Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Menghindar


__ADS_3

Assalamualaikum.....


Jumpa lagi ya di episode selanjutnya...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Mih, papih lihat, kamu kok seperti tidak peduli sama pertunangan Ajay ?" tanya tuan Ali saat mendapati istrinya tengah berhias diri di depan cermin.


"Siapa bilang, pih !" jawab nyonya Diana.


"Dari kemarin, hanya ibu yang terus sibuk mempersiapkan semua kebutuhan lamaran Ajay. Kamu, malah sibuk dengan teman-teman sosialita mu saja !" tegur tuan Ali.


Nyonya Diana membalikkan badannya, "Papih benar ! Ini murni keinginan ibu untuk mengurusi acara cucunya. Jadi, biarkan saja...! Kita berikan beliau kesempatan, mumpung beliau masih hidup !" ujar nyonya Diana.


"Mamih ! Jaga ucapanmu !" bentak tuan Ali.


"Ah, sudahlah...! Mamih sibuk !" nyonya Diana kembali membalikkan badannya menghadap cermin.


"Mamih mau kemana ? Memangnya mamih tidak ingin mengecek barang hantaran buat acara Ajay besok. Siapa tahu ada yang kurang ?" tanya tuan Ali.


"Aduh, pih..., nggak usah bawel deh ! Mamih percaya kok sama ibu ! Jadi, nggak usah pake acara di cek lagi, ya..? Hari ini mamih ada kegiatan sosial sama teman-teman mamih. Mungkin pulangnya malam. Kalau papih mau makan siang, minta bibik aja siapin makanannya. Daah...papih...., mmmuuaah..." ujar nyonya Diana sambil mengecup pipi kanan suaminya.


Tuan Ali hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.


***


Hari ini, ada kegiatan hiking di kampusnya Ajay. Semua mahasiswa yang terhimpun dalam organisasi kampus Mapala ( Mahasiswa Pecinta Alam ) mengikuti kegiatan tersebut. Begitu juga dengan Bagas yang memang selalu aktif setiap ada kegiatan Mapala.


"Gas..., gue ikut lo ya...!" ujar Ajay saat melihat Bagas sedang berkemas.


"Medannya cukup terjal, Jay. Emang lo sanggup ?" tanya Bagas.


"Nggak apa-apa lah..., please..!" bujuk Ajay.


"Tumben lo mau ikut acara Mapala. Biasanya lo kan paling anti sama kegiatan kampus. Apalagi kegiatan Mapala. Udah deh, lo clubing aja sama cewek lo..! Bukannya lo anak mamih ! Entar lecet lagi...! He...he..he.." gurau Bagas.


"Jangan ngeremehin gue ya...! Gini-gini juga, gue lebih jantan daripada lo ! Lo tahu kan, udah berapa cewek yang takluk sama gue ? Masak iya, gue nggak bisa naklukin tuh gunung !" ujar Ajay menyombongkan dirinya.


"Emang lo bisa manjat tebing ? Naik turun gunung ?!" tanya Bagas.


"Eit dah..., jangankan segunung, gunung kembar pun mampu gue panjat, ha...ha...ha.." jawab Ajay.


"Sialan lo..! Dasar otak mesum !" seru Bagas sambil melempar sarung tangannya ke wajah Ajay.


"Ayolah Gas, please...!" Ajay mulai merajuk.


"Terserah deh ! Tapi, lo minta izin dulu sama om dan tante ! Gue nggak mau disalahin kalau sesuatu terjadi sama lo !"


"Oke..! Gue balik dulu ya..! Mau packing...!" pamit Ajay sambil keluar dari kamarnya Bagas.


Ajay keluar dari rumah Bagas, tinggal menyebrang, dia pun sampai di rumahnya. Tiba di rumah, Ajay segera menuju kamarnya dan mengemas semua barang yang dibutuhkan untuk kegiatan hiking nanti.


Ting...


Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari Bagas, masuk. Ajay membuka ponselnya.


"15 menit lagi kita berangkat. Cepatlah !"

__ADS_1


Eits nih bocah ! Nggak sabaran amat. Gue harus cepet-cepet nih, kalau telat, tuh bocah bisa-bisa ninggalin gue...


Ajay pun segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ranselnya, kemudian segera turun.


"Mih...! Pih...!" teriak Ajay.


Tuan Ali segera keluar dari kamarnya begitu mendengar teriakan anaknya. "Kamu kenapa teriak-teriak seperti itu ? Loh..., kamu mau kemana ?" tanya tuan Ali, heran.


"Ajay ada kegiatan Mapala, pih. Ke Bromo...!" jawab Ajay. "Ajay pergi dulu ya pih...!" pamitnya terburu-buru.


"Tunggu Jay..!" cegah tuan Ali.


"Apalagi pih...? Ajay udah ditungguin sama temen-temen nih..., udah telat !" jawab Ajay.


"Sebentar nak ! Besok kita kan harus..."


Tin...tin...


