
Bagas mendudukkan istrinya di pinggiran bathtub. Dia kemudian membuka kran air hangat untuk mandi sang pujaan hatinya. Setelah beberapa menit, Bagas kembali menutup kran nya.
"Aku bantu mandikan, ya ?" ujar Bagas hendak membuka kancing baju istrinya
"No !" pekik Kyara segera memegangi kancing bajunya.
"Kenapa ?" tanya Bagas mengernyitkan dahinya.
"Aku malu, kakang !" jawab Kyara menundukkan wajahnya.
"Ish, bukankah dulu kita sering mandi bersama." ujar Bagas menggoda istrinya.
"Tapi kan dulu keadaannya berbeda." sanggah Kyara.
"Bedanya ?" tanya Bagas lagi.
"Dulu aku masih langsing, sekarang kan ada adik di perutku, pasti aku jelek !" rengut Kyara.
"Adik ?" tanya Bagas, heran.
"Iya, anak kita !" jawab Kyara tersenyum seraya mengelus perutnya.
"Ah, iya..! Jadi kita akan memanggilnya adik ya ?" tanya Bagas mengarahkan pandangannya ke arah perut Kyara.
Kyara menganggukkan kepalanya.
Bagas berjongkok di hadapan Kyara. Dia mengusap lembut perut Kyara.
"Hai adik...! Ini...."
Bagas mendongakkan kepalanya ke arah istrinya.
"Dia akan memanggiku apa, sayang ?" tanya Bagas kepada istrinya.
"Entahlah, tapi dulu saat kamu tidak ada, Kya selalu mengenalkanmu sebagai abap nya." jawab Kyara tersipu malu.
"Abap...?" Bagas mengernyitkan dahinya.
"Kenapa ? Kakang nggak suka ?" tanya Kyara penuh kecemasan.
Meskipun terdengar aneh di telinganya, tapi demi menyenangkan hati sang istri, Bagas pun tersenyum seraya mengangguk menyetujuinya.
"Kakang suka !" ujar Bagas, cepat. "Nama yang unik. Apa pun nama pemberian kamu untukku, aku akan selalu menyukainya, karena aku tahu, nama-nama itu pasti keluar dari hatimu dengan penuh kasih sayang." ujar Bagas merayu kekasihnya.
"Hmmm, hilang berbulan-bulan, Kakang jadi pintar ngegombal ya..!" ujar Kyara memijit pelan hidung suaminya.
"Ya sudah, ayo cepat mandi !" suruh Bagas.
"Tapi kakangnya keluar dulu !" rengek Kyara.
"Kenapa ?" tanya Bagas
"Kya malu..., tubuh Kya udah jelek...!" kembali Kyara merengek.
"Nggak apa-apa, kakang suka lihat tubuh kamu yang agak berisi, jadi tambah sexy..!" goda Bagas.
"Agak berisi ?" seru Kyara. "Kenapa nggak bilang gendut aja sekalian !" gerutu Kyara seraya mengerucutkan bibirnya.
Aish..., kenapa nih ..? Kok wajahnya langsung kecut begitu...? batin Bagas.
"Ya udah..., ya udah...! Kakang keluar deh...!" ujar Bagas mengalah.
Setelah menutup pintunya, Kyara pun segera membersihkan dirinya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Kyara keluar dari kamar mandi. Dia kemudian melaksanakan kewajibannya solat subuh, sedangkan Bagas sendiri menunggunya seraya membaca buku dengan judul Menjadi Orang Tua, yang berada di atas nakas.
Bagas berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang tertulis dalam buku itu. Saking seriusnya, dia tidak menyadari jika istrinya telah berada di sisinya.
"Baca apa, kang ?" tanya Kyara.
Bagas mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang sudah terlihat segar.
"Ini !" ujarnya seraya menunjukkan cover buku tersebut.
Kyara tersenyum. "Makan, yuk !" ajak Kyara.
"Yuk !"
Bagas meraih piring yang berada di atas nampan tadi. Dia kemudian menyuapi Kyara. Mereka makan dari piring dan sendok yang sama.
"Lama nggak jumpa, kamu tambah cantik aja, sayang !" ujar Bagas seraya menyeka ujung bibir istrinya yang belepotan saus sosis.
"Idih gombal lagi..! Belajar dari mana sih, kang ?"
"He...he...! Ada deh...!"
"Huuhh...!" Kyara semakin memonyongkan bibirnya meledak suaminya.
__ADS_1
Melihat bibir tipis yang semakin mengerucut membuat Bagas semakin gemas untuk tak mengulumnya. Secepat kilat Bagas menyambar bibir mungil itu, menyesapnya dengan kuat, membuat Kyara sedikit terkejut dengan perlakuan suaminya.
Bagas menghentikan ciumannya. Dia kembali menaruh piringnya ke atas nampan. Bagas meraih segelas susu milik Kyara dan menyuruh Kyara untuk meminum susu itu.
