
Assalamualaikum...mohon maaf baru bisa up yaa... berhubung anak sakit, jadi kemarin ga bisa penuhi janji..ππ
Lanjut yaaa readersku....
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"ini...! Lihatlah...!" dokter Alex menyerahkan hasil lab Kyara.
Dokter Risa mengambilnya, membaca hasil lab tersebut dengan teliti. Tiba-tiba dokter Risa mengernyitkan dahinya, "Lex....! Ini....?" tanya dokter Risa, penuh keraguan.
"Ya...! Apiol, myristicin dan bromelain...! Tidakkah kau sadar, jika semua zat itu terkandung dalam ramuan yang kita buat ?" tanya dokter Alex. "Apa kau memberikan ramuan herbal itu padanya, Ris...?" dokter Alex kembali bertanya penuh selidik.
"Jangan gila kamu Lex !" bantah dokter Risa. "Kau pikir aku sekeji itu !"
"Maaf, Ris...! Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi, saat kau bilang dia pasienmu, aku jadi curiga padamu, karena hanya kita berdua yang tahu tentang obat herbal itu. Atau..., apakah dia ada hubungan saudara dengan pasien khusus kita ?" tanya dokter Alex lagi.
"Tidak mungkin ! Aku kenal siapa Kyara. Ya ! Meski aku mengenalnya lewat adik temanku. Tapi, aku berani jamin, dia tidak ada hubungan apapun dengan pasien khusus kita. Dan satu lagi Lex, aku tidak pernah memberikan ramuan herbal itu pada siapa pun, selain pasien khusus kita, tidak pernah !!" jawab dokter Risa penuh penegasan.
"Baiklah ! Kita bicarakan lagi nanti ! Sekarang, pulanglah ! Kasihan Anton, dia sudah menunggumu dari tadi. Lagi pula, bukankah ini masih jadwal cutimu ?" tanya dokter Alex.
"Besok aku masuk, Lex. Aku khawatir pada Kyara." jawab dokter Risa.
"Oke kalau begitu." ujar dokter Alex.
"Kabari aku, jika sesuatu terjadi padanya !" pinta dokter Risa.
"Oke !" jawab dokter Alex.
*****
Waktu terus bergulir. Tanpa terasa, senja mulai nampak, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Namun Kyara masih tertidur pulas.
"Tok...tok...tok..." pintu ruang rawat diketuk dari luar.
Bagas segera pergi untuk membukakan pintu, "Kau !!" tanyanya, kaget.
"Ya ! Aku ! Kenapa tuan tidak menghubungiku saat Kyara sadar ? Tadi aku pergi ke ruang ICU, tapi perawat di sana bilang, kalau Kyara sudah sadar dan sudah dipindahkan ke sini." Sisil terus berbicara sambil berjalan ke arah ranjang Kyara.
"Aku tidak tahu nomor ponsel kamu !" ujar Bagas, datar.
"Ah iya, aku lupa ! Aku kan tidak memberikan nomor ponselku padamu. Lagi pula, meskipun tuan memberitahuku tadi pagi, tetap saja, aku pasti datangnya jam segini juga. Pagi hari, aku kan harus kerja." jawab Sisil panjang lebar, membuat kepala Bagas semakin pusing saja. "Mana ponselmu, tuan ? Sini...!" pinta Sisil.
"Untuk apa ?" tanya Bagas.
"Untuk menyimpan nomorku, agar tuan bisa menghubungiku kapan saja." jawab Sisil sambil mengetikkan nomor ponselnya di HP Bagas. "Ini !" Sisil kembali menyerahkan ponsel Bagas. "Apa Kyara sudah lama tidurnya..?" tanya Sisil.
"Ya." jawab Bagas singkat.
__ADS_1
"Belum bangun jam segini...?!" ujar Sisil, merasa heran.
"Dia harus banyak istirahat !" jawab Bagas.
"Ya...! Aku mengerti. Apa tuan mau pulang ? Biar aku yang menunggu Kyara." ujar Sisil
"Tidak !" Bagas menjawab tegas.
"Tapi, kenapa tuan ? Bukankah sekarang sudah ada aku ?!" tanya Sisil lagi.
"Kamu kerja ! Jadi, kamu saja yang pulang !" jawab Bagas
"Memangnya tuan tidak bekerja ? Apa tuan masih kuliah ? Aku lihat, tuan masih muda. Kalau nggak kerja, pasti kuliah, kan...?" cerocos Sisil
"Pengangguran..!!" jawab Bagas, sekenanya.
"Ish, tuan ini..., pelit banget ngomongnya...!" jawab Sisil kesal. "Ngomong-ngomong, kemana teman tuan yang pemarah itu, kok nggak kelihatan ?" Sisil mulai menanyakan keberadaan Aaron.
"Singapore." jawab Bagas singkat.
"Ish..., temannya sakit, kok dia malah pergi sih..!" gerutu Sisil.
"Sudah ! Aku ke mesjid dulu !" Bagas mengakhiri pembicaraannya dengan Sisil.
