
Teror pesan tak bertuan masih terus berlanjut. Bahkan kali ini, pesan itu mengatakan agar Kyara harus segera menentukan tanggal pernikahan jika tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Kyara semakin dibuat cemas, emosi dan khawatir oleh pesan itu.
Siapa sebenarnya pengirim pesan ini...? Kenapa dia begitu peduli pada pertunanganku ? Kenapa keinginan yang disampaikannya sama persis dengan keinginan Bima ? Apa ini ada sangkut pautnya dengan sikap Ajay di sana...? Ish..., aku bisa gila memikirkan semua ini...!
***
Keadaan Cecilia sudah semakin membaik. Meskipun Ajay sering mengunjunginya dan merawatnya dengan telaten, namun Cecilia mulai merasakan perubahan dalam diri Ajay.
Cecilia merasa, kebaikan Ajay hanya semata-mata untuk janin yang berada dalam kandungannya, bukan untuk dirinya. Ajay selalu mengabaikannya jika dia menyentuh dirinya. Tidak pernah ada lagi hal romantis dalam hubungan mereka. Setelah melihat Cecilia makan dengan baik dan meminum obatnya, Ajay pun langsung pamit pulang dengan alasan sedang mengurus skripsinya.
Berulang kali Cecilia membahas soal pernikahan. Namun Ajay selalu menghindarinya. Cecilia tidak tahu alasan kenapa Ajay selalu menolak untuk membicarakan pernikahan, tapi naluri kewanitaan Cecilia mengatakan jika Ajay bersikap seperti itu karena masih mencintai Andin.
Aku harus menemui Andin dan memohon padanya untuk melepaskan Ajay. Aku tahu, semua itu hanya akan meruntuhkan harga diriku, tapi aku tidak peduli. Aku harus bisa membuat Ajay segera menikahiku, atau hidupku akan hancur karena harus menanggung aib ini sendirian... pikirnya.
Minggu demi minggu berlalu. Cecilia merasa jika tubuhnya sudah semakin membaik. Hari ini dia sedikit memoles dirinya. Tekadnya untuk menemui Andin sudah bulat. Bagaimanapun juga, dia harus segera menikah dengan Ajay. Lambat laun, perutnya akan semakin membuncit, dan Cecilia tidak mau jika orang-orang mengetahui kehamilannya di luar nikah.
Setelah taksi online yang dipesannya tiba, dia pun segera naik dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke rumah Andin.
Tiba di rumah Andin, Cecilia di sambut hangat oleh mamanya Andin yang tak lain teman karib orang tuanya. Baginya, nyonya Mira sudah seperti ibu keduanya. Meskipun dia akui, dia sangat membenci Andin, tapi tidak dengan ibunya. Dia sangat menghormati nyonya Mira sama seperti dia menghormati ibu kandungnya sendiri.
"Maaf ya Cecil, Andinnya sedang magang tuh..!" jawab nyonya Mira saat Cecilia mengutarakan maksudnya untuk menemui Andin.
"Begitu ya tante..! Maaf, kalau boleh tahu, dia magang di perusahaan mana ya, tan..?" tanya Cecilia.
"P. T. Delona Group, kalau tidak salah. Yang berada di jalan XX." jawab nyonya Mira.
"Ah, ya...! Cecil tahu perusahaan itu. Kalau begitu, Cecil permisi dulu tante !" pamitnya.
"Ah, baiklah..! Hati-hati di jalan ya nak..!"
Cecilia mengangguk. Dia pun segera pergi untuk mengunjungi Andin di tempat magangnya.
Tiba di perusahaan itu, Cecilia melirik jam tangannya. 10 menit lagi waktunya istirahat. Aku harus segera pergi ke resepsionis untuk meminta izin bertemu karyawan magang... batinnya.
Cecilia segera pergi ke bagian front office.
"Permisi mbak ! Apa saya boleh bertemu dengan karyawan magang yang bernama Andin ?" tanyanya pada salah seorang resepsionis.
"Apa anda sudah membuat janji dengannya ?" tanya resepsionis itu, sopan.
__ADS_1
"Mm..., sebenarnya belum sih...! Tapi aku benar-benar perlu bertemu dengannya, bisakah ?"
"Mohon maaf mbak, sudah aturan di sini, jika setiap tamu yang datang ke kantor ini, harus sudah membuat janji untuk bertemu dengan para karyawan di sini. Aturan itu juga berlaku bagi karyawan magang. Jadi, saya sarankan mbak terlebih dulu membuat janji dengan mbak Andin, setelah itu baru mbak bisa kemari lagi." jawab resepsionis panjang lebar menjelaskan salah satu aturan perusahaan.
Ish..., kenapa ketat sekali peraturannya...? gerutu Cecilia dalam hati.
Namun saat dia hendak kembali ke lobi depan, tiba-tiba dia melihat Andin dan kawan-kawannya sedang berjalan keluar lobi untuk menikmati jam istirahatnya.
"Andin...!!" teriak Cecilia lantang, hingga membuat para karyawan lainnya menatapnya.
