Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kisah Arumi


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya Kyara heran melihat di jam istirahat Arumi menyendiri di taman ini.


"Tidak ada bu." jawab Arumi.


"Kemarilah !"


Kyara kembali mengajak Arumi untuk duduk di sudut taman itu.


"Kenapa kamu tidak ikut bermain dengan yang lainnya ?" tanya Kyara.


"Arum tidak suka dengan mereka bu." jawab Arumi polos.


"Loh, kenapa ?" Kyara balik bertanya.


"Arum bosan, setiap hari mereka membicarakan mamanya, Arum tidak suka !" jawabnya dengan nada kesal.


"Apa kamu tidak memiliki mama ?" tanya Kyara hati-hati.


"Arum masih punya mama, tapi mama Arum tidak sayang sama Arum !" jawabnya semakin merasa kesal.


"Ish..., tidak..."


Teeetttt.......!!


Belum sempat Kyara menyelesaikan kalimatnya, ternyata bel sekolah telah berbunyi.


"Bu syantik, Arum masuk dulu ya ! Assalamualaikum..!" teriak Arum seraya mencium tangan Kyara. Setelah itu dia pun berlari menuju kelasnya.


Ish, ada apa dengan anak itu ? Kenapa dia seperti tidak suka terhadap ibunya. Aku harus mencari tahu kenapa dia bisa seperti itu..


Batin Kyara. Setelah Arum menghilang dari pandangannya, Kyara pun segera pergi menuju kelasnya untuk melanjutkan pembelajaran.


***


Tiga tahun sudah Bagas tinggal di negeri orang. Prestasi dan kemajuan Bagas baik di bidang pendidikan dan pekerjaan berkembang sangat pesat. Ketika di tahun pertama Bagas telah berhasil membuat design mobil dan menjadi asisten dosen. Maka di tahun kedua, dengan bantuan dosennya, Bagas berhasil mengaplikasikan design tersebut menjadi sebuah karya yang utuh. Karya itu Bagas beri nama projects B.


Akhirnya, Bagas pun mulai merintis perusahaannya di tahun yang bersamaan. Tentunya dengan resiko Bagas kehilangan pekerjaan dari perusahaan Adinata. Beruntungnya, Alvaro sang CEO dan para pemilik saham tidak merasa keberatan dengan keputusan Bagas yang mengundurkan diri dari perusahaannya. Karena projects A yang telah direalisasikan ternyata menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat bagi Adinata Group.


Menjelang tahun ketiga, Bagas mulai merintis cabang perusahaan di negaranya. Bagas berpikir, mungkin dia bisa melatih kedua adik angkatnya untuk mengurus cabang perusahaan itu. Namun untuk sementara waktu, Bagas mempercayakan perusahaan itu kepada asisten yang selalu menemaninya dari awal dia merintis usahanya.


"Bagaimana Gerald, apa tender untuk pengadaan mobil dinas di pemerintahan itu berhasil dimenangkan ?" tanya Bagas menghubungi asistennya yang berada di Indonesia.

__ADS_1


"Alhamdulillah, pak ! Mereka sangat terkesan dengan karya bapak. Tetapi ada sedikit kendala pak !"


Bagas mengernyitkan dahinya.


"Kendala ?"


"Benar pak ! Menteri keuangan ingin langsung bertemu bapak untuk melakukan penandatanganan kesepakatan."


"Apa kau tidak bisa menghadle-nya ?"


"Sulit, pak ! Beliau orang yang berwatak keras, pak ! Jika kita tidak menuruti keinginan beliau, maka beliau akan membatalkannya pak !"


"Baiklah, nanti saya atur kembali waktunya ! Assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam !"


Bagas menutup telponnya. Dia tampak berpikir keras untuk mencari solusi dari kendala yang dihadapi asistennya. Jika dia tidak datang, maka dia akan kehilangan tendernya. Sementara, tender ini adalah langkah awal untuk Bagas mengembangkan usahanya di negara sendiri.


"BA Group harus bisa berkembang di sana ! Tapi bagaimana caranya ? Saat ini aku masih belum bisa pulang. Jadwalku benar-benar padat !"


Bagas menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


***


"Belum pulang ?" tanya Kyara.


"Belum bu, om Fazar nya belum jemput." jawab Arumi masih asyik dengan gambarnya.


Kyara memperhatikan gambar itu. Ada seorang perempuan dewasa berhijab sedang menggendong bayi, ada juga seorang laki-laki. Namun yang lebih membuat Kyara tertarik adalah gambar seorang anak kecil yang sedang memegang boneka berdiri jauh di antara gambar-gambar yang lainnya.


