Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Rencana Alvaro


__ADS_3

"Wah, benar-benar karya yang sangat bagus nak !" ujar pak Pur kepala bagian produksi tempat Bagas bekerja.


"Terima kasih, pak !"


"Jadi, kapan kau akan memulai projekmu ?"


"Entahlah, pak ! Butuh banyak modal untuk bisa merealisasikan desain ini !"


"Kenapa kamu tidak bawa karya mu menghadap bos ! Mungkin dengan begitu, dia akan membantumu untuk membiayai projekmu !"


Bagas diam sejenak. Mungkin apa yang dibicarakan pak Pur ada benarnya. Hmm, sebaiknya nanti aku coba saja menghubungi kak Alvaro.


"Bagaimana, nak ?"


"Nanti akan coba Bagas pikirkan, pak !"


"Baiklah, bapak akan selalu mendukungmu. Semoga berhasil.


***


"Khumaira, bagaimana persiapan untuk miladnya Arumi ?"


"Insyaallah semuanya sudah siap, mas."


"Alhamdulillah. Oh iya sayang, mas hendak mengundang Alvaro, apa kau keberatan ?"


"Tentu saja tidak mas. Silakan undang rekan-rekan mas, tapi ingat, no smoking !"


"Iya,iya Khumaira..! Jangan khawatir, mas hanya undang Alvaro saja. Kebetulan mas ada sedikit urusan dengannya.


"Sudah malam, ayo kita tidur !" bisik kak Indah.


Keesokan harinya...


Hari Minggu, pesta ulang tahunnya Arumi yang ke-2 berlangsung cukup meriah, meskipun tidak semewah pesta anak-anak pengusaha. Kak Indah sengaja untuk tidak mengajarkan kemewahan kepada anaknya sedari dini. Dia ingin Arumi bisa hidup dalam kesederhanaan, meskipun dia memiliki segalanya. Menurut kak Indah, daripada membuat pesta yang bisa menghabiskan uang puluhan juta rupiah, lebih baik mereka berkumpul bersama anak-anak yatim piatu untuk melangsungkan do'a bersama.


Setelah acara do'a bersama, pesta pun dilanjutkan dengan acara hiburan dari seorang badut. Anak-anak itu terlihat sangat senang melihat kehadiran badut itu. Satu persatu acara dipersembahkan hingga membuat pesta semakin riuh dengan sorak sorai mereka.


Kak Indah berkumpul dengan dengan tamu-tamu undangannya. Sementara Gunawan, setelah menyapa para tamunya, dia segera pergi ke ruang kerjanya begitu temannya datang.


"Aahhh...., akhirnya aku bisa lepas dari anak-anak itu !" seru Alvaro.

__ADS_1


Kedatangan Alvaro yang membawa goodie bag untuk anak-anak yayasan, ternyata tidak sesuai dengan rencana. Entah datang dari mana, tiba-tiba seorang bocah lelaki berteriak padanya.


"Hei teman-teman, lihat ! Om itu bawa hadiah untuk kita !"


Teriakan bocah usil itu seketika memecah konsentrasi anak-anak yang sedang menonton pertunjukan badut. Mereka menoleh ke arah Alvaro yang sedang mengeluarkan goodie bag dari bagasi mobilnya. Alhasil Alvaro pun kewalahan mendapatkan serbuan para kurcaci yang berjumlah kurang lebih 150 anak.


Gunawan dan Bagas yang awalnya hanya tersenyum melihat drama di hadapannya, akhirnya membantu Alvaro yang sudah sangat kelelahan dengan permintaan riuh bocah-bocah yang menginginkan bagiannya.


"He...he...he...! Gimana ? Senang kan berada di tengah-tengah kerumunan anak-anak ?" tanya Gunawan.


"Huh, senang apanya ? Mereka hanya akan membuat kita susah !" gerutu Alvaro.


"Huss ! Jangan seperti itu ! Tak baik, ucapan itu do'a. Jangan sampai itu akan menjadi do'a untuk anakmu kelak !"


"Anak...? Oh ayolah, Gun..! Aku tidak akan pernah punya anak...! Aku ini laki-laki bebas, jadi mana bisa aku punya anak.., ha..ha..ha..."


"Mau sampai kapan, Al ? Ingat Al, kita tidak selamanya muda. Kita butuh seseorang yang bisa mengurus hari tua kita, Al !"


"Sudahlah ustdzh ! Jangan merusak suasana ! Katakan, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan padaku !"


Gunawan mengeluarkan kertas yang tampak lusuh. Dia pun menyerahkannya kepada Alvaro.


"Bukalah !"


"Wow ! Amazing ! Siapa yang menggambar ini Gun ?"


Alvaro berdecak kagum melihat desain mobil yang digambar sempurna dalam kertas lusuh itu.