Kyara memberikan kembali gelas yang sudah kosong kepada Bagas. Saat dia hendak menyeka mulutnya karena merasa ada cairan susu yang tertinggal di sudut bibirnya, Bagas malah memegang tangannya.
Bola mata Kyara membulat sempurna saat dia merasakan sentuhan hangat di sudut bibirnya. Ternyata Bagas menyeka sisa cairan susu itu menggunakan bibirnya.
Kyara memejamkan matanya. Sudah lama dia mendamba sentuhan lembut suaminya. Kyara menyambut lembut sentuhan bibir suaminya. Mereka saling menautkan lidahnya untuk melepaskan hasratnya.
Kabut gairah mulai terlihat di mata kedua insan yang sedang mengecap manisnya pertemuan. Tangan Bagas mulai menyusup di balik piyama istrinya, me****s pelan kedua bukit kembar milik istrinya yang semakin padat.
Kyara menggeliat merasakan puncak gairahnya. Dia melepaskan ciumannya.
"Ka...kang...." panggilnya lirih seraya menatap suaminya penuh damba.
Bagas memahami arti tatapan istrinya. Dia mulai merebahkan tubuh istrinya. Sedikit menyangga punggung istrinya dengan tumpukan bantal, agar merasa nyaman.
"Pelan-pelan kakang !" ujar Kyara menahan tubuh suaminya agar tidak terlalu menekan di perutnya.
Bagas hanya tersenyum mendengar perintah istrinya. Dia pun memulai penyatuannya dengan perlahan. Kyara memejamkan matanya untuk menikmati setiap permainan suaminya.
Senyum Bagas mengembang melihat sikap istrinya. Bagas membelai lembut pipi istrinya tanpa menghentikan pergerakannya. Karena terhalang perut Kyara, Bagas tak bisa mencium Kyara untuk memberikan kenyamanan. Dia hanya mampu membelai lembut pipi istrinya.
"Ka...kang...! Kya... Kya nggak kuat...!" ucap Kyara lirih.
Bagasi tersenyum, "Mau dikeluarkan sekarang, sayang ?"
Perlahan Kyara mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya.
Bagas pun mulai menambah kecepatan pergerakannya. Hingga akhirnya mereka sama-sama melepaskan puncak hasratnya.
Bagas membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Dia meraih tangan istrinya, kemudian mengecupnya lama.
"Terima kasih sayang ! Terima kasih karena sudah mau menungguku selama hampir 8 bulan ini."
Kyara memandang suaminya. Tangan kirinya mengusap lembut pipi suaminya.
"Jika kakang saja mampu menunggu Kya selama 6 tahun, kenapa Kya harus merasa tak mampu menunggu kakang yang hanya berbulan-bulan. Kya bersyukur Tuhan mengirimkan kakang sebagai imam Kya. Kakang lah yang telah mengajarkan arti kesabaran dalam penantian. Bagi Kya, kakang bukan hanya sekedar suami, tapi kakang juga guru Kyara dalam mengenal ketulusan cinta."
Bagas tersenyum mendengar ucapan manis istrinya yang semakin membuatnya melambung tinggi. Dia mengangkat setengah badannya dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Kemarilah !"
Bagas menarik Kyara ke dalam pelukannya. Dia mencium pucuk kepala istrinya, dan menyandarkannya di dada bidang miliknya.
Kyara mendongakkan wajahnya. Telunjuknya menyentuh bibir suaminya.
"Jangan diteruskan lagi kakang ! Siapa pun kakang, Kya akan selalu mendampingi kakang."
Bagas tersenyum, kembali dia mencium pucuk kepala istrinya.
"Oh iya sayang, apa kau tidak ingin tahu kemana selama ini aku pergi ?"
Kyara menggelengkan kepalanya.
"Kemana pun kakang pergi, Kya yakin kakang pasti kembali."
"Benarkah ?" tanya Bagas seraya tersenyum.
"Iya..!" jawab Kyara manggut-manggut.
"Kenapa begitu yakin sekali, sayang ?" tanya Bagas lagi.
"Karena cinta tahu kemana dia harus pulang !" jawab Kyara pasti.
Senyum Bagas semakin mengembang mendengar jawaban istrinya.
"Kakang, apa boleh Kya tidur lagi ?" tanya Kyara.
"Tidurlah ! Aku akan memelukmu selama kau tidur !"
Kyara pun mulai kembali terlelap dalam pelukan suaminya. Begitu juga dengan Bagas yang memang kembali mengantuk setelah melakukan kewajibannya.
Satu jam kemudian.
Kyara tampak gelisah dalam tidurnya. Ada rasa tak nyaman diperutnya. Kyara pun mulai membolak-balik tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Pergerakan Kyara pun seketika membuat Bagas terbangun.
Bagas mengernyitkan dahinya melihat buliran keringat di kening istrinya. Dia semakin terkejut saat melihat ekspresi wajah istrinya yang seperti sedang menahan kesakitan.
