
Kyara kembali mengambil lembaran keempat, dan mulai membacanya.
Dear diary...
Semakin hari hubunganku dengan eyang semakin kacau.
Berkali kali eyang memintaku untuk menikahi kyara.Tapi aku tidak mau, aku belum siap untuk menikah muda. Aku malu, terlebih lagi aku belum bisa melepaskan hubunganku bersama andin. Entah aku mencintainya atau tidak, tapi aku merasa senang dengan semua permainannya di atas ranjang.
Pikiranku benar-benar kacau.Tuntutan eyang membuatku stress. Pada akhirnya, aku malas sekali untuk pulang. Aku pun memutuskan untuk menginap di bengkelnya Bagas beberapa waktu. Meskipun Bagas sangat cerewet karena selalu mengomentari kepulanganku yang larut malam akibat mabuk-mabukan.
Arghh... Aku benar-benar pusing...
Kyara menarik napasnya panjang, dan menghembuskannya dengan perlahan. Dia mulai membaca lembaran berikutnya.
Dear Diary...
Hari ini kebencianku kepada Kyara telah sampai pada puncaknya. Apa kau tahu ? Demi gadis itu, eyang hendak mencabut hak warisku jika sampai aku tidak mengikuti keputusannya.
Aaaahh...., entah guna-guna apa yang dia berikan, sehingga eyang lebih memilih dia daripada aku yang cucu kandungnya sendiri. Aku benar-benar bingung dibuatnya. Di satu sisi, aku belum siap untuk menikah. Tapi di sisi lain, aku lebih tidak siap untuk menjadi gelandangan. Pada akhirnya, mamih menyarankan aku untuk mengikuti kemauan eyang dengan satu syarat. Aku hanya akan bertunangan untuk saat ini. Sampai mamih menemukan jalan keluar agar Kyara mundur dengan sendirinya, sehingga aku tidak harus kehilangan semua warisanku. Ah..., mamih memang selalu bisa diandalkan...he..he..
Astaghfirullah....!!
Hanya itu yang mampu Kyara ucapkan setelah membaca lembaran kelima. Setelah debaran jantungnya dirasa cukup stabil kembali, Kyara pun melanjutkan membaca lembaran berikutnya.
Dear Diary...
Hari ini adalah hari pertunanganku dengan Kyara. Entahlah, aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Yang aku tahu, aku belum siap dan tidak akan pernah siap melepaskan kebebasanku. Pada akhirnya, aku pun memutuskan untuk mengikuti kegiatan Mapala hanya untuk menghindari pertunangan ini.
Aku sadar, eyang pasti marah besar jika nanti mengetahui aku pergi di hari pertunanganku. Tapi tak apalah, urusan kemarahan eyang, itu urusan nanti. Yang penting aku tidak hadir di acara itu. Semoga saja ketidakhadiranku ini bisa mengubah keputusan eyang, atau membuat keluarga Kyara menolak pertunangan ini.
Ah sialan, gara-gara pertunangan bodoh ini, aku sampai harus merelakan tubuhku yang wangi ini, bermandikan peluh akibat mendaki gunung.
Jadi ini alasan dibalik ketidakhadiranmu waktu itu, Han..
Kembali Kyara membaca halaman berikutnya.
Dear Diary...
Tiba-tiba saja, eyang meminta papih untuk membeli rumah om Abas. Aku tidak habis pikir, kenapa eyang mau membeli rumah yang sudah tidak layak itu ?
__ADS_1
Setelah aku tanya ke papih, akhirnya aku mengerti maksud dan tujuan eyang. Berusahalah eyang..! Tapi aku tidak akan menjanjikan jika usaha eyang akan membuahkan hasil.
Kyara pun melanjutkan membaca halaman selanjutnya.
Dear Diary...
Hari ini eyang memerintahku untuk menjemput Kyara di terminal. Inilah yang tidak kusuka dari eyang, selalu saja main perintah. Tentu saja aku menolak perintah eyang, karena hari ini aku ada janji untuk bertemu Andin.
Namun akhirnya, siapa sangka jika orang yang ingin kuhindari, kini malah bertemu saat aku hendak makan siang bersama Andin.
Saat itu, entah apa yang terjadi. Namun dari tatapan matanya dan dari cara Bagas menjaganya, aku tahu jika dia sedang tidak baik-baik saja.
Kembali Kyara menghela napasnya dan melanjutkan membaca lembaran berikutnya.
***Dear Diary...
Aku benar-benar sial hari ini. Karena menghindari Kyara, aku pun mengajak Andin menginap di hotel. Kau tahu, malam tadi Andin benar-benar bermain dahsyat, hingga benar-benar kelelahan.
Kami terbangun ketika perut kami meronta meminta jatah sarapan yang tertinggal. Namun sialnya, di restoran hotel, ternyata keluarga besarku tengah hadir untuk lunch. Tiba-tiba saja aku mendengar eyang mengenalkan Kyara sebagai calon tunanganku dan Andin mendengarnya. Dia marah dan meninggalkanku. Sampai saat ini, aku tidak tahu harus mencarinya kemana.
Brengsek...!! Semua ini gara-gara Kyara***...!!
Batin Kyara menjerit, namun dia masih tetap bertahan untuk tidak menumpahkan air mata. Dia meraih lembaran berikutnya.
