Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
This Is My Life !


__ADS_3

Selepas solat ashar, beramai-ramai kak Indah, suami beserta keluarga besar Gunawan hendak menjenguk Kyara di rumah sakit. Namun sayangnya, saat ini Kyara tengah tertidur karena merasa lelah dengan semua kejadian. Dia sendiri bahkan meminta Guntur untuk pulang.


Dengan berat hati, Guntur pun melangkahkan kakinya keluar. Meski Kyara menyuruhnya pulang, namun Guntur tidak menurutinya. Dia malah memilih menunggu Kyara di luar.


Guntur sedang rebahan di kursi panjang saat keluarga almarhum bosnya datang.


"Ger..!" ujar Gunawan mengguncang pelan bahu Guntur.


Guntur pun mengerjapkan matanya. "Tuan Gun !" ujarnya merasa kaget.


"Kenapa nunggu di luar ?" tanya Gunawan lagi.


"Nona Kyara sedang tertidur, jadi aku tidak mau mengganggunya." jawab Guntur, jujur.


Tampak raut kekecewaan di wajah orang-orang yang akan menjenguk Kyara.


"Gun, papa sama mama nggak bisa tinggal lama-lama di sini. Titip salam saja buat adik ipar kalian. Ingat, jangan tinggalkan dia ! Saat ini, dia sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya." ujar ayahnya Gunawan.


"Iya pa, ma ! Gunawan sama Indah pasti akan selalu menjaga Kyara. Apalagi saat ini Kyara sedang mengandung anaknya Bagas, satu-satunya keturunan Bagas yang akan menjadi pewarisnya." ucap Gunawan.


Papa Gunawan menepuk bahu anaknya.


"Papa bangga sama kamu nak !"


Setelah itu, kedua orang tua Gunawan meninggalkan rumah sakit untuk segera kembali ke kotanya.


Kak Indah membuka pintu ruangan VVIP, tampak Kyara sedang terlelap di atas ranjangnya.


"Neng Indah !" panggil bi Irah terkejut melihat kak Indah datang.


"Sstt...!" ujar kak Indah seraya menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


"Apa dia sudah lama tertidur, bi ?" tanya kak Indah lagi.


"Selepas solat ashar, neng ! Mungkin baru sekitar setengah jam yang lalu." jawab bi Irah.


"Bagaimana keadaannya ?" tanya kak Indah lagi.


"Dokter bilang, Aneng sama calon anaknya baik-baik saja."


"Syukurlah ! Oh iya bi, untuk malam ini, biar Indah yang jaga di sini ! Bibi pulang saja sama mang Jajang, biar bisa istirahat di rumah !" ujar kak Indah.


"Ah tidak usah, neng ! Biar bibi sama mamang yang jaga di sini ! Lagipula, sudah lama kami tidak bertemu dengan Aneng. Kami rindu, jadi biar kami saja yang menjaga Aneng di sini." ujar bi Irah.


"Ya sudah, kita jaga sama-sama saja !" ujar kak Indah seraya memegang kedua tangan bibinya Kyara.


***


Kyara tersenyum lebar melihat sosok laki-laki bertubuh tegap, memakai jas berwarna abu tua tengah berdiri di tepi jurang yang cukup dalam. Saat Kyara memanggilnya, laki-laki itu membalikkan badannya seraya tersenyum ke arah Kyara.


Kyara pun mencoba menerobos jalanan yang menghalangi dirinya menghampiri laki-laki itu. Berulang kali Kyara mencoba menyebrang jalan, tapi padatnya kendaraan bermotor selalu menghalanginya. Seolah seperti sedang berkonvoi.


Kyara masih terus berusaha menerobosnya, hingga akhirnya dia berhasil mengikis jarak di antara dirinya dan laki-laki tampan itu. Terlihat laki-laki itu merentangkan kedua tangannya. Kyara tersenyum, dia segera berlari kecil untuk memeluk lelakinya. Namun, saat jarak hanya menyisakan beberapa langkah lagi, tiba-tiba seorang lelaki menabrakkan dirinya ke arah lelakinya hingga akhirnya mereka terjatuh ke jurang.


"KAKAAAANG.....!!"


"Astaghfirullah hal adzim...! Kya....! Kya..., ada apa sayang...!"


