
"Kumaha ceu ? Naon ayeuna nu karaos ?" tanya pamannya Kyara.
(Bagaimana kak ? Apa yang kakak rasakan sekarang ?)
Bu Ratna menggeleng lemah.
"Aneng tos datang, Jang ?" tanya bi Ratna.
(Aneng sudah datang, Jang ?)
"Alhamdulillah atos ceu. Malahan Aneng teh bawa seorang pemuda, ni kasep pisan. Kata pemuda itu, dia calon suaminya Aneng. Tapi sepertinya Aneng tidak suka ceu, sama pemuda kasep eta."
"Siapa namanya, Jang ?"
"Aduh, Jajang teh tidak tanya ceu !"
"Sok, punten atuh, suruh datang kemari, Jang ! Eceu pengen lihat."
"Iya ceu...! Sebentar, ya !"
Pamannya Kyara kembali keluar.
"Cep Bagas, dipanggil sama ibunya Kyara, hayu atuh !" ajak paman Kyara kepada Bagas
"Eh, mamang ! Yang anaknya ibu kan Aneng, kenapa ibu malah manggil dia."
"Aduh Aneng, mamang mah tidak tahu, ibu kamu hanya memanggil anu kasep ieu ! Hayu atuh cep !" ajak paman Kyara sambil menarik tangan Bagas untuk memasuki ruangan itu.
Bagas mengangguk. Dia hanya bisa menurut saja ketika pamannya Kyara menarik tangannya. Sedangkan Kyara kembali duduk dengan raut wajah kesal yang sulit diartikan.
Ceklek..!
Pintu ruangan terbuka. Bu Ratna segera menoleh ke arah pintu. Pandangannya tertegun melihat seorang pemuda berdiri tegap di belakang adiknya.
Laki-laki itu....! Bukankah dia laki-laki yang sama yang pernah mencari Aneng setiap akhir tahun ? batin bu Ratna.
"Ini ceu pemudanya. Namanya Bagas, kumaha ceu ? Ni gagah pisan, nya...?" ujar Jajang mengenalkan Bagas kepada kakaknya.
"Jang, eceu mau bicara berdua sama dia, kamu bisa temani Aneng dulu ?" pinta bu Ratna.
"Baik ceu ! Kalau gitu, Jajang keluar dulu nya, ceu ! Sok atuh Acep, mangga tah duduk di sini !" ujar pamannya Kyara sambil menyodorkan kursi ke arah Bagas.
Bagas tersenyum.
"Terima kasih, mang !"
"Sama-sama ! Mangga atuh, mamang permisi dulu !"
__ADS_1
Pamannya Kyara pun keluar meninggalkan Bagas dan kakaknya.
"Ibu..., ibu minta maaf atas perbuatan ibu dulu !" ujar bu Ratna.
Bagas meraih tangan bu Ratna.
"Tidak apa-apa bu. Semuanya sudah berlalu. Alhamdulillah, saya bisa menemukan Kyara." jawab Bagas lembut.
"Sebenarnya, siapa kamu nak ? Kenapa dulu kamu terlihat gigih sekali mencari Aneng ?" tanya bu Ratna menyelidik.
Ya ! Bu Ratna merasa penasaran dengan alasan pemuda itu yang terus mencari Aneng dulu. Ada hubungan apa sebenarnya pemuda itu dengan putrinya.
Bagas menghela napasnya berat. Dia terpaksa menceritakan awal mula dia bertemu dengan Kyara hingga dia menyadari perasaannya terhadap Kyara. Satu pun tak ada yang terlewat. Bahkan cerita tentang depresinya Kyara dan putusnya pertunangan Kyara Bagas ceritakan. Hingga ajakan Bagas untuk menikah, dia utarakan.
Air mata kembali membasahi pipi bu Ratna. Dia tidak pernah menyangka jika kehidupan anaknya di perantauan mengalami kesulitan yang teramat sangat. Tapi syukurlah, semuanya telah berlalu meski menyisakan akibat yang sangat fatal. Derita yang dialami Kyara, telah membuat Kyara menutup diri terhadap semua laki-laki.
Kini, bu Ratna melihat cinta dan ketulusan di mata pemuda itu. Terlebih lagi saat bu Ratna mengetahui jika pemuda itu selalu menemaninya dalam duka anaknya dulu. Bu Ratna semakin yakin untuk menyerahkan putri satu-satunya kepada pemuda itu.
"Maukah kau menjaga Aneng untuk selamanya ?" tanya bu Ratna.
Bagas terkejut mendengar pertanyaan ibunya Kyara. Namun tidak bisa dipungkiri jika pertanyaan itu membuat Bagas sangat bahagia.
"Jika ibu dan Aneng mengizinkan. Saya sangat bersedia untuk menjaga Kyara seumur hidup saya. Saya sangat mencintainya, bu. Selama 6 tahun kami terpisahkan jarak dan waktu, tapi jujur saya tidak bisa melupakannya. Mohon restui saya untuk bisa mendapatkan cintanya Kyara, bu ! Selama apa pun, saya akan tetap menunggu Kyara hingga dia bisa membalas cinta saya."
