Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Reuneuh Mundingeun


__ADS_3

"Aaaarrrggghh....!"


Kyara sedikit berteriak seraya membungkukkan badannya.


"Astaghfirullah..! Kunaon neng ?" tanya bik Mar yang kembali panik saat melihat wajah Kyara meringis kesakitan.


"Perut Kya, bu..! Ra... rasanya sakit...!" lirih Kyara.


"Ya Allah...! Den....! Aden....! Sini ! Cepet atuh turun ! Ini neng Kya perutnya sakit lagi !" teriak bik Mar seraya mendongakkan kepalanya dan melambaikan tangannya menyuruh Bagas untuk turun.


Bagas masih tak ingin bergeming, dia hanya menatap mereka dari atas.


"Udah deh sayang, no tipu-tipu lagi ya ! Kakang tahu, kamu cuma pengen ngerjain kakang lagi, kan ?" tanya Bagas tak percaya.


"Ishh....! Aaah..., sakit bu !" ujar Kyara.


"Aeh ari den Bagas teh kumaha, ini mah beneran kalau neng Kya teh kesakitan. Sepertinya dia mau melahirkan, den !" bik Mar masih berteriak.


"Aargghh...!"


Kyara mengubah posisinya menjadi berjongkok, karena sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi.


"Astaghfirullah..! Hayu, yap atuh neng kita duduk dulu di sofa ruang keluarga !" ajak bik Mar seraya mengangkat kedua bahu Kyara dan memapahnya menuju ruang keluarga.


Dengan hati-hati, bik Mar membantu Kyara duduk di sofa.


"Sebentar ya ! Ambu mau nyuruh si abah dulu buat manggil nek Mae." ucapnya pada Kyara.


"Sok atuh aden turun ! Tolong dijagain dulu neng Kya nya ! Bibik mau ke depan dulu, nyuruh abah buat nyari nek Mae !" teriak bik Mar.


"Ish, siapa lagi nek Mae ?" gumam Bagas seraya berlari menuruni tangga.


Bagas menghampiri Kyara yang terlihat meringis menahan rasa sakit.


"Sayang, kamu nggak lagi nge-prank kan ?"


"Ish kakang, ngapain juga Kya nge-prank kakang ! Udah kalau nggak mau nolong, sana ! Pergi deh, kakang malah bikin Kya pusing aja !"


"Ish sayang, kejam sekali ucapanmu ! Ya sudah kakang bantu apa nih, supaya kamu nggak sakit lagi ?" tanya bagas.


"Tolong ambilkan ponsel Kya di atas kasur !" pinta Kyara.


"Siap, nyonya !"


Bagas kembali berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah menemukan benda yang dicarinya, dia kembali turun, menyerahkan ponsel itu kepada istrinya.


Kyara menerima ponsel tersebut. Dia pun mulai berselancar di internet mencari tanda-tanda orang mau melahirkan.


"Sepertinya, Kya memang mau melahirkan, kang ! Coba lihat ini ! Semua tanda-tanda ini, Kya rasakan sekarang." ujar Kyara seraya menyerahkan ponselnya ke arah Bagas, agar Bagas bisa membacanya dengan jelas.


Bagas menerima ponsel Kyara. Sekilas dia membaca artikel tersebut. Sedetik kemudian Bagas menaruh ponsel itu di meja.


Tak lama kemudian, bik Mar datang kembali ke ruang sofa.


"Gimana neng ? Apa masih sakit ?" tanya bik Mar, cemas.


"Agak mendingan ambu." jawab Kyara.


"Kita ke rumah sakit sekarang ! Bik Mar tahu, di mana rumah sakit yang bagus untuk melahirkan ?" tanya Bagas.


"Aduh den, di sini adanya puskesmas. Kalau rumah sakit besar, kita harus pergi ke kota. Sudah, aden tenang saja, bibik sudah menyuruh abah menjemput nek Mae." jawab bik Mar mencoba menenangkan Bagas.


"Nek Mae ? Siapa dia ?" tanya Bagas heran.


"Itu, paraji di kampung ini." jawab bik Mar. "Sok neng, sekarang neng jalan-jalan dulu ! Ambu mau ke belakang, bikin dulu teh rumput Fatimah." ujar bik Mar.


"Ish, bibik ! Kyara ini mau melahirkan, malah disuruh jalan-jalan." gerutu Bagas.


"Udah-udah, den Bagas tidak usah bawel ! Sok sekarang mah usap-usap punggung istrinya, biar rasa sakitnya sedikit berkurang !" perintah bik Mar.


Bagas hanya bisa melongo mendengar perintah dari asisten rumah tangganya. Eits..., siapa yang jadi bos nya sekarang, ya...? batin Bagas seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Kyara mulai bangkit dari sofa.

__ADS_1


"Eh, mau kemana sayang ?" tanya Bagas heran.


"Jalan-jalan." jawab Kyara singkat seraya mulai melangkahkan kakinya.


"Jalan-jalan kemana ? Ke taman ? Ke mall ? Ish... bukannya kamu mau melahirkan ? Nanti Kalau melahirkan di mall gimana ?" ujar Bagas cemas seraya mengikuti Kyara.


"Ish, kakang berisik ah ! Udah deh kakang duduk aja ! Kya pusing lihat kakang mondar-mandir terus !" bentak Kyara.


"Sayang..., kakang kan bingung harus berbuat apa ? Udah, ke rumah sakit aja yuk !" ajak Bagas.


"Kakang nggak dengar tadi apa yang di bilang ambu ? Rumah sakitnya jauh, kang ! Entar Kya malah lahiran di jalan lagi !"


"Ish Kya...! Kakang tancap gas deh, biar cepet sampai, yuk !"


"Udah deh, kita tungguin aja dukun beranaknya !"


"Apa ! Du...dukun beranak ? Ma... maksudnya ?"


"Ya itu, paraji atau dukun beranak, atau disebut juga bidan kampung."


"Ish, tidak...! Tidak.. ! Masak anak kakang lahirannya dibantu bidan kampung sih !"


"Sama aja kakang, yang penting lahirannya selamat. Dulu, kata ibu, Kya juga lahirnya dibantu dukun beranak kok !"


"Ya Allah Kya, kamu ada-ada saja, sih !"


"Udah, kakang tenang aja ! Coba tolong ponselnya, kang !"


Bagas kembali meraih ponsel Kyara di meja, dia pun menyerahkannya kepada Kyara.


Kyara mencari nama dokter Risa di daftar kontaknya. Setelah ketemu, dia pun menghubungi dokter Risa.


"Assalamualaikum...!" (dokter Risa)


"Waalaikumsalam ! Mbak sudah berangkat ?" (Kyara)


"Ini mbak lagi di jalan sama mas Anton." (dokter Risa)


"Oh, ya sudah ! Kya tunggu ya, mbak ! Ish..." (Kyara)


"I...iya mbak ! Tapi mulasnya kadang ada kadang ngilang. (Kyara)


"Kamu lihat saja waktunya, kira-kira, berapa menit sekali mulasnya datang. Kalau sudah semakin sering, sekitar 5 menit sekali, itu artinya kamu harus segera pergi ke rumah sakit. Takutnya mbak telat sampai." (dokter Risa)


"Tapi, rumah sakitnya jauh mbak ! Kya lahiran di rumah saja, lagipula asisten rumah tangga Kya udah manggil bidan kampung buat bantuin lahiran." (Kyara)


"Astaghfirullah...! Ya sudah, kamu hati-hati, mbak usahain bentar lagi sampai ! Ini udah mau memasuki daerah puncak kok !" (dokter Risa)


"Ya udah, hati-hati ya mbak, assalamualaikum !" (Kyara)


"Waalaikumsalam !" (dokter Risa)


"Ish....!"


Kyara kembali meringis merasakan tendangan yang sangat kuat di perutnya. Dengan berjalan mondar-mandir, tangan kanan Kyara mengusap-usap perutnya, sedangkan tangan kirinya memegangi pinggangnya yang mulai terasa panas.


Bagas semakin cemas melihat ekspresi wajah istrinya.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit saja ! Kakang khawatir sama keselamatan kalian. Sudah banyak berita buruk tentang kelahiran yang dibantu dukun beranak !" ujar Bagas semakin cemas melihat kemungkinan buruk yang akan terjadi.


"Hush ! Udah deh kakang, nggak usah parno gitu ! Ayo, bantu Kya duduk !" ujar Kyara mengulurkan tangan kanannya.


Bagas meraih tangan Kyara dan memapahnya untuk kembali duduk di sofa.


"Punggung Kya panas, kang !"


"Berbalik lah !" Perintah Bagas menyuruh Kyara memunggunginya. Setelah itu Bagas mengusap-usap punggung Kyara.


Kyara memejamkan matanya merasakan sedikit kenyamanan di punggungnya.


Tak lama kemudian, pak Usman datang bersama dengan seorang wanita yang sudah sangat berumur.


"Maaf den, harus menunggu lama ! Ini, tadi nek Mae nya mandiin bayi yang baru lahir dulu." ujar pak Usman menerangkan keterlambatan mereka.

__ADS_1


Bagas hanya diam. Jujur saja dia tidak setuju jika kelahiran anaknya harus ditangani oleh dukun beranak.


"Ya sudah, bah ! Tidak apa-apa !" ujar Kyara.


Nek Mae mendekati Kyara. Dia kemudian memegang perut Kyara. Sejenak, nek mae terlihat mengernyitkan dahinya.


"Punten, eneng ! Sepertinya, kehamilannya sudah sangat tua pisan ya ? Ibarat buah mah, sudah terlalu matang, he...he..." nek Mae mengusap-usap perut Kyara seraya terkekeh.


"Iya nek ! HPL-nya memang sudah terlewat 3 minggu yang lalu." jawab Kyara.


"Astaghfirullah hal adzim...!"


Tiba-tiba terdengar teriakan bik Mar yang baru datang untuk memberikan teh rumput Fatimah. Wajah bik Mar terlihat cemas.