Puk....puk...puk....

__ADS_1


Kak Indah terkejut saat mendengar teriakkan yang ternyata berasal dari adik iparnya. Bulir keringat tampak membasahi kening Kyara. Kak Indah pun menepuk pelan pipinya Kyara.


"Kyara, sayang ! Bangun, Kya...!" ujar kak Indah masih menepuk pelan pipinya Kyara.


Kyara mengerjapkan matanya. Dia menatap kak Indah. Tiba-tiba, dia teringat akan mimpinya.


"Kak..., kakang masih hidup, dia...dia jatuh ke dasar jurang. Seseorang menabraknya dan mereka berdua jatuh. Kita harus segera mencarinya...!" ujar Kyara seraya menyingkap selimutnya.


"Kya..., Kya...! Dengar sayang...! Lihat kakak...!" ujar kak Indah seraya menahan kedua pundak Kyara agar tidak turun dari ranjangnya.


Kyara menatap kakak iparnya.


"Sayang, kakak mengerti perasaanmu, tapi Kya harus kuat ! Kya, Bagas sudah tiada ! Bagas sudah tenang di sisi Tuhan ! Kakak mohon, ikhlaskan Bagas ! Kuatlah Kya, demi anak yang berada dalam kandunganmu, demi satu-satunya kenangan kalian, buah cinta kalian, kakak mohon...!" ujar kak Indah memelas seraya membenahi rambut Kyara yang acak-acakan.


Kyara hanya bisa menangis dalam diam. Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa tidak ada orang yang mempercayainya. Dia merasa yakin jika suaminya belum meninggal. Tapi Kyara tak punya kekuatan untuk membuktikan semuanya. Argumennya kalah telak dengan bukti yang ditemukan pihak kepolisian.


"Tidurlah kembali, Kya ! Dokter bilang, kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak, karena bisa berakibat fatal untuk kandunganmu." ujar kak Indah seraya membaringkan kembali adik iparnya.


Dengan penuh kasih sayang, kak Indah mengusap-usap rambut Kyara, hingga akhirnya Kyara kembali terlelap.


***


"Ar..., apa kau lihat berita di televisi kemarin siang ?" tanya Sisil saat menelpon Aaron yang tengah berada di Singapore untuk perjalanan bisnisnya.


"Ya, aku melihatnya ! Nanti sepulang dari Singapore, kita akan coba cari alamat kak Indah untuk mengucapkan belasungkawa. Aku benar-benar tidak menyangka jika sahabat terbaikku akan pergi secepat ini." ujar Aaron yang terdengar berat suaranya.


"Sabar ya, Ar ! Jodoh, kematian, kebahagiaan dan musibah, semuanya sudah ada yang mengaturnya." ujar Sisil.


"Ya, kamu benar ! Yang bisa kita lakukan hanya berdo'a untuk kebaikan semuanya. Semoga saja Kyara bisa kuat menghadapi ujian ini." ujar Sisil.


"Aamiin...!"


***


Sebenarnya, mang Jajang dan bi Irah hendak membawa Kyara pulang kampung. Menurutnya Kyara akan jauh lebih baik jika beristirahat di kampungnya. Udara di kampung cukup bersih, suasananya pun nyaman. Akan mudah bagi Kyara untuk menenangkan dirinya. Tapi ternyata, kak Indah tidak mengizinkannya.


Menurut kak Indah, setelah Bagas meninggal, maka Kyara dan anaknya sepenuhnya tanggung jawab kak Indah. Karena itu, kak Indah akan membawa Kyara untuk tinggal bersamanya.


Mang Jajang dan bi Irah pun hanya bisa pasrah menerima keputusan kak Indah. Mereka senang karena ternyata Kyara masih bisa diterima dengan baik di keluarga itu, meskipun suaminya telah meninggal. Setelah mereka merasa yakin jika Kyara akan baik-baik saja, mereka pun pamit undur diri dan kembali pulang ke kampung halamannya.


"Ayo masuk, Kya !" ujar kak Indah seraya membuka pintu kamar Bagas.


Kyara memejamkan matanya, menghirup kuat-kuat udara di kamar suaminya. Wangi aroma maskulin yang dirasainya membuat senyum tipis mengembang di kedua sudut bibir Kyara.