Merasa namanya dipanggil, Andin menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang, tampak Cecilia sedang berlari kecil ke arahnya.
Wajah Andin memerah, amarahnya kembali memuncak melihat kedatangan Cecilia. Dia pun segera membalikkan badan untuk menghindari Cecilia.
"Andin tunggu..! Aku mau bicara denganmu !" teriak Cecilia.
Tapi Andin tidak menggubrisnya. Dia semakin cepat berjalan. Mita dan Laura pun terpaksa berlari kecil untuk mengimbangi langkah Andin.
"Aku mohon Andin, jangan seperti ini...! Kita harus bicara..! Aku mohon..!" teriakan Cecilia mulai mengiba, membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya mulai merasa kasihan dan memojokkan Andin.
"Eh, Ndin ! Berhenti dong ! Noh ada orang yang manggil-manggil lo...!" ujar senior pertama.
"Biasalah...! Namanya juga Andin Rosalinda putri pengusaha terkenal, jadi ya begitu..! Di mana pun dia berada, sikap manja dan egoisnya ya tetap nempel di dirinya..!" senior ketiga jauh lebih pedas sindirannya.
Andin menghentikan langkahnya. Dia pun memutuskan untuk menunggu Cecilia.
Dengan napas yang tersengal, akhirnya Cecilia tiba di hadapan Andin.
"Kita harus bicara, Ndin !" ujarnya.
Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian, Andin pun mengajak Cecilia untuk pergi ke kafe terdekat. Tiba di sana, Andin segera memesan private room agar lebih leluasa untuk berbicara dengan Cecilia. Sedangkan Mita dan Laura hanya duduk di meja umum.
"Baiklah, aku hanya punya waktu 10 menit. Bicaralah !" perintah Andin.
"Aku tahu aku bersalah, tapi aku mohon, lepaskan Ajay untukku, An...!" pinta Cecilia.
Andin tersenyum sinis, "Berikan aku satu alasan, kenapa aku harus melepaskan Ajay untukmu ?" tanya Andin, ketus.
"Kau tahu, aku sedang hamil, An...! Setidaknya kasihani anakku, jangan sampai dia terlahir tanpa ayahnya !"
__ADS_1
Andin menyeringai, "Apa benar itu anaknya Ajay ?"
"Kau...!!" Cecilia meninggikan suaranya, merasa tidak terima atas pertanyaan Andin.
"Santailah Cecilia ! Jika kau yakin itu anaknya Ajay, kenapa kau harus memohon padaku untuk melepaskan Ajay. Apa sekarang kau mulai menyadari jika Ajay tidak pernah mencintaimu ?" tanya Andin.
Wajah Cecilia terlihat merah padam mendapati pertanyaan Andin yang tajam seperti itu. Ya, Ajay memang berubah, dan Cecilia tahu, perubahan itu terjadi karena Ajay memang masih belum mencintainya. Namun Cecilia yakin, jika Andin memutuskan Ajay, lambat laun Ajay pasti akan mencintainya.
Tiba-tiba Cecilia berdiri, menghampiri Andin dan berlutut di bawah kaki Andin.
"Aku mohon, lepaskan dia An...! Saat ini aku sedang mengandung anaknya, aku tidak mau jika orang-orang tahu aku hamil di luar nikah. Jadi, tolong lepaskan dia, agar dia bisa segera menikahiku..!" pinta Cecilia memelas.
Meskipun Andin tahu jika permintaan Cecilia salah sasaran, namun Andin sangat menikmati pertunjukan ini. Andin suka melihat Cecilia memelas dan berlutut di hadapannya.
"Ha...ha... ha...."
Tiba-tiba Andin tertawa keras. Benar-benar merasa terhibur atas kesalahpahaman ini. Cecilia mendongak, tiba-tiba bulu kuduknya merinding mendengar Andin tertawa menyeringai.
"Apa kau tahu, Li ! Jika kau memintaku untuk melepaskan Ajay, maka kau salah sasaran...!!" ujar Andin tertawa mengejek.
Cecilia menatap Andin dengan raut wajah yang bingung. Dia benar-benar tidak mengerti arti ucapan Andin.
Andin menatap tajam ke arah Cecilia. Senyum sinis dan tatapan mengejek terpancar di matanya.
"Asal kau Li, kita memang sama-sama pernah singgah dalam kehidupan Ajay. Tapi kita tidak pernah singgah di hatinya. Aku dan kamu hanyalah bagian dari kesenangan dirinya, bukan bagian dari hati, napas, dan jiwanya. Satu-satunya orang yang singgah dan menetap di hatinya, adalah tunangannya. Ha...ha...ha..."
Terlihat sangat puas sekali Andin menyaksikan keterkejutan Cecilia.
"Tunangan....??"....
Bersambung....
Pagi semua....
Semoga masih tetap bersemangat dalam menjalankan ibadah puasanya...
Jangan lupa untuk selalu like, vote n komen cerita ini..
🙏🙏
__ADS_1