"Gambar itu milik Bagas. Tanpa sengaja aku menemukannya ketika sedang merapikan barang-barang lama yang dikirimkan olehnya saat pindah rumah. Istriku bilang, gambar itu dibuat oleh Bagas ketika dia mendapatkan tugas menggambar di sekolah dasar dulu. Kamu bisa bayangkan Al, di usianya yang masih bocah, dia sudah mampu mendesain mobil sesempurna itu, apalagi sekarang ?"


Sejenak Gunawan diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sebenarnya, aku ingin sekali memberikan dia modal untuk mewujudkan impiannya. Namun Bagas itu orang yang sangat berprinsip. Dia tidak akan mau menerima bantuanku. Kamu sendiri tahu kan, saat dia masuk ke perusahaanmu. Dia menolak bantuanku untuk merekomendasikan dia padamu."


Kembali Gunawan menarik napasnya panjang.


"Aku tahu jika perusahaanmu hanya bisa merekomendasikan orang-orang yang bergelar untuk bisa naik jabatan, sedangkan Bagas, kuliahnya belum tentu bisa lulus di akhir tahun ini, karena waktunya telah tersita oleh pekerjaannya. Intinya, aku ingin minta bantuan darimu !"


"Apa yang bisa kubantu ?"


"Aku tahu ini sedikit melanggar peraturan di perusahaanmu. Tapi aku benar-benar tidak ingin membuang waktu percuma. Bagas memiliki potensi yang sangat tinggi, waktunya akan terbuang sia-sia jika dia hanya terus bertahan menjadi seorang buruh di perusahaanmu. Bisakah kau memberikan dia ruang untuk bisa segera menyelesaikan kuliahnya. Setelah mendapatkan gelarnya, mungkin dia akan bisa segera direkomendasikan oleh kepala bagian untuk naik jabatan."

__ADS_1


Alvaro tampak berpikir. Sebenarnya dia bukan tidak bisa menolong Bagas, tapi cara seperti itu justru cara yang tidak masuk akal dan akan membuat kecemburuan sosial di antara para pekerja.


"Sebenarnya aku tidak setuju dengan usulanmu, sob ! Jika aku memberikan kelonggaran, itu akan menimbulkan kecemburuan sosial di antara para karyawanku. Begini saja, kebetulan setiap lima tahun sekali, perusahaanku selalu mengadakan lomba desain untuk menciptakan mobil terbaru. Memang, selama ini, aku selalu membuka lomba itu khusus untuk bagian design. Tapi sekarang, aku akan membuka lomba itu untuk seluruh divisi di perusahaan. Sehingga setiap karyawan berhak untuk mengikuti lomba tersebut. Bagaimana, apa kau setuju ?"


"Alhamdulillah, aku rasa itu solusi yang cukup adil, Al ! Thanks, ya !"


"Santai saja, sob ! Lagipula, kejadian ini membuka mata hatiku. Selama ini, tanpa sadar aku telah mendiskriminasi para pekerjaku. Seharusnya dari dulu aku menyelenggarakan lomba ini untuk setiap karyawanku tanpa membedakan divisi-divisi yang ada. Karena ternyata, ada banyak potensi yang muncul di divisi lain yang tidak pernah diikut sertakan dalam lomba ini."


Gunawan tersenyum.


"Tidak ada kata terlambat untuk berubah, sob ! Terlebih lagi perubahan itu untuk memberikan kesejahteraan kepada para bawahanmu."


"Ya, kamu benar. Ngomong-ngomong, apa kamu punya makanan ? Oh aku sangat lapar sekali...!" ujar Alvaro seraya memegangi perutnya.


"Ha..ha...ha...! Maaf, ah aku telah membuat CEO casanova ini kelaparan, ya.. ! Ayo, kita ke ruang makan !"


Mereka pun akhirnya keluar dari ruang kerja Alvaro. Tiba di meja makan, tampak Bagas yang sedang mengambil makanan.


"Ah, ternyata kamu belum makan juga, Gas ?" tanya Alvaro seraya mendekati adik iparnya.


"Iya kak, tadi Bagas bantu kak Indah dulu untuk membagikan makanan pada anak-anak yatim itu."


"Oh ya sudah, ayo kita makan bareng, kebetulan bos kamu juga sudah sangat kelaparan !" gurau Gunawan.


"Siang pak !" sapa Bagas.


"Ah sudah, jangan terlalu formal ! Ini bukan di kantor, jadi panggil aku kakak saja !"


"Baik kak !"


Mereka pun mulai menikmati makan siangnya.


"Gas, kak Indah bilang, katanya kamu sudah punya calon istri. Kapan kamu akan membawanya kemari !" tanya Gunawan.


"Uhuk...uhuk...!!


Bersambung...


Silakan tinggalkan jejaknya ya readers...


Makasih atas like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2