Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Berubah


__ADS_3

Waktu terus bergulir meninggalkan kesan tersendiri bagi setiap manusia. Terlepas itu kesan yang indah dan menyenangkan, ataupun kesan duka. Namun waktu terus maju dan tak akan pernah kembali.


Begitu juga dengan masa liburan para mahasiswa universitas GD. Pada akhirnya, mereka pun kembali ke rutinitasnya masing-masing, yaitu belajar dengan baik dan bisa lulus tepat waktu, setidaknya itu yang ada dalam pikiran Bagas.


Bagas melamun di balkon kamarnya. Pandangannya tertuju pada halaman belakang rumah Ajay. Ada banyak kenangan yang dia lewati saat duduk menikmati waktunya di balkon ini. Kenangan saat dia melihat keceriaan Kyara yang sedang berfoto di tepi kolam renang. Bagas tersenyum mengenang semua itu, namun sedetik kemudian senyumnya sirna saat dia teringat kembali perlakuan buruk yang didapatkan Kyara di tepi kolam itu. Rahangnya mengeras mengingat perbuatan tak senonohnya Ajay terhadap Kyara waktu itu. Jika bukan karena om Ali dan eyang Mahesa, aku sudah pasti akan menyeretmu ke penjara..., gumam Bagas dengan kesal.


Sayup-sayup Bagas mendengar suara orang tertawa renyah dari arah kolam renang. Seperti suara perempuan, apa Kyara sedang ada di sini..?


Bagas semakin menajamkan indera pendengarannya. Matanya terus mengawasi ke arah kolam renang itu. Tiba-tiba, seorang gadis berlari ke tepi kolam, tak lama kemudian seorang pria pun menyusulnya. Mereka duduk di tepi kolam, bercanda bersenda gurau sambil sesekali tertawa bersama.


Siapa gadis itu...? pikir Bagas. Bagas terus menajamkan netranya, mencoba melihat lebih jelas lagi ke arah gadis itu. Jika dilihat dari postur tubuh dan rambutnya, jelas itu bukan Andin. Sepintas dia mirip Kyara, namun sikapnya jelas jauh berbeda. Tawanya pun jauh berbeda. Bagas masih mengingat dengan jelas tawa Kyara yang sangat elegan dan penuh kelembutan, berbeda dengan tawa gadis itu yang seolah seperti sedang merayu manja.


Aahh...., masalah apa lagi yang akan kamu bawa dalam kehidupanmu, Jay...? Kenapa kamu tidak pernah berubah ? Mau sampai kapan kamu terus bermain-main dengan perempuan ?


Bagas pun masuk ke dalam karena merasa muak melihat pemandangan di depannya. Sungguh, pemandangan yang membuat lamunannya tentang Kyara, menguap begitu saja.


***


I like Monday.....


Begitulah yang ada dalam pikiran Andin saat ini. Dia melangkah dengan cerianya menuju garasi mobilnya. Hari ini dia berulang tahun. Mobil Porsche hadiah ulang tahun dari ayahnya telah menunggunya di balik pintu garasi.


Andin mengeluarkan mobil kebanggaannya. Hari ini dia akan menunjukkan mobilnya itu kepada sahabat-sahabatnya.


Tiba di kampus. Semua mata melihat Andin dengan pandangan yang wah...


"Eh, lihat tuh si Andin, makin cakep aja...!" seru pria A.


"Iya, wuiss..., body nya itu, mannn....! Bikin juniorku menegang...! Ha...ha...ha...!" ujar pria B.


"Deuh..., dasar otak mesum...!" gadis C menonyor bahu pria B.


"Sayang, murahan...!" pria D justru mengejeknya.


"Yang penting tajir, bro...!" pria B menyanggah ucapan pria D.


Ah ada banyak perkataan yang dilontarkan para mahasiswa untuk sosok Andin yang menjadi primadona di kampus ini. Entah itu komentar baik ataupun buruk, namun Andin tak pernah ambil pusing. Baginya, selama mereka tidak menyinggung harga dirinya, Andin akan merasa baik-baik saja dan memperlakukan mereka dengan baik.

__ADS_1


"Mita....! Laura....!" teriak Andin begitu tiba di depan kelasnya.


"Haaaii...., Andin...!" Mita balik berteriak sambil berlari ke arah Andin. "Iiihh..., gue kangen banget sama lo...!" ujarnya seraya memegang tangan Andin sambil berjingkrak-jingkrak. Laura yang melihat kelakuan sahabatnya yang over itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Aah..., so sweet...! Gue juga kangen sama kalian..!" jawab Andin.


Tiba-tiba....


"Hai, semuanya...!" sapa seorang gadis.


"Elo...? Kenapa lo ada di sini Li ?" tanya Andin heran saat melihat Cecilia berada di kampusnya.


