
BRAKK ......
Tanpa sadar, Kyara menjatuhkan makanan yang dibawanya. Dia mulai melangkah mundur, pikirannya benar-benar kacau, kakinya mulai limbung. Kyara hendak jatuh, namun dia masih bisa berpegangan pada meja sektretaris Bagas, meskipun harus menjatuhkan beberapa barang dari meja itu.
"Nona, apa kau baik-baik saja ?" tanya Doni asisten Bagas yang kebetulan sedang melewati meja sekretaris bosnya.
Kyara mendongak, dia menatap Doni dengan sendu. Kyara mencoba tersenyum.
"A....aku tidak apa-apa...! Aku...aku titip ini untuk bos mu ! Permisi...!" ujar Kyara.
Setelah menyerahkan berkas itu, Kyara pun berlari menuju lift.
Sementara itu di dalam ruangan. Bagas dan Bima seketika menoleh ketika mendengar sesuatu yang jatuh di depan pintu. Namun karena tidak ada pergerakan apa pun lagi, mereka pun tidak mempedulikannya, hingga...
Tok...tok...tok
"Permisi tuan ! Tadi istri tuan...!"
"Istri saya ? Di mana istri saya ?"
Belum selesai Doni berbicara, Bagas sudah menyelaknya dengan tatapan membunuh.
"Ta...tadi saya bertemu istri anda di depan meja Jeje, dia menitipkan berkas ini untuk tuan. Setelah itu dia pergi. Tapi tuan, se.. sepertinya istri anda se... sedang bersedih...!"
"Astaghfirullah...!"
Bagas mengusap wajahnya kasar. Secepat kilat dia membuka pintu, Bagas sedikit tertegun melihat rantang makanan yang telah tergeletak di bawah kaki. Sejurus kemudian dia pun segera berlari untuk menyusul istrinya.
Tiba di luar kantor, Kyara segera menghentikan taksi yang sedang lewat. Dia pun masuk dan menyuruh sopir taksi itu untuk segera pergi.
Sementara Bagas mulai panik dan kelimpungan begitu tiba di luar dia tak mendapati istrinya. Bagas segera merogoh ponsel di saku jasnya. Dia menghubungi nomor istrinya berulang kali. Namun sayangnya, telpon yang tersambung tak satupun diangkat oleh istrinya.
Kamu kemana, Kya...? batinnya.
Bagas segera berlari ke tempat parkir. Dia pun memasuki mobilnya dan melajukannya membelah jalanan ibukota.
Di dalam taksi. Tampak air mata mulai turun deras di kedua pipi Kyara. Hatinya memang sakit mendengar kembali nama Ajay. Semua kenangan buruk pun semakin terlintas nyata dalam ingatannya. Namun jika boleh jujur, rasa sakit dan sesak di dadanya bukan karena dia mendengar nama lelaki yang telah dilupakannya itu, namun karena kejujuran Bagas yang tak kunjung datang, sehingga Kyara mengetahui apa yang disembunyikan suaminya dari orang lain.
Pembicaraan Bagas dan Bima yang tanpa sengaja dia dengar, sudah cukup menjadi bukti alasan dibalik perubahan sikap Bagas selama beberapa minggu terakhir ini.
Kenapa kakang...? Kenapa kau harus berbohong padaku...?
"Neng mau diantar kemana ?"
Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunan Kyara. Dia segera menyeka air matanya.
"Jalan Anyelir pak....!" jawab Kyara.
Sopir pun segera melajukan mobilnya menuju alamat yang dikatakan sang penumpang.
Di kantor BA Group...
Bima termenung saat mendengar Bagas menggumamkan kata istri. Dia semakin di buat terkejut saat mendengar jawaban asisten Bagas tentang siapa istri dari kak Bagas.
"Benar dek, tuan Bagas sudah menikah sekitar 6 bulan yang lalu."
"Ke... kenapa aku tidak tahu ? Siapa istrinya ?"
"Tuan Bagas memang belum sempat mengadakan resepsi pernikahan karena masih sibuk dengan semua urusannya. Rencananya setelah beliau menempati rumah barunya, beliau baru akan mengadakan resepsi. Istrinya bernama nona Kyara Adistya, beliau seorang guru di SD Mutiara Bangsa."
DEG....
Jantung Bima seakan berhenti berdetak saat itu. Dia pun berjalan keluar dan meninggalkan kantor Bagas. Bima kembali melajukan mobilnya menuju tempat kostnya. Sepanjang jalan Bima melamun. Sekarang dia mengerti kenapa Bagas tak pernah ingin mempertemukan Kyara dengan kakaknya.
