
"Loh..., kamu kenapa...?" tanya nyonya Diana, merasa heran ketika Kyara datang dengan berjalan tertatih-tatih, bahkan sampai harus dipapah oleh Bagas.
"Eh..., i..ini..kaki Kya terkilir, tante...!" jawab Kyara terbata-bata.
"Kok bisa...?" tanya nyonya Diana lagi.
"Tadi..., Kya nggak lihat batu, jadi kesandung pas lagi jalan." seperti biasanya, Kyara berbohong.
"Ish..! Hati-hati dong..., kalau jalan..! Oh iya, apa kalian sudah menemukan Andin..? Bagaimana keadaannya..? Duh.., tante benar-benar cemas menunggu kabar dari kalian...!" ujar nyonya Diana terus mencehcar Kyara dan Bagas dengan berbagai pertanyaan.
"Andin..." Bagas belum selesai bicara, tapi Kyara menyelaknya.
"Kya ke atas dulu, permisi...!" pamitnya.
Kyara tidak ingin mendengar pembicaraan antara Bagas dan nyonya Diana. Hatinya masih belum kuat untuk mendengar nama Andin.
Dengan tertatih-tatih, Kyara terus berjalan ke arah tangga. Dia hendak beristirahat di kamar yang kemarin telah di pasang ranjang oleh Bagas.
Bagas hanya bisa memandangi punggung Kyara yang mulai menjauh. Sebenarnya dia ingin mengantar Kyara, namun nyonya Diana menuntut jawaban Bagas saat ini juga.
"Ya..., bagaimana Gas...?" ujar nyonya Diana.
"Andin baik-baik saja, tante. Saat Bagas tiba, ternyata Ajay sudah lebih dulu ada di sana dan dia berhasil menyelamatkan Andin." ujar Bagas datar.
"Ajay...? Jadi Ajay ada di sana..? Apa Kyara bertemu dengan Ajay..? Lalu bagaimana reaksinya..? Apa dia marah..? Emosi..? Atau menangis.. ?" tanya nyonya Diana lagi.
Terlihat jika nyonya Diana bersemangat sekali melontarkan beberapa pertanyaan mengenai Kyara. Bagas pun sedikit heran di buatnya.
"Mereka tidak bertemu." jawab Ajay.
"Oh..!"
Hanya itu yang keluar dari mulut nyonya Diana. Kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Sebenarnya entah jawaban seperti apa yang diharapkannya.
"Ya sudah...!" ujar nyonya Diana sambil berlalu dari hadapan Bagas.
Tante Di kenapa ya...? Kenapa mukanya jadi judes gitu denger jawaban gue..? batin Bagas tak mengerti.
Bagas mengalihkan pandangannya kepada Kyara yang masih berusaha untuk menaiki tangga. Dia pun segera menghampirinya, lalu...
Hup..!!
Bagas kembali menggendong Kyara.
"Awww...!" teriak Kyara yang merasa kaget ketika tubuhnya terasa melayang di udara.
"Kenapa kamu suka sekali menyulitkan diri sendiri..?" ujar Bagas ketus sambil terus menaiki tangga satu persatu.
"Turunkan aku ! Bagaimana jika tante melihatnya ? Beliau pasti akan salah sangka dengan kita..!" ujar Kyara, resah.
"Sudahlah..! Dia sudah pulang..!" jawab Bagas.
"Oh.." jawab Kyara. Tiba-tiba..
"Ehh...." seru Kyara.
Karena tidak berpegangan, Kyara hampir terjengkang saat Bagas dengan tegapnya, berjalan menaiki tangga yang semakin tinggi.
Bagas menghentikan langkahnya, "Pegangan..!" perintahnya.
__ADS_1
"Tapi..!" ujar Kyara ragu-ragu.
"Aku pernah bilang, aku tidak suka mengulang perintah, jadi..."
"Iya...iya..., baiklah...!"