"Emang lo nggak tahu, Ndin ? Dia kan anak baru di kampus kita...!" ujar Laura, sinis. Ada nada tidak suka dari cara bicaranya.


Ya...! Laura memang tidak menyukai kehadiran Cecilia di antara pertemanan mereka. Entahlah, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu. Terlebih lagi, dia beberapa kali pernah memergoki Ajay dan Cecilia jalan bareng. Karena itu dia semakin tidak suka dengan kehadirannya.


"Oh, gitu ya...!" seru Andin dibalik keterkejutannya. "Kok lo nggak kabarin gue sih...? Kalau gue tahu, gue kan bisa bantu lo buat ngurusin administrasi kepindahan lo...!" lanjutnya.


"Supraise...! Aku emang sengaja nggak kabari kamu, kalau aku kabari, namanya bukan supraise lagi. Sama aja bohong..! Untuk urusan administrasi, Ajay sudah membantuku, kok ! Thanks ya Ndin, Ajay tuh baik banget. Kamu beruntung, jadi kekasihnya..!" ujar Cecilia, setengah menyindir.


"Cecil...! Ini, berkasnya sudah beres...!"


Seorang laki-laki yang tak lain adalah Ajay menghampiri kumpulan cewek-cewek itu dan menyerahkan map berwarna coklat kepada Cecilia.


"Terima kasih ya..! Duh maaf, jadi ngerepotin...!" ujar Cecilia sambil membungkukkan badannya.


"Ah, tidak apa-apa. Kebetulan tadi gue ke ruang dosen, sekalian aja gue ambilin tuh berkas..!" jawab Ajay.


"Hai sayang....!"


Andin menghampiri Ajay dan hendak menciumnya. Namun, tanpa disangka, Ajay menahan tubuh Andin dengan kedua tangannya.


"Jangan di sini sayang, malu...!" ujarnya setengah berbisik.


Andin mengerutkan keningnya. Sejak kapan dia menolak aku cium di depan sahabat-sahabatku...? batin Andin, heran.


"Oke...!" ujar Andin mencoba memahami keadaan. Dia pun bergelayut manja di tangan Ajay.

__ADS_1


Ajay tampak risih dengan tingkah Andin. Terlebih lagi saat dia mendapati Cecilia sedang menatapnya tajam. Perlahan Ajay mulai memegang tangan Andin dan menurunkannya. Namun sayangnya, Andin bisa melihat keresahan di wajah Ajay.


"Kamu kenapa sih sayang...? Dari tadi aku perhatikan, kok kamu gelisah banget. Sedang ada masalah...?" tanya Andin.


"Ah..., tidak...! Aku ti... tidak apa-apa, kok...!" ucap Ajay terbata-bata.


Andin menempelkan wajahnya di telinga Ajay. "Pulang kampus, kita ke hotel yu...! Aku kangen sama kamu..!" bisik Andin.


Ajay bergidik merasakan hembusan hangat di tengkuknya. Tapi dia masih berusaha untuk menetralkan hasratnya.


"Sorry An..., gue masih ada bimbingan sama pak Anwar untuk skripsi gue..!" tolak Ajay halus.


Raut wajah Andin langsung berubah mendengar penolakan Ajay. Seumur berpacaran dengan Ajay, baru kali ini dia menolak berhubungan. Biasanya Ajay paling bernafsu jika sudah diajak ke hotel. Ada apa ini...? Kenapa dia berubah...?


"Bagas...!" teriak Ajay saat dia melihat Bagas lewat di depannya. "Tunggu...! Ada yang harus kita bicarakan..!" lanjutnya.


Bagas hanya diam tak mengerti maksud ucapan Ajay.


"Girls...! Gue ke sana dulu ya...! Ada urusan sesama cowok...!" pamit Ajay.


"Tapi, sayang...!" Andin mencoba mencegah kepergian Ajay dengan mencekal tangan Ajay.


"Sebentar, sayang...! Ini urusan penting..!" jawab Ajay seraya melepaskan tangan Andin dari tangannya. Setelah itu, buru-buru Ajay berlari menghampiri Bagas.


Kenapa dia berubah ? batin Andin.


Kenapa Ajay seperti sedang berusaha menghindari Andin ya...? tanya Mita dalam hati.


Gue tahu, pasti sesuatu terjadi antara Ajay dan Cecilia. Karena itu Ajay terlihat kaku di hadapan Andin. Hmm, sepertinya cinta segitiga bakalan terjadi nih, di kampus ini...gumam Laura dalam hati


Baguslah...! Semakin dia bersikap aneh, maka Andin akan mulai curiga. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memberikan skak mat.... batin Cecilia tersenyum sinis.


Bersambung...


Selamat pagi dunia, meskipun pagi ini terlihat mendung, namun jangan sampai mengurangi semangat kita untuk beraktivitas....


Mohon dukung karya ini dengan cara like, vote n komennya 🙏🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2