
Siang dan malam datang silih berganti. Waktu pun begitu cepat berlalu. Sudah setahun lebih Bagas bekerja sebagai DMD di perusahaan otomotif terbesar itu. Namun sedikit pun belum ada kenaikan jabatan untuk dirinya. Satu-satunya penghargaan yang patut disyukurinya, adalah perubahan statusnya yang kini telah menjadi karyawan tetap.
Bagas menyadari jika promosi kenaikan jabatan yang tak kunjung menghampirinya dikarenakan status pendidikannya yang hanya menyandang gelar sarjana. Pengalaman memang penting, tapi apalah arti pengalaman tanpa teori dan gelar.
Di kota metropolitan ini, ukuran harga diri seseorang ditentukan oleh gelar di belakang namanya. Meski dia memiliki kepintaran di atas rata-rata, meski dia memiliki pengalaman yang cukup lama, namun tanpa gelar, orang-orang akan tetap menganggapnya tak pernah berarti. Setidaknya itu yang Bagas lihat dari sosok kepala bagian DMD, yang meskipun memiliki masa kerja belasan tahun, namun jabatannya tak pernah naik hanya karena dia tak memiliki gelar magisternya.
Bagas tidak ingin berakhir seperti itu. Dia punya cita-cita, dia punya kemampuan, karena itu Bagas pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Keseharian Bagas hanya digunakan untuk bekerja dan belajar. Jika ada waktu luang, Bagas habiskan untuk menggambar desain mobil impiannya. Bagas tidak ingin membuang waktunya dengan percuma. Namun kesibukan Bagas semakin membuat kak Indah merasa cemas.
"Tenanglah ya Khumaira ! Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu bisa sakit !" ujar Gunawan.
Malam itu, selepas melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Gunawan dan kak Indah sedikit berbincang, karena rasa kantuk belum menyerang mereka. Kak Indah mengutarakan kecemasannya tentang Bagas yang tak pernah memikirkan untuk mencari pasangan karena kesibukannya.
"Tapi aku benar-benar khawatir, mas ! Bagas terlampau sibuk dengan pekerjaan dan kuliahnya. Bahkan jika dia memiliki waktu luang, dia hanya mengurung dirinya. Jika begini terus, bagaimana dia akan mencari pasangan ?" keluh kak Indah.
"Kemarilah !"
Gunawan merentangkan kedua tangannya sebagai isyarat agar istrinya mendekatinya. Kak Indah menurut, dia pun menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya. Gunawan membelai lembut rambut istrinya. Dia mencium pucuk kepala kak Indah.
"Tenanglah ! Jika jodohnya telah datang, Bagas pasti akan menikah. Rencana Allah itu selalu menjadi yang terbaik, Khumaira ! Apa yang kita sangka baik, belum tentu baik juga untuk kehidupan Bagas. Biarkanlah semuanya mengalir sesuai takdir yang Maha Kuasa !"
Kak Indah mendongak menatap suaminya penuh haru. Setiap kata-kata yang terucap dari bibir suaminya, selalu membuat kak Indah merasa tenang.
Melihat tatapan lembut istrinya dan bibir padat istrinya yang merekah bagai kelopak mawar, Gunawan pun tak menyia-nyiakannya. Dia segera mengulum bibir kenyal nan lembut itu. Membuat pergulatan panas kembali terjadi.
***
Setahun telah berlalu, tapi aku tak mampu melupakan semua kenanganmu ! Bagaimana keadaanmu saat ini ? Apa kau baik-baik saja ? Kemana aku harus mencarimu, nona ?
Batin Bagas yang sedang melamun menatap jam tangan mungil itu. Hari ini, Bagas mengambil cuti tahunannya selama kurang lebih satu bulan. Dia benar-benar merasa bosan berdiam diri di rumah. Terlebih lagi, masa cuti yang diambilnya, berbarengan dengan libur semesternya.
Sepintas dia melirik kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya. Desain mobil itu sudah hampir selesai, tapi entah kenapa justru di saat waktu luang yang lebih lama, Bagas malah tidak punya inspirasi untuk finishing.
"Arrgghh...!"
