
"Hei ! Kau mau bawa aku kemana ?" protes Sisil.
"Duduk dan diamlah !" ujar Aaron.
Setelah memasang safety belt nya, kendaraan Aaron pun melaju membelah jalanan yang cukup tertib di negara ini.
***
Saatnya tiba bagi peserta yang sudah lolos ke babak berikutnya untuk mempresentasikan hasil karyanya. Pada sesi presentasi ini, para peserta lomba di bagi menjadi 4 kelompok. Setiap peserta hanya diberi waktu satu jam untuk mengenalkan desainnya. Sungguh waktu yang cukup singkat untuk mempresentasikan setiap detail gambar yang telah mereka buat.
Tatapan tanpa ekspresi dari para pemilik saham terkadang membuat para peserta hilang fokus sejenak, sehingga ada beberapa peserta yang hilang konsentrasi dalam menjabarkan hasil karyanya.
Namun tentunya itu tidak terjadi kepada Bagas.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh !"
Bagas menyapa para pemilik saham dengan salamnya. Setelah itu, dengan penuh percaya diri, Bagas pun tampil di depan untuk mengenalkan design yang dibuatnya.
"Di zaman yang sudah sangat modern ini, tentunya kita pernah mendengar dengan sebutan kendaraan yang ramah lingkungan, bahkan sudah banyak negara-negara maju yang telah memproduksi mobil jenis ini. Misalnya, kita kenal Ioniq 5 produknya Korea Selatan. Jadi pada kesempatan kali ini, perkenankan saya untuk mengenalkan desain mobil ini yang saya beri nama projects A !"
Bagas berhenti sejenak untuk mengatur napasnya.
"Projects A ini merupakan desain mobil yang saya ciptakan dengan memperhatikan bla...bla.....bla....."
Dengan sangat tegas, lugas dan lantang, Bagas menjelaskan tentang kelebihan desain mobil yang diciptakannya. Jika ada kelebihan, tentunya ada juga kekurangannya. Dengan lapang dada, Bagas pun menyebutkan kelemahan desainnya. Dia mengakui jika desain mobil ini tidak sempurna. Namun dia berkata kepada para pembesar Adinata Group, bahwa dia akan selalu belajar dan berupaya untuk meminimalisir kelemahan dari desain mobil yang diciptakannya.
"Sekian pemaparan saya tentang projects A. Saya haturkan banyak terima kasih atas waktu dan kesempatannya." ucap Bagas seraya membungkuk memberi hormat.
Riuh tepukan tangan menggema di ruangan itu. Sedari tadi, Alvaro sang CEO terlihat manggut-manggut menyaksikan penampilan Bagas. Begitu juga dengan para pemilik saham yang tersenyum dan selalu menganggukkan kepalanya saat Bagas menceritakan kelebihan dan kekurangan hasil karyanya.
"Hmm, dari sekian banyak peserta yang telah tampil, hanya dia yang mampu berlapang dada mengakui kelemahan karyanya." ujar pemegang saham A.
"Ya, anda benar ! Sepertinya dia pemuda yang sangat jujur." timpal pemegang saham B.
"Dia juga sangat cakap untuk tampil di hadapan umum. Terkesan santai namun sarat ketegasan dalam setiap katanya. Aura kepemimpinan sangat kentara dari gesture tubuhnya." pemegang saham C ikut berbicara.
Senyum Alvaro semakin mengembang mendengar para pemegang saham mengagumi penampilan Bagas. Jika tuan A, B dan C terlihat antusias dengan karya itu, maka sudah bisa dipastikan jika Bagas akan mendapatkan suara terbanyak. Karena ketiga orang itu merupakan jantung dari perusahaan itu. Investor terbesar di perusahaan Adinata Group. Mereka tak lain adalah ayah, paman dan adik almarhum kakeknya Alvaro pemilik saham terbesar di perusahaan itu.
***
Selepas makan malam. Bagas dan kakak iparnya duduk bersantai di taman belakang. Taman yang telah disulapnya menjadi sebuah taman kanak-kanak.
"Bagaimana tadi presentasinya ?" tanya Gunawan.
"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar kak." jawab Bagas.
"Syukurlah ! Kapan pengumuman pemenangnya ?"
"Sekitar 3 hari lagi."
"Hmm..., mudah-mudahan kamu bisa menang !"
"Aamiin..."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, jika Tuhan memberikan rezeki kemenangan itu kepadamu ? Apa yang akan kamu lakukan ? Hadiah apa yang akan kamu pilih ?"
"Ah kak Gun, Bagas ngggak mau berharap. Takut sakit, jika tidak menjadi kenyataan."
"Kakak tahu, tapi kan ini seandainya, Gas ?"
"Nggak baik berandai-andai, kak...!"
"Ha...ha...ha...! Kamu ini, selalu saja punya alasan !" ujar Gunawan.
Bagas tersenyum menanggapi ucapan kakak iparnya.
