Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pertunangan yang Hambar


__ADS_3

Assalamualaikum readers...


Terima kasih karena masih setia menunggu kelanjutan ceritanya...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Akhirnya hari yang dinantikan oleh Kyara dan orang tuanya, tiba juga. Hari ini semua kerabat Kyara dari kedua orang tuanya telah berkumpul. Bahkan sejak tadi malam, paman dan bibinya yang dari luar kota, telah berdatangan. Ah..., kerjaan siapa lagi kalau bukan kerjaan ibunya.


Ya...! Bagaimanapun juga, Kyara adalah putri semata wayangnya. Kapan lagi bu Ratna mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan keluarga besarnya. Jadi, tanpa sepengetahuan Kyara, bu Ratna mengundang kerabat-kerabatnya.


Semua orang tampak antusias menunggu kedatangan calon tunangan Kyara. Mereka penasaran dengan ketampanan yang selalu diceritakan oleh bu Ratna tentang calon menantunya.


"Neng, ini sudah jam 10 lewat, kenapa mereka belum datang juga ?" tanya pak Ahmad.


Kyara hanya bisa diam.


"Mungkin macet di jalan. Sekarang kan hari Minggu. Semalam saja, kita terjebak macet ya mah..?" ujar paman Kyara yang datang dari kota.


"Iya, pah." jawab istrinya.


"Ya..., mungkin saja.." jawab pak Ahmad.


Sementara itu, bu Ratna dan beberapa kerabatnya yang lain, masih terlihat sibuk menata hidangan di meja makan.


Pukul 10.45, rombongan keluarga Ajay pun datang. Semua kerabat dan tetangga Kyara tampak terpana dengan mobil-mobil mewah yang baru saja tiba.


Mobil terparkir di halaman rumah Kyara. Seorang sopir membukakan pintu belakang mobil. Tuan Mahesa keluar dengan menggandeng nyonya Aini yang terlihat anggun. Pasangan itu, meskipun telah berumur, tapi ketampanan dan kecantikannya masih tampak jelas di raut wajahnya.


Sementara itu di mobil mewah yang kedua. Bima yang menjadi sopir untuk kedua orang tuanya, membuka pintu belakang mobil. Tuan Ali keluar, diikuti oleh istrinya yang berpenampilan begitu mewah dan elegan. Semua barang yang melekat di tubuhnya, merupakan barang branded. Para kerabat dan tetangga Kyara berdecak kagum melihatnya.


"Hey...! Apa itu calon tunangan Aneng ?" bisik salah satu tetangganya.


"Entahlah, tapi kok tampak muda sekali ya ?" timpal tetangga kedua.


"Tampan sih..., tapi imut ya ? Kayak yang masih sekolah." tetangga yang lainnya ikut bersuara.


Semuanya riuh membicarakan kehadiran tamunya keluarga pak Ahmad.


Berbeda dengan Kyara yang sedang berada di kamarnya. Hatinya terasa sakit saat menyadari, dari rombongan yang datang, Ajay sama sekali tidak nampak. Kyara tahu hal itu karena dia sempat mengintip kedatangan mereka dari jendela kamarnya. Luka apalagi yang akan kau toreh untukku, Jay ? batin Kyara.


Begitu juga dengan pak Ahmad dan bu Ratna, mereka merasa heran dengan ketidakhadiran Ajay.


Tuan Mahesa menyadari guratan kebingungan di wajah pak Ahmad dan istrinya. "Boleh kita bicara sebentar ?" pinta tuan Mahesa.

__ADS_1


Pak Ahmad mengangguk.


"Kalau boleh, saya juga ingin berbicara dengan nak Kyara." ujar tuan Mahesa.


Untuk yang kedua kalinya pak Ahmad mengangguk dan membawa tuan Mahesa ke kamarnya Kyara.


Tok...tok...tok...


"Neng, boleh ayah masuk ?" tanya pak Ahmad.


"Masuklah yah !" jawab Kyara.


Ceklek...


Pak Ahmad membuka pintu, tampak Kyara tengah duduk di kursi riasnya dengan berpakaian kebaya sehingga membuat parasnya semakin terlihat ayu. Tuan Mahesa semakin merasa bersalah melihat keadaan Kyara yang telah bersiap diri.


"Ini, tuan Mahesa ingin berbicara denganmu, nak !" ujar pak Ahmad.


"Cantiknya..., cucu menantu eyang..." ujar tuan Mahesa seraya mendekati Kyara dan mengusap kepalanya.


"Terima kasih, eyang..." jawab Kyara, merasa hangat dengan perlakuan tuan Mahesa.


"Begini nak Kya, pak Ahmad..., saya sebagai wali Ajay hendak meminta maaf, karena pada kesempatan ini, cucu saya Ajay, tidak bisa hadir dalam acara pertunangannya." ujar tuan Mahesa.


"Bukan begitu, pak ! Kebetulan, hari ini Ajay sedang ada kegiatan kampus yang tidak bisa ditinggalkannya. Karena itu dia tidak bisa hadir." tuan Mahesa mencoba memberikan penjelasan.


"Apa acara kampusnya lebih penting daripada pertunangannya sendiri ? Cukup tuan ! Bagi saya, ini sudah membuktikan kalau dia memang tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Saya tidak akan menikahkan putri saya dengan lelaki yang tidak bisa dipegang ucapannya !" kata pak Ahmad, kesal.