Azan magrib sudah mulai terdengar, dan Bagas hendak pergi ke mesjid, selain untuk solat, juga untuk menghindari Sisil yang semakin banyak bicara.
Bagas diam tak menjawab, berlalu begitu saja meninggalkan Sisil.
"Anak...anakku..." gumam Kyara, lirih. Namun matanya masih terpejam.
"Ra...., kamu sudah bangun Ra...? Kamu butuh apa ? Air...? Mau minum Ra...?" Sisil berlari mendekati Kyara.
"Jangan pergi.... anakku... anakku... jangan...JANGAN !!" Kyara membuka matanya, menatap sekeliling ruangan. Tiba-tiba, dia melepas paksa infusan yang ada di tangannya. "Aww...!" Kyara meringis.
"Ra...! Jangan...!" cegah Sisil.
Kyara tak menghiraukan Sisil, "Anakku.... anakku... jangan pergi ! Kembalikan anakku...! Kembalikan...!!" Kyara berteriak sambil berlari ke arah pintu.
"Ra...., istighfar Ra..." Sisil mengejarnya, meraih tangan Kyara. Berhasil...! Kyara terjatuh, Sisil segera memeluknya, tapi Kyara tetap meronta-ronta.
"Jangan halangi aku...! Aku mau pergi...! Anakku..., ini bunda nak... tunggu bunda ! Jangan tinggalin bunda !" Kyara terus meronta, memukul Sisil bertubi-tubi, "Lepaskan...! Lepaskan...pergi kamu...! Pergi...!" Kyara mendorong tubuh Sisil
"Ra....ini gue Ra...! Sisil, lo nggak ingat gue Ra...! Jangan seperti ini Ra..., istighfar...!" ujar Sisil
"Pergi kamu...! Kembalikan anakku...! Kembalikan...!" Kyara semakin histeris, dia semakin keras berteriak, membuat perawat yang sedang melewati kamarnya, masuk untuk melihat kegaduhan yang terjadi.
"Ada apa, nona ?" tanya perawat.
__ADS_1
"Suster, tolong saya...! Tolong panggilkan dokter !" pinta Sisil.
"Lepaskan...! Aku mau mencari anakku... lepaskan !" Kyara terus meronta.
"Ada apa ini ?" Bagas tiba-tiba muncul.
"Tolong tuan...! Bantu aku...!" pinta Sisil
Kyara masih tetap meronta. Kekuatan Sisil mulai lemah. Bahu dan kepalanya terasa sakit akibat pukulan Kyara. Dan akhirnya, Kyara berhasil meloloskan diri, karena cengkeraman tangan Sisil mulai longgar.
Kyara terlepas, tapi Bagas tidak tinggal diam. Dia segera menarik tangan Kyara dengan kuat, hingga membuat Kyara jatuh dalam pelukannya.
"Lepaskan...! Lepaskan...! Kembalikan anakku...! Kembalikan..!" Kyara tetap memberontak, namun Bagas memeluknya erat. Entah kenapa, ada gelanyar aneh di hati Bagas saat dia mendekap erat Kyara.
Dokter Alex datang dengan perawat tadi. "Berikan suntikannya, sus !" perintah dokter Alex.
Suster memberikan sebuah jarum suntik kepada dokter Alex.
"Pegang tangannya !" dokter Alex kembali memberikan perintah.
"Tidak...! Lepaskan...! Lepaskan...! Kembalikan anakku...! Kembalikan...!" Kyara terus berteriak histeris.
Sisil mulai menangis melihat Kyara diperlakukan seperti itu. Sedangkan Bagas, entah kenapa hatinya semakin sakit melihat tingkah Kyara yang histeris seperti ini.
Perlahan, Kyara tampak mulai melemah. Tubuhnya terkulai tak berdaya dalam pelukan Bagas. Bagas kemudian menggendong Kyara dan membaringkannya kembali di atas ranjang.
"Inilah yang saya takutkan, pak !" dokter Alex memulai pembicaraannya.
Bagas terdiam. Jadi ini maksud pembicaraan dokter Alex tadi siang, saat dia bilang aku harus menjaganya dan selalu memberikan cukup perhatian dan kasih sayang...
"Jadi, apa yang harus saya lakukan, dok ?" tanya Bagas.
Dokter Alex tersenyum dan menepuk pundak Bagas, "Bersabarlah ! Berikan dia perhatian yang terbaik, dan jagalah perasaannya !" jawab dokter Alex. "Saya yakin, anda bisa melewati semua ini ! Bersabarlah !" lanjutnya, memberikan dukungan kepada Bagas.
Bagas tersenyum kecut....
Bersambung....
Hai readers ku....
Terima kasih atas kunjungannya ke novel ini..
Terima kasih karena sudah memberikan saran untuk author ya...
Semoga author bisa lebih baik lagi dalam berkarya.
Jangan lupa untuk like, vote n komennya...πππ
__ADS_1