Bagaimanapun juga, kak Kya adalah istrinya kak Bagas, pasti akan sangat sulit bagi kak Bagas untuk mengambil keputusan. Maafkan aku kak...! Aku benar-benar tidak tahu jika kakak dan kak Kyara sudah menikah. Sekarang, apa yang harus aku lakukan Tuhan ? Aku tidak ingin merusak rumah tangga kak Bagas, tapi aku juga tidak bisa membiarkan kak Ajay terus berada di rumah sakit jiwa....
"Aargghh...!"
Bima memukul setir nya. Air mata kini mulai menggenang di pelupuk matanya.
***
Bagas tiba di halaman parkir SD Mutiara Bangsa. Setelah memarkirkan mobilnya, dia segera menuju ruangan istrinya. Sebelum dia mengetuk pintu, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Pak Bagas ? Loh, kenapa anda kemari ? Bukankah Kyara sedang pergi ke kantor anda ? Apa anda tidak bertemu dengannya ?" tanya Rani.
"Eh, bu Rani...! Jadi Kya belum kembali lagi ke sekolah ?" Bagas malah balik bertanya.
__ADS_1
"Belum, pak ! Setahu saya, Kyara belum kembali ke sekolah. Maaf pak, kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa ?"
"Tidak ada apa-apa, bu ! Hanya ada sedikit kesalahpahaman. Oh iya bu, jika ibu melihat istri saya, bisakah ibu mengabari saya ?"
"Tentu saja, pak ! Saya akan langsung mengabari bapak jika Kya sudah kembali."
"Baiklah, terima kasih bu ! Kalau begitu, saya permisi dulu.
Beberapa jam telah berlalu.
"Bu Rani, apa anda tidak melihat bu Kyara ?" tanya pak Joko.
"Memangnya kenapa, pak ?"
"Ini kelas saya sudah hampir selesai, tapi sampai sekarang, bu Kya tidak kelihatan batang hidungnya. Sebenarnya pergi kemana dia ? Kenapa dia tidak bilang jika ada urusan di luar ? Aku benar-benar kewalahan kalau harus melanjutkan kelasnya, kamu sendiri tahu kan seheboh apa anak didik Kyara."
Rani hanya termenung mendengar ucapan rekannya.
Jadi Kyara tidak kembali lagi ke sekolah ? Ish, apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa perasaanku menjadi cemas.
"Bu Rani...! Hei...! Bu...! Ish bu Rani ini, ditanya kok malah ngelamun...!" ujar pak Joko.
"Ma..maaf pak ! Emh, menurut saya, sebaiknya bapak lanjutkan saja pelajarannya. Lagipula, tanggung pak, hanya tinggal satu jam lagi !" saran Rani.
"Ish, ibu ini...! Kejam sekali ! Ya sudah, aku kembali lagi ke lapangan !"
Rani tersenyum kecut melihat wajah mesem rekannya itu. Dia kemudian merogoh ponselnya dari dalam saku blazernya. Dia mulai menghubungi Kyara.
Di sebuah kontrakan yang kecil. Tampak gadis itu menangis menyusupkan wajahnya di atas bantal. Entah sejak kapan dia menangis. Satu yang pasti, bantal itu telah sangat basah oleh air matanya.
Drrt.... drrt....
Ponsel yang dipegangnya bergetar. Dia membalikkan tangannya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"A... assalamualaikum... Ran !" (Kyara)
"Waalaikumsalam ! Kya, kau di mana ?" (Rani)
"A....aku...aku di rumah, Ran !" (Kyara)
"Kya, apa kau baik-baik saja !" (Rani)
"Jadi kau diantar suamimu pulang ?" (Rani)
"I...iya Ran, tadi...mm..tadi kakang Bagas nganterin aku pulang. Maaf tidak memberikan kabar ke sekolah, mungkin kang Bagas lupa." (Kyara)
"Ya sudah ! Kamu istirahat saja ! Biar nanti aku pamitkan pada pak kepala sekolah." (Rani)
"Baiklah, makasih ya Ran !" (Kyara)
"Sama-sama." (Rani)
Rani segera menutup sambungan telponnya. Ish, kenapa Kyara membohongiku ? Sudah jelas-jelas dia tidak diantarkan oleh pak Bagas. Bukankah tadi pada jam istirahat, pak Bagas kemari ? Hmm, apa mereka sedang bertengkar ?
Kembali Rani membuka ponselnya. Dia pun mengecek alamat panggilan terakhir dari Kyara melalui GPS nya. Jalan Anyelir ? Apa mungkin Kyara sedang berada di kontrakannya ?