"Ibu senang mendengarnya. Sekarang, ibu bisa tenang jika hari ini Gusti Allah mengambil nyawa ibu." jawab bu Ratna tersenyum.
"Nak, maukah kau menikahi Kyara malam ini juga ?"
Deg...!
Jantung Bagas berdetak kencang mendengar pertanyaan ibunya Kyara.
"Apa kamu tidak mau ?" tanya bu Ratna lagi.
"Bu... bukan begitu bu ! Tapi Kya..., Kya belum bisa mencintai saya. Saya hanya tidak ingin memaksanya bu !" jawab Bagas.
"Jangan khawatir, Aneng akan baik-baik saja. Ibu merasa, hidup ibu tidak akan lama lagi. Penyakit ibu sudah tidak bisa disembuhkan. Selama ini, ibu menyembunyikan penyakit ini dari Kyara. Ibu tidak mau Kyara menjadi sedih dan kepikiran dengan penyakit ibu."
"Maaf, bu ! Kalau boleh tahu, ibu mengidap penyakit apa ? Siapa tahu Bagas bisa carikan dokter terbaik untuk menangani ibu." ujar Bagas tulus.
Bu Ratna tersenyum senang merasakan ketulusan dari setiap perkataan pemuda itu.
"Tidak usah, nak ! Ibu tidak perlu dokter. Ibu hanya ingin melihat kalian menikah ! Anggap saja ini permintaan terakhir ibu." jawab bu Ratna.
"Tolong panggilkan Aneng !" pintanya lagi.
Bagas pun mengangguk. Dia keluar dan segera memanggil Kyara. Setelah itu Bagas dan Kyara berjalan beriringan mendekati bu Ratna yang terlihat semakin lemah.
__ADS_1
"Neng...!" ucapnya lirih.
"Ibu....!"
Kyara segera menghambur memeluk erat ibunya. Dia pun mulai menangis sesenggukan dalam pelukan ibunya. Begitu juga dengan bu Ratna. Air mata kini kembali melewati pipi keriputnya.
"Sudah... sudah sayang...! Jangan menangis terus ! Nanti cantiknya ilang...!" gurau bu Ratna seraya menepuk-nepuk pelan punggung anaknya.
Gurauan bu Ratna semakin membuat Kyara terisak. Kalimat itulah yang selalu terlontar dari bibir ibunya saat Kyara kecil menangis dulu.
"Ibu....!"
Hanya satu kata yang mampu Kyara ucapkan.
Bu Ratna segera melonggarkan pelukannya.
"Neng...! Ibu merasa, umur ibu sudah tidak lama lagi, ibu..."
"Jangan begitu bu...! Jangan bicara seperti itu lagi ! Aneng yakin ibu akan sembuh ! Aneng akan bawa ibu ke kota, Aneng akan cari dokter terbaik untuk mengobati penyakit asma ibu." ujar Kyara.
"Maafkan ibu, neng ! Sebenarnya ada satu..., satu hal yang belum kamu ketahui. Su... sudah hampir 2 tahun, ibu mengidap kanker serviks stadium akhir..., ibu..."
"Astaghfirullah ibu....hu...hu..."
Kyara semakin tak kuasa melihat kenyataan yang ada.
"Sekarang juga, Kya akan bawa ibu ke kota. Kita obati di sana ya ?" ujar Kyara.
Bu Ratna menggelengkan kepalanya lemah.
"Percuma sayang, dokter bilang kankernya sudah menyebar. Neng, ibu punya satu permintaan. Anggap saja ini permintaan terakhir ibu. Ibu mohon, kamu mau kan memenuhinya ?" pinta bu Ratna.
"Sst...., ibu jangan bicara seperti itu. Ibu pasti sembuh. Sekarang ibu istirahat ya, tidak usah terlalu banyak bicara. Ibu pasti lelah." jawab Kyara.
"Neng....! Ibu mohon...!" ujar bu Ratna seraya memegang tangan Kyara. "Aneng mau kan mengabulkan permintaan terakhir ibu ?"
Kyara melihat tangan keriput yang menggenggam nya. Dia benar-benar tidak kuasa melihat kesakitan di wajah ibunya. Tatapan mata penuh harap, bisa dia lihat di wajah ibunya. Akhirnya Kyara luluh dan mengangguk menyanggupi permohonan ibunya.
"Apa pun yang ibu minta, pasti Aneng kabulkan selama itu bisa membahagiakan ibu." jawab Kyara tegas.
"Terima kasih nak !" bu Ratna tersenyum lembut seraya mengelus pipi anaknya. "Ibu ingin melihat kalian menikah malam ini juga di hadapan ibu." lanjutnya.
"APA....!!"
Bersambung....
Lanjut besok ya gaisss...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