
Setelah berpamitan kepada ibunya, Kyara dan Anti pun berjalan beriringan keluar dari rumah Kyara.
"Selamat bersenang-senang, ya...!" teriak bu Ratna seraya melambaikan tangannya.
"Iya, bu...! Tenang aja, hari ini akan kubuat Kyara tersenyum seperti dulu lagi !" janji Anti seraya membalas lambaian tangan bu Ratna.
Kyara hanya tersenyum tipis melihat percakapan ibunya dan sahabatnya.
20 menit kemudian, mereka tiba di terminal.
"Sebenarnya, kita mau ke mana sih, mbak ?" tanya Kyara penasaran.
"Sudah, kamu ikuti saja !" jawab Anti sambil terus melangkah mencari bus yang akan membawanya pergi ke tempat tujuan.
Kyara kembali diam dan mengikuti langkah Anti. Tiba-tiba saja langkah Anti berhenti di deretan bus dengan tujuan Cipatujah. Dia pun melangkahkan kakinya menaiki bus yang paling depan.
"Cipatujah ? Apa kita hendak ke Cipatujah ?" tanya Kyara penasaran.
Anti hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kyara.
"Tapi, ngapain kita ke Cipatujah ?" Kyara masih tak mengerti.
"Sstt...! Diamlah...! Ayo cepat duduk !" perintah Anti.
Kyara pun duduk, meski belum paham maksud dan tujuan Anti, tapi Kyara tetap menurut pada perintah Anti.
Setelah 10 menit menunggu, akhirnya bus pun melaju dengan kencangnya. Jalanan di kampung tidak sepadat di kota, karena itu, bus yang ditumpangi Kyara bisa berjalan dengan leluasa tanpa terjebak kemacetan.
Setelah melewati perjalanan selama 3 jam, mereka akhirnya tiba di terminal Cipatujah. Perjalanan mereka lanjutkan dengan menggunakan angkot, hingga 25 menit kemudian mereka tiba di pantai Cipatujah.
Sebuah pantai yang memiliki pemandangan indah, namun tidak untuk dijadikan tempat berenang. Ombak di pantai ini terlalu besar, hingga pemerintah setempat memberikan larangan kepada para pengunjung untuk berenang meski hanya di tepi pantainya saja.
"Sebenarnya, kita mau apa ke sini, mbak ?" tanya Kyara saat mereka memutuskan rehat dan makan siang di warung lesehan di pinggir pantai.
"Kau akan melihatnya nanti, sekarang, makanlah dulu !" perintah Anti.
Kyara pun mengangguk dan mengikuti perintah Anti.
Selepas makan dan beristirahat dengan cukup, Anti mengajak Kyara ke sebuah tebing di tepi pantai. Dia kembali membawa dus yang berisi barang-barang Kyara ke tebing yang berada di tepi sebelah selatan pantai Cipatujah.
Tiba di sana, Anti meletakkan dus itu. Dia pun meraih tangan Kyara untuk lebih mendekat.
"Aku takut, mbak !" ujar Kyara.
"Tidak usah takut, aku akan memegangmu !" jawab Anti
"Tapi ini terlalu tinggi, mbak ! Lihatlah ke bawah, ombaknya sangat besar !" tunjuk Kyara pada ombak yang bergulung di bawah tebing itu.
Anti hanya tersenyum, "Cepatlah ! Keburu sore ! Semakin sore, ombaknya semakin lebih dari ini !" gertak Anti.
"Ish, mbak ini...!" gerutu Kyara.
Dengan berpegangan erat pada tangan Anti, Kyara pun berdiri di tebing ini. Kyara menatap lautan yang terhampar luas, dengan ombak besar yang saling berkejaran. Angin kencang menyibakkan rambut Kyara.
Anti menyodorkan dus besar yang berisi barang-barang pemberian Ajay kepada Kyara.
Kyara menatap Anti penuh tanda tanya.
Anti tersenyum.
__ADS_1
"Bukankah kau ingin melepaskan kebencianmu, Kya ?"
Kyara mengangguk.
"Baiklah, kita mulai dari boneka ini !"
Anti meletakkan dus besar itu di bawah kaki Kyara. Dia mengambil boneka Teddy bear love dan menyerahkannya kepada Kyara.
"Buanglah !" perintahnya.
Kyara melongo, semakin tidak mengerti dengan perintah Anti.
Anti menghela napasnya. Dia mengerti arti tatapan Kyara. Anti memegang bahu Kyara.
"Dengar Kya, jika kau ingin melepas kebencian, kau harus membuang masa lalumu ! Membuang semua kenanganmu bersamanya ! Dan kita mulai dengan ini !" ujar Anti kembali menyerahkan boneka itu.
"Buanglah satu persatu barang yang telah diberikan oleh mantan tunanganmu ! Makilah dia sesuka hatimu ! Berteriaklah sekeras mungkin ! Lepaskan semua kekesalanmu ! Luapkan emosi dan amarahmu ! Setelah itu lepaskan masa lalumu !"
Kyara mengangguk. Dengan gemetar, dia mengambil boneka itu. Menatap laut lepas dan mulai melemparkan boneka pemberian Ajay.
