
Malam readers....
Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan cerita ini...ππ
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bagas tersenyum kecut....
Setelah dirasa Kyara cukup tenang, dokter Alex pun pergi meninggalkan ruangan itu.
"Hiks...hiks..." Sisil masih terus menangis. Dia benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya akan menjadi seperti ini.
Bagas melirik ke arah Sisil. Dia mengambil beberapa lembar tissue dari atas nakas, kemudian menyerahkannya kepada sisil.
Sisil menerima tissue tersebut, dan..."Sruuttt...!" dia malah menggunakan tissue tersebut untuk membuang ingusnya.
Ish..., jorok sekali nih cewek... batin Bagas.
"Kenapa lo jadi kayak gini, Ra...? Gue sedih Ra..., gue nggak bisa lihat lo kayak gini..! Lo jahat banget sih Ra...! Lo nggak ngenalin gue, udah gitu..., lo mukulin gue, lagi...! Kan sakit, Ra...! Huu...huu..." Sisil terus meracau dalam isak tangisnya.
Ah nih cewek, malah bikin kepala gue pusing aja...! batin Bagas. "Pulanglah !" perintah Bagas.
Sisil menggelengkan kepalanya, "Aku... aku mau jagain Kyara...hiks... hiks..., aku nggak...hiks...mau pulang...hu...hu...huu.."
"Terserah !" Bagas pun meninggalkan Sisil dan kembali duduk di sofa.
"Ra...., ayo bangun, Ra...! Lo lapar kan...? Lihat..! Tuan..." Sisil tiba-tiba menoleh ke arah Bagas, "Psst...psst...tuan..! Tuan bawa makanan nggak ?" tanya Sisil setengah berbisik.
Bagas menunjuk ke arah nakas dengan matanya.
Sisil melihat ke arah yang ditunjuk. Ya...! Terdapat bungkusan plastik putih di atas nakas. "Tuh... Ra..! Tuan sudah bawa makanan buat kita. Ayo, bangunlah ! Lo pasti lapar, kan...? Lo belum makan dari kemarin... Ayo, bangun Ra...!"
"Diamlah ! Dia butuh istirahat ! Kamu, makanlah sendiri !" perintah Bagas.
"Tapi, tuan...."
"MAKAN !!"
"Iya... iya...! Aku akan makan..." Sisil menggerutu, "Nggak cowok songong, nggak cowok dingin, semuanya cuma bisa membentak ! Huh..!" gumamnya, kesal.
Sisil mengambil bungkusan plastik tersebut, kemudian membukanya..."Wow...! Martabak telor, sate...hmm... yummi..." gumamnya. Perut Sisil mulai bernyanyi melihat semua makanan itu. "Aku makan ya, tuan..?!" izinnya.
"Hmm..." hanya itu jawaban Bagas.
"Oh iya tuan, aku sudah melaksanakan perintahmu !" Sisil membuka pembicaraan.
"Perintah apa ?" tanya Bagas.
"Ish..., tuan ini ! Tampan tapi pikun, sayang banget..he..he... Itu...! Perintah tuan untuk membersihkan darah di tempat kost Kyara.." jawab Sisil.
"Oh..." hanya itu yang keluar dari mulut Bagas.
Eh, nih cowok ! Pelit banget ngomong...! Apa waktu sekolah dulu, dia nggak lulus mata pelajaran Bahasa Indonesia ? Dikit banget kosa katanya... batin Sisil, sambil mendelikkan matanya ke arah Bagas.
Tiba-tiba, Bagas teringat akan ucapan dokter Alex yang menuduh Kyara sengaja hendak menggugurkan kandungannya. "Apa kau melihat tingkah dia aneh, akhir-akhir ini ?" tanya Bagas.
Eh..., akhirnya..., si tuan minim kosa kata ini bisa juga ngomong panjang lebar..hi...hi... batin Sisil. "Siapa ? Kyara..?!" tanya Sisil.
"Memangnya, siapa lagi yang ada di antara kita ?!" jawab Bagas, kesal.
"He...he..., nggak tuh...! Sikap Kyara biasa-biasa saja.." jawab Sisil sambil terus mengunyah makanannya.
"Apa kau menemukan sesuatu yang aneh di kamar kostnya ?" Bagas kembali bertanya.
__ADS_1
"Sesuatu...? Seperti apa, tuan ?" tanya Sisil, heran.
"Entahlah ! Obat..., atau..., benda, atau apalah yang janggal !" jawab Bagas.
Sisil termenung, tampak sedang berpikir, "Mmm..., nggak ada sih, tuan...!" jawabnya.
"Kamu nggak menemukan sesuatu ?" tanya Bagas lagi.
"Menemukan apa ?" Sisil mulai kesal.
"Ya...! Waktu kamu membereskan kamarnya, mungkin kamu menemukan sesuatu..." jawab Bagas, berharap.
"He..he..., sebenarnya..., aku belum membereskan kamar Kyara. Aku hanya membersihkan ceceran darah di lantai saja. Kamarnya masih berantakan, tuan.." jawab Sisil, polos.
Bagas melotot ke arah Sisil.
