
Tiba di terminal, Kyara segera menaiki bus yang akan membawanya ke desa kelahirannya. Tanpa ada kata perpisahan, tanpa adanya lambaian tangan, hanya netra mereka yang terus saling beradu hingga bus itu melaju dan meninggalkan terminal.
Bagas menghela napasnya, kemudian kembali ke mobilnya dan melajukannya menuju bengkel.
***
Untuk beberapa saat, keheningan terjadi di kediaman keluarga Sanjaya. Semua orang tampak mengurung diri setelah kehebohan drama yang dibuat Cecilia tadi siang.
Setelah kepergian Kyara. Kedua belah pihak pun sepakat untuk menyelenggarakan pertunangan Ajay dan Cecilia dalam waktu 3 hari ke depan.
Ajay hanya bisa pasrah menerima keputusan orang tuanya. Kali ini dia tidak bisa mengelak dari tanggung jawabnya. Rasa bersalahnya karena telah melenyapkan anaknya dengan Kyara dulu, membuat Ajay berusaha menerima Cecilia dan rencana pernikahannya. Ajay tidak ingin kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya.
***
Tiba di bengkel, Bagas segera memasuki ruang kerjanya. Pandangannya menatap sofa yang berada di ruangan tersebut. Terbayang wajah Kyara yang tengah duduk sambil memperhatikan dia mengerjakan tugas skripsinya. Senyum samar tersungging di bibir Bagas.
Bagas berdiri, dia pergi ke kamarnya. Kembali bayangan Kyara yang tengah terbaring di atas ranjangnya, menari-nari dalam ingatannya. Bahkan saat mereka solat subuh bersama, Bagas masih mengingatnya dengan jelas. Tapi kini, semuanya telah menghilang. Hanya hampa yang bisa Bagas rasakan.
Drrtt.... drrtt...
Getaran ponsel di saku jaketnya, membuat semua bayangan yang melintas, menguap begitu saja.
"Pak Bekti...!" gumam Bagas.
Segera Bagas mengangkat telpon dari dosen pembimbingnya itu.
"Assalamualaikum...!" ( Bagas )
"Waalaikumsalam ! Gas, revisi bab 1 dan 2 sudah saya periksa. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Jika kamu ingin lulus tepat waktu, segeralah untuk mengerjakan bab selanjutnya !" ( Pak Bekti )
"Baik pak ! Kira-kira kapan saya bisa melakukan bimbingan langsung dengan bapak ?" ( Bagas )
"Tiga hari lagi kita ketemu !" ( Pak Bekti )
"Baiklah, pak !" ( Bagas )
"Oke, tiga hari lagi saya tunggu di ruangan saya. Assalamualaikum..!" ( Pak Bekti )
"Waalaikumsalam..!" ( Bagas )
"Astaghfirullah....! Gara-gara memikirkan Kyara, aku sampai lupa dengan tugas skripsiku. Aku harus benar-benar fokus, agar bisa lulus tepat waktu." gumam Bagas.
Bagas mengeluarkan laptopnya. Dia kembali berkutat dengan laptop untuk mengerjakan skripsinya.
***
Lepas isya, bus yang membawa Kyara tiba di terminal kabupaten T. Setelah turun dari bus, Kyara segera memesan ojek online agar lebih cepat sampai di rumah. Jika dia harus menunggu angkot yang melewati desanya, itu akan memakan waktu yang lama.
__ADS_1
Tiba di rumah.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum...!" sapa Kyara sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam...!"
Bu Ratna membuka pintu. Tiba-tiba Kyara segera menghambur ke arah ibunya dan memeluk erat ibunya. Air mata pun tak bisa dibendungnya lagi. Kyara menangis sesenggukan dalam pelukan ibunya.
"Hey..., kenapa ini teh neng...? Ada apa..? Apa yang terjadi...?" tanya bu Ratna merasa heran dengan sikap Kyara.
Kyara tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia masih terus menangis. Bu Ratna mengusap punggung Kyara untuk menenangkannya.
"Sudah..., sudah...! Ayo kita masuk ! Sudah malam, kamu pasti capek." ujar bu Ratna seraya memapah Kyara untuk masuk ke dalam.
"Siapa yang datang bu ?" tanya pak Ahmad. "Eh, Aneng..., sudah pulang kamu, nak...? Loh, kenapa kamu menangis ?" tanya pak Ahmad yang merasa heran melihat anaknya menangis.
"Aneng...., mmm... Aneng..."
Ting...!
