
"Assalamualaikum...!"
"Kya, datanglah ke kota B saat ini juga ! Sesuatu terjadi dengan eyang akung ! Jangan lupa, begitu sampai di terminal, hubungi aku !"
Tut...tut...tut...
Ish..., kenapa kak Bagas langsung menutup telponnya ? Sesuatu terjadi sama eyang akung ? Sesuatu apa ?Aah...kak Bagas ini kalau ngasih info suka setengah-setengah...
Kyara kembali ke kamar anak-anak untuk menyelimuti mereka yang sedang tertidur siang. Namun sepanjang bekerja, hatinya benar-benar merasa tak nyaman.
Apa yang terjadi padaku ? Kenapa perasaanku tidak enak ? Apa ini ada hubungannya dengan berita dari kak Bagas tadi ? Jangan-jangan, sesuatu memang terjadi pada eyang akung. Sangat jelas terdengar dari suara kak Bagas yang cemas. Ya Tuhan..., apa yang harus aku lakukan.
***
"Kemana eyang dan om saya, pak ?" tanya Bagas kepada Renald.
"Beliau masuk ke ruang ICU. Dokter memanggilnya, sepertinya sesuatu yang buruk terjadi kepada tuan Mahesa." jawab Renald.
Tanpa berpikir lagi, Bagas segera menyusul tuan Ali dan nyonya Aini ke ruang ICU.
Tiba di ruang ICU, tampak tuan Mahesa terbaring lemah di atas ranjang. Nyonya Aini duduk di samping ranjang, tangannya memegang tangan tuan Mahesa. Tuan Ali berdiri di samping ibunya, dan hanya bisa diam menatap nanar kepada ayahnya yang sedang terbaring tak berdaya. Dalam diamnya, tuan Ali mencoba menata hati untuk sesuatu kemungkinan yang terburuk. Mengingat kondisi tuan Mahesa yang seperti sudah tidak akan tertolong lagi. Namun tuan Ali masih berharap, akan ada sebuah keajaiban bagi ayahnya, meskipun para dokter mengatakan beliau sudah tidak mungkin bisa untuk diselamatkan.
Dengan tergesa-gesa, Bagas menghampiri mereka.
"E...eyang...!" ujarnya lirih, merasa sakit melihat kondisi orang yang sangat dicintainya, hanya mampu terbaring lemah.
Tuan Mahesa mengalihkan pandangannya ke arah Bagas. Dia mengulurkan tangannya sebagai isyarat agar Bagas mendekat kepadanya.
"To...to...long...ky...kya...ishh..." ujar tuan Mahesa terbata-bata sembari meringis menahan rasa sakit yang semakin hebat di dadanya.
"Sudahlah eyang, jangan banyak bicara dulu, biar eyang cepat sembuh !" ujar Bagas menggenggam tangan tuan Mahesa.
Tanpa terasa air mata mulai menetes di pipinya. Dia benar-benar tidak kuat melihat kondisi tuan Mahesa.
Tuan Mahesa mengarahkan pandangannya kepada istrinya.
"A...ini....!" ucapnya pelan.
"Iya suamiku..." nyonya Aini menjawab seraya mendekatkan wajahnya ke wajah tuan Mahesa.
Mereka saling pandang dengan tatapan yang penuh cinta dan kasih sayang.
"Ja...ga..ky..a..., ish.., a..aku..ti..dak..bisa...men...aah..., menjaga..nya..!"
"Sudahlah suamiku, beristirahatlah ! Jangan terlalu banyak berbicara, aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini..!" nyonya Aini mencoba memberikan kekuatan kepada suaminya.
Tuan Mahesa menggeleng lemah.
"A..aku..su..dah.. tidak...bi..sa...ber..ta..han..hhh..., A..Aini, a.. aku..mencin..taimu.... Ja.. jaga Kyara..., se..selamat..kan..na...nasib..nya....hhhhh...!!!
Tuan Mahesa menghembuskan napasnya kasar. Setelah itu dia pun tidak sadarkan diri.
"DOKTER...! DOKTER...!"
__ADS_1
Bagas berteriak keras setelah melihat keadaan tuan Mahesa yang tiba-tiba terkulai lemah tak sadarkan diri. Sedangkan tuan Ali hanya bisa menatap pasrah dengan keadaan ayahnya.
Dengan sigap dokter memeriksa tuan Mahesa. Sedangkan perawat meminta Bagas, nyonya Aini dan tuan Ali untuk keluar ruangan, agar dokter bisa lebih fokus memeriksa keadaan pasien.
***
Karena perasaannya semakin tak menentu, akhirnya Kyara memutuskan untuk pergi ke kota B. Setelah mendapatkan izin dari bu Hana dan kedua orang tuanya, tepat pukul 15.00 Kyara pun tiba di terminal. Segera dia menaiki bus jurusan kota B.
Kyara menghela napasnya. Perjalanannya akan memakan waktu selama 5 jam. Itu artinya, jika tidak terjadi kemacetan maka dia akan tiba di terminal kota B sekitar pukul 20.00.
Bus mulai melaju menuju kota B. Kyara memejamkan matanya, setelah sekian lama, dia harus kembali lagi ke kota itu. Apa dia sanggup bertemu Ajay, mengingat pertemuan terakhirnya hanya menorehkan luka saja.