Dengan cepat Kyara melingkarkan kedua tangannya di leher Bagas. Kyara menutup matanya karena merasa malu dengan perbuatannya.
Bagas sedikit tersenyum melihat tingkah Kyara. Dia pun melanjutkan langkahnya. Tiba di sebuah kamar...
"Bukalah...!" kembali Bagas memberikan perintah.
Kyara membuka matanya, tapi dia masih tetap diam.
"Kok, berhenti kak..?" tanyanya tanpa memperhatikan pintu di depannya.
Mata Bagas menunjuk ke arah pintu. "Buka pintunya..!"
"Kakak yang buka lah...! Aku kan sedang berpegangan, nanti jika jatuh, gimana..?" protes Kyara.
"Kamu tidak lihat kedua tanganku sedang mengangkat beban tubuh seorang wanita cerewet..! Buka, atau aku lepaskan tanganku sekarang untuk membuka pintu !" ujar Bagas sewot.
Gila nih cewek.. ! Apa dia nggak ngerasa kalau tangan gue udah pegel banget...huh...!
"Eh.., baiklah..!"
Kyara melepaskan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih melingkar di leher Bagas, membuat Bagas harus sedikit menunduk menahan beban.
Klek...
Pintu terbuka, Bagas segera membawa Kyara ke ranjang, dia pun kemudian mendudukkan Kyara di tepi ranjang. Bagas berjongkok untuk membuka sepatu Kyara.
"Ti... tidak usah, kak..!" tolak Kyara.
"Tunggulah di sini...! Jangan bergerak...!" perintahnya.
Bagas turun ke bawah. Dia pergi ke rumahnya untuk membawa es batu dan kain kompres. Tak lama kemudian Bagas pun kembali dan melihat Kyara telah merebahkan dirinya dengan mata tertutup. Kesedihan tampak jelas di raut wajahnya.
Perlahan, Bagas mulai mendekati Kyara. Dia duduk di tepi ranjang. Dengan sangat hati-hati, dia meletakkan kaki kanan Kyara di atas kedua pahanya. Bagas menyangka jika Kyara telah terlelap.
Kyara mengerjapkan matanya saat merasakan dingin di pergelangan kakinya.
"Kak Bagas...!" ujarnya.
Kyara hendak menarik kakinya, namun Bagas menahannya.
"Diamlah...! Jika tidak segera dikompres, bengkaknya akan semakin menyebar..!" ujar Bagas.
Kyara pun diam dan membiarkan Bagas mengobati kakinya.
"Jadi...?" ujar Bagas.
"Jadi apa, kak..?" Kyara malah bertanya.
"Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku yakin kau telah mendengar perkataan mereka tadi. Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang ?" tanya Bagas sambil terus mengompres kaki Kyara.
"Aku tidak tahu...!" jawab Kyara seraya mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela.
"Aku tidak menyangka jika ikatan kalian terjalin karena sebuah kesepakatan..!" gumam Bagas.
__ADS_1
Kyara tersenyum kecut mengingat nasib dirinya.
"Apa kau akan bertahan dengan ikatan seperti ini ?" tanya Bagas lagi.
Kyara mengangguk.
"Tapi, nona...?"
"Aku sudah pernah bilang, hanya aku yang bisa menanggung dosaku sendiri. Aku sudah siap, ketika aku memutuskan untuk menerima lamaran Ajay yang aneh dulu. Aku tahu, aku telah merasa jika sesuatu terjadi pada diri Ajay, sehingga dia tidak datang dalam acara lamaran itu." ujar Kyara.
Sejenak Kyara menarik napasnya dengan kuat. Seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk bercerita. Biasanya dia orang yang selalu menutup dirinya terhadap siapapun. Tapi entahlah, dia sendiri merasa heran kenapa dia bisa dengan lancarnya menceritakan semuanya kepada Bagas.
"Lamaran..?" tanya Bagas.
