
Di waktu yang sama di kota B.
"Apa ! Bagaimana itu bisa terjadi !"
……........
"Baiklah, aku berangkat sekarang !"
Ajay segera mengambil jasnya yang tersampir di sandaran kursi. Baru saja Ajay mendapatkan telpon dari pengasuhnya jika Danisa, putrinya, mengalami kecelakaan.
Dengan perasaan khawatir, dia pun membuka pintu ruangannya.
"Johan ! Cancel semua meeting ku untuk hari ini. Dan kau atur ulang schedule ku untuk 3 hari ke depan !" perintah Ajay kepada asistennya.
"Tapi kenapa, tuan ?" tanya sang asisten heran, padahal jadwal meeting nya hanya tinggal 15 menit lagi.
"Anakku mengalami kecelakaan ! Aku pergi dulu !"
Setelah itu Ajay pun memasuki lift yang akan membawanya langsung ke tempat parkir.
Tiba di sana, Ajay segera melajukan mobilnya dengan kencang.
Sementara itu di rumah sakit Insan Medika. Semua orang tampak cemas menunggu pemeriksaan Danisa.
Cecilia dan nyonya Diana tampak menangis berpelukan untuk saling menguatkan. Sementara mbak Mina pengasuhnya Danisa, tampak menangis di depan pintu ruang IGD.
Tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka.
"Keluarga anak Danisa !" teriak seorang perawat.
Cecilia segera melepaskan pelukannya. Dia berdiri dan berjalan menghampiri suster itu.
"Saya ibunya, sus !" ujar Cecilia.
"Begini bu, pasien telah kehilangan banyak darah. Jika dibiarkan, akan berakibat fatal. Kemungkinan pasien tidak akan bisa tertolong." ujar perawat itu.
"Anda boleh mengambil darah saya, sus ! Darah saya pasti cocok dengan putri saya !" jawab Cecilia penuh keyakinan.
"Baiklah, mari ikut saya bu !" ajak perawat itu.
Cecilia pun mengikuti perawat itu untuk menjalani tes kecocokan darah.
30 menit kemudian, Ajay tiba di rumah sakit Insan Medika. Di lobi rumah sakit, dia melihat ayahnya dan Bima sedang berdiri di depan meja resepsionis. Ajay segera menghampiri mereka.
"Bagaimana kondisi Danisa, pih ?" tanya Ajay.
"Entahlah, papih sendiri baru datang. Ini, papih sedang tanyakan ruangan Danisa dirawat !" jawab tuan Ali.
"Maaf pak, untuk saat ini pasien atas nama Danisa masih menjalani tindakan di ruang IGD." jawab perawat bagian resepsionis itu.
"Terima kasih." ucap tuan Ali.
Mereka bertiga pun langsung berlari menuju ruang IGD.
"Bagaimana keadaan Danisa ?" tanya Ajay begitu melihat ibu dan pengasuhnya Danisa duduk di ruang tunggu.
Nyonya Diana hanya bisa menangis. Dia enggan untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Dok... dokter masih memeriksanya, tuan." jawab mbak Mina.
"Apa yang terjadi, Min ? Kenapa Danisa bisa terserempet motor ?" tanya Ajay pada pengasuh anaknya.
__ADS_1
"Ta... tadi, nyonya menyuruh nona Danisa untuk tidur siang, tapi nona Danisa tidak mau. Nyonya kemudian membentaknya, nona Danisa menangis dan segera berlari keluar untuk menemui nyonya besar. Ta.. tapi, penjaga keamanan bilang, saat nona sedang menyebrang, tiba-tiba ada motor yang melintas di depannya dengan kecepatan tinggi, tuan."
Ajay mengepalkan tangannya.
Ah Cecilia...., selalu saja memaksakan kehendaknya..., batin Ajay.
"Di mana sekarang nyonya Cecilia ?" tanya Ajay
"Sekarang nyonya sedang mendonorkan darahnya untuk nona Danisa. Nona Danisa kehilangan banyak darah, tuan."
"Apa...!"
Bagas terlihat semakin gusar. Dia berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD.
Setelah diambil sampel darahnya, Cecilia pun kembali ke ruang tunggu. Dia melihat suaminya tengah berdiri di depan pintu IGD.
"Mas !" panggilnya lirih.
Ajay membalikkan badannya. Dia merasa sangat marah sekali terhadap perbuatan istrinya yang sering membentak Danisa. Namun saat dia melihat mata istrinya yang sembab karena menangis, amarahnya pun hilang.
"Kemarilah !" ucap Ajay.
Cecilia menghambur ke dalam pelukan Ajay. Dia pun mulai menangis kembali meratapi kemalangan putrinya.
"Sudahlah, Danisa anak yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja."
Cecilia mengangguk.
Saat mereka sedang menunggu dalam kecemasan. Tiba-tiba perawat tadi yang memeriksa golongan darah Cecilia, menghampiri mereka.
"Mohon maaf, apa di antara kalian ada ayahnya pasien ?" tanyanya.
"Saya ayahnya, sus. Apa sesuatu terjadi dengan anak saya ?" tanya Ajay menghampiri suster itu.
"Baiklah."
Ajay pun pergi mengikuti suster itu untuk segera menuju ruang transfusi darah.
Tinggal Cecilia yang terpaku tak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan.
Tidak...! Kalau sampai Ajay mendonorkan darahnya, maka semuanya akan terbongkar dan dia akan mengetahui jika Danisa bukan putri kandungnya. Bagaimana ini...!
"Tunggu, mas !"
Cecilia berusaha menghentikan langkah Ajay. Dia pun segera menghampiri Ajay dan suster itu.
"Maaf, sus ! A...apa di...si...ni tidak a..ada golongan darah yang cocok dengan anak saya ?" tanya Cecilia gugup.
"Ada saja bu, tapi saya sarankan pendonor dari keluarganya itu jalan yang terbaik. Mengingat kondisi putri ibu sudah sangat kritis. Jika kami mengambil darah dari rumah sakit ini, ada banyak prosedur yang akan memakan waktu."
"Sudahlah Cecil, tidak apa-apa !" jawab Ajay.
"Tapi mas baru saja sembuh. Ini tidak akan baik untuk kesehatan mas !" rengek Cecilia.
"Nyawa Danisa lebih penting daripada kesehatanku. Lagipula aku merasa baik-baik saja. Sudahlah, kau tunggu saja dengan yang lainnya !" perintah Ajay.
"Bapak benar, bu ! Sebaiknya kita tidak menunda waktu lagi ! Mari pak !"
"Tapi mas...!"
"Sudahlah, jangan khawatir ! Aku akan baik-baik saja Dan aku yakin Danisa akan sembuh, kita akan kembali bersama." ujar Ajay berusaha meyakinkan istrinya.
__ADS_1
Cecilia hanya mampu diam dan terlihat semakin cemas setelah Ajay dan perawat itu pergi dari hadapannya.
"Bagaimana ini.. ? Apa yang harus aku lakukan ? Apa semua kebohongan ini akan terbongkar hari ini ?" gumam Cecilia seraya menundukkan wajahnya.
***
Akhirnya, setelah melewati perjalanan kurang lebih selama 7 jam. Kyara dan Bagas pun tiba di rumah sakit pemerintah kabupaten Pangandaran.
"Punten, dupi ruangan pasien atas nami Ratna Suminar, di palih mana ?"
(Maaf, Di mana ruangan pasien atas nama Ratna Suminar ?) tanya Kyara.
"Kango sementawis, bu Ratna masih aya di ruang ICU."
(Untuk sementara, bu Ratna masih berada di ruang ICU.)
"Hatur nuhun !"
(Terima kasih !)
Kyara segera berlari menuju ruang ICU. Bagas tetap mengikutinya dari belakang.
Tiba di depan ruang ICU. Kyara melihat pamannya duduk di kursi tunggu.
"Mamang !" ujar Kyara lirih.
"Ah Aneng...! Akhirna, kamu datang juga." jawab paman Kyara.
Kyara segera menghambur ke pelukan pamannya.
"Bagaimana kondisi ibu, mang ?"
"Tenanglah, ibumu masih ditangani dokter. Banyak-banyak berdo'a ayeuna mah neng ! Supaya ibumu baik-baik saja." jawab paman Kyara.
"Eh, saha itu pamuda teh, neng ? Calon suami kamu ?" tanya pamannya Kyara.
"Dia..."
Belum selesai Kyara berbicara, Bagas segera menghampiri pamannya Kyara dan menjabat tangannya.
"Saya Bagas, mang ! Calon suaminya Kyara !" ujar Bagas lantang
Kyara hanya mendelikkan matanya mendengar pengakuan Bagas.
"Eleuh-eleuh, ni tampan pisan, neng ! Wah, bisa-bisa ibumu langsung sembuh kalau lihat calon mantunya yang kasep ieu !" gurau paman Kyara mencairkan suasana.
Bukannya tersenyum, Kyara semakin mengerucutkan bibirnya, membuat Bagas semakin ingin mengecup bibir mungil itu.
"Keluarga bu Ratna !" teriak salah seorang perawat dari balik pintu.
Paman Kyara segera berdiri dan menghampiri suster itu.
"Saya adiknya, sus !" jawab paman Kyara.
"Bu Ratna memanggil anda, silakan masuk !"
Paman Kyara pun masuk ke ruang ICU.
Tinggal Kyara dan Bagas menunggu di kursi itu. Bagas menggeser duduknya mendekati Kyara. Namun Kyara segera menoleh dan menatapnya tajam.
"Oke...!" ujar Bagas seraya mengangkat kedua tangannya dan segera kembali menjauhi Kyara.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya...