
"Tunggu...! Aku bisa menjelaskan semuanya..!" teriak Ajay sambil mencekal lengan Andin.
"Lepaskan, brengsek...!!" teriak Andin.
Ajay menggelengkan kepalanya.
PLAKK...!!
Tamparan keras mendarat di pipi Ajay. Andin sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia kembali berlari menuju lobi hotel. Ajay mengambil ancang-ancang untuk mengejarnya. Namun...,
"AJAY SANJAYA...!!" teriak tuan Mahesa. "Sekali kau melangkah, eyang pastikan hidupmu pun akan menguap bersama langkah kakimu..!!" lanjutnya dengan suara menggelegar.
"Hei..., lihatlah...! Pertengkaran keluarga Sanjaya di tempat umum...! Jarang-jarang kita dapat momen seperti ini. Waaahh...ini bisa langsung viral nih kalau kita post di medsos..!" bisik salah satu pengunjung restoran kepada temannya.
"Kau benar..! Tapi, aku nggak berani melakukannya ! Sudah matikan handphone mu..! Kita cari aman saja..!" bisik temannya, mengingatkan.
"Tanggung...! Sebentar saja..!" jawabnya.
Ajay menghentikan langkahnya. Mendengar ucapan tuan Mahesa, dia pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengejar Andin.
Tuan Mahesa berjalan mendekati Ajay. Sejenak dia menghentikan langkahnya tepat di depan kedua orang yang sedang merekam keadaan di sana.
Tanpa banyak bicara, tuan Mahesa merebut ponsel pemuda itu kemudian membantingnya dengan keras.
PRAKKK...
seketika ponsel itu hancur berkeping-keping.
"Siapa pun yang berani mengambil video kejadian hari ini, segera hapus..! Atau saya akan buat kalian tidak pernah lagi merasakan kebebasan...!" teriaknya.
Semua pengunjung yang sempat mengabadikan kejadian tadi, segera menghapusnya.
"Handi..!!" teriak tuan Mahesa memanggil manager restoran.
"Iya, saya tuan." seorang pemuda tampan berusia sekitar 30 tahun, datang tergopoh-gopoh menghampiri tuan Mahesa.
"Tutup restoran ini !" perintah tuan Mahesa.
"Baik tuan !"
Handi pun meminta semua pengunjung restoran untuk kembali ke kamarnya masing-masing. Tak lupa, dia pun meminta maaf atas kekacauan yang telah terjadi.
"Bima..! Ajak Kyara pulang !" kembali tuan Mahesa memberikan perintah. "Dan kau Ajay...! Kembali ke kamarmu..!" perintahnya kepada Ajay.
Bima segera mengajak Kyara pulang. Kyara masih tampak shock dengan kejadian ini. Dia melihat kemarahan di wajah tuan Mahesa. Dia pun mengikuti ajakan Bima tanpa berani bertanya. Sedangkan Ajay, dia kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal bercampur marah.
Tuan Mahesa kembali ke mejanya. Dia menghampiri Bagas Dan Aaron.
"Nak Aaron, nak Bagas.., mohon maaf atas keributan yang tak terduga ini..! Eyang benar-benar malu, kalian harus menyaksikan semua ini." ujar tuan Mahesa, menyesal.
"Ti... tidak apa-apa eyang, kalau begitu kami permisi. Sepertinya situasinya memang sedang tidak mendukung." pamit Bagas. Dia pun mengajak Aaron pulang.
__ADS_1
Bagas segera mengambil mobilnya di tempat parkir coffee shop, sedangkan Aaron hanya menunggunya di lobi restoran. Tak lama kemudian, Bagas pun menjemput Aaron. Bagas memutuskan untuk membawa Aaron pulang. Hari ini begitu banyak kejadian yang tak terduga yang membuat Aaron diam tanpa ekspresi.
Tiba di rumah, Aaron segera melangkahkan kakinya menuju kamar. Sapaan bik Sum, asisten rumah tangga di rumahnya pun tak dihiraukannya.
Bagas mengeluarkan barang-barang Aaron dari bagasi mobil. Kemudian membawanya ke kamar Aaron. Aaron melirik, melihat pintu kamar terbuka. Namun dia kembali mengalihkan pandangannya begitu tahu bahwa yang memasuki kamarnya adalah Bagas.
Bagas menyimpan barang-barang itu di sudut kamar. Dia hendak keluar, tiba-tiba...
"Pulanglah, Gas !" perintah Aaron.
Bagas membalikkan badannya. "Sorry Ar, gue tahu lo lagi pengen sendiri. Tapi, gue gak bisa pulang. Gue udah janji sama Tante Silvi untuk menemanimu. Istirahatlah..! Tenangkan dulu pikiranmu..! Gue akan suruh bik Sum untuk membawa makan siangmu ke sini." jawab Bagas.
"Gue di kamar tamu, jika lo butuh sesuatu..!" lanjut Bagas sambil menutup pintu.
Bagas menuruni tangga. Dia pergi ke dapur untuk mencari bik Sum. Setelah itu, dia meminta bik Sum untuk membawakan makanan ke kamarnya Aaron.
Bagas kembali ke kamar tamu, kamar yang biasa ia tempati jika sedang menginap di rumah Aaron. Setelah membersihkan dirinya, dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Terpejam untuk melepaskan kelelahannya.
***
"Jadi ini, alasan kenapa kamu tidak pulang semalam ?" tanya tuan Mahesa, dingin.
Ajay hanya bisa diam.
