terguncang saat mendengar telah kehilangan anaknya. Tidak apa-apa, itu hanya emosi sesaat. Sejauh ini, kondisi fisiknya sudah stabil."


"Anakku... tidak...anak...a...nak..ku..." suara Kyara semakin melemah, karena pengaruh obat penenang.


Bagas merasa cemas, "Di... dia kenapa, dok ? Kenapa dia sepertinya lemas sekali...?"


"Tadi ibu histeris, kami mencoba menenangkannya dengan suntikan penenang. Tidak apa-apa, dia hanya akan tertidur untuk beberapa jam. Oh iya pak, bisa ikut ke ruangan saya sebentar !"


"Baiklah, dok. Tapi, bisakah dokter menungguku lima menit saja ? Saya ingin menemui dia dulu.."


"Ah, baiklah... saya mengerti. Silakan, pak...!"


Setelah dokter pergi, Bagas pun mendekati Kyara yang telah tertidur karena pengaruh obat penenang. Dia menatap wajah Kyara tajam, ah...nona... benar-benar malang nasibmu... Setelah itu, Bagas beranjak pergi untuk menemui dokter.


"Tok...tok... tok.." Bagas mengetuk pintu ruang pribadi dokter Alex.


"Masuk...!" perintah dokter Alex dari dalam ruangan.


Bagas membuka pintu, tampak dokter Alex sedang duduk menunggunya di kursi kebesarannya.


"Masuk, pak ! Silakan duduk !"


Bagas pun duduk....


"Langsung saja ya, pak ! Alhamdulillah... hasil lab sudah keluar. Dari sini dapat saya lihat, sepertinya ibu Kyara sengaja hendak mengeluarkan janinnya."


"Maksud dokter...?" Bagas tersentak kaget dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Mohon maaf, saya tidak bermaksud mencampuri kehidupan rumah tangga anda. Saya hanya membaca kebenaran dari hasil lab ini. Dari sampel darah ibu, terkandung beberapa zat yang sangat tidak baik untuk dikonsumsi ibu hamil. Jadi kesimpulannya, mungkin memang ibu dengan sengaja bermaksud menggugurkan kandungannya."


Bagas diam, berusaha untuk mencerna penjelasan dokter Alex. Benarkah demikian...? batinnya. "Lalu... untuk memar di perutnya ?" tanya Bagas.


"Justru itu yang saya tidak mengerti. Apa mungkin ibu juga berupaya menggugurkannya dengan cara menyakiti dirinya ? Ya... misalnya memukulkan benda tumpul ke perutnya...?!"


"Ah, dok...., sepertinya itu sangat tidak masuk akal..!"


"Ya...! Bapak benar..., terlebih lagi, tadi dia sedikit syok saat tahu calon anaknya telah tiada..." lanjut dokter Alex.


"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi, dok...? tanya Bagas.


"Waduh...! Kok bapak malah tanya saya. Bukannya bapak suaminya ?"


Bagas tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Aku sendiri tidak tahu persis kejadiannya, dok.."


"Baiklah, untuk saat ini kita hanya dapat menyimpulkan bahwa ini faktor kesengajaan. Mungkin setelah ibu lebih tenang, bapak bisa sedikit-sedikit menanyakan bagaimana kejadian yang sebenarnya. Karena hanya ibu yang tahu pasti, apa yang terjadi. Semoga saja saya salah duga, pak..."


"Iya, dok... terima kasih atas penjelasannya. Saya permisi dulu...!" Bagas menyalami dokter, kemudian pamit pergi.


Keluar dari ruangan dokter Alex, Bagas segera menuju ruang rawat, karena Kyara telah dipindahkan ke ruang rawat. Tiba di sana, Bagas segera masuk ke kamar rawat. Tampak Kyara masih tertidur pulas. Bagas menatapnya, apa yang terjadi padamu ? Ya..! Aku tahu, awal mula kau tahu kau hamil, kau membenci anak itu. Tapi kemarin, saat periksa kehamilanmu, aku bisa melihat bahwa kau begitu antusias terhadap kehamilanmu, aku yakin kau senang dan mulai bisa menerima kehadiran anakmu. Tapi sekarang, apa benar yang dikatakan dokter itu...? Sengajakah kau melakukan semua ini ? Sengajakah kau menggugurkan janinmu ?!

__ADS_1


Bersambung...


Author akan sangat berterima kasih jika readers memberikan like vote n komennya...πŸ€—πŸ€—πŸ™


__ADS_2