"Aku membencimu Ajay Sanjaya ! Dasar bajingan, pembunuh keji ! Pria brengsek ! Keparat kamu Ajay ! Aku bersumpah, kamu tidak akan pernah bisa bahagia ! Tidak akan pernah..!! Dasar bajingan...! Aaarrhhh.......!"
Kyara terus berteriak, melempar satu persatu barang pemberian Ajay sambil berteriak-teriak memaki dan meluapkan kemarahannya.
Apa yang Kyara lakukan, benar-benar menguras tenaganya, hingga Kyara jatuh terduduk di bebatuan tebing.
Kyara kembali menangis, namun entah kenapa, kali ini hatinya benar-benar merasa lega.
Anti berjongkok di hadapan Kyara. Kembali dia memeluk Kyara untuk memberikan kekuatan. Cukup lama mereka saling berpelukan dalam tangis. Ya, Anti ikut menangis merasakan kepedihan yang dialami Kyara.
Kyara melepaskan pelukannya, dia kemudian menyeka air matanya.
"Iya mbak, entah kenapa aku merasa sedikit lega." jawab Kyara.
Anti tersenyum, "Syukurlah ! Sedikit demi sedikit, aku yakin kau pasti bisa membuang masa lalumu dan menyambut masa depanmu yang akan dipenuhi kebahagiaan." ujar Anti.
"Aamiin..." jawab Kyara.
"Ya sudah, ayo kita pergi !" ajak Anti.
Anti meraih tangan Kyara dan membantunya berdiri. Mereka kembali berjalan beriringan menuruni terjalnya bebatuan tebing.
"Apa kita akan pulang ?" tanya Kyara begitu tiba di hamparan pasir putih.
"Tidak, kita akan bersenang-senang dulu !" jawab Anti dengan senyum menyeringainya.
"Maksud mbak ?"
"Hei Kyara Adistya ! Hari ini aku akan menyanderamu !" ujarnya sinis.
"Mbak... Anti..., jangan bercanda !" ujar Kyara.
"Ayo ikut...!"
Anti menarik tangan Kyara, dan menyeretnya ke tepi jalan raya. Tiba di sana, Anti segera mendorong Kyara untuk menaiki bus.
10 menit kemudian, bus tersebut tiba di pantai Sindangkerta. Setelah membayar ongkos bus, Anti pun segera memasuki antrian tiket untuk masuk ke pantai itu.
Tanpa sepatah kata pun, Kyara masih tetap mengikuti Anti.
__ADS_1
Setelah membayar tiketnya, Anti segera menuju losmen-losmen yang sering disewakan oleh penduduk setempat untuk para pengunjung.
"Ke... kenapa kita ke sini, mbak ?"
"Ish..., aku kan sudah bilang, kalau hari ini aku akan menyanderamu !"
Kyara melepaskan tangannya dari genggaman tangan Anti dengan kasar.
"Cukup, mbak ! Jangan main-main lagi ! Jelaskan padaku, apa maksud semua ini !" ujarnya marah.
"Hhhh..., kamu memang nggak bisa diajak bercanda ya, Kya ! Baiklah, nanti aku jelaskan ! Sekarang kita ke losmen dulu, badanku lengket, aku mau mandi !" ujar Anti seraya berlalu pergi begitu saja.
Melihat ketidakpedulian Anti, Kyara hanya bisa mengikutinya sambil mengerucutkan bibirnya.
Tiba di sebuah losmen, sepasang suami istri menyambut kedatangan mereka.
"Selamat sore, mbak Anti !" sapanya sopan.
"Sore mang Diman, bik Isah ! Apa kamarnya sudah siap ?"
"Sudah non !"
"Baiklah..., makasih ! Oh iya, kenalkan, ini temanku, namanya Kyara."
"Sore non Kyara !" ujar sepasang suami istri itu.
"Sore...!" jawab Kyara canggung.
Setelah sedikit berbasa -basi, Anti pun menarik tangan Kyara untuk mengikutinya memasuki kamarnya.
"Mbak Anti, sebenarnya kita mau ngapain ke sini ? Dan siapa mereka ?" tanya Kyara semakin penasaran.
Kembali Anti menghela napasnya.
"Sebenarnya, losmen ini milik bu Hana, peninggalan almarhum suaminya. Bu Hana memberi kita kesempatan berlibur selama dua hari ke depan di sini." jawab Anti.
"Be... benarkah ?" tanya Kyara ragu.
Anti mengangguk.
"Mbak, a... apa bu Hana tahu, kejadian yang menimpaku ?"
Anti kembali menganggukkan kepalanya.
Kyara menundukkan kepalanya. Merasakan kembali kesedihannya.
Anti memegang dagu Kyara, sedikit mengangkatnya.
"Hei..., sudahlah...! Kita kemari hanya untuk bersenang-senang ! Mandilah ! Sebentar lagi kita pergi ke pantai untuk melihat sunset."
Kyara tersenyum, kemudian mengangguk. "Kya janji, mbak ! Kya pasti bisa melupakan semua kepahitan ini !"
"Siipp...! Itu baru adikku...! Pergilah !"
Bersambung....
Akhirnya bisa up juga...
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🙏
__ADS_1