"Iya...! Beberapa bulan yang lalu, keluarga besar Ajay datang ke rumah untuk melamarku. Namun sayangnya, Ajay tidak hadir dalam acara itu." jawab Kyara.
Bagas pun teringat dengan kejadian waktu itu. Ya..! Kejadian yang tiba-tiba Ajay merasa tertarik untuk mengikuti acara Mapala ke Bromo.
Maafkan aku nona.. ! Seandainya aku tahu jika hari itu adalah pertunangan kalian, aku pasti tidak ada akan mengizinkan dia untuk mengikuti acara Mapala..., batin Bagas.
"Jika kau tahu Ajay tidak ada waktu itu, kenapa kau masih menerima lamaran itu..? Kau bisa saja menolaknya, kan...?" ujar Bagas.
Kembali Kyara menarik napasnya, panjang. "Ajay boleh menghinaku, tapi aku tidak akan membiarkan dia menghina kedua orang tuaku..!" gumam Kyara.
Bagas mengernyitkan dahinya, "Maksudmu...?"
Kyara tersenyum miris, "Aku telah melukai hati kedua orang tuaku dengan perbuatan kotorku. Aku tahu, mereka kecewa padaku. Dan aku juga tahu, mereka akan merasa lebih kecewa jika mengetahui Ajay tidak pernah ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya. Saat itu aku sudah pasrah dengan sikap Ajay yang diam saat orang tuaku menuntut dia bertanggungjawab. Aku sendiri tidak menyangka waktu eyang uti memberitahu jika Ajay hendak melamarku. Aku senang, aku masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku. Tapi semua rasa senangku hilang, saat Ajay tidak hadir dalam acara itu. Aku bisa melihat kekecewaan di mata ayah waktu itu. Dan aku tidak ingin menambah rasa kecewa itu, aku pun memutuskan untuk menerima lamarannya. Aku tidak mau, warga kampung mencemooh keluargaku jika sampai aku menolak lamaran ini. Ketidakhadiran Ajay saja sudah membuat warga nembicarakanku, apalagi jika sampai aku menolaknya, orang kampung pasti akan menghina kami habis-habisan." ujar Kyara dengan wajah sedihnya karena harus mengingat peristiwa yang memilukan itu.
"Tapi dia tidak mencintaimu..!" seru Bagas yang juga merasakan pilu akan nasib Kyara.
"Aku tahu...!" jawab Kyara tersenyum kecut.
Kembali Bagas mengernyitkan dahinya. Dan kali ini Kyara melihat kerutan di dahi Bagas dengan jelas.
"Aku tahu jika dia sudah tidak mencintaiku lagi. Banyak sikap dia yang menunjukkan jika dia sudah tidak mencintaiku lagi." ujar Kyara, lirih.
"Lalu...?" tanya Bagas sambil menatap Kyara.
Senyum tulus mengembang di bibir mungil Kyara, "Aku akan bertahan demi melihat senyum kedua orang tuaku. Dan aku akan berusaha untuk membuat dia kembali mencintaiku...!" ujar Kyara penuh percaya diri.
"Apa kau yakin...?" tanya Bagas lagi.
"Iya, kak...! Aku yakin, suatu hari nanti Ajay akan kembali padaku." jawab Kyara.
"Semoga saja, nona...!" jawab Bagas sembari meletakkan kaki Kyara yang telah selesai dikompresnya.
"Jangan banyak bergerak ! Aku akan menyelesaikan pekerjaanku...! Tidurlah...! Aku yakin kau sangat lelah.." perintah Bagas.
Kyara mengangguk.
Bagas membawa air es bekas kompresan tadi. Dia keluar untuk melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah Kyara.
Aku salut dengan keteguhan hatimu, nona...! Semoga saja suatu hari nanti, Ajay menyadari kesalahannya dan dia akan kembali padamu...! Do'a Bagas.
Bersambung...
Happy Monday...
Selamat beraktivitas kembali...
__ADS_1
Salam sukses selalu...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤭✌️