
Seketika, tubuh Bagas terasa lemas mendengar suara orang yang dihubunginya.
Jadi, aku menjemput orang yang selama ini aku cari...! Ya Tuhan..., permainan takdir apa lagi yang harus aku jalani sekarang...?? Bagas mulai mendekati Kyara untuk memastikan dugaannya.
"Hallo...! Hallo...! Assalamualaikum...! Hallo..!"
Kyara masih menjawab panggilan itu, namun tak ada jawaban.
Bagas menghampirinya, "Waalaikumsalam..!" jawab Bagas.
Kyara menoleh ke belakang. Dia terkejut mendapati orang yang menelponnya adalah Bagas. Kyara pun mematikan sambungan telponnya.
Bagas duduk di samping Kyara. "Jadi, kau adalah calon istrinya Ajay ?" tanya Bagas, datar.
Kyara mengangguk. Tiba-tiba...
"Ha...ha...ha....ha...!"
Bagas tertawa keras. Bulu kuduk Kyara berdiri mendengar suara tawa Bagas. Ada nada sinis dalam tawanya.
"Ternyata dunia ini sangat sempit. Benarkan, nona ? Aku yang mati-matian mencarimu kemana-mana, setiap hari aku susuri pasar tradisional TM, bertanya pada setiap orang yang ku temui, apakah mereka pernah melihatmu ? Ternyata..., ternyata justru sekarang malah akulah yang menjemputmu...!" ujar Bagas, lirih.
"Hiks...hiks..., maafkan aku..hiks..." Kyara semakin terisak mendengar pengakuan Bagas yang ternyata selama ini mencarinya.
"Kenapa nona ? Jika pada akhirnya kau akan kembali pada Ajay, kenapa kau harus menghilang ? Apa kau tahu, aku hampir gila karena tidak bisa menemukanmu..!" kata Bagas.
Kyara hanya bisa diam sambil memainkan ujung pakaiannya.
"JAWAB...!!" teriak Bagas.
"Apa...., apa yang harus aku lakukan supaya kau mau memaafkanku ?" Kyara malah balik bertanya.
"Aku hanya butuh jawabanmu !" ujar Bagas dingin. "Kenapa waktu itu kau menghilang ?" tanyanya lagi.
"Aku....hiks... aku...hanya tidak ingin membebanimu...!" jawab Kyara.
"Membebani ? Ha...ha...ha, kau bilang tidak ingin membebani...! Asal kau tahu nona, kepergianmu justru membuatku merasa terbebani. Apa kau tahu berapa banyak aku harus berbohong setiap Aaron menanyakanmu...? Apa kau tahu berapa banyak perasaan bersalahku karena harus membohongi sahabatku sendiri ? Apa kau tahu, betapa besar perasaan bersalahku karena tidak bisa menjaga amanah sahabatku ! Setiap hari aku selalu merutuki kebodohanku yang meninggalkanmu sendirian waktu itu, aku umpat ketidakbecusanku dalam mencarimu...! Kenapa nona, kenapa kau begitu tega melakukan semua ini padaku ?"
Kyara berdiri, dia kemudian berlutut memegang kedua kaki Bagas...
"Hu...hu...hu...a..aku mohon..., maafkan aku....kak...! Aku...aku tidak bermaksud membuatmu seperti itu...! Aku... aku sangat berterima kasih atas semua.. kebaikanmu. Tapi... aku... aku merasa bersalah karena telah melukaimu...!" ucap Kyara.
"Berdiri !" perintah Bagas.
Kyara menggelengkan kepalanya.
"Dengar nona, aku tidak suka mengulang perintahku untuk yang kedua kalinya !" tegas Bagas.
Kyara segera berdiri. Bagas mengeluarkan sapu tangannya dari balik jaketnya. Kemudian dia menyerahkannya kepada Kyara. "Duduklah !"
Kyara mengangguk, dia menerima sapu tangan itu, kemudian duduk kembali seraya menyeka air matanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau kembali pada Ajay ?" tanya Bagas.
Bibirnya terasa bergetar saat harus menanyakan hal itu. Entahlah, tapi Bagas merasa tidak suka dengan kenyataan jika Kyara adalah calon istri dari sahabatnya, Ajay
"Aku...aku tidak punya pilihan lain...!" jawab Kyara.
"Maksudmu ?" tanya Bagas tak mengerti.
"Maaf kak...! Aku tidak ingin membahasnya...!" jawab Kyara.
"Tapi aku butuh penjelasan !" ujar Bagas penuh penekanan.
"Siapa kamu...?!" Kyara mulai sedikit berteriak, dia merasa tidak suka jika Bagas mencampuri hidupnya terlalu jauh. "Memangnya siapa kamu...., sampai aku harus menjelaskan semua urusanku padamu !! Apa kamu pikir aku sanggup hidup seperti ini ! Kau tahu dosa yang telah aku perbuat, apa aku punya pilihan lain untuk hidupku ??" Kyara semakin berteriak penuh emosi.
Bugh...