Bagas menyugar rambutnya kasar. Dia pun segera mengemasi pakaiannya. Sepertinya dia butuh liburan untuk menyegarkan kembali otaknya.
Bagas memasukkan pakaiannya ke dalam ransel. Setelah itu dia pun keluar kamar. Tiba di bawah, Bagas segera mencari kak Indah untuk berpamitan.
"Kak !" sapa Bagas yang melihat kakaknya sedang menonton TV.
Kak Indah menoleh, "Loh, kamu mau kemana, Gas ?" tanya kak Indah yang merasa heran melihat Bagas menenteng ransel di pundaknya.
"Bagas benar-benar suntuk, kak ! Bagas mau liburan dulu !" jawabnya.
"Kemana ?"
"Entahlah, mungkin ke gunung !"
"Gunung mana ?"
Bagas menggedikkan bahunya.
__ADS_1
"Ish, kamu ini ! Mau liburan, tapi kok nggak jelas tujuannya !" gerutu kak Indah.
"Bagas pamit dulu ya, kak !" ujarnya seraya mencium punggung tangan kak Indah.
"Ya sudah, hati-hati ! Kabari kakak jika sudah tiba di tempat liburanmu !"
Bagas mengangguk, "Assalamualaikum, kak !" pamitnya.
"Waalaikumsalam..!" jawab kak Indah.
Bagas mengeluarkan mobilnya. Tak lama kemudian, mobil itu melaju membelah jalanan ibukota. Rencananya Bagas hendak kembali memacu adrenalinnya dengan hiking ke puncak Bromo. Namun saat dia sedang beristirahat di area tol Cileunyi, tanpa sengaja dia melihat seorang gadis yang mengenakan cincin giok.
Bagas segera teringat akan sosok pedagang manik-manik yang memiliki nama Aneng. Karena rasa penasarannya, Bagas pun memutuskan untuk menikmati waktu liburnya dengan mencari gadis pedagang manik-manik yang diyakininya adalah Aneng atau Kyara.
Tiba di kawasan wisata Pangandaran, Bagas segera chek in di sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari kawasan pasar wisata. Sengaja Bagas memilih hotel itu untuk lebih mudah memantau orang-orang yang lalu lalang ke pasar itu. Hari sudah hampir gelap saat Bagas tiba di Pangandaran, dia pun memutuskan untuk beristirahat dan memulai pencariannya esok hari.
***
"Bagaimana Kya ? Apa kau mau menerima tawarannya temen ibu untuk bekerja di kantornya ?" tanya bu Hana.
Ya, bu Hana memiliki seorang teman yang mendirikan sebuah kantor hukum yang khusus menaungi para perempuan dan anak-anak yang mengalami perundungan. Saat ini, kantor itu membutuhkan seorang psikolog anak untuk memulihkan kembali mental-mental anak yang mengalami kekerasan baik secara fisik maupun psikis.
"Tapi bu, Kya kan udah kerja di panti. Lagipula Kya kuliah itu karena ingin mengabdi di panti ini." jawab Kyara.
"Ini tawaran yang baik untuk masa depanmu, nak !" bujuk bu Hana.
"Tapi bu, apa Kya mampu ? Kya kan belum lulus !"
"Iya bu, nanti Kyara pikirkan lagi !"
***
Keesokan harinya, setelah sarapan Bagas memulai pencariannya. Dia kembali menyusuri jalan di kawasan pasar wisata itu.
Brakkk....!
Saking sibuknya melirik ke kanan dan ke kiri, tanpa sengaja Bagas menyenggol deretan sepeda yang berjajar di tempat penyewaan sepeda ontel.
"Maaf pak...!" ujar Bagas seraya membenarkan sepeda itu satu persatu.
Kegaduhan yang terjadi membuat orang-orang yang berada di kawasan itu melirik ke arah Bagas.
Pemuda itu....!
Bu Ratna yang mendengar kegaduhan di kios sebelahnya mendongak untuk mencari tahu apa yang terjadi. Pandangannya terkunci pada sosok Bagas yang tengah membenarkan kembali posisi sepeda yang tadi tanpa sengaja tersenggol olehnya.
"Tidak apa-apa den, sudah biarkan saja ! Biar mamang yang benerin, nanti !" ujar penjaga penyewaan sepeda itu.