"Aduh, kumaha atuh nek ! Pantesan atuh sepertinya susah sekali mau keluar eta si jabang bayi teh ! Apa perlu kita buat acara Reuneuh Mundingeun ?" tanya bik Mar semakin cemas.


"Ke...ke...ke...! Coba sok tidur ayeuna mah !" perintah nek Mae.


Kyara pun mengikuti perintah dukun beranak itu. Dia membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan kedua paha suaminya sebagai bantalnya.


"Ari dulu, neng bikin acara Tingkepan, nggak ?" tanya nek Mae seraya terus mengelus perut Kyara menggunakan kedua tangannya.


"Tingkepan ?"


ujar Bagas dan Kyara berbarengan.


"Iya, itu tradisi 7 bulanan, biar kalau nanti menjelang lahirannya di berikan kemudahan dan kelancaran." jawab nek Mae.


"Maaf nek, karena waktu itu suami Kya nggak ada, jadi Kya nggak sempat bikin acara 7 bulanan. Setahu Kya, bukankah ada proses-proses yang melibatkan ayahnya dalam upacara tersebut ?" tanya Kyara.


"Muhun atuh neng, tentu saja ada beberapa proses yang wajib dilakukan ayah si jabang bayi. Keun bae, tidak apa-apa, toh sekarang mah sudah terlewat, ya ?" jawab nek Mae.


Kyara tersenyum mesem. Sedangkan Bagas hanya mampu terdiam mendengar percakapan mereka. Ada rasa sesal di hatinya yang telah membiarkan waktu begitu saja berlalu, sehingga semua masa-masa kehamilan istrinya harus terlewat begitu saja. Bagas membelai lembut rambut Kyara. Maafkan kakang, sayang....


"Jadi kumaha atuh nek ? Apa perlu kita lakukan Reuneuh Mundingeun ?" bik Mar kembali bertanya.


"Ini, apa lagi itu Reuneuh Mundingeun ?" tanya Bagas semakin tak mengerti.


"Reuneuh Mundingeun itu sebuah tradisi orang-orang Sunda yang diadakan bagi para wanita dengan usia kehamilan 9 bulan atau lebih tetapi tak kunjung juga melahirkan. Dengan tradisi ini, diharapkan sang ibu segera melahirkan dengan selamat. Reuneuh Mundingeun adalah sebutan bagi wanita hamil yang diibaratkan layaknya seekor kerbau bunting atau dalam bahasa sundanya disebut munding." ujar Kyara memberikan penjelasan kepada suaminya.


"Lalu ?" tanya Bagas semakin penasaran.


"Ya dengan berkalung kolotok (kalung dengan bel khusus sapi/kerbau), wanita hamil itu diajak menuju kandang kerbau sembari diiringi lantunan doa. Seorang indung beurang/paraji (bidan) dan anak-anak yang membawa cambuk pun turut serta mengiringinya. Sebagai alternatif, arak-arakan ini dapat diganti dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Reuneuh Mundingeun sendiri nantinya akan diakhiri dengan memandikan calon ibu. Gitu kang ?"


"Ish..., jadi itu artinya, kamu harus memasuki kandang kerbau ?" tanya Bagas kaget.


"Heeh...!" Kyara mengangguk seraya tersenyum.


"What ! No...no...no...! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi ! Yang benar saja, aku membiarkan istriku masuk kandang kerbau ! Ish, tradisi budayamu itu, yang ! Sangat aneh-aneh semuanya ! Lagian kamu kenapa sih, sayang ? Udah tahu HPL-mu telat, kenapa juga malah kabur ke tempat terpencil kayak gini ! Bukannya kabur rumah sakit, kek ! Biar bisa langsung ditindak kalau ada apa-apa dengan kehamilan kamu." ujar Bagas sedikit kesal dengan sikap Kyara.


"Eh tuan CEO ! Jangan cuma bisa nyalahin ya ! Kalau kamu nggak ngilang, aku nggak mungkin bakalan kabur ! Salah sendiri, dalam agama juga disebutkan kalau marah itu nggak boleh lebih dari 3 hari, ini mah sampai 7 bulan lebih. Coba, istri mana yang sanggup ditinggal marah selama itu ! Pake ada acara berita kematian lagi, ya wajar kalau Kya kabur untuk mencari ketenangan !" Kyara tak kalah sewot menyahuti ucapan Bagas.


Seketika Bagas terdiam. Perasaan bersalahnya semakin menyeruak di dadanya. Bagas kemudian meraih tangan istrinya. Dia mencium tangan istrinya berkali-kali sebagai ungkapan rasa penyesalannya.


"Maaf...!" ungkap Bagas.


Kyara tersenyum.


"Kya juga minta maaf udah bicara kasar sama kakang." ujar Kyara. "Sebenarnya Kya pengen lahiran normal, kakang. Kya nggak mau di sc, Kya pengen menjadi seorang istri yang sempurna, yang bisa merasakan sakit yang indah karena melahirkan anaknya." ujar Kyara.


Hening....


Bagas merasa terharu dengan semua ucapan istrinya.


Tiba-tiba