"Oh iya, kakak dengar dari Alvaro, katanya hadiah untuk lomba kali ini cukup fantastis, loh !"
"Benarkah ?" tanya Bagas terlihat antusias menanggapi omongan kakak iparnya.
Gunawan mengangguk.
"Memangnya, hadiahnya apa kak ?"
"Alvaro bilang sih, sebuah anak cabang perusahaan yang akan dihibahkan menjadi kepemilikan mutlak bagi pemenang. Atau beasiswa pendidikan khusus otomotif di Jerman.
Mata Bagas membulat sempurna mendengar ucapan Gunawan tentang hadiah yang akan dipersembahkan kepada seorang pemenang.
"Jika kamu menang, ini kesempatanmu untuk bisa menjadi seorang pemilik perusahaan."
Tiba-tiba kak Indah muncul dan langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk di ayunan.
Seketika bibir Bagas mengerucut mendengar ucapan kakaknya.
"Terus ?"
ujar Gunawan dan kak Indah berbarengan.
"Kalau Bagas menang, Bagas akan ambil beasiswanya. Jarang-jarang Bagas bisa ke luar negeri. Kan lumayan tuh, bisa belajar sama liburan...! He...he...he...! Ya sudah, Bagas masuk dulu ya kak ! Takut jadi nyamuk soalnya...!"
Bagas terkekeh seraya meninggalkan kedua orang yang amat disayanginya.
Gunawan hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Bagas.
"Adikmu itu, benar-benar memiliki watak yang keras !" ujar Gunawan.
Kak Indah hanya menggedikkan bahunya.
***
Tiga hari telah berlalu.
"Maaf pak Bagas, ada telpon dari mbak Riska, sekretarisnya CEO. Katanya pak Bagas disuruh menghadap CEO sekarang !" ujar salah satu staf administrasi kantor di bagian produksi.
Bagas mengernyitkan dahinya.
Tumben kak Al manggil. Kira-kira, ada apa ya ?"
__ADS_1
"Ish, kok pak Bagas ngelamun sih ! Buruan menghadap bos ! Jangan sampai bos nungguin bapak ! Soalnya jika bapak telat, bapak bisa di depak dari perusahaan ini." ujar sang staf panjang lebar.
"Ba..., baiklah bu ! Nanti saya ke sana bu ! Saya mau cuci tangan dulu ! Mari bu, saya pamit!"
"Baiklah, jangan telat ya, pak !" titah staf itu.
Setelah membersihkan dirinya, dengan menggunakan lift yang khusus karyawan, Bagas pun segera naik untuk menemui bosnya.
Tok...tok...tok...!
"Masuk !"
Bagas membuka pintunya.
Ceklek....!"
"Maaf pak ! Apa bapak memanggil saya ?"
"Iya Gas ! Kami memang sengaja memanggil kamu !"
"Kami ?" tanya Bagas tak mengerti, karena di ruangan itu hanya ada dia dan bosnya.
"iya...? Kami ? Sebentar lagi para pemilik...
Tiba-tiba Riska sang sekretaris yang bahenol itu masuk membawa ketiga pria berbeda generasi tersebut.
"Ah ternyata, sudah datang ya...!" ujar salah seorang pria yang tampak lebih tua.
Bagas mengangguk, mengingat satu persatu orang yang telah berhasil membuat dirinya gugup di hadapannya 3 hari yang lalu.
"Silakan duduk, tuan-tuan !" ujar Alvaro menawarkan duduk pada tamu-tamu yang tak lain adalah saudaranya. "Ris ! Tolong ambilkan 5 cangkir kopi ya.. !" perintah Alvaro kepada sekretarisnya.
"Siap bos !" ujar Riska seraya pamit mundur
Ketiga orang itu pun segera duduk saling berhadapan. Alvaro melirik ke arah Bagas.
"Kemarilah, Gas !" tegur Alvaro.
Bagas pun duduk bersama mereka.
"Begini nak Bagas, kami sudah mengambil keputusan jika karya andalah yang kami sepakati untuk menjadi the winner.
"Benarkah...!! Alhamdulillah...!
Bagas terlonjak kaget sekaligus senang mendengar kabar itu.
"Selamat ya, Gas ! Oke, sesuai janji saya, silakan anda pilih, cabang perusahaan apa yang akan kau pimpin nanti !" perintah Alvaro.
"Maaf pak ! Kalau saya boleh memilih, saya hendak mengambil beasiswa studi saja !" jawab Bagas tegas.
Semua orang tampak saling pandang mendengar keputusan Bagas. Sepanjang sejarah perusahaanya berdiri, baru kali ini ada pemenang yang menolak sebuah tawaran dari Adinata Group.
"Baiklah, sesuai janji saya. Silakan kamu pilih hendak berkuliah di mana ?"
__ADS_1
"Bersambung...!"
Saya haturkan banyak terima kasih karena selalu mendukung karya ini...🙏