
Assalamualaikum readers...
Semoga masih suka dengan ceritanya yaaa
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Prang...!!!
Terdengar bunyi piring yang jatuh ke lantai. Seketika Kyara dan ibunya menoleh ke belakang. Tampak pak Ahmad sudah berdiri dengan raut muka yang sulit untuk dibayangkan.
"Ayah..." gumam Kyara.
Pak Ahmad melangkahkan kakinya mendekati Kyara.
Plakk...!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Kyara.
"Bapak !!" teriak bu Ratna yang merasa kaget atas sikap suaminya.
"ADISTYA !" seru pak Ahmad, "Kau...kau... arrggh..." pak Ahmad memegang dada kirinya yang kembali terasa sakit.
"Ayah...!" ujar Kyara, hendak menolong ayahnya yang hampir jatuh tersungkur jika tidak segera berpegangan pada ujung meja.
Pak Ahmad mengangkat tangannya. "Jangan sentuh aku !" teriaknya. "Pergi kau dari hadapanku, Adistya !" kembali pak Ahmad berteriak sambil memegang dadanya.
Bu Ratna segera menghampiri pak Ahmad. "Ayo pak, ibu bantu ke kamar. Kya, pergilah !" ucapnya dingin.
Kyara sudah tidak sanggup lagi berhadapan dengan kedua orang tuanya. Akhirnya dia pun pergi ke kamarnya. Kyara duduk di tepi ranjang. Kedua lututnya ditekuk hingga ke dada. Dia pun menundukkan kepalanya dan mulai menangis pilu. Dadanya benar-benar sesak melihat kekecewaan di mata kedua orang tuanya. Meski ada sedikit rasa lega atas kejujurannya, namun tetap saja beban yang dia rasakan tidak pernah berkurang. Bahkan kini semakin bertambah, karena untuk kesekian kalinya Kyara kembali menorehkan luka di hati kedua orang tuanya.
Ya Tuhan.... kebodohan yang berujung penyesalan. Masih pantaskah aku tinggal di sini ? Masih pantaskah aku menerima kasih sayang mereka ? Sekarang, apa yang harus aku lakukan ? Lebih baik aku pergi jika ayah dan ibu tidak mau memaafkan aku...tapi, kemana aku harus pergi ? Kyara semakin tenggelam dalam tanya dan sesalnya.
Sementara itu, di kamar kedua orang tua Kyara...
"Minumlah pak !" bu Ratna memberikan obat pereda rasa sakit di dada, kepada pak Ahmad. Ya...! Pak Ahmad memang memiliki riwayat penyakit jantung. Kabar buruk yang bertubi-tubi di dengarnya, membuat penyakit jantungnya kembali kambuh.
Pak Ahmad mengambil obat itu dan segera menelannya. Setelah itu, dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Bu, aku telah menampar anak kita satu-satunya, apa dia akan marah atas sikapku ?" tanya pak Ahmad penuh penyesalan.
Dengan lembut, bu Ratna menyentuh tangan pak Ahmad. "Dia putri yang berhati lembut, ibu yakin dia tidak akan marah, karena dia sangat tahu letak kesalahannya." ujar bu Ratna menenangkan hati suaminya.
Kembali pak Ahmad terisak saat mengingat percakapan istri dan anaknya tadi. "Aku merasa telah gagal menjadi seorang ayah, bu." ujarnya pelan. "Ya Tuhan, kenapa anakku bisa tega berbuat sekeji itu..?"
__ADS_1
Bu Ratna menunduk, dia pun merasa gagal menjadi seorang ibu yang tak pernah bisa menjaga anaknya. Tubuhnya berguncang, menandakan jika dia pun sedang menangis.
Pak Ahmad merentangkan kedua tangannya. Bu Ratna merebahkan kepalanya di dada bidang pak Ahmad. Dia pun menangis tak kuasa menahan semua kepedihan yang dirasakannya atas perbuatan putrinya.
"Bagaimana ini pak ? Ibu benar-benar khawatir akan masa depan anak kita. Bagaimana jika tidak ada seorang pria pun yang bisa menerima Aneng seutuhnya ?" tanya bu Ratna dalam isak tangisnya.
"Tenanglah bu ! Bapak akan cari laki-laki itu ! Laki-laki yang telah menghancurkan masa depan anak kita. Bapak akan paksa dia untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya terhadap anak kita." ujar pak Ahmad penuh tekad.