Aku tahu kau pasti akan menyambutku, kakang...! batin Kyara dalam hati.


Kyara berjalan ke arah jendela. Dia menyingkap tirai jendela yang menghadap ke arah taman bermain di belakang. Kyara tersenyum membayangkan anaknya sedang bermain di sana. Tanpa sadar dia pun mengusap-usap perutnya yang masih datar.


Hai baby...., kamu senang kan kita pulang ? Apa kau tahu ? Sekarang, kita sedang berada di kamarnya abap. Sehat terus di perut bunda ya sayang ! Dan berdo'alah supaya abap cepat kembali...!


"Cukup Kya, tutuplah jendelanya ! Udaranya sudah tidak baik lagi untuk kesehatanmu ! Kemarilah ! Dokter menyuruhmu untuk istirahat, bukan untuk melamun !" ujar kak Indah seraya memapah kembali Kyara untuk berbaring di kasurnya.


Kyara menuruti ajakan kak Indah. Dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ah, ranjang yang sangat nyaman. Kembali aroma tubuh Bagas menyeruak memasuki penciuman Kyara.


Kyara memiringkan tubuhnya, dia mengusap salah satu bantal yang berada di sampingnya. Air mata Kyara jatuh di pipinya tanpa permisi.


Melihat hal itu, kak Indah pun tersenyum miris. Dia merasa iba terhadap adik iparnya yang harus menjanda di usia muda. Dalam keadaan hamil pula.


Ya Tuhan..., semoga Kyara bisa segera menemukan kembali jodoh terbaiknya, yang bisa menerima dirinya dan anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang... Maafkan kakak, Gas ! Kakak tidak bermaksud untuk menyuruh Kyara melupakanmu, tapi Kyara masih muda, dan dia harus melanjutkan hidupnya.

__ADS_1


Sementara itu di klinik milik dokter Nita. Ajay tampak bersemangat melakukan terapinya. Saat ini, dia pun sudah membuat janji dengan dokter ahli tulang terbaik di kota J.


"Nit, kapan terapi kakiku akan di mulai ?" tanya Ajay saat mereka telah selesai melakukan hypnotheraphy.


"Minggu depan hari Rabu. Praktek dokternya setiap hari Rabu." jawab dokter Nita.


"Ah, aku sudah tak sabar ingin segera berjalan lagi." ujar Ajay tersenyum membayangkan jika dirinya bisa kembali berjalan.


"Waah...., sepertinya ada yang sedang bersemangat nih..!" goda dokter Nita.


"Ah, kamu bisa aja, Nit ! Oh iya Nit, apa aku masih pantas untuk kembali bersanding dengan Kyara ?" tanya Ajay tiba-tiba.


Dokter Nita menghela napasnya.


"Jay, bolehkah aku beri saran ?" tanya dokter Nita.


"Silakan, Nit ! Tidak perlu sungkan ! Kita kan, sahabat." jawab Ajay.


"Jika memungkinkan, tolong hentikan semua ini Jay ! Lupakan Kyara dan carilah kebahagiaanmu sendiri ! Aku sudah cukup putus asa untuk membuat dia memantaskan dirinya untuk suaminya. Aku mohon, biarkan dia hidup dengan kenangan suaminya ! Setidaknya, sampai dia siap kembali memantaskan dirinya untuk orang lain."


"Apa maksudmu, Nit ? Memantaskan diri ? Memantaskan apa ? Memantaskan bagaimana ?"


