Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Bertemu Kyara


__ADS_3

Mobil keluar dari bandara Soetta menuju kota B. Jalanan cukup padat sehingga perjalanan mereka terjebak kemacetan.


"Apa yang terjadi, Gas ?"


Hening...


"Tolong jawab pertanyaan gue, Gas ! Ada apa ini ?"


Bagas menarik napasnya, "Ada banyak hal yang telah terjadi, bersabarlah..! Kita bicarakan nanti, setelah kita tiba di coffee shop. Sekarang, istirahatlah..? Gue tahu lo pasti capek setelah melakukan perjalanan ini.


Aaron diam. Dia menuruti saran dari sahabatnya.


***


Kyara, tuan Mahesa, nyonya Aini dan Bima akhirnya sampai di Grand Mall yang ada di pusat kota. Ketika mereka hendak memasuki salah satu toko furniture terlengkap di sana, tiba-tiba saja...


"Tunggu...!" teriak nyonya Diana.


Semuanya berhenti dan segera membalikkan badannya.


"Mamih..?? Kok mamih ada di sini ?" tanya Bima, heran.


"Kenapa..? Memangnya mamih nggak boleh ikut !" jawab nyonya Diana, ketus.


"Bukannya begitu, mih...! Kalau tadi mamih bilang mamih mau ikut, kita pasti tungguin mamih buat berangkat bareng-bareng." Bima berusaha memberikan penjelasan.


"Tadinya sih..., mamih nggak mau ikut. Tapi, setelah dipikir-pikir, mamih harus ikut! Mamih nggak mau ya.., barang yang kalian beli, nantinya norak dan kampungan ! Selera orang kampung kan suka norak-norak pilihannya !" ujar nyonya Diana sambil melirik sinis ke arah Kyara.


Kyara hanya menarik napas panjang mendengar sindiran nyonya Diana. Berbeda dengan tuan Mahesa, yang raut wajahnya telah berubah warna karena merasa geram akan tingkah menantunya.


"Sudah..., sudah...! Ayo kita masuk..!" ajak nyonya Aini berusaha menetralkan keadaan.


Mereka semua pun memasuki toko furniture tersebut.


Kembali ketakjuban Kyara membuncah saat melihat barang-barang mewah yang terlihat elegan.


"Ayo.. ! Pilihlah apa yang kamu suka nak..!" ujar tuan Mahesa.


Tapi sebelum Kyara melihat-lihat barang yang hendak dipilihnya, tiba-tiba nyonya Diana telah mendahuluinya.


"Mas...! Saya mau yang ini ya...!" tunjuknya pada sebuah ranjang mewah kayu jati berukir dengan warna gold. "Ini juga !" kembali dia menunjuk satu set sofa berukir dengan warna coklat yang dipadukan dengan warna gold.


nyonya Diana terus menyisir toko tersebut untuk memilih dan memilah barang-barang yang diperlukan.


"Kenapa jadi mamih yang sibuk ?" Bima bergumam, kemudian dia melangkahkan kakinya, namun...,


"Mau kemana, Bim ?" tanya Kyara.


"Mamih harus dihentikan, kak ! Kalau tidak, dia akan semakin merajalela memilih barang sesuai seleranya." jawab Bima.

__ADS_1


Kyara tersenyum, "Sudah, biarkan saja !"


"Tapi kak...!" Bima protes.


"Benar apa yang dikatakan Bima. Ini rumah kamu, nak ! Jadi, kamu yang berhak memilih barang-barangnya sesuai dengan seleramu sendiri." ujar tuan Mahesa. "Sudah, biar eyang yang tegur dia !" lanjutnya.


"Eyang..! Jangan..!" cegah Kyara, memegang tangan tuan Mahesa. "Apa yang tante pilih, Kya pasti suka kok..!"


Pada akhirnya, tuan Mahesa pun mengalah. Mereka membiarkan nyonya Diana sibuk dengan pilihannya sendiri.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


"Setelah ini, kita mampir ke hotel Bintang saja ya ! Kita makan siang di sana !" ujar tuan Mahesa.


Setelah selesai, mereka pun pergi ke hotel Bintang untuk makan siang. Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena jalanan terlihat lengang. Tak lama kemudian, mereka pun tiba di hotel Bintang. Mereka mulai memesan makanan.


Sementara itu, tepat di samping restoran hotel, terdapat sebuah coffee shop yang memang sering dikunjungi karena cita rasa kopinya yang khas. Bagas segera memarkirkan mobilnya begitu sampai di coffee shop tersebut.


Bagas dan Aaron memasuki coffee shop dan memilih duduk di pojokan. mereka segera memesan kopi dan makanan kesukaan mereka.


"Apa yang mau lo bicarakan, Gas ?" tanya Aaron memulai pembicaraan karena merasa tak sabar untuk mendengar apa yang akan Bagas bicarakan.


Helaan napas Bagas terasa berat, "Sebenarnya..., saat Kyara sadar, dia mengalami depresi." Bagas memulai cerita saat Kyara terbaring di rumah sakit dulu.


"Apa...!" teriak Aaron, terkejut mendengar kenyataan. "Kenapa lo nggak bilang ?" lanjutnya.


"Ish..! Sabarlah...! Jangan menyelak pembicaraan !" tukas Bagas merasa tidak senang karena pembicaraannya harus terhenti.


