
"Bismillahirrahmanirrahim....!"
Bagas kemudian membuka amplop berwarna putih yang diberikan pihak HRD tadi.
"Alhamdulillah...!"
Tanpa sadar, Bagas berseru mengucapkan hamdalah, membuat sopir taksi menoleh penuh selidik ke arah Bagas yang sedang memegang amplop.
"Alhamdulillah...! Dapat bonus ya mas ! Wah..., rezeki nomplok dong...! He...he...he..." ucap sang sopir terkekeh.
Bagas tersenyum, "Iya pak...! Rezeki pekerjaan...! Saya baru saja melakukan wawancara di sebuah perusahaan dan alhamdulilah, saya diterima bekerja di sana pak !" ujar Bagas.
"Alhamdulillah...! Selamat ya mas...! Bapak ikut senang mendengarnya."
"Terima kasih pak !"
Tiba di kantor Gun's coorp. Bagas membayar ongkos taksinya, setelah itu dia berlari kecil menuju ruangan kakak iparnya untuk memberitahukan kabar gembira ini.
Di lobi perusahaan...
"Brugh...!!"
"Aww....!!"
"Eits..., Awas...!! Hup...!!
Tanpa sengaja Bagas menabrak seorang gadis cantik yang sedang membawa berkas. Karena tidak bisa menjaga keseimbangannya, gadis itu hampir saja terjatuh jika Bagas tidak segera menarik tangannya.
"Bugh...!!"
Tubuh gadis itu tertarik hingga tanpa sengaja menabrak dada bidangnya Bagas. Wajah sang gadis menempel lekat di dada atas Bagas, hingga tanpa sadar gadis itu menghirup kuat wangi maskulin sosok pria yang masih memegang tangannya.
"Eh maaf...!"
Bagas segera melepaskan tangan wanita itu. Membuat sang empunya tangan mendongak untuk melihat sang empunya suara bariton yang terdengar merdu di telinganya.
Bukannya menjawab, gadis itu malah memelototi Bagas dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Ganteng banget...!" gumamnya.
"Maaf...? Permisi !"
Bagas yang masih dapat mendengar gumaman sang gadis, mendengus kesal. Dia pun berpamitan dan segera menuju lift untuk menemui kakak iparnya di lantai 13.
"Hei...! Ngapain lo bengong di situ !"
Salah seorang karyawan yang bertugas sebagai resepsionis di perusahaan Gunawan, menepuk bahu gadis yang masih melongo melihat kepergian Bagas.
Gadis itu terhenyak, "Ah, lo gangguin gue aja ! Tuh, jadi ilang kan pangeran berkuda putihnya...!" gerutu gadis itu kesal.
"Ngayal mulu...! Makanya non, jangan kebanyakan baca komik princess, halu kan lo jadinya..!!"
"Bodo ah...!"
Gadis itu masih terus menggerutu meninggalkan teman resepsionisnya.
Siapa pangeran itu ya... ? Hmm..., siapa pun dia, aku pasti akan memilikinya...! batin Rachella, sekretaris Gunawan.
Tiba di ruangan, Bagas segera mengetuk pintu.
"Masuk...!"
__ADS_1
"Assalamualaikum, kak ! Apa Bagas mengganggu ?" tanyanya seraya menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"Ah, Bagas.. ! Masuklah.. !"
Bagas membuka pintunya lebar, kemudian memasuki ruangan Gunawan dan kembali menutup pintunya.
"Duduk ! Sebentar ya...!"
Gunawan memijit tombol intercom yang ada di ruangannya.
"Iya, bos...!" terdengar suara wanita di ujung sana.
"Rachel, tolong kau ambilkan 2 cangkir kopi hitam ke ruanganku !"
"Oke boss.. !!
Gunawan kembali duduk berhadapan di sofa tamunya.
"Apa wawancaranya telah selesai ?"
Bagas mengangguk.
"Lalu, bagaimana hasilnya ?"
Bagas segera meraih tas ransel yang tadi diletakkannya di sofa sebelah. Dia merogoh saku depan tas ranselnya, kemudian menyerahkan amplop berwarna putih kepada Gunawan.
Gunawan mengambil amplop itu, kemudian membukanya. Gunawan tersenyum lebar setelah mengetahui isi dari kertas yang di bacanya.
"Aku tahu, kau pasti bisa ! Selamat ya Gas ! Sekarang kau resmi menjadi karyawan Adinata Group !"
"Karyawan kontrak, kak ! Bagas baru diterima menjadi karyawan kontrak di perusahaan itu !"
"Tidak apa-apa, asal kau giat bekerja dan mau belajar banyak, kakak yakin dalam waktu dekat, kau pasti di angkat menjadi karyawan tetap.
Tok... tok...tok..
Seseorang mengetuk pintu ruangan sang CEO.
"Masuk !" perintah Gunawan.
Pintu terbuka.
"Permisi tuan....! Ini kopi yang tuan minta...!" suara seorang wanita yang matanya tiba-tiba terbelalak begitu melihat Bagas yang sedang menunduk memasukkan kembali amplop ke dalam tasnya.
"Ah..., pangeran berkuda putih...!" pekiknya, terkejut sekaligus senang.