"Kenapa kamu harus melakukan semua ini ? Kenapa kamu harus selalu mengecewakan eyangmu yang sudah tua ini ? Terlalu sulitkah kamu mengabulkan permintaan eyang ?" tanya tuan Mahesa dengan suaranya yang sedikit tercekat di tenggorokan. Sepertinya dia sudah merasa lelah menghadapi sikap cucunya.
"Eyang yang memaksaku bersikap seperti ini !" jawab Ajay, datar.
Tuan Mahesa menarik napasnya, "Apa maksud kamu ? Eyang sudah bilang, semua keputusan ada di tangan kamu ! Eyang tidak pernah memaksamu untuk menikahi gadis itu ! Tapi karena masa depan gadis itu hancur karena ulahmu, yang nota bene keturunan keluarga Sanjaya, maka eyang punya kewajiban untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan bodohmu ! Eyang berikan semua harta eyang padanya, yaa... anggap saja itu untuk membeli kesuciannya yang telah kau renggut, meskipun eyang tahu, semuanya tidak akan sepadan dengan kerugian yang dia alami karena kelakuan bejadmu..! Kau paham itu...!!" teriak tuan Mahesa.
***
Tok...tok...tok...
"Den, boleh bibik masuk.. !" bik Sum mengetuk pintu kamar Bagas.
Ceklek...
Pintu terbuka. "Iya, ada apa bik ?" tanya Bagas.
"Anu..., itu... makan malamnya sudah siap, den..!" jawab bik Sum.
"Oh, iya. Terima kasih, bik ! Aaron sudah turun ?" tanya Bagas lagi.
"Belum, den.." jawab bik Sum.
"Ya sudah, biar aku saja yang memanggilnya." ujar Bagas.
Bagas segera pergi ke kamar Aaron.
Tok....tok...tok...
__ADS_1
"Siapa..?" teriak Aaron dari dalam kamar.
"Gue...!" jawab Bagas.
"Masuk, Gas..! Pintunya nggak dikunci !" ujar Aaron.
Ceklek...
Pintu terbuka. Tampak Aaron masih termenung dengan posisi yang masih sama seperti waktu Bagas meninggalkannya tadi siang.
"Ayo, makan..!" ajak Bagas.
Aaron menoleh, "Gue nggak selera, Gas..!" jawab Aaron.
Bagas mendekati Aaron. Dia menarik kursi yang berada di dekat meja belajar Aaron, kemudian menaruhnya tepat di hadapan Aaron. Bagas duduk berhadap-hadapan dengan Aaron. Dia menatap tajam ke arah Aaron.
"Gue tahu lo kecewa, tapi bukan berarti lo menyiksa diri lo dengan cara seperti ini ! Dari tadi siang lo belum makan, Ar..!" nasihat Bagas.
Aaron mendengus kesal mendengar omongan Bagas. Bagas pun hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap Aaron.
"Ya sudah, terserah lo...! Jangan salahkan gue jika lo masuk rumah sakit karena kelaparan..!"
Bagas hendak bangkit dari kursinya, namun...
"Gas...! Apa lo tahu semua ini ?" tanya Aaron, lirih. Dadanya masih terasa sakit melihat kenyataan yang ada.
Bagas kembali duduk. "Awalnya gue nggak tahu, sebelum akhirnya eyang Mahesa menyuruh gue untuk menjemput calon istrinya Ajay." jawab Bagas.
"Maksud lo...?" tanya Aaron tak mengerti.
Kembali Bagas menghela napasnya, "Lo masih ingat, setiap lo telpon, gue nggak sempat menjawab telpon lo ?" tanya Bagas.
Aaron mengangguk.
"Sebenarnya waktu itu, gue sengaja nggak pernah angkat telpon lo. Saat itu gue masih belum bisa menemukan Kyara, karena itu gue selalu menghindari telpon dari lo, karena gue takut jika lo akan menanyakan Kyara. Sampai kemarin, eyang Mahesa meminta gue untuk menjemput tunangannya Ajay. Tiba di terminal, di depan masjid Al-Amin, gue menemukan Kyara yang tengah duduk. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Gue senang sekali waktu melihatnya, tapi gue juga merasa kesal atas kelakuannya yang menghilang begitu saja."
Bagas diam sejenak, pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa bulan lalu.
"Terus...?" kata Aaron membuyarkan lamunan Bagas.
"Gue tarik dia, karena dia hendak berlari menghindari gue. Gue ajak dia ke danau Tirta, untuk bicara dan meminta penjelasan atas kepergiannya. Saat gue sedang berbicara dengannya, tiba-tiba eyang Aini telpon gue dan menanyakan apa gue sudah berhasil menemukan tunangannya Ajay ? Akhirnya gue sadar, kalau gue pergi ke terminal karena harus menjemput seseorang. Gue coba hubungi nomor telpon yang diberikan eyang Aini. Telpon tersambung, dan ternyata..., orang yang mengangkat telpon itu, dia adalah Kyara. Saat itulah gue tahu kalau ternyata dia adalah calon istrinya Ajay." jawab Bagas.
"Apa kau tahu alasan dia bertunangan dengan Ajay ?" tanya Aaron lagi.
Bagas menggelengkan kepalanya. "Gue nggak tahu, dan jujur..! Gue nggak mau tahu..!" ujar Bagas, mencoba membohongi hatinya.
"Sudahlah Ar...! Gue tahu lo kecewa, tapi lo harus ingat ! Garis jodoh..., Tuhanlah yang menentukan..!" ujar Bagas seraya menepuk pundak sahabatnya. "Sekarang, ayo kita makan..!" ajaknya.
Aaron berusaha untuk tersenyum mendengar nasihat Bagas. Ya..! Jodoh memang di tangan Tuhan....
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih karena selalu mendukung cerita ini..
🙏🙏🙏