"Jay, aku mengenal Kyara sejak kami duduk di bangku kuliah. Kyara orang yang sangat dingin, tidak suka bergaul bahkan sangat membenci kaum adam. Dia orang yang sangat peduli tentang hak-hak wanita, karena itu sebuah LBH di kota kami merekrutnya sebagai tenaga psikologis untuk perempuan korban perundungan kaum adam. Awalnya, aku tidak pernah tahu kenapa dia sangat membenci pria. Hingga akhirnya, sebuah permintaan terakhir ibunya membawa dia pada sebuah pernikahan dengan Bagas. Awal pernikahan, Kyara sama sekali terlihat masa bodoh dengan suaminya. Hingga suatu hari dia datang kepadaku sebagai pasien. Semenjak hari itu, aku mengetahui apa yang membuat Kyara membenci kaum adam. Kenyataannya, bukan pria yang dia benci. Tapi tubuhnya sendiri. Setiap ada pria yang menyentuhnya, sekalipun itu hanya berjabat tangan, bayangan masa lalu saat dia menyerahkan tubuhnya untuk kekasihnya, mulai menghantuinya. Dia trauma Jay ! Dia merasa jijik dengan tubuhnya yang telah memberikan kepuasan kepada lelaki yang mencampakkannya. Karena itulah dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari seorang laki-laki. Dia memiliki trauma begitu hebat terhadap sentuhan pria, tapi di sisi lain, dia mempunyai kewajiban untuk melayani suaminya sesuai dengan syariat Islam. Batinnya berperang hebat, hingga terkadang aku sendiri merasa menyerah karena tidak mampu memberikan pengobatan yang baik untuk kesembuhan Kyara. Kyara selalu menolak untuk melakukan hypnotheraphy untuk menghilangkan rasa ketidakpantasannya. Sampai akhirnya, pada suatu hari dia datang dengan tekad yang kuat agar dia bisa sembuh total. Setelah beberapa kali melakukan hypnotheraphy, akhirnya Kyara mulai bisa memantaskan dirinya untuk suaminya. Aku mohon Jay, jangan paksa dia lagi ! Setidaknya, biarkan Kyara menikmati dulu kesendiriannya. Aku yakin Kyara perempuan yang sangat kuat ! Dia perempuan yang sangat tegar ! Biarkan dia memilih hidupnya sendiri !"


Ajay diam tak bergeming mendengar penuturan dokter Nita tentang Kyara di masa lalunya. Perasaan bersalahnya pun kian menumpuk.


Mungkin memang benar, aku bukanlah orang yang pantas untuk mendampingi Kyara. Tapi, sanggupkah aku menepis rasa ini ? Rasa ingin memiliki dan melindungi Kyara.


***


Sebulan telah berlalu. Morning sick yang dialami Kyara semakin berkurang. Mungkin ini karena pengaruh pikiran Kyara yang selalu positif thinking dengan keadaan. Dia yakin jika suatu hari nanti dia pasti dipertemukan kembali dengan kekasih hatinya. Seperti Tuhan mempertemukan kembali Adam dan Hawa.


Kyara melangkahkan kakinya menuju kelas yang hampir dua bulan Kyara tinggalkan. Tiba di sana, terlihat sikap antusias anak-anak didiknya akan kembalinya guru mereka.


"Suprise....!! Yeaaayyy !!"


Teriak heboh murid-muridnya begitu Kyara memasuki ruang kelasnya.


Kyara merasa terharu dengan sambutan yang cukup meriah di kelasnya. Ada balon yang berwarna warni terhampar begitu banyaknya di lantai. Pintu yang diberikan tirai pita berwarna warni. Hiasan-hiasan cantik berbentuk burung, angsa, bintang dan juga bunga-bunga yang mereka lipat dari kertas origami. Juga white board yang bertuliskan,


"welcome back miss Kyara. A new world will awaits you"


Kyara tersenyum, air bening tampak mulai menggenang di kedua sudut matanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika muridnya sangat mencintainya. Dia merasa beruntung dicintai dan dinantikan kehadirannya oleh para peserta didiknya.


"Thank you so much !" ujar Kyara seraya berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.


Sontak para murid pun berlari berhamburan untuk berlomba-lomba memeluk guru kesayangannya.


Terima kasih Tuhan..., terima kasih telah menghadirkan mereka dalam hidupku. This is my life ! Ini duniaku ! Ini hidupku ! Selamat datang kembali di kehidupanmu, Kyara Adistya...


Bersambung...


Mohon maaf telat banget up nya...


Alhamdulillah ujian daring othor telah selesai. Insyaallah mulai besok, othor bisa fokus untuk melanjutkan karya ini. Jangan lupa like vote n komennya 🙏


Mampir juga di karya othor yang lainnya ya...


Takdir Gintani.

__ADS_1


Novel yang menceritakan tentang seorang gadis yang merasa takdirnya tak pernah baik karena selalu mengalami kepahitan yang bertubi-tubi dalam hidupnya. Bagaimana kisah selanjutnya...? Silakan mampir saja ya...🙏🙏


__ADS_2