Bagas mendongak. "Kau...!!" ucapnya
"Jadi kalian sudah saling kenal ?" tanya Gunawan heran.
"Tidak !"
"Iya !"
Bagas menjawab tidak sedangkan gadis itu menjawab iya secara bersamaan, membuat Gunawan sedikit tersenyum dengan tingkah mereka.
"Ah maksud saya, saya baru mengenal wajahnya tadi di lobi. Tapi saya tidak mengenal namanya bos !" jawab gadis itu polos.
Gunawan semakin tersenyum, "Kalau begitu perkenalkan, dia adik iparku, namanya Bagas. Dan Bagas, gadis itu adalah sekretarisku, namanya Rachella. Selain sekretaris, dia juga sepupuku !"
Bagas mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Ah dia sepupu jauhku. Anaknya om Danu, nah om Danu itu masih sepupuan sama ibuku...!"
"Oh pantas..! Bagas nggak pernah lihat dia di pesta adat yang sering diadakan keluarganya kak Gun." jawab Bagas.
"Dia lahir dan besar di London ! Jadi dia nggak pernah ikut jika ada acara tradisi keluarga. Dia baru setahun tinggal dan bekerja di sini."
"Cukup bos ! Biar aku yang mengenalkan diriku sendiri ! Bos sudah terlalu banyak mengambil jatah bicaraku !" ujar Rachella merengut kesal.
Gunawan tergelak melihat ekspresi wajah Rachella yang semakin lucu ketika merengut.
"Ya sudah, kalian berkenalan lah ! Aku mau meeting dulu ! Sejam lagi, kita pulang bareng ya Gas ! Kakak mau meeting dulu untuk evaluasi di divisi keuangan. Bersenang-senanglah !"
"Iya, kak !"
"Jadi namamu Bagas ya ?"
Bagas mengangguk.
Rachella menyimpan nampan di atas meja. Dia kemudian duduk di sebelah Bagas. Sengaja Rachella menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya, sehingga tampak paha mulus bagian atas terbuka lebar melalui belahan rok mininya.
Bagas segera meraih ponselnya untuk mengalihkan pandangannya dari hal maksiat tersebut.
Rachella tersenyum melihat tingkah gugupnya Bagas.
"Permisi ya !"
Rachella menjangkau majalah yang berada disamping kiri Bagas dengan tangan kanannya. Dia sengaja mencondongkan dadanya, sehingga mau tidak mau gundukan bukit kembar itu menyentuh wajah Bagas.
Bagas terkejut mendapati sikap beraninya Rachella. Dia segera berdiri dan pergi tanpa pamit. Bagas membanting pintu karena merasa kesal dengan kekurang-ajaran gadis itu.
Sepanjang perjalanan, Bagas mendengus kesal.
Sumpah ya...! Baru kali ini gue ngelihat gadis yang kurang ajar seperti itu ! Dia pikir gue cowok apaan...! Huh.., menyebalkan...!"
Tiba di jalan, Bagas segera menghentikan sebuah taksi yang lewat. Dia pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Sungguh, sikap tidak sopannya sepupu kakak iparnya itu, telah membuat tensi Bagas naik hingga ke ubun-ubun.
Selang satu jam. Gunawan kembali ke ruangannya. Di dalam ruangan dia tidak menemukan adik iparnya. Gunawan pun kembali keluar dan mendekati meja sekretarisnya.
"Apa kau melihat Bagas ?" tanyanya pada Rachella.
"Ah..., pangeran berkuda putih itu ya, bos ! Tadi sih dia pergi !" jawab Rachella enteng.
"Pergi ? Kemana ?" tanya Gunawan heran.
"Aku tidak tahu bos ! Tapi sepertinya dia terlihat marah." jawab Rachella lagi.
Gunawan semakin tidak mengerti. "Marah ?" gumam Gunawan. "Tapi kenapa ?" tanyanya lagi.
"Kayaknya dia nggak pernah pegang cewek ya bos ! Pangeran berkuda putih itu langsung pergi begitu bukit kembarku yang padat ini menyentuh wajahnya..." ujar Rachella tanpa malu dan membenahi bukit kembar di dadanya.
"Ish..., kau ini...! Jaga sikapmu...! Ini kantor, bukan pub ! Jangan pernah kau goda laki-laki di kantor ini ! Terlebih lagi adik iparku !" teriak kecil Gunawan.
Gunawan benar-benar merasa kesal dengan kelakuan sepupunya yang selalu menyamakan budaya timur dengan budaya barat yang dianutnya semenjak kecil.
"Ah, ayolah kakak...! Aku tidak memangsanya, aku hanya sedikit menggodanya saja...!" elak Rachella.
"Terserah, tapi aku tidak suka ! Ingat, jika aku mengetahui kau bersikap tidak sopan lagi padanya, aku tidak akan segan-segan untuk segera mendeportasimu ke negara asalmu !" ancam Gunawan seraya berlalu dan kembali ke ruangannya.
Rachella tersenyum sinis.
"Coba saja kalau bisa, kakak...! Dan pangeran itu, akan kupastikan dia akan menjadi milikku. Ah Bagas..., pengeran berkuda putihku..." gumam Rachella seraya menyeringai penuh misteri.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