"Tuh pih, Bagas udah jemput ! Pergi dulu ya ! Bye papih..!" Ajay pun berlalu pergi begitu saja.


Ah nak..., kamu hanya membuat papihmu selalu dalam masalah saja. Bagaimana nanti jika eyang akung menanyakan keberadaanmu ? batin tuan Ali.


"Lo lama banget sih, Jay !" protes Bagas.


"Sorry Gas, gue kan harus ngurusin izin bokap dulu, he...he..he.." jawab Ajay.


"Awas kalau di sana lo cuma nyusahin gue !" ancam Bagas.


"Ya, gue janji, nggak bakalan nyusahin lo ! Ayo cabut ! Gue udah nggak sabar mau naik gunung !" ujar Ajay.


Bagas mencibir, "Tumben, kesambet setan mana lo ?"


***


"Kenapa kamu biarkan dia mengikuti kegiatan kampusnya ?" tanya tuan Mahesa kepada tuan Ali saat mengetahui Ajay telah pergi.


"Maaf ayah, Ali sudah mencegahnya. Tapi, teman-temannya sudah menjemputnya."


"Kenapa kamu begitu lemah sekali menjadi seorang ayah ! Bukankah kamu tahu jika besok adalah acara lamarannya ?"


"Sudahlah suamiku ! Jangan marahi anakmu terus !" tegur nyonya Aini.


"Ah Aini..., kau selalu saja membelanya. Apa kau tahu...


Nyonya Aini menyentuh tangan suaminya, kemudian menggelengkan kepalanya.


Tuan Mahesa menarik napasnya. Aku selalu kalah oleh tatapan matamu, Aini... batin tuan Mahesa.


"Biar ayah telpon anak itu !"


Tuan Mahesa merogoh ponselnya dari saku celananya, kemudian menghubungi Ajay.


"Hallo..., eyang...!" ( Ajay )


"Kamu dimana ?" ( tuan Mahesa )


"Ajay sedang dalam perjalanan, yang.." ( Ajay )

__ADS_1


"Cepat kembali !" ( tuan Mahesa )


"Hallo..., eyang...hallo...maaf yang..., signalnya buruk..." ( Ajay )


Tut...tut...tut...


"Brengsek ! Anak itu mematikan ponselnya." kata tuan Mahesa seraya melemparkan ponselnya ke sofa.


"Sabarlah suamiku ! Mungkin memang acara kampus Ajay sangat penting." ujar nyonya Aini, menenangkan suaminya.


"Sepenting apa Aini ? Hanya kegiatan mahasiswa kok dibilang penting. Ini pasti hanya alasan saja untuk menghindari pertunangannya !" ujar tuan Mahesa.


"Jadi bagaimana yah ? Apa kita harus menunda lamaran ini sampai Ajay kembali ?" tanya tuan Ali.


"Tidak usah ! Kita akan tetap melamar gadis itu, meskipun tanpa Ajay ! Ayah ingin tahu, sejauh mana dia akan melawan ayah !" ujar tuan Mahesa, geram.


Sementara, di dalam mobil.


"Kenapa lo bohong sama eyang ? Signalnya bagus kan ?" tanya Bagas.


Ajay diam...


"Jay, lo denger gue kan ?" tanya Bagas lagi. "Gue tahu siapa lo ! Pasti ada yang lo sembunyikan ! Lo ada masalah ? Atau..., sekarang lo ikut gue karena lo mau ngehindari masalah lo !"


Ajay menghela napasnya, "Lo sama aja kayak eyang gue, bawel ! Udah, lo fokus aja nyetir ! Gue baik-baik aja kok..!"


Ciiittt....


Bagas menginjak rem mendadak.


"Shitt !" umpat Ajay yang merasa kesal, karena hampir saja jidatnya mencium dashboard.


"Katakan !" perintah Bagas, tegas.


"Iya... iya...! Lo benar ! Gue ikut lo cuma buat alasan untuk menghindari sesuatu doang !" jawab Ajay pasrah. "Please, jangan tanya kenapa ? Gue nggak mood bahasnya." jawab Ajay, memelas.


"Ah Jay..., kenapa lo harus selalu buat masalah sama eyang ?" tanya Bagas.


"Gue sendiri nggak tahu kenapa ? Tapi jujur saja, gue bosan harus selalu menuruti kemauan eyang."


"Kali ini, apa yang beliau mau dari lo ?" tanya Bagas.


"Lo nggak perlu tahu ! Ayo jalan, nanti telat !" jawab Ajay.


Bagas pun kembali melajukan mobilnya.


Hanya ini yang bisa gue lakukan untuk menghindari pertunangan itu... batin Ajay.


Bersambung....


Akhirnya.... 2 episode ya...


Mohon maaf jika author belum bisa up tiap hari. Semoga readers tidak kecewa ya...


Mohon terus dukung author, supaya bisa lebih baik lagi dalam berkarya...


Jangan lupa like vote n komennya...

__ADS_1


Makasih...πŸ™πŸ™πŸ€—


__ADS_2