***
Sementara itu, di ruang ICU, dokter dan perawat tampak sibuk untuk bisa menyelamatkan tuan Mahesa.
"Siapkan AED, sus...!" teriak dokter.
Seorang perawat tampak sibuk menjalankan perintah dokter.
"AED siap, dok...!"
Dokter segera mengambil alih alat tersebut.
"200 Joule...3...2...1... shock..!"
Belum ada perubahan.
"300 Joule...3...2...1...shock..!"
"400 Joule...3...2...1... shock..!"
Tiiiiiiittttttt......
Dokter menatap layar monitor, tampak garis merah terbentang di layar monitor tersebut. Kemudian dia menatap perawat itu seraya menggelengkan kepalanya.
Selama kurang lebih satu jam berjibaku dengan semua peralatan medis, namun Tuhan berkehendak lain. Akhirnya, dokter pun memastikan jika nyawa tuan Mahesa sudah tidak tertolong lagi.
Klek...
Pintu ruang ICU terbuka lebar. Nyonya Aini, Bagas, tuan Ali dan Renald sang asisten segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan ayah saya, dok ?" tanya tuan Ali.
"Kami mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan lebih menyayangi tuan Mahesa." ujar sang dokter.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un....! Izinkan aku bertemu suamiku, dok...!" ujar nyonya Aini penuh ketegaran.
"Tapi ibu..!" cegah tuan Ali.
"Tidak apa-apa, nak ! Ibu kuat, ibu ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya, ibu mohon !"
"Baiklah ibu, ayo Ali antar !"
__ADS_1
Mereka pun memasuki ruang ICU. Jenazah tuan Mahesa tampak tenang dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Masya Allah...! Syurga ternyata sudah sangat merindukanmu, suamiku...!" ujar nyonya Aini seraya mengecup lembut kening almarhum suaminya.
Bagas merasa lemas melihat orang yang selama ini selalu membantunya telah terbujur kaku di hadapannya. Begitu juga tuan Ali, antara percaya dan tidak, dia hanya mampu terdiam kaku melihat jenazah ayahnya. Sedangkan Renald, setelah melihat jenazah tuannya. Segera Renald menghubungi orang rumah untuk memberitahukan berita duka ini.
Setelah hampir dua jam mengurusi segala prosedur kepulangan jenazah. Akhirnya tepat pukul 8 malam, jenazah tiba di rumah duka.
Bendera kuning telah terpasang di tepi pagar rumah megah milik tuan Ali. Para tetangga dan kolega bisnis tuan Ali dan almarhum tuan Mahesa berdatangan untuk melayat. Halaman depan dan tepi jalan perumahan tampak dipenuhi oleh mobil-mobil mewah yang terparkir.
Tuan Mahesa merupakan salah satu orang terpandang di kota B, karena itu banyak sekali orang-orang yang melayatnya, baik dari kalangan pebisnis ataupun pemerintahan.
***
Berulang kali Kyara menghubungi Bagas begitu dia sampai di terminal kota B. Tapi Bagas tidak mengangkat telponnya.
Ish..., kenapa tidak diangkat juga ? Batin Kyara.
Karena sudah hampir 45 menit menunggu, Kyara akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada Bagas.
-To kak Bagas
Aku sudah sampai, tapi kak Bagas sulit dihubungi. Jadi aku pergi ke rumah om Ali naik taksi online. Bye..
-Kya
Karena hari sudah malam, jalanan pun cukup lengang. 40 menit kemudian, taksi yang dinaiki Kyara memasuki gapura perumahan elite. Kyara merasa heran melihat parkiran mobil-mobil mewah di sepanjang jalan menuju rumah calon mertuanya. Kekhawatiran semakin tampak jelas di wajahnya. Pikiran-pikiran buruk mulai melintas di benaknya. Terlebih lagi saat taksinya berhenti tepat di tempat tujuan, tampak bendera kuning terpasang di tepi gerbang rumah tuan Ali.
Bendera kuning ? Eyang akung..., kak Bagas bilang sesuatu terjadi pada eyang akung, apa mungkin eyang akung meninggal...
Setelah membayar taksinya, Kyara pun segera menghambur ke rumah tuan Ali. Tubuhnya yang mungil merasa kesulitan harus berdesakan dengan banyak orang yang sedang melayat.
Brakk...!!
"Eh..., hati-hati nona !" teriak seorang gadis yang tanpa sengaja telah Kyara tabrak sehingga tubuh gadis itu menyenggol papan duka yang berada di hadapannya.
Semua mata tertuju ke arah Kyara. Namun Kyara tak menghiraukannya. Pandangannya lurus ke depan, ke arah seseorang yang telah terbujur kaku berbalutkan kain kafan. Di sampingnya tampak nyonya Aini yang masih terus mengelus bagian pipi jenazah itu.
"Eyang....!" gumam Kyara lirih.
Tiba-tiba kepala Kyara terasa berat. Matanya pun mulai berkunang-kunang. Sedetik kemudian...
Brugh....!!
"Kya...!!"
Bersambung....
Mohon maaf jika author baru bisa up malam ini...
Semoga masih suka dengan ceritanya yaaa...
Jangan lupa untuk like vote komen n fav cerita ini untuk mendapatkan notif terbarunya...
__ADS_1
Makasih...🙏🙏