Bu Ratna mengangguk, "Semoga lelaki itu mau bertanggungjawab." gumamnya penuh harap.
***
Semalaman Kyara mengurung diri di kamarnya. Makanan di atas meja makan yang kemarin dimasaknya, tak disentuhnya sama sekali. Bu Ratna merasa cemas, tapi dia juga enggan untuk menemui Kyara tanpa izin dari suaminya.
Pak Ahmad melihat kecemasan yang tampak di wajah istrinya. "Pergilah bu ! Antarkan makanan untuknya !" perintah pak Ahmad.
Bu Ratna tersenyum, "Terima kasih, pak." ujarnya.
Bu Ratna menyendok nasi dan lauk pauknya ke atas piring, kemudian membawanya pergi ke kamar Kyara.
Tok... tok... tok....
"Neng, ibu boleh masuk ?" tanya bu Ratna seraya mengetuk pintu kamar Kyara.
Pintu terbuka. Tampak Kyara dengan raut muka yang sangat berantakan. Matanya bengkak menandakan cukup lama dia menangis.
"I...ibu..." ujar Kyara.
"Makanlah !" bu Ratna menyerahkan nampan yang berisi sepiring nasi beserta lauk pauknya.
Kyara mengangguk, kemudian mulai menyendok makanannya secara perlahan. Dia pun mulai makan.
"Boleh ibu tanya sesuatu ?" ujar bu Ratna.
Kyara mengangguk.
"Siapa laki-laki yang telah menodaimu, nak ?" tanya bu Ratna hati-hati, takut menyinggung perasaan Kyara.
Kyara menghentikan suapannya, dia pun menundukkan wajahnya. Dia benar-benar merasa malu sehingga tidak punya keberanian lagi untuk menatap ibunya.
Bu Ratna mengangkat dagu Kyara. "Tatap mata ibu, neng ! Ibu tidak akan marah. Ibu hanya ingin tahu saja." ujar bu Ratna. "Apakah dia Ajay ? Teman dekat kamu semasa sekolah asrama dulu ?" tanya bu Ratna. Dia sangat mengenal anaknya. Ya, Ajay adalah cinta pertama Kyara, dan bu Ratna tahu sifat anaknya yang tidak mudah melabuhkan hatinya.
__ADS_1
Kyara menatap wajah ibunya, "Ma...maafkan Kya bu.." jawabnya.
"Jadi benar, dia adalah Ajay ?" tanya bu Ratna kembali.
Kyara mengangguk.
"Kalau begitu, persiapkan dirimu ! Besok pagi kita berangkat ke kota B untuk menemui laki-laki itu !" tiba-tiba pak Ahmad sudah berdiri di ambang pintu kamar Kyara.
Kyara dan ibunya kaget dengan kehadiran pak Ahmad yang tiba-tiba.
"Tapi yah...?" ujar Kyara, ragu-ragu
"Kenapa ? tanya pak Ahmad dengan ekspresi datarnya.
Kyara terdiam...
"Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian !" lanjut pak Ahmad.
Kyara tertunduk, "Aneng..., Aneng tidak yakin jika Ajay mau bertanggungjawab. sebenarnya,...mm..hubungan kami sudah berakhir." jawab Kyara
"Astaghfirullah...! Kenapa neng ?" tanya bu Ratna semakin terkejut
"Ajay..., Ajay memutuskan hubungan kami karena....., karena dia mencintai gadis lain." Kyara semakin tertunduk merasakan perih di hatinya kala teringat kejadian pahit yang menimpanya.
Bu Ratna semakin sedih mendengarnya. Ibu mana yang tidak tersayat hatinya melihat kenyataan jika putri yang dirawatnya penuh kasih sayang, harus merasa terbuang seperti sampah saat sudah tidak dibutuhkan lagi.
"Ayah tidak minta pendapat kamu ! Ayah hanya mau, kamu antarkan ayah kepada laki-laki itu !" jawab pak Ahmad, tegas.
Bu Ratna menggenggam tangan Kyara, "Turutilah neng !"
"Baiklah ayah. " jawab Kyara
Ya Tuhan....
haruskah aku kembali ke kota itu ? Kota yang benar-benar memberikan kenangan buruk. Kota yang benar-benar tidak pernah ingin aku injak lagi seumur hidupku....
Bersambung....
Alhamdulillah, akhirnya bisa up juga...
Terima kasih atas like vote n komennya...
__ADS_1
Semoga terus bisa berkarya lebih baik lagi...
πππ