***Dear Diary...
Setelah kejadian kemarin, aku terpaksa pulang ke rumah. Malam ini kami makan bersama, aku benar-benar muak harus berhadap-hadapan dengannya. Kehadirannya membuat selera makanku hilang.
Setelah semuanya selesai makan, aku pun menyeret dia ke halaman belakang. Aku melampiaskan semua kekesalanku. Aku marah padanya, karena kehadirannya membuat Andin pergi. Bahkan sampai detik ini aku belum bisa menemukannya***.
Aku benar-benar tidak menyangka jika dia sedendam itu padaku. Ternyata selama ini aku telah menyimpan harapan terhadap orang yang salah..., batin kyara.
Kembali Kyara membaca halaman berikutnya.
***Dear Diary...
Hilangnya Andin membuatku semakin gila. Tadi pagi gadis itu datang tergopoh-gopoh menghampiriku untuk memberiku kotak bekal makanan. Tapi aku tidak sudi menerimanya, dan akhirnya kulempar kotak tersebut.
Karena emosi, aku menarik tangannya hingga ujung pelipisnya mengenai pintu depan mobilku. Aku benar-benar emosi melihat keluguannya. Dia benar-benar wanita munafik. Karena semakin kesal aku pun mendorong tubuhnya dan mencengkeram kedua rahangnya. Aku menyakitinya untuk memberikan dia pelajaran agar dia segera pergi dari rumahku. Tapi entah kenapa, tiba-tiba Bagas datang dan berteriak padaku. Aku bertambah marah, namun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya aku pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Sial***...!!
Kembali memori Kyara memutar kejadian itu.
Ya Tuhan..., jadi dia pergi terburu-buru waktu itu, hanya untuk mencari kekasihnya yang hilang.
Kyara pun melanjutkan membaca lembaran berikutnya.
***Dear Diary...
Hari ini aku menerima pesan ancaman bunuh diri dari Andin. Aku benar-benar kaget, segera kususul Andin ke danau Tirta. Aku takut Andin berbuat nekad.
Tiba di sana, aku mendapati Andin tengah berdiri di sisi danau. Aku berteriak agar Andin tidak berbuat konyol. Tapi dia malah berteriak balik. Dia meracau tentang pertunanganku, tapi untungnya aku berhasil menangkapnya. Aku mencoba menjelaskan alasan pertunanganku dengan Kyara, hingga pada akhirnya dia mulai kembali percaya padaku. Aku pun merasa lega. Hubungan kami mulai kembali membaik.
Untuk merayakannya, Andin mengajakku ke hotel. Wow..., lelaki mana yang bisa menolak pesona Andin Rosalinda. Terlebih lagi, sudah sepekan aku tidak bertemu dengannya. Aku benar-benar merindukan permainan panasnya.
Di ujung permainan, dia sempat menyuruhku untuk menawarkan sebuah kesepakatan pada Kyara, agar Kyara mau melepaskan ikatan pertunangan ini. Awalnya aku menolak, karena harga yang harus kutawarkan cukup fantastis. Tapi aku berpikir tak ada salahnya untuk mencoba.
Karena teringat janjiku pada papih untuk bertemu koleganya, aku pun pulang. Tiba di rumah, aku bertemu dengan Bagas yang ternyata ingin mengikuti meeting juga.
Selang beberapa jam, setelah makan malam kami pun melakukan meeting. Ah.., meeting yang sangat membosankan menurutku.
Setelah meeting selesai, aku mulai mencari Kyara untuk membicarakan kesepakatan yang akan kutawarkan. Aku mencarinya ke dapur, tapi bayangannya sama sekali tidak terlihat. Aku pun bertanya pada mbok Nah tentang keberadaannya, mbok bilang dia sedang berada di taman belakang. Aku segera mencarinya ke sana.
Tiba di taman belakang, aku mendapati Kyara yang sedang berdiri melamun di tepi kolam. Aku mulai memanggilnya, tapi ternyata dia tak menghiraukan panggilanku. Dia malah berjalan melewatiku. Namun saat aku tawarkan sebuah kesepakatan, dia menghentikan langkahnya. Aku lega, aku tahu Kyara gadis yang begitu polos, lagipula tawaran itu cukup menggiurkan.
Tapi tidak kusangka, dia malah balik menyerangku. Dia meminta seluruh bagian dari hartaku. Gila...! Benar-benar gila...! Bahkan dia rela menyamakan dirinya dengan pelacur, tidak aku pungkiri, aku merasa sakit mendengarnya. Tapi aku telah benar-benar gelap mata. Aku tidak ingin menikah dengannya, setidaknya untuk saat ini. Aku masih ingin menikmati masa mudaku.
Akhirnya, karena emosi yang kian memuncak, aku pun meninggalkan Kyara di taman itu. Kyara yang kukenal dulu, kini telah berubah menjadi monster yang serakah. Sialnya, dia hanya memberiku satu hari untuk membuat keputusan. Keputusan yang tidak akan mampu aku lakukan...
Sial***...!!
Kembali Kyara menarik napas panjang setelah membaca lembaran tersebut. Hatinya benar-benar sakit mengingat semua kejadian itu. Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di pipinya.
Bersambung...
Minal aidzin wal faizin...
Mohon maaf lahir dan batin...
__ADS_1