Rani segera mengetikkan pesan untuk suami Kyara dan memintanya untuk pergi ke jalan Anyelir. Bukan maksud Rani untuk mencampuri urusan rumah tangga sahabatnya. Tapi Rani juga tidak ingin kesalahpahaman mereka terus berlanjut jika tidak saling bicara.
***
"Doni, kau lanjutkan meeting nya !" perintah Bagas kepada Doni begitu dia melihat pesan dari Rani.
-To uncle Arumi
Assalamualaikum pak, istri anda sedang berada di kontrakan lamanya. Alamatnya di jalan Anyelir no 2x.
-Rani
Begitu mendapatkan pesan dari sahabat istrinya, Bagas pun segera memerintahkan Doni untuk melanjutkan meeting. Dia segera pergi ke pelataran parkir untuk mengambil mobilnya. Bagas melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
Tunggulah sayang ! Aku akan menjelaskan semuanya ! Aku tidak akan membiarkan seseorang masuk dalam kehidupan kita ! Kita pasti bisa melalui semua ini ! Kita akan bersama-sama mencari jalan keluar tanpa harus saling menyakiti ! Aku pasti membawamu pulang ? Tunggu aku sayang !
Pukul 16.21, Bagas tiba di alamat yang di maksud. Setelah bertanya ke beberapa orang, akhirnya Bagas menemukan rumah Kyara. Berulang kali Bagas mengetuk pintunya, namun tak ada jawaban.
Klek....
Bagas mencoba menekan gagang pintu, untungnya pintu tidak terkunci, Bagas pun masuk.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Bagas memasuki rumah kontrakan Kyara yang dulu dia tempati sebelum menikah. Rumah yang sangat sederhana dengan perabotan yang tertata rapi, membuat orang yang menempatinya akan merasa nyaman.
ceklek....
Bagas membuka pintu kamar. Dia terkejut melihat istrinya sedang duduk mendekap kedua lututnya dengan menelungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya. Tiba-tiba bayangan masa lalu melintas di benak Bagas. Bagas semakin cemas, posisi itulah yang sering Bagas lihat saat Kyara merasa tertekan. Bagas segera menghampiri Kyara.
"Sa... sayang...!" panggil Bagas seraya menyentuh pundak Kyara.
Kyara mendongak. Matanya terlihat bengkak menandakan entah berapa lama dia menangis. "Ka..kang." gumamnya.
Bagas mengangguk, tangannya menyentuh pipi Kyara untuk mengusap air mata istrinya. Namun siapa sangka, ternyata Kyara menepiskan tangan suaminya.
"Jangan sentuh aku !" teriak Kyara.
Bagas terkejut melihat reaksi istrinya, "Sayang...!"
"Kau pembohong ! Kau juga pembohong ! Aku benci padamu ! Aku benci ! Pergi dari sini ! Pergi !"
Kyara mendorong tubuh suaminya agar menjauh. Namun Bagas tak bisa melakukan itu. Dia mendekap tubuh istrinya. Kyara menolaknya, Kyara memberontak, Kyara memukulinya hingga dia benar-benar merasa lelah dengan semua yang dilakukannya."
"Kenapa kakang...hiks...? Ke... kenapa kakang harus membohongi Kya...? Kya... Kya...tahu jika kakang menyimpan masalah... hiks..., Kya...kya... hiks... Kya berusaha sabar, Kya tidak bertanya karena Kya tahu kakang pasti akan bicara jujur sama Kya..., ta... tapi kenapa kang...? Ke... kenapa Kya harus mendengar semuanya dari mulut orang lain...? A... apa Kya tidak pantas untuk diajak berbagi...?" ucap Kyara dalam isak tangisnya.
Bagas semakin terenyuh mendengar ucapan Kyara. Bagas tahu jika saat ini, istrinya pasti telah kecewa terhadapnya.
"Maaf...! Maaf jika aku telah mengecewakanmu ! Aku hanya bingung harus memulainya dari mana ? Aku...aku hanya takut membuatmu kembali mengingat semua kepedihanmu. Aku takut melukai perasaanmu !"
"Tapi bukan berarti harus diam seperti ini ! Kakang sendiri yang selalu bilang jika pondasi rumah tangga kita adalah kejujuran. Tapi kenapa kakang sendiri tidak bisa memegang ucapan kakang. Kya... Kya sudah sangat percaya sama kakang. Kya yakin kakang akan selalu berkata jujur sama Kya, tapi.... tapi kenapa kakang menodai kepercayaan Kya ? Kenapa kakang membuat Kya kecewa..., kenapa kang...?"
"KARENA AKU TAKUT ! AKU TAKUT KEHILANGANMU ! AKU TIDAK BISA KEHILANGANMU, KYARA ADISTYA !"
