
Bugh....!
Karena terburu-buru mengikuti langkah Bagas yang lebar, akhirnya tanpa sengaja Kyara menabrak seseorang.
"Ma...maaf...!" ujar Kyara meminta maaf seraya membungkukkan badannya.
Bagas menoleh ke arah orang yang ditabrak Kyara.
"Kau...!" seru orang itu yang tak lain adalah Ajay.
"Jadi ini urusan mu ?" tanya Bagas, sinis.
"Sudahlah ! Tidak usah ikut campur !" jawab Ajay tak kalah sinisnya.
Kyara tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Baiklah, selesaikan urusanmu sekarang juga ! Suruh cewekmu itu untuk tidak pernah mengganggu calon istrimu !" ujar Bagas, dingin.
Bagas hendak pergi, namun dia teringat sesuatu. Dia kembali menghentikan langkahnya.
"Satu lagi Jay, berhentilah bermain-main. Sebaiknya kau pertegas statusmu di hadapan para wanita !" ujar Bagas penuh penekanan.
Namun Ajay tidak peduli. Dia malah masuk begitu saja ke dalam restoran tanpa menghiraukan perkataan Bagas.
Bagas tidak akan meninggalkan Kyara sendirian lagi. Karena itu dia pun masih menarik tangan Kyara untuk tetap mengikutinya hingga ke tempat parkir. Tiba di sana, Bagas membukakan pintu mobilnya untuk Kyara.
"Masuklah !" ujarnya.
Kyara masuk. Setelah itu Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, agar segera sampai di rumah keluarga Ajay Sanjaya.
Jalanan terlihat cukup lengang. Hingga tak mencapai waktu satu jam, mereka pun sudah tiba di rumah tuan Ali.
Bagas membunyikan klakson mobilnya. Seorang pria paruh baya segera berlari untuk membuka gerbang.
Akhirnya aku kembali menginjakkan kaki ke rumah ini lagi....batin Kyara.
Mang Ujang, petugas keamanan di rumah keluarga Sanjaya, segera berlari untuk membukakan pintu gerbang. Setelah pintu gerbang terbuka, Bagas melajukan mobilnya dan memarkirkannya di halaman depan.
Di teras, tampak nyonya Aini dan tuan Mahesa menyambut kedatangan Kyara.
Kyara segera turun dari mobil. "Assalamualaikum, eyang !" sapa Kyara menghampiri tuan Mahesa dan istrinya.
"Waalaikumsalam...! Ah, akhirnya kalian datang juga...!"ujar nyonya Aini. "Bagaimana kabarmu, cucu mantu eyang...?" nyonya Aini menghampiri Kyara dan segera memeluknya.
Kyara membalas pelukannya nyonya Aini. "Alhamdulillah, Kyara baik, yang...! Eyang sendiri bagaimana ? Sehat ?" tanya Kyara.
"Alhamdulillah, eyang sehat nak !" jawab nyonya Aini.
Kyara kemudian menghampiri tuan Mahesa. "Apa kabar, eyang !" sapanya.
"Baik, nak." jawab tuan Mahesa. "Apa kamu sudah makan siang ?" tanyanya.
"Sudah. Tadi kak Bagas ajak Kya ke restoran dulu untuk makan siang." jawab Kyara seraya melirik Bagas.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Kamu nggak cape kan..? tanya tuan Mahesa. "Eyang mau tunjukkan sesuatu sama kamu !" lanjutnya.
"Nanti saja, suamiku...! Biar cucu mantu kita ini, istirahat dulu ! Kasian, dia baru saja sampai !" ujar nyonya Aini.
"Tapi Aini..., aku sudah tidak sabar ingin segera memberikan kejutan ini !" tukas tuan Mahesa.
"Tidak apa-apa eyang, Kyara nggak cape kok..! Memangnya ada kejutan apa sih...! Kya jadi penasaran..., he..he..." gurau Kyara.
"Sebentar ya...! Aini, mana syalnya...!" ujar tuan Mahesa.
Nyonya Aini segera memberikan syal bermotif bunga kepada suaminya. Tuan Mahesa menerima syal itu, kemudian dia menghampiri Kyara.
"Tutup matamu..!" perintah tuan Mahesa.
"Tapi, yang...!" ujar Kyara tak mengerti.
"Sudah, nak ! Ikuti saja perintah eyang akungmu..! Jangan khawatir, eyang uti akan selalu berada di sampingmu..!" ujar nyonya Aini sembari membelai lembut rambut Kyara.
Kyara mengangguk.
"Bagas, tolong bantu eyang untuk menutup mata cucu mantu dengan syal ini !" perintah tuan Mahesa kepada Bagas sambil menyerahkan syalnya.
Bagas menerima syal itu. Dia mulai mendekati Kyara. Dengan penuh keraguan, dia mulai menutup mata Kyara dengan syal itu. Hampir tak ada jarak di antara mereka. Hembusan angin menerpa rambut Kyara yang terurai dan menyentuh lembut wajah Bagas. Wangi sekali..." batin Bagas.
Sejenak Bagas larut dalam aroma tubuh Kyara yang membuai hasratnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja Bagas menginginkan aroma ini untuk selalu dihirupnya setiap hari. Ya Tuhan...., perasaan apa ini...!