"Kyara sempat beberapa kali histeris setelah mengetahui dia kehilangan anaknya. Dari kejadian itu, akhirnya dokter pun memvonis kalau Kyara mengalami depresi. Selama kurang lebih 2 minggu, Kyara seperti mayat hidup. Tapi suatu hari, dipuncak depresinya, tiba-tiba saja dia menyerangku dengan senjata tajam yang dia dapatkan dari atas nakas. Saat itu aku sedang memotong buah untuknya, namun tiba-tiba ponselku berdering. Tanpa sengaja, pisau itu aku letakkan di atas nakas. Kyara menggunakan pisau itu untuk menyerangku, karena kewalahan, akhirnya perawat pun kembali memberikan dia suntikan penenang." sejenak Bagas diam, teringat kembali semua peristiwa yang membuatnya merasa iba akan nasib Kyara.


"Lalu..?" tanya Aaron yang mulai penasaran bercampur pedih dengan kenyataan yang harus didengarnya tentang Kyara.


"Subuh itu, aku meninggalkan dia sendirian di kamar. Aku pikir, Kyara tidak akan segera sadar, karena dosis obat yang digunakan perawat cukup tinggi. Akhirnya aku pergi ke masjid untuk salat subuh. Karena kelelahan, aku sempat tertidur di masjid. Sekitar pukul 7 pagi, aku bangun. Saat aku hendak kembali ke kamar Kyara, tiba-tiba seorang perawat memanggilku, dia mengatakan kalau Kyara hilang."


"Apa...!! Jadi...!" Aaron kembali berteriak sambil berdiri. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Bagas menarik tangan Aaron, "Tenanglah dulu ! Duduklah...!"


Aaron kembali duduk, namun kini pandangannya terlihat kosong. Netranya menatap lurus.


"CCTV rumah sakit sudah aku cek. Dari CCTV itu aku mendapatkan sedikit petunjuk tentang kepergian Kyara. Tapi ternyata tidak semudah itu dia bisa ditemukan. Berbulan-bulan aku mencarinya, sampai akhirnya...."


Sreekk...


Tiba-tiba Aaron menggeser kursinya, matanya masih menatap tajam ke depan. Tepatnya ke arah restoran hotel Bintang. Aaron berdiri dan melangkahkan kakinya.


"Ar..., lo mau kemana..?"


Pertanyaan Bagas menyadarkan Aaron.

__ADS_1


"Gue lihat Kya, Ar...! Di sana..!" tunjuknya, setelah itu dia berlari menuju restoran hotel Bintang.


Bagas mengejarnya.


Benar saja. Di restoran itu, tampak Kyara dan keluarga Sanjaya sedang menikmati makan siangnya.


"Kya...!" teriak Aaron menghampiri meja Kyara.


Kyara menoleh, dia mendapati Aaron dan Bagas berjalan mendekatinya. "Aaron..." gumamnya.


Aaron dan Bagas menghampiri meja itu. "Selamat siang, eyang akung, eyang uti..!" sapa Aaron, membungkuk ke arah kedua orang yang sangat dihormatinya.


"Aah..., kamu Ar, Bagas...! Ayo... gabung ! Kita makan siang bareng-bareng." jawab tuan Mahesa.


Aaron dan Bagas kemudian duduk.


"Terima kasih eyang." jawab Aaron dan Bagas bersamaan.


Aaron sengaja duduk di samping Kyara untuk melepaskan kerinduannya terhadap gadis itu. "Apa kabar Kyara !" sapa Aaron.


Tuan Mahesa mengernyitkan dahinya, "Jadi, kamu kenal sama cucu mantuku ?" tanya tuan Mahesa.


"Cucu mantu...?" tanya Aaron.


"Iya, dia calon istrinya Ajay." jawab tuan Mahesa.


DUARRR...


Aaron bagai tersambar petir mendengar ucapan tuan Mahesa. Dia benar-benar tidak bisa mempercayainya. Seketika, dunianya terasa gelap. Aaron diam seribu bahasa. Kerinduan yang membuncah, sirna seketika.


Bagas menyadari perubahan raut wajah Aaron. Sungguh dia merasa iba terhadap sahabatnya, tapi Bagas tidak punya pilihan lain. Pada akhirnya, Aaron harus mengetahui kenyataan ini agar dia tidak terus berharap akan cintanya Kyara.


"Tidak...! Tidak mungkin...! Ini pasti bohong..!"


Tiba-tiba, seorang gadis berteriak tak jauh dari meja mereka. Semua orang menoleh..


"Dengar sayang...! Aku bisa jelaskan, semuanya..!" ucap sang laki-laki.


"Andin...!" gumam nyonya Diana.


"Ajay..!" gumam semua orang yang ada di sana.


Ya...! Untuk menghindari kedatangan Kyara, Ajay justru malah membawa Andin menginap di hotel milik eyangnya. Pergulatan panas yang entah berapa ronde, mereka lakukan semalam hingga pagi hari. Mereka terbangun karena rasa lapar melandanya. Saat turun untuk makan siang, Andin melihat keluarga Ajay berkumpul. Dia tidak menyadari keberadaan Kyara, karena Kyara duduk membelakanginya. Sambil menunggu Ajay yang sedang memesan makanan, Andin menghampiri mereka untuk menyapanya. Hingga akhirnya Andin mendengar pernyataan tuan Mahesa yang menyebutkan Kyara adalah cucu menantunya, lebih tepatnya calon istrinya Ajay Sanjaya.


Bersambung...


Mohon dukungannya dengan cara meninggalkan like vote n komen di sini yaaa...


Terima kasih...🙏🙏

__ADS_1


Di hotel Bintang.


__ADS_2