"Ini siapa ?" tanya Kyara menunjuk gambar anak kecil itu.


"Arum." jawab Arumi singkat.


"Oh, kalau begitu, ini pasti ayah (Kyara menunjuk gambar seorang laki-laki) ibu dan adeknya Arum ya ?" tunjuk Kyara pada gambar orang yang berhijab yang sedang menggendong bayi.


Arumi mengangguk.


"Arum kok berdiri di sini, kenapa Arum nggak gambar di dekat ayah atau ibu saja, biar kelihatan seperti keluarga yang bahagia !" gurau Kyara.


Seketika Arum menghentikan kegiatan menggambarkannya. Tangannya mengepal keras hingga pensil yang dipegangnya patah. Arumi kemudian meremas kertas gambarnya.

__ADS_1


kyara sangat terkejut dengan kemarahan yang ditampakkan Arumi.


Ada apa dengannya ? Kenapa dia terlihat sangat marah ketika aku menyinggung soal keluarga ?


Kyara melihat Arumi mengemasi barang-barangnya. Tidak sampai di sana, Kyara juga melihat mata Arumi sudah berair. Tanpa basa-basi, Kyara segera memeluk Arumi erat.


"Maafkan ibu, sayang ! Maafkan jika ada perkataan ibu yang melukai hatimu !"


"I...ibu...ti.. tidak salah.., bu ! Arum yang salah, karena Arum, dedek bayi hiks...dedek sa..sakit...! Arum ngggak mau deket dedek lagi bu, A... Arum ngggak mau bikin dede sakit lagi."


Arumi mulai terisak. Dan fakta yang mengejutkan adalah, Arumi sudah mau bercerita tentang beban yang dipendamnya.


"Baiklah, sekarang ceritakan pada ibu ! Apa yang sebenarnya terjadi, sampai kamu menyalahkan dirimu sendiri !" tanya Kyara seraya melepaskan pelukannya.


"Waktu Arum kelas 1, umi melahirkan dedek bayi. Arum sangat senang karena Arum punya dedek bayi. Tapi sejak punya dedek, umi tidak sayang Arum lagi. Semuanya begitu perhatian sama dedek. Arum sedih, karena umi dan abi tidak pernah menemani Arum bermain lagi. Umi dan abi tidak pernah membacakan dongeng lagi."


"Waktu Arum naik kelas, umi ngggak pernah bawa raport Arum lagi. Sampai suatu hari, dedek bayi menangis di rodanya. Waktu itu, umi sedang mandi dan abi belum pulang dari kantor. Arum tidak tahu harus berbuat apa, Arum pikir dedek bayi pingin makan, jadi Arum kasih es krim yang sedang Arum makan. Tiba-tiba saja, dedek bayi muntah-muntah. Arum takut sekali, Arum berteriak memanggil umi yang sedang memakai pakaian. Umi datang, tiba-tiba umi menangis. Umi segera menelpon abi dan meminta om Fazar mengantar kami ke rumah sakit. Tiba di sana, dedek diperiksa dokter. Arum lihat umi nangis di depan pintu, Arum mendekati umi karena ingin meminta maaf, tapi.... hiks...tapi...."


Suara Arum terhenti, sepertinya masih ada beban yang belum mampu dia ceritakan.


Kyara menyeka air mata di kedua pipi Arumi.


"Tapi...?" kata Kyara.


Arumi melihat Kyara. Tatapan lembut nan hangat menyentuh kalbu Arumi.


"Tapi umi malah memarahi Arum. U...umi bilang Arum anak nakal, tidak bisa menjaga dedek dengan benar. Umi..umi ju.. juga bilang, ji.. jika sesuatu terjadi pada dedek, u..umi tidak akan maafin Arum...., hu...hu...!"


Tangis Arum seketika pecah ketika kembali teringat kejadian 6 bulan silam yang hampir merenggut nyawa adiknya.


Kyara kembali meraih gadis kecil itu ke dalam pelukannya.


"Jangan sedih sayang ! Semuanya akan baik-baik saja !" ujar Kyara seraya mengusap punggung Arumi.


Jadi ini yang membuat Arumi berubah. Kisah yang menorehkan luka di hatinya. Aku harus segera menemui orang tuanya. Jika terus dibiarkan, Arumi bisa mengalami trauma ke depannya....


"Non Arum, apa sudah siap ?"


Bersambung....


Yuk...yuk...yuk...lanjut..., mumpung othor lagi semangat nih...🤭🤭

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak...🙏


__ADS_2