"Ayah...!" ujar Kyara pelan.


"Cukup Aneng ! Kamu masih punya waktu untuk membatalkan pertunangan ini ! Ayah tidak mau kamu berdampingan dengan orang yang tidak bisa memegang ucapannya. Jangan hanya karena cinta, kamu jadi buta, nak ! Ayah tidak akan mengorbankan masa depanmu !"


"Maaf ayah..., tapi Aneng benar-benar mencintai Ajay." ujar Kyara menundukkan kepalanya.


Aneng..!!" seru pak Ahmad.


"Saya mohon pengertiannya, pak. Saya janji, saya akan lebih mendisiplinkan cucu saya. Tapi saya mohon, berikan kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan cucu kami. Terlebih lagi, putri anda mencintainya. Akan sangat berdosa, jika kita menghalangi niat baik ini." tuan Mahesa mencoba menengahi perdebatan ayah dan anak ini.


"Adistya..., ayah tanya sekali lagi. Apa keputusanmu ?" tanya pak Ahmad, tegas.


"Aneng..., Aneng mau bertunangan dengan Ajay, yah. Aneng mencintai Ajay." jawab Kyara.


Maaf ayah, Aneng harus melakukan ini. Aneng sendiri tidak tahu apa rasa yang Aneng miliki saat ini, cinta atau pengorbanan ? Aneng hanya tidak mau keluarga kita menjadi cemoohan orang jika pertunangan ini batal. Sudah cukup kehinaan yang telah Ajay berikan untuk Aneng, dan Aneng tidak akan membiarkan dia menghinakan ayah dan ibu.. batin Kyara.

__ADS_1


Pak Ahmad menghela napasnya, "Baiklah, terserah kamu saja." jawab pak Ahmad, mengalah.


Pak Ahmad melirik jam dinding di kamar Kyara, "Bersiaplah ! 10 menit lagi, acara akan dimulai !" perintahnya.


"Mari tuan, kita kembali lagi ke ruang tamu !" ajaknya kepada tuan Mahesa.


***


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...


Selamat siang semua keluarga besar bapak Ahmad beserta ibu. Perkenalkan, nama saya Mahesa Sanjaya, kakek dari cucu saya yang bernama Ajay Sanjaya. Kedatangan kami kemari, hendak meminang putri satu-satunya pak Ahmad yang bernama Kyara Adistya untuk menjadi calon istri cucu kami."


"Ya..! Meskipun kami menyadari, mungkin ketidakhadiran cucu kami menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam benak keluarga besar nak Kyara. Namun kami harap, ini tidak akan menjadi penghalang untuk niat baik kami. Perlu saya sampaikan, bahwa saat ini cucu saya sedang mengikuti kegiatan yang sangat penting di kampusnya. Karena itu, dia tidak bisa hadir dan mewakilkan itikad baik dan keinginannya untuk meminang kekasihnya kepada kami selaku orang tuanya. Untuk itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami berharap keluarga besar nak Kyara bisa memakluminya." ujar tuan Mahesa menyampaikan tujuannya.


Kakek Hamid, yang tak lain adalah paman dari bu Ratna, akhirnya menjawab sambutan dari keluarga besar Ajay.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh...


Alhamdulillah..., kami terima dengan tangan terbuka, silaturahmi dan maksud kedatangan keluarga besar nak Ajay. Walaupun ada sedikit kejanggalan, he..he... Jujur saja, selama hidup saya sampai detik ini, saya belum pernah menyaksikan sebuah pertunangan tanpa adanya pihak laki-laki. Namun..., sepertinya zaman sudah berubah, sehingga kesibukan sudah mengalahkan hal-hal yang sakral. Tapi, tentu saja semua itu tidak menghalangi kami untuk menerima niat baik nak Ajay yang hendak melamar kekasihnya. Bagaimana neng, apa Aneng bisa memaklumi kesibukan calon tunanganmu dan mau menerimanya sebagai imammu kelak ?" tanya kakek Hamid kepada Kyara.


Kyara yang sudah duduk berdampingan dengan ibunya, hanya bisa tersenyum dan mengangguk.


"Alhamdulillah..., tampaknya putri kami pun menerima lamaran ini. Jika sudah demikian, tidak ada alasan bagi kami untuk menolak pertunangan ini." ujar kakek Hamid.


"Alhamdulillah..." semua yang hadir mengucapkan hamdalah.


Akhirnya, satu persatu hantaran yang telah disiapkan oleh keluarga Sanjaya diberikan kepada Kyara dan kedua orang tuanya. Sebagai simbol resminya pertunangan Kyara dan Ajay.


Acara dilanjutkan dengan jamuan makan yang telah disiapkan keluarga Kyara. Sepanjang acara makan, desas-desus dan omongan miring tentang ketidakhadiran Ajay terlontar dari mulut-mulut usil kerabat dan tetangga Kyara.


Kyara tersenyum miris. Benar apa yang kakek Hamid bilang. Sepanjang sejarah, mungkin hanya inilah pertunangan yang sangat hambar.... batin Kyara.


Bersambung...


Alhamdulillah...., hari ini author bisa up juga...


Makasih dukungannya ya...


Semoga masih suka ceritanya..


Jangan lupa like vote n komennya..


πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2