"Oh iya pak ! Apa bapak kenal dengan pedagang perhiasan manik-manik yang bernama Aneng ?"
Bapak paruh baya itu menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Waduh, maaf den ! Saya baru di pasar ini, jadi saya belum begitu mengenal para pedagang yang lainnya. Coba saja aden tanyakan ke kios sebelah ! Kebetulan kios itu menjual souvernir daerah kawasan wisata ini."
__ADS_1
"Baiklah..! Sekali lagi, maaf ya pak ! Permisi !" pamit Bagas.
Bapak yang menyewakan sepeda itu mengangguk.
Bagas kembali melakukan pencariannya. Kali ini dia singgah di toko souvernir milik bu Ratna.
"Permisi...! Assalamualaikum...!" sapa Bagas.
"Waalaikumsalam...!" jawab bu Ratna.
Bu Ratna mendongak untuk melihat calon pembeli yang mampir ke kiosnya.
Deg....!
Jantung bu Ratna seolah berhenti mendapati orang yang menghampiri kiosnya adalah orang yang pernah dilihatnya dulu. Orang yang sama yang pernah menanyakan Aneng, anaknya. Sejurus kemudian bu Ratna segera membenarkan barang dagangannya untuk mengalihkan kegugupannya.
"Wa... waalaikumsalam..! Mau cari souvenirnya, nak ! Ayo silakan, dipilih-pilih dulu, barangkali ada yang cocok !" tawar bu Ratna di balik semua kegugupannya.
"Ah maaf bu, saya hanya ingin menanyakan seseorang saja. Apa ibu kenal dengan pedagang perhiasan manik-manik yang bernama Aneng ?" tanya Bagas.
Jantung bu Ratna berdegup kencang mendengar pertanyaan Bagas.
Apa Aneng yang ditanyakannya adalah Aneng anakku...? Tidak... tidak..! Mungkin saja Aneng yang lain ! Aku harus tenang, tidak boleh gugup..! batin bu Ratna.
"Maaf, saya tidak mengenalnya nak ! Setahu saya di sini tidak ada yang bernama Aneng. Apa kamu punya fotonya ?"
Sengaja bu Ratna menanyakan foto untuk memastikan praduganya.
"Ah iya, sebentar bu !"
Bagas merogoh ponsel di saku jaketnya. Dia mengusap ponselnya, tampak foto wajah Kyara yang tersenyum manis. Bagas segera menunjukkan ponselnya yang tertera wajah Kyara yang dijadikannya wallpaper.
Deg....deg... deg....
Jantung bu Ratna semakin berdegup lebih kencang lagi tak kala dia melihat foto anaknya tersenyum lebar di ponsel pemuda itu. Segera dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf nak, ibu tidak mengenalnya !" ujar bu Ratna seraya mencoba mengatur ucapannya agar tidak terlihat panik.
"Oh begitu ya, bu ! Maaf sudah mengganggu waktunya, kalau begitu saya permisi, bu !"
"Baiklah, nak !"
Bagas pun pergi untuk melanjutkan pencariannya. Bagas terus berputar-putar di kawasan pasar wisata itu untuk mencari keberadaan Kyara, tapi nihil. Hingga sampai sore pun, Bagas tak menemukan bayangan Aneng.
Keesokan harinya, Bagas kembali mengitari pasar itu lagi. Kembali bertanya tentang keberadaan aneng kepada orang-orang yang temuinya. Namun seperti biasanya, Bagas hanya mendapat jawaban tidak, dari orang-orang itu. Seperti itu dan selalu seperti itu. Pencariannya tak pernah membuahkan hasil.
Ini hari terakhir Bagas menghabiskan waktunya untuk mencari Kyara. Bagas berdiri di balkon hotel depan kamarnya. Bagas menatap ribuan bintang di langit. Sejenak dia memejamkan matanya untuk melukis wajah Kyara dalam ingatannya.
Apa kau tahu nona, sebulan ini aku merasa seperti seorang pengembara yang kehilangan arah. Ah..., kemana lagi aku harus mencarimu...!
Bersambung...
Terima kasih atas dukungannya...🙏🙏
__ADS_1