"Ups ! Piss, tuan...! Damai....damai...!" ujar Sisil sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya. "Aku kan capek, tuan...! Ngantuk lagi..., terus pagi harinya, aku harus kerja, jadi selesai ngepel, aku langsung tidur aja. Aku janji deh, ntar kalau ada waktu, aku pasti beresin, oke...!"
"Drrt...drrt..." suara ponsel Bagas berbunyi. Bagas segera merogoh saku celananya, mengusap layar ponselnya. "Aaron...!" gumamnya.
"Hallo..., Ar...!" ( Bagas )
"Hai, Gas...! Apa kabar ?" ( Aaron )
"Baik. Lo sudah sampai, Ar...?" ( Bagas )
"Sudah." ( Aaron )
"Om Damian ? Gimana ?" ( Bagas )
"Baik...! Rencananya besok mau dioperasi." ( Aaron )
"Oh, syukurlah ! Mudah-mudahan operasinya lancar." ( Bagas )
"Oke.." ( Bagas )
Aaron pun mengalihkan panggilan suaranya menjadi video call.
"Kyara, gimana kabarnya, Gas ?" ( Aaron )
"Ba...." ( Bagas )
Baru saja Bagas hendak menjawab, tiba-tiba...
"Kyara tadi his....umph...umph..." ( Sisil )
Sisil berteriak hendak berbicara tentang kondisi Kyara, tapi Bagas membekap mulut Sisil.
Bagas menjauhkan ponselnya. Dia melotot ke arah Sisil. Jari telunjuknya menempel di bibirnya, pertanda dia menyuruh Sisil untuk diam.
Sisil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia takut dengan tatapan Bagas yang seolah ingin memangsanya. Dia lalu menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa dia akan mengikuti kemauan Bagas untuk tutup mulut.
Bagas kembali mengarahkan wajahnya ke ponsel.
"Hallo...! Gas..., kenapa...? ( Aaron )
"Eh...! Ini...! Ada tikus lewat..." ( Bagas )
Apa ! Dia bilang gue tikus...! Ish, dasar cowok minim kosa kata..., Gue sumpahin, lo jadi kodok ya...! Biar nggak ada cewek yang mau sama lo...! gerutu Sisil dalam hati, sambil menusuk-nusuk martabak telornya dengan tusukan sate. Ah... martabak yang malang..., pasti sakit tuh, rasanya...π€
"Tikus ! Di rumah sakit ada tikus ? Ih, jorok sekali !" (Aaron)
"Sudah... lupakan saja ! Tadi kamu nanya apa ?" ( Bagas )
__ADS_1
"Itu..., Kyara...? Apa dia sudah sadar ?" ( Aaron )
"Sudah, tapi sekarang dia sedang tidur... Mungkin karena pengaruh obat juga." ( Bagas )
"Apa dia baik-baik saja, Gas ?" ( Aaron )
"Dia baik-baik saja, Ar." ( Bagas )
"Apa dia sudah cerita tentang apa yang terjadi padanya, Gas ?" ( Aaron )
"Belum, mungkin dia masih perlu waktu, Ar ?" ( Bagas )
"Ya..! Kamu benar. Oh iya, boleh gue lihat dia ?" ( Aaron )
Bagas mengarahkan kamera depan layar ponselnya ke arah Kyara.
Aaron melihat Kyara sedang tertidur pulas di layar ponselnya. "Cantik." gumamnya. Tidurlah kya...! Istirahatlah ! batinnya.
"Gas...!" ( Aaron )
Bagas mengembalikan kamera layar ponselnya.
"Ya...! Kenapa Ar...?" ( Bagas )
"Sudah dulu ya...! Nyokap manggil gue...!" ( Aaron )
"Oh, ya sudah...! Take care, Ar...!" ( Bagas )
"Lo juga...! Titip Kya, ya...!" ( Aaron )
"Oke !" ( Bagas )
Bagas pun menutup ponselnya.
"Kenapa tuan berbohong padanya tentang kondisi Kyara ?" tanya Sisil penuh selidik.
"Aku hanya tidak ingin menambah beban pikirannya." jawab Bagas.
" Maksudnya ?"tanya Sisil, heran.
"Papanya terkena serangan jantung. Besok jadwal operasinya. Aku tidak ingin konsentrasinya terbagi karena memikirkan keadaan gadis itu.
"Ya Tuhan..., semoga operasinya berjalan lancar. Aamiin." do'a Sisil
"Sudah malam, pulanglah !" perintah Bagas.
"Tapi, tuan...!" Sisil enggan untuk pulang.
"Pulanglah, dan jangan lupa bereskan kamar gadis itu !" Bagas kembali memberi perintah.
"Kyara, tuan...! Nama gadis itu Kyara !" Sisil merasa greget, karena Bagas masih enggan menyebut nama Kyara.
"Ya ! Kyara ! Bereskan kamar Kyara, mengerti !!"
"Ish...tuan ini ! Selalu saja memberi perintah..." gerutu Sisil, kesal. " Ya sudah ! Aku pulang dulu, tapi tuan harus janji, kabari aku jika ada apa-apa dengan Kyara !" pinta Sisil.
"Ya." jawab Bagas, singkat.
"Oke, tuan...Bye...!" Sisil pun berlalu pergi meninggalkan Bagas.
Bersambung....
Makasih ya readers...
__ADS_1
Jangan lupa, jika berkenan berikan like, vote n komennya...ππ