Belum selesai Kyara berbicara, tiba-tiba notifikasi pesan WhatsApp masuk di ponselnya.
Kya, maaf mengganggu. Aku cuma mau kasih tahu. Tadi Kiki di jemput orang tua kandungnya. Mereka titip salam buat kamu.
-Anti
"Ada apa neng ? Kenapa kamu menangis ?" kembali pak Ahmad bertanya.
"Aneng..., Aneng hanya sedih saja, yah." jawab Kyara berbohong.
"Sedih...? Sedih kenapa..?" pak Ahmad semakin penasaran dengan jawaban anaknya.
"Aneng...sedih harus berpisah dengan Kiki. Ta..tadi mbak Anti telpon, katanya Kiki sudah menemukan orang tua kandungnya. Dan mereka membawa Kiki untuk tinggal bersamanya." jawab Kyara.
"Hee...heee...., kamu ini, gitu aja kok sedih ? Harusnya kamu senang, karena Kiki bisa bertemu dengan orang tua kandungnya. Ini berkah namanya, neng..!" nasihat pak Ahmad.
"Iya, yah..!"
"Ya sudah, kamu bersih-bersih, sana...! Setelah itu istirahat..., besok kita bicara lagi..!" perintah pak Ahmad.
Kyara mengangguk, dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara itu, kedua orang tuanya pergi ke kamar untuk beristirahat.
Kyara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya kembali melayang mengingat kejadian tadi siang. Tanpa terasa, bening hangat mulai menggenang di sudut matanya.
Untaian kata-kata yang telah Kyara siapkan selama dalam perjalanan, sirna begitu saja saat bertemu dengan kedua orang tuanya. Kyara tidak sanggup untuk kembali melukai perasaan orang tuanya. Pada akhirnya, Kyara hanya mampu diam.
__ADS_1
Kyara memejamkan matanya.
Maafkan Aneng, ayah.., ibu...! Aneng belum siap menceritakan semuanya. Semoga saja Aneng bisa secepatnya menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan kegagalan pertunangan ini. Batin Kyara.
***
Dua hari telah berlalu, namun Kyara masih belum bisa mengatakan kebenarannya. Setiap kali dia hendak berbicara, suaranya seolah tercekat di tenggorokannya. Kyara merasa tidak sanggup jika harus kembali mengecewakan kedua orang tuanya. Ya Allah...., apa yang harus aku lakukan...??
Kyara masih mengurung diri di kamarnya. Dia masih terus membolak-balikkan ponselnya. Berharap ponselnya berbunyi, meski dia tidak tahu siapa yang akan menghubunginya.
Tak pernah terpikir dalam benak Kyara untuk bisa berkomunikasi lagi dengan seorang laki-laki. Terlebih lagi dengan Bagas. Namun tidak bisa dipungkiri jika Kyara merasa kecewa saat Bagas tidak menghubunginya sampai detik ini.
Ah..., seharusnya aku tidak berharap sejauh ini. Tapi entah kenapa hatiku terasa hampa.
"Hhhh...."
Kyara menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dadanya mulai terasa sesak.
Hanya rasa hampa yang menemani hari-hari Kyara. Terlebih lagi saat dia tahu jika Kiki kini telah tinggal bersama kedua orang tuanya. Hidupnya semakin terasa hampa. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi senyuman hangatnya..., dan tak ada lagi keceriaan diraut wajahnya.
Batin seorang ibu sangatlah kuat. Bu Ratna tahu, jika putri gadisnya kini sedang tidak baik-baik saja. Tapi, dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya kepada Kyara.
***
Malam semakin larut. Setelah membereskan meja makan bekas makan malam, Kyara pun segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Yah, bu..! Kya mau istirahat, Kya duluan, mari..!"
Pak Ahmad dan bu Ratna hanya bisa mengangguk.
"Pak, apa kau lihat sesuatu yang aneh dari sikapnya Aneng ?" tanya bu Ratna.
"Iya, bu..!"
"Kira-kira, apa yang terjadi pada putri kita ? Semenjak pulang dari kota B, dia mulai berubah, sikapnya dingin dan tidak pernah tersenyum. Ibu jadi khawatir, pak !"
Pak Ahmad mengusap punggung tangan istrinya.
"Biarkan saja bu, mungkin saat ini dia masih belum mau bercerita ?"
Bu Ratna mengangguk. "Jika dia memang sedang mengalami masalah, mudah-mudahan Kyara bisa segera menyelesaikannya !"
"Aamiin ...!"
Bersambung....
Semoga masih suka ceritanya yaaa
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