Bagas akhirnya mengungkapkan beban yang selama ini dipendamnya. Mungkin memang benar dia tidak ingin membuat istrinya kembali terluka. Namun hal yang lebih utama dari itu adalah ketidaksiapannya jika dia harus kehilangan istrinya.
DEG....
Jantung Kyara seolah berhenti berdetak mendengar semua isi hati suaminya.
"A.... apa itu artinya...ka...kang me... meragukan kesetiaan Kya....!" ucap Kyara lirih.
"Aku tidak pernah meragukan kesetiaanmu, nona ! Tapi aku sangat mengenal dirimu ! Aku tahu kau tidak akan pernah sanggup melihat siapa pun menderita. Terlebih lagi Ajay, orang yang pernah hadir dalam hidupmu ! Jujur aku tidak bisa menahan rasa cemburuku saat mendengarkan dia menggumamkan rasa cintanya padamu ! Aku takut hilang kendali jika aku harus melihatmu bersamanya, aku takut tak bisa menahannya dan pada akhirnya aku merelakanmu untuk bersamanya ! Aku takut, nona ! Aku takut menyakitimu ! Kau juga tahu jika Ajay adalah sahabatku sedari kecil. Kau tahu jika kedua orang tuanya sudah seperti orang tuaku sendiri. Aku takut, jika Ajay sembuh dan memintamu dariku, apa yang harus aku lakukan ? Di satu sisi, dia sudah seperti saudaraku, tapi di sisi lain, kau istriku. Aku menahan atau menyerahkanmu, itu sama saja jika aku hanya menganggapmu seperti sebuah benda. Belum lagi jika tante Di tahu semuanya. Dia pasti akan menekanku dengan mengungkit semua jasa mereka atas diriku dulu. Aku mohon, katakan padaku ! Katakan apa yang harus aku lakukan sekarang, nona ! Katakan...!"
Suara Bagas mulai terasa serak menahan semua kepiluan di hatinya...
Kyara menangkup wajah suaminya.
"Lihat Kya, kakang ! Bukankah kakang pernah bilang jika Kya adalah masa depan kakang ! Begitu juga kakang ! Tuan Bagas Anggara, anda adalah masa depan Kyara Adistya. Kakang harus ingat itu ! Tolong jangan pernah ragukan perasaan Kya. Kakang yang sudah mengajari Kya arti cinta dan ketulusan. Kya mohon, jangan pernah ragukan perasaan Kya."
"Ky... Kya...mi... milikku.....!" ujar Bagas lirih.
Kyara tersenyum,
"Aku milikmu, selamanya akan selalu jadi milikmu tuan Bagas Anggara !" ucap Kyara lembut.
Bagas mulai mendekati wajah Kyara. Mata Kyara terpejam memahami arti tatapan suaminya. Bagas menyentuh bibir bawah Kyara, menghisapnya penuh kelembutan. Kyara menyambut bibir kenyalnya Bagas. Mereka pun saling memagut menyalurkan rasa cintanya melalui setiap tautan lidah mereka.
Bagas memberikan jeda untuk Kyara mengambil napas. Setelah itu dia kembali menyerang Kyara dengan pagutan yang lebih dalam.
"Kya...humpp...ma... maafkan aku...sa..sayang...!"
Kyara hanya bisa mengangguk. Matanya masih tetap terpejam menikmati semua curahan kasih sayang suaminya melalui kecupan di setiap pagutan manis bibirnya.
Bagas melepaskan ciumannya. Dia menatap Kyara penuh hasrat.
"Aku...aku menginginkanmu...!" ujar Bagas penuh harap.
"Aku milikmu ! Lakukanlah....!"
Bagas meraih tubuh Kyara, dia kemudian menggendongnya dan membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang. Perlahan dia membuka blazer yang dikenakan istrinya. Satu persatu dia membuka kancing kemeja istrinya hingga belahan dadanya mulai terlihat. Pun begitu dengan Kyara yang mulai membuka kancing kemeja suaminya. Tampak dada bidang suaminya yang semakin membuat Kyara bergairah.
Bagas mulai menyusupkan wajahnya di belahan dada istrinya. Mengecup dan mengulum lembut benda kecil itu. Saat keduanya tengah terbakar api asmara, tiba-tiba.
"Neng Kya, ini pintunya kebuka ! Apa neng Kya ada di dalam ?"
Teriakan seorang wanita tua, membuat tubuh Bagas seketika terkulai....
Bersambung....
Bikin part ini, jujur saja tanpa terasa air mata othor jatuh membaca kembali ungkapan isi hati Bagas. Sabar ya kakang Bagas....
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