Cukup lama Bagas mengikatkan syal itu, dia tidak pernah ingin lepas dari aroma tubuh Kyara. Hingga perkataan nyonya Aini kembali membawa Bagas ke alam sadarnya.
"Jangan terlalu kencang, nak Bagas !" ujar nyonya Aini.
"Cukup, kak. Ini tidak terlalu kencang, kok !" jawab Bagas seraya meraba ikatan syal di matanya.
Tanpa sengaja, tangan Kyara menyentuh tangan Bagas yang masih memegang ikatan syalnya.
Syerrr....
Darah Bagas berdesir. Jantungnya berdetak tak beraturan. Gelanyar aneh itu kembali menghampiri hatinya. Ada apa ini...? Apa yang terjadi padaku...!
Bagas segera menarik tangannya. Dia tidak ingin perasaannya terlalu jauh berharap. Dia harus bisa menguasai akalnya. Bagaimanapun, Kyara adalah calon istri Ajay, sahabatnya.
"Sudah selesai Gas ?" tanya tuan Mahesa. "Kalau sudah selesai, tolong kamu tuntun Kyara ya, supaya dia tidak tersandung !" perintah tuan Mahesa.
"Bagas mengangguk.
"Ayo, nak ! Pegang tangan Bagas dan ikuti dia !" perintah tuan Mahesa.
Kyara mengangkat kedua tangannya dan mulai meraba-raba di udara, mencari keberadaan tangan Bagas.
Bagas segera meraih tangan Kyara dan membiarkan Kyara memegang tangannya.
"Ayo..!" ajak tuan Mahesa.
Tuan Mahesa menggandeng tangan istrinya. "Ayo, istriku..!" ujarnya.
__ADS_1
Nyonya Aini tersenyum, "Ayo suamiku..!" jawabnya.
Akhirnya mereka berempat pergi menuju tempat yang sudah disiapkan sedari tadi.
Sepanjang jalan, Bagas memapah dan mengaping langkah Kyara agar tidak terjatuh ataupun tersandung pembatas jalan.
"Sekarang, syalnya boleh dibuka ya...!" perintah tuan Mahesa begitu tiba di tempat tujuan.
Kyara meraba syalnya, mencoba membuka ikatannya. Namun sayangnya, ikatan itu terlalu kuat. Sehingga membuat Kyara merasa kesulitan untuk membukanya.
Melihat hal itu, Bagas segera membantu Kyara. Pada akhirnya, kembali kulit tangan mereka bersentuhan. Membuat hati Bagas semakin terasa kacau. Ikatan syal pun terbuka.
"Kejutan...!" seru tuan Mahesa dan nyonya Aini berbarengan.
"Subhanallah...!" Kyara bergumam.
Kyara tertegun melihat pemandangan di depannya. Ya ! sebuah rumah megah berdiri kokoh di hadapannya. Rumah berlantai dua dengan gaya desain klasik modern. Eksterior rumah didominasi dengan warna cat putih untuk dindingnya, berbalut dengan batu alam, semakin membuat rumah ini terlihat elegan. Berlantaikan marmer, dan ornamen tiang penyangga yang dilapisi granit berwarna gold, membuat kesan yang semakin mewah.
"Bagaimana Kya ? Apa kau suka ?" tanya tuan Mahesa.
"I...ini... indah sekali, eyang." jawab Kyara. "Ini rumah siapa, eyang ? Kenapa Kya dibawa kemari ?" tanyanya.
"Ini rumah yang akan kamu tempati setelah menikah dengan Ajay nanti. Anggap saja ini hadiah untuk pernikahan kalian." jawab tuan Mahesa.
"Ta... tapi eyang..., ini... ini terlalu besar dan mewah. Kya... Kya tidak pantas menerima ini...!" jawab Kyara.
"Siapa yang bilang tidak pantas ? Cucu mantu Mahesa Sanjaya berhak mendapatkan yang terbaik ! Kya, eyang tidak suka berdebat dan juga penolakan. Jadi, ini kuncinya ! Silakan masuk, lihatlah dan segera buat daftar keperluan untuk mengisi rumah ini dengan berbagai macam perabotan yang kau inginkan !" perintah tuan Mahesa.
"Tapi eyang.." jawab Kyara.
Nyonya Aini menyentuh bahu Kyara. Kyara menoleh, dia melihat nyonya Aini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kyara mengerti isyarat yang diberikan nyonya Aini.
"Ba... baiklah eyang..." kembali dia menjawab perintah tuan Mahesa.
"Bagus...! Masuklah...! Bagas, kau temani Kyara untuk melihat-lihat rumah ini !" perintah tuan Mahesa.
"Baiklah eyang !" jawab Bagas.
"Ya, sudah ! Kami pergi dulu ya..!" tuan Mahesa pamit dan meninggalkan Kyara dan Bagas di depan rumah mewah itu.
Kecanggungan pun kembali terjadi.
Bersambung...
Terima kasih untuk para readers yang telah meluangkan waktu untuk membaca novel ini.
Tanpa kalian, novel ini tidak ada apa-apanya.
Terima kasih untuk like, vote dan komentarnya.
Terima kasih atas dukungannya...
Jangan lupa boomlike nya yaaa...
__ADS_1
Hatur nuhun...🙏🙏