Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Gadis malang


__ADS_3

"Kita ke pangkalan dulu atau langsung ke rumahnya ?" tanya Bagas.


"Rumahnya dulu deh ! Kalau menurut google maps sih, jarak dari sini ke rumahnya cuman 25 menit, kak !"ujar Bima.


"Ya sudah, pasang yang bener maps-nya, entar nyasar lagi !" perintah Bagas.


"Siap boss...!!" jawab Bima.


Bagas kembali melajukan mobilnya mengikuti petunjuk sesuai peta. Memanglah benar, 25 menit kemudian, mereka tiba di rumah sederhana yang tampak teduh dengan cat hijaunya.


Rumah itu tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil, dengan pekarangan rumah yang cukup luas. Bagas segera memarkirkan mobilnya di depan rumah tersebut. Setelah mobil terparkir, Bagas dan Bima keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu depan rumah itu.


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum....!" sapa Bagas.


Namun tak ada jawaban.


"Permisi...! Assalamualaikum...!"


Masih tidak ada jawaban.


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum...!!"


Kali ini Bima yang mengetuk pintu seraya mengucap salam, namun masih tetap tidak ada jawaban. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah.


30 menit berlalu, Bagas dan Bima tampak frustasi karena tak ada jawaban dari dalam rumah. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke mobil dan melanjutkan pencariannya ke pangkalan. Tiba-tiba, seorang ibu-ibu paruh baya menghampiri mereka.


"Maaf, adek-adek ini mau cari siapa, ya ?" tanya ibu-ibu paruh baya itu.


"Eh, maaf bu...! Apa benar ini rumahnya kang Subro ?" tanya Bagas.


"Oh ade cari Subro ya ? Benar, ini memang rumah Subro, tapi kalau jam segini, Subro masih berada di pangkalan, dek ! Adek coba saja cari ke pangkalan !"


"Oh, begitu ya bu ! Kira-kira, pangkalannya jauh nggak bu ?" tanya Bima.


"Nggak juga dek ! Dari sini hanya membutuhkan waktu 20 menit saja. Ade tinggal lurus saja, nanti ketemu bunderan bypass. Nah, biasanya banyak angkot yang mangkal di sana."


"Begitu ya, bu ! Baiklah, kalau begitu kita permisi dulu ya bu ! Terima kasih atas informasinya ! Mari bu, assalamualaikum...!" ujar Bagas.


"Iya, sama-sama ! Waalaikumsalam...!" jawab sang ibu tersebut.


Setelah berpamitan, Bagas dan Bima melakukan pencarian terhadap kang Subro ke pangkalan yang tadi dikatakan ibu-ibu tersebut.


Jalanan di desa cukup lengang. Tidak pernah terjadi kemacetan, sehingga dalam waktu 15 menit, mereka tiba di tempat tujuan.


Bagas segera mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Setelah mobil terparkir, kembali mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan ke sebuah warung yang dipenuhi oleh beberapa orang sopir angkot.


"Assalamualaikum...!" sapa Bagas.


"Waalaikumsalam...!"


Serentak para sopir angkot itu menjawab salam Bagas.


"Permisi bapak-bapak, mohon maaf karena saya telah mengganggu istirahat bapak-bapak semuanya. Apa saya bisa bicara dengan kang Subro ?" tanya Bagas, langsung.

__ADS_1


Bukannya menjawab, para sopir itu hanya saling pandang. Ada apa dengan kang Subro, hingga harus dicari-cari oleh bocah kecil macam Bagas dan Bima ? Mungkin itulah yang ada dalam benak mereka.


"Bagaimana pak ? Apa di antara kalian ada yang bernama kang Subro ?" Bagas melanjutkan pertanyaannya.


"Maaf nak, tapi kang Subro nya sedang narik tuh...!" ujar salah seorang sopir angkot rekan kerja Subro.


"Kira-kira jam berapa beliau akan kembali kemari, pak ?" tanya Bagas.