Tiba-tiba Bagas menarik tangan Kyara dengan cepat, sehingga tubuh Kyara pun jatuh ke dalam pelukan Bagas. Hati Bagas terasa sakit saat Kyara mengakui dosanya. Bagas memeluk Kyara dengan erat. Ku mohon nona, jangan ungkit lagi masa lalumu...! Aku tidak sanggup mendengarnya...! Batin Bagas.
Kyara semakin menangis dalam pelukan Bagas. Ada rasa dimana dia bisa meluapkan semua emosinya. Sungguh, Kyara tidak pernah menampakkan semua kelemahannya dihadapan siapapun. Setelah kejadian yang dialaminya, dia selalu berusaha untuk tegar, berusaha untuk mengatakan kepada semua orang bahwa dia baik-baik saja. Tapi dihadapan Bagas, dia tidak pernah bisa menutupinya. Ya...! Kyara merasa hidupnya telah hancur, dan kehancuran itu membuat dirinya rapuh..., sangat rapuh.., hingga dia pun tak pernah punya pilihan lain untuk hidupnya.
Cukup lama Kyara menangis, hingga jaket yang dikenakan Bagas pun basah.
Drrt...drrt....
Getaran ponsel Bagas menyadarkan Kyara. Dia pun meronta, meminta Bagas untuk melepaskan pelukannya.
Bagas melonggarkan pelukannya, kemudian dia merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya.
Kyara menyeka air matanya, "Angkatlah, kak ! Beliau pasti mencemaskan kita." ujar Kyara.
Bagas mengangguk.
"Assalamualaikum, eyang...!" ( Bagas )
"Waalaikumsalam, gimana nak...? Apa kau sudah bertemu dengan cucu mantu eyang ?" ( nyonya Aini )
"Su... sudah, eyang." ( Bagas )
"Ah, syukurlah..., apa eyang boleh bicara dengannya sebentar ? Dari tadi ponselnya tidak bisa dihubungi, eyang khawatir..." ( nyonya Aini )
"I...iya...eyang.." ( Bagas )
"Eyang uti ingin bicara denganmu." ujar Bagas sambil menyerahkan ponselnya.
Kyara menerima ponsel Bagas.
"Assalamualaikum, eyang...!" ( Kyara )
"Waalaikumsalam..! Suaramu kenapa serak, nak ? Kamu menangis ?" ( nyonya Aini )
"Ti... tidak eyang..! Mungkin Kya..., kya hanya kurang minum saja...!" ( Kyara )
__ADS_1
"Oh, ya sudah ! Kamu cepatlah datang ya nak ! Eyang akung sudah tidak sabar ingin menunjukkan sesuatu padamu." ( nyonya Aini )
"Baik, eyang." ( Kyara )
"Ya sudah, tolong kembalikan telponnya pada Bagas, nak !" ( nyonya Aini )
Kyara mengembalikan ponselnya kepada Bagas.
"Hallo, eyang...!" ( Bagas )
"Nak Bagas, nanti sebelum kalian pulang, tolong ajak Kyara makan dulu di restoran eyang akung ya...! Sepertinya dia belum makan siang." ( nyonya Aini )
"Baik, eyang." ( Bagas )
"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya..! Jangan ngebut-ngebut nyetirnya ! Eyang tutup telponnya ya, assalamualaikum..!" ( nyonya Aini )
"Waalaikumsalam" ( Bagas )
Bagas mengembalikan ponselnya ke dalam saku jaketnya. "Ayo kita pergi, nona ! Sepertinya eyang sudah menunggu kita !"
Kyara pun mengangguk.
Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Canggung, hanya itu yang mereka rasakan di sepanjang perjalanan. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin Bagas lontarkan kepada Kyara. Tentang Aaron dan perasaan Kyara untuk Aaron. Tapi Bagas sadar, itu bukanlah kewenangannya...
Biar Aaron sendiri yang menanyakan semuanya nanti. Yang terpenting saat ini, aku tahu jika dia baik-baik saja. Aku telah berjanji untuk selalu menjagamu. Ke depannya, jika Ajay menyakitimu lagi, maka dia akan berurusan denganku... batinnya.
"Apa kau lapar ?" tanya Bagas, berusaha untuk mencairkan suasana.
"Ti... tidak !" jawab Kyara.
"Tapi eyang uti memintaku membawamu ke restoran eyang, untuk makan siang." ujar Bagas.
"Sebaiknya kita segera ke rumah, kak. Aku tidak lapar..!" ujar Kyara lagi.
Kyara berusaha untuk menghindar. Sungguh rasa canggung semakin menyelimuti dirinya, dan itu membuat dia semakin tidak nyaman. Kyara ingin segera sampai, agar dia bisa segera terlepas dari kebersamaannya dengan Bagas. Tapi...,
Kruukk...krruukkk...
Ah..., sepertinya perut Kyara tidak bisa diajak kompromi. Dia berkonser di waktu yang kurang tepat.
Bagas tersenyum, "Kita mampir dulu ke restoran eyang untuk makan siang !" ujarnya.
Bersambung....
Sejak subuh author ngetik sambil beresin rumah...🤭
Alhamdulillah, bisa up juga nih satu episode...
Semoga masih suka ceritanya yaaa
Bantu dukung author yu dengan cara, like vote n komen novel ini...
__ADS_1
Makasih...🙏🙏🤗