Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Anfal


__ADS_3

"Kita kembali ke kantor !" perintahnya kepada Renald.


Tak lama kemudian, mobil pun kembali melaju menuju kantor Mahesa Sanjaya Group.


Selama dalam perjalanan, tampak tuan Mahesa meringis menahan rasa sakit yang semakin menjadi di dadanya. Dia pun mulai memegang dada sebelah kirinya, kemudian meremasnya dengan kuat. Tuan Mahesa mencoba untuk terus bertahan, namun serangan yang dia rasakan semakin hebat.


"Aargghh...!"


Tiba-tiba tuan Mahesa berteriak keras sambil terus memegang dadanya. Sejurus kemudian dia terdiam, terkulai dengan punggung yang tersandar di kursi belakang mobilnya.


Renald yang tak mendapati suara tuannya dari arah belakang, segera menepikan mobilnya. Dia melihat ke arah belakang. Tampak tuan Mahesa duduk bersandar seperti orang yang tengah tertidur nyenyak.


Apa beliau tertidur? Tapi aku tadi mendengar jika beliau berteriak. Jangan-jangan.... batin Renald.


Segera Renald membuka sabuk pengamannya. Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah pintu belakang. Renald membuka pintu mobil bagian belakang, tampak jelas tuan Mahesa seperti orang yang sedang tertidur, namun wajah pucatnya terlihat kentara.


"Tuan...!"


Renald menyentuh bahu tuannya pelan. Namun yang terjadi, membuat dia merasa kehilangan kesadarannya untuk sesaat. Tubuh tuannya langsung terjatuh pada saat Renald memegang bahu tuannya untuk membangunkannya.


"Astaghfirullah hal adzim...! Tuan..., apa yang terjadi..! Bangun, tuan...!"


Renald benar-benar bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa.


Rumah sakit...! Aku harus segera membawa dia ke rumah sakit...! Gumamnya dalam hati.


Segera Renald kembali duduk di belakang kemudinya. Dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah sakit terdekat.


Tiba di rumah sakit. Renald menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rawat ruang IGD. Dia segera membuka pintu mobilnya dan memasuki ruang IGD.


"Seseorang, tolong aku...!" ucapnya seolah sedang memberi perintah.


"Seorang perawat laki-laki menghampirinya, "Ada yang bisa kami bantu, pak ?" tanyanya.


"Tolong segera bawakan brankar, tuanku sedang tak sadarkan diri di dalam mobil !" pinta Renald.


"Baik, pak !"


Dengan sigap perawat itu mengambil sebuah brankar, kemudian mengikuti Renald menuju mobilnya. Tiba di sana, Renald dan perawat itu segera mengeluarkan tuan Mahesa dari mobil, kemudian langsung membawa pergi ke ruang ICU.


Ya, melihat kondisi tuan Mahesa yang tak sadarkan diri, ditambah lagi dengan wajahnya yang terlihat pucat pasi dan telapak tangannya yang tampak kebiruan disertai sedikit bengkak di bagian pergelangan tangannya, perawat itu pun memutuskan untuk segera membawanya ke ruang ICU agar segera mendapatkan pertolongan.


Tak lama berselang, tuan Mahesa ditangani oleh beberapa dokter ahli di dalam ruang ICU. Sementara di luar ruangan, tampak Renald berjalan mondar-mandir sambil menelpon kerabat tuan Mahesa.


Berkali-kali Renald menghubungi nomor ponsel tuan Ali, namun tak ada jawaban. Begitu juga dengan Ajay dan nyonya Diana, mereka pun sangat sulit untuk dihubungi.


Siapa lagi yang harus aku telpon ? Aku tidak mungkin menelpon nyonya Aini...!


Renald menjambak rambutnya, merasa frustasi karena tidak bisa menghubungi keluarga tuannya. Tiba-tiba..


"Tuan Bagas...! Ya..., kenapa aku tidak menghubungi tuan Bagas saja, bukankah dia juga masih cucunya tuan Mahesa..!" gumam Renald.


Segera dia mencari id name Bagas di kontak ponselnya. Selang beberapa detik kemudian,


"Assalamualaikum...!" ( Bagas )


"Waalaikumsalam..! Selamat siang tuan Bagas ! Mohon maaf mengganggu waktunya. Saya Renald, asisten pribadinya tuan Mahesa. ( Renald )


"Iya, ada apa pak ?" ( Renald )


"Begini tuan, saya... saya hanya ingin memberitahukan kalau saat ini, tuan Mahesa berada di rumah sakit. ( Renald )


"Apa...!! Tapi kenapa, pak ?" ( Bagas ) terlihat cemas.


"Saya tidak tahu, tuan. Tolong cepat datang, tuan ! Saya sudah berusaha menghubungi tuan Ali, tapi tidak diangkat." ( Renald )

__ADS_1


"Baiklah, saya ke sana sekarang ! Di rumah sakit mana, pak ?"


"Rumah sakit Insan Medika, pak." ( Renald )


"Oke ! Bapak tunggu di sana, aku akan menjemput eyang uti dulu. Tolong jaga eyang saya, pak !" ( Bagas )


"Baiklah, tuan. Jangan khawatir, saya pasti akan menjaganya. Kalau begitu, saya tutup dulu telponnya tuan ! Assalamualaikum !" ( Renald )


"Waalaikumsalam..!" ( Bagas )


Renald segera menutup telponnya. Dia pun kembali mondar-mandir dengan perasaan was-was menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Di bengkel, Bagas segera mengeluarkan mobilnya dan langsung menuju ke perumahan Permata untuk menjemput nyonya Aini.