"Bangun sayang ! Kamu kenapa ?" tanya Bagas.
"Uuuhhh....!"
Kyara hanya bisa melenguh sambil memegangi bagian bawah perutnya.
"Sa... sayang..? Kenapa..?"
__ADS_1
"Sakit kang...?"
"Apa ! Sakit ? Kamu mau melahirkan, sayang !"
"Aku tidak tahu, kakang ! Aku kan belum pernah ngerasain lahiran !"
"Ya udah, bentar !"
Bagas merebahkan tubuh Kyara di atas kasur. Dia segera turun dari ranjangnya dan mulai memakai baju dan celana pendeknya. Setelah itu dia pergi ke luar untuk memanggil bik Mar.
"Bik... bik...!" teriak Bagas memanggil asisten rumah tangganya.
Bik Mar yang sedang menyiram tanaman segera menghentikan kegiatannya. Dia berlari tergopoh-gopoh memasuki rumah.
"Iya den ! Bibik di sini, ada apa ?" tanya bik Mar.
"Itu bik...! Kya..., Kya perutnya sakit !" jawab Bagas penuh kecemasan.
"Masya Allah..., sepertinya neng Kya mau melahirkan den !" pekik bik Mar
"Terus, gimana ?" Bagas semakin tampak cemas, dia kembali berjalan mondar-mandir di ruang makan.
"Sebentar, bibik panggil abah dulu !" ujar bik Mar.
"Mau ngapain ?" tanya Bagas, heran.
"Anu, itu..! Bibik mau nyuruh si abah buat memanggil paraji." jawab bik Mar.
"Pa...pa...apa bi ?" Bagas semakin tidak mengerti.
"Paraji aden..., itu yang buat nolong orang yang mau melahirkan." jelas buk Mar
"Bidan ?" tanya Bagas
"Iya kayak bidan, tapi ini mah bidan kampung !" jawab bik Mar.
"Ish, bibik ! Ya udah sekarang kita bantu dulu Kya, ayo !"
Bagas menarik tangan bik Mar untuk mengikutinya ke kamarnya. Beberapa kali kaki bik Mar tersandung tangga karena menyeimbangkan langkahnya dengan langkah tuannya.
BRAKK...
Bagas membuka pintunya kasar. Tapi tiba-tiba saja, Bagas dan bik Mar dibuat terpana dengan pemandangan di atas kasurnya yang sama sekali tak nampak seseorang terbaring di sana.
"Neng Kya nya di mana, den ?" tanya bik Mar.
Bagas menggedikkan bahunya.
"Kya...! Sayang...! Kamu di mana ?" teriak Bagas
Hening...
Bagas semakin merasa cemas. Dia membuka tirai pintu kaca yang menghubungkannya ke arah balkon. Tapi begitu tirai terbuka, Bagas pun tak menemukan istrinya.
"Ish, kemana dia ?" gumam Bagas semakin tampak cemas.
Tiba-tiba...
Ceklek...!
Pintu kamar mandi terbuka lebar. Tampak Kyara yang merasa heran melihat bik Mar berada di kamarnya.
"Loh, ambu ! Ada apa ? Kenapa terlihat cemas seperti itu ?" tanya Kyara heran.
"Gimana, masih sakit neng ?" bik Mar malah balik bertanya.
"Sakit...? Sakit apa ambu ? Kya baik-baik saja." jawab Kyara.
Bik Mar menatap Bagas. "Tadi den Bagas bilang perut kamu sakit, apa sudah waktunya melahirkan ?"
"Oh, Kya hanya sakit perut pengen pup, ambu. Nasi goreng yang dibikinin kakang agak pedas. Kayaknya adik nggak suka, nasi goreng bikinan abap nya. Ke bawah yuk, ambu ! Kya lapar, pengen makan nasi goreng buatan ambu !" ajak Kyara tanpa dosa.
Bagas hanya melongo melihat perbuatan istrinya. Sedangkan bik Mar hanya bisa memutar bola matanya.
"Hadeuh, aden...., aden...! Dasar calon bapak yang riweuh ! Melihat istri mulas karena sakit perut, hebohnya bukan main, gimana kalau melihat istri mulas karena mau melahirkan ?" gumam bik Mar yang masih bisa di dengar oleh Bagas dan Kyara.
"Kakang kan calon ayah siaga yang heboh ! Benar kan, kang ?"
Bagas hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal melihat Kyara melangkah dengan santainya seraya menggandeng tangan bik Mar.
"Calon ayah siaga heboh ? Wajar saja aku heboh, yang ! Aku takut terjadi sesuatu dengan kalian ! Kalian adalah harta yang paling berharga buatku." teriak Bagas.
Kyara yang mendengar teriakkan suaminya hanya tersenyum bahagia mendengar pengakuan tulus suaminya. Namun saat Kyara tiba di tangga bawah,
"Aaaarrrggghh....!"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