Orang itu melirik jam tangannya. "Mungkin sekitar setengah jam lagi." jawabnya.


Bagas dan Bima saling pandang untuk saling melemparkan tanya melalui tatapannya. Bagaimana, kita tunggu saja ? Oke kita tunggu saja ! Begitulah kira-kira isi dari tatapan mereka.


"Baiklah, pak ! Boleh kami tunggu di sini ?" kembali Bagas mengajukan pertanyaan.


Bagas berharap, para sopir angkot mengizinkan mereka untuk bergabung dan menunggu kang Subro di warung itu.


"Boleh..., boleh...! Ayo silakan, nak ! Kemarilah !" ajak salah seorang sopir angkot tersebut.


Bagas dan Bima tersenyum, kemudian mereka pun duduk bergabung dengan para sopir itu.


"Sepertinya, kalian bukan orang sini, ya !" tanya salah seorang sopir angkot.


"Benar pak, kami datang dari kota B." jawab Bagas.


"Oh, begitu ya...! Ngomong-ngomong, ada keperluan apa cari kang Subro ?" tanyanya lagi.


Kembali Bagas dan Bima saling berpandangan. Sebenarnya mereka merasa bingung harus menjawab apa.


"Dek..., ditanya kok malah ngelamun ! Eh, perkenalkan, nama saya Tatang, temannya kang Subro !"


Tiba-tiba laki-laki itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. Bagas dan Bima pun menyambut uluran tangan laki-laki itu seraya menyebutkan namanya.


"Kalau saya, Bima, om !"


"He...he...jangan panggil om ataupun bapak ! Panggil saja saya mang Tatang ! Tadi, ada perlu apa ya.., sama kang Subro ?" lanjut mang Tatang.


"Emh..., se.. sebenarnya ka.. kami datang ke sini hendak mencari seseorang." ujar Bagas mulai bercerita awal mereka mengharuskan mencari orang yang bernama Subro.


Mang Tatang masih menatap tajam ke arah Bagas. Seolah meminta Bagas untuk melanjutkan ceritanya.


"Tapi, begitu kami sampai di tempat tujuan, kami mendapati jika rumahnya telah di jual kepada orang lain. Dan pemilik rumah meminta kami untuk menemui kang Subro jika kami memerlukan informasi tentang orang yang hendak kami cari." jawab Bagas panjang lebar.


Entah mengerti atau tidak, namun mang Tatang tampak manggut-manggut mendengar cerita Bagas. Sambil mengusap dagunya, dia kembali bertanya.


"Memangnya, siapa yang kalian cari ? Siapa tahu saya kenal !" tanya mang Tatang.


Meski Bagas merasa ragu untuk mengutarakannya, tapi..., hmm mungkin tak ada salahnya juga menjawab pertanyaan orang itu. Ya, benar ! Siapa tahu orang itu mengenal Kyara, bukankah Kyara juga anak seorang sopir angkot ? Batin Bagas.


"Namanya Kyara, mang ! Kyara Adistya ! Apa mang Tatang kenal ? Kalau tidak salah, ayahnya juga seorang sopir angkot. Mungkin mang Tatang juga mengenalnya, namanya pak Ahmad.


Pluk...!


Prangg...!


Karena merasa terkejut, tiba-tiba tangan mang Tatang menyenggol gelas kopinya hingga tumpah dan jatuh ke tanah.


"Eh..., ma.. maaf.. !" ujarnya tergagap.

__ADS_1


Untuk sejenak, mang Tatang menjadi pusat perhatian.


"Asih...! Asih...! Tolong bersihkan mejanya !" teriak mang Tatang.


Seorang wanita keluar dari warung itu dengan membawa lap, dia pun mengikuti apa yang diperintahkan mang Tatang. Setelah wanita itu pergi, tiba-tiba raut muka mang Tatang berubah sendu.


"Hhhh...."


Mang Tatang menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


"Gadis malang itu...!" gumam mang Tatang pelan, namun masih bisa terdengar oleh Bagas dan Bima.


Sejenak Bagas dan Bima saling pandang. Senyum tipis terukir di bibir mereka karena beranggapan akan sangat mudah menemukan Kyara, namun sejurus kemudian senyumnya menghilang saat orang itu menggumamkan kata malang untuk Kyara.


Apa yang sebenarnya terjadi padamu, nona ? kembali batin Bagas berbicara.


"Jadi mang Tatang mengenalnya ? Apa mang Tatang tahu, sekarang mereka tinggal di mana ?" tanya Bima.


"Ya, saya mengenalnya. Tapi sekarang, saya tidak tahu mereka tinggal di mana. Saya merasa prihatin akan nasib gadis itu. Benar-benar malang, ibarat pepatah bilang, sudah jatuh tertimpa tangga pula..! Kasian..!" ujar mang Tatang dengan raut muka yang penuh dengan kesedihan.


"Maaf mang, saya tidak mengerti maksud mang Tatang ?" kembali Bagas bertanya seraya mengernyitkan dahinya.


"Hhhh...., gadis periang itu kini sudah sangat berubah semenjak putusnya pertunangan dia. Tuhan benar-benar menyayanginya, karena itu Tuhan selalu menguji kesabarannya."


Mang Tatang diam saat mengingat kembali kejadian yang menimpa temannya.


Bagas semakin geregetan melihat sikap mang Tatang yang selalu menggantung ceritanya.


"Mang...!" tanya Bagas seraya memegang punggung tangan mang Tatang.


Mang Tatang tersadar dari lamunannya. "Iya, kenapa ?"


"Maksud mang Tatang sudah jatuh tertimpa tangga, itu apa ya ?"


Mang Tatang kembali menghela napasnya.


"Ya, sudah ditinggalkan sama tunangannya, eeh beberapa hari kemudian, gadis itu ditinggalkan sama ayahnya ! Benar-benar gadis malang...!"


"Ditinggalkan ayahnya, maksudnya..?"


Bagas semakin tidak mengerti.


"Hhh..., kira-kira sebulan yang lalu, ayahnya meninggal karena serangan jantung."


"MENINGGAL.....??" ujar Bagas dan Bima berbarengan.


Mang Tatang mengangguk.


"Iya, meninggal ! Beliau terkena serangan jantung setelah mendengar kabar pertunangan calon menantunya dengan wanita lain ! Huh...!! Dasar pemuda kota ! Seenaknya saja bertunangan lagi, kalaupun memang dia hendak bertunangan dengan gadis yang baru, setidaknya beresi dulu pertunangan yang lamanya. Bilang kek ke orang tuanya. Bukankah dulu keluarga mereka meminta Aneng secara baik-baik, terus kenapa mereka tidak mengembalikan Aneng secara baik-baik pula..! Katanya orang kota, tapi tidak punya etika. Saya mah kesal sama sikap mereka yang seenaknya, untung saya nggak punya anak gadis. Kalau saya punya anak gadis, nggak bakalan saya nikahin sama orang kota !" mang Tatang meluapkan emosinya secara berapi-api.


Bagas diam mendengar perkataan mang Tatang yang penuh emosi. Sedangkan Bima, dia benar-benar merasa tertampar oleh kata-kata mang Tatang. Memanglah benar ! Semenjak Kyara memutuskan pertunangannya, tak pernah sekali pun kakaknya atau bahkan kedua orang tuanya datang untuk meminta maaf ataupun untuk sekedar mengembalikan Kyara ke orang tuanya secara baik-baik.


Ah kak Kya..., maafin Bima kak..., Bima tidak bisa menjaga kakak...!!


Gadis yang malang...., maaf...! Sekali lagi aku tidak bisa menjagamu ! Aku tidak bisa berada di sampingmu saat kau membutuhkan seseorang untuk bersandar...! Kau tahu, rasanya sakit sekali mendengar semua penderitaanmu....!


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2