Perjalanan memakan waktu setengah jam. Segera Bagas memarkirkan mobilnya begitu keamanan membuka pintu gerbang. Dengan langkah lebar, Bagas pun berlari untuk menemui nyonya Aini.


"Assalamualaikum, eyang...!"


Ting...tong...


Ting tong


Bagas terus berteriak sambil menekan pintu bel berkali-kali.


Ceklek...


Pintu terbuka, tampak nyonya Aini berdiri anggun di hadapan Bagas.


"Eh, nak Bagas. Tumben kemari nak, ada apa ?" tanya nyonya Aini.


Sejenak Bagas diam karena tidak tahu harus bagaimana memberitahukan keadaan tuan Mahesa kepada istrinya.


"Maaf eyang, tapi sekarang juga kita harus pergi ke rumah sakit, ayo !" ajak Bagas.


Bagas kembali diam.


"Nak Bagas ?"


"Anu...itu..., eyang..."


Suara Bagas terbata-bata, hingga nyonya Aini menyadari sesuatu.


"Apa ini tentang eyang akungmu ?" tanyanya gemetar.


Perlahan Bagas mengangguk.


"Astaghfirullah hal adzim...! Sebentar nak, eyang ambil tas dulu !"


Nyonya Aini pergi ke kamarnya, tak lama kemudian dia pun kembali.


"Ayo nak Bagas !"


Bagas dan nyonya Aini pun pergi ke rumah sakit dengan perasaan cemas.


Di rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya, Ren ?" tanya tuan Ali.


Tuan Ali baru saja selesai meeting bersama kliennya di luar. Setelah dia mengaktifkan kembali ponselnya, ada banyak panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Renald yang mengatakan jika ayahnya masuk rumah sakit. Tuan Ali pun segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, dia melihat asisten sang ayah sedang mondar-mandir di depan ruang ICU.


"Belum ada kabar yang pasti, tuan. Namun dari percakapan perawat yang keluar tadi, aku sempat mendengar jika tuan Mahesa terkena serangan jantung, tuan." lanjutnya.


"Astaghfirullah hal adzim...!"

__ADS_1


Tuan Ali menyugar kasar rambutnya. Tak lama berselang, Bagas dan nyonya Aini pun tiba.


"Bagaimana, nak Ali ? A....apa yang terjadi dengan ayahmu ?" tanya nyonya Aini.


Tuan Ali tidak menjawab pertanyaan ibu sambungnya. Dia hanya bisa memeluk dan terisak dalam pelukan ibunya.


Melihat sikap anaknya, nyonya Aini pun tahu jika suaminya tidak baik-baik saja.


"A... apa...be... beliau kembali anfal...?" tanya nyonya Aini.


Tuan Ali melepaskan pelukannya. Dia menatap sendu ke arah ibunya. Dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan ibunya.


"Astaghfirullah...!" gumam nyonya Aini.


Sepasang kakinya terlalu lemah untuk menopang tubuhnya saat dia mendengar kabar suaminya kembali anfal setelah sekian tahun lamanya.


Bagas yang sedang berdiri di samping nyonya Aini, dengan sigap menangkap tubuh nyonya Aini agar tidak jatuh ke lantai. Segera Bagas membawa nyonya Aini untuk duduk di kursi tunggu.


Tak lama kemudian, pintu ruang ICU terbuka. Tampak seorang perawat keluar.


"Apa di antara kalian ada yang bernama Kya ?" tanya sang perawat.


Tuan Ali, nyonya Aini, dan Bagas saling pandang. Mereka merasa heran dengan pertanyaan sang perawat.


"Maaf, Pak, bu..! Semenjak pasien sadar, beliau hanya memanggil nama Kya. Jadi dokter menyuruh saya untuk memanggil orang yang bernama Kya. Dikhawatirkan ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan."


Sepertinya perawat melihat kebingungan di mata keluarga pasien. Karena itu dia pun menjelaskan keinginan pasien sejauh yang dia mampu mengartikan setiap gumaman tuan Mahesa.


"Bagaimana keadaan ayah saya, sus ?" tanya tuan Ali mendekati perawat itu.


"Saat ini, dokter masih berusaha untuk menanganinya. Mudah-mudahan beliau bisa bertahan dan melewati masa kritis ini."


"Apa maksudnya, sus ? Bertahan...? Masa kritis ? Apa yang terjadi dengan beliau ?" tanya nyonya Aini semakin cemas.


suster itu menghela napasnya. "Mohon maaf ibu, hanya dokter yang memiliki kewenangan untuk menjawab semua pertanyaan ibu. Namun saran saya, sebaiknya kalian hubungi orang yang bernama Kya untuk segera datang kemari ! Permisi !" pamit perawat itu, kembali ke dalam.


"Bagas ! Hubungi Kyara !" perintah tuan Ali.


Bagas mengangguk. Dia segera menjauh untuk menghubungi Kyara.


Tiba-tiba pintu ruangan ICU kembali terbuka.


"Keluarga pasien bapak Mahesa !" teriak salah seorang perawat yang lainnya.


Tuan Ali dan nyonya Aini berdiri,


"Iya, kami keluarganya. Ada apa, sus ?" tanya tuan Ali.


"Dokter meminta keluarga pasien untuk menemui pasien. Sepertinya ada yang ingin beliau sampaikan." jawab sang perawat.


Di ujung koridor.


"Assalamualaikum...!"


"Kya, datanglah ke kota B saat ini juga ! Sesuatu terjadi dengan eyang akung ! Jangan lupa, begitu sampai di terminal, hubungi aku !"


Tut...tut...tut...


Bersambung....


Mohon maaf author telat up. Posisi masih jaga ponakan di rumah sakit. Semoga hari ini bisa pulang.


Terima kasih untuk yang masih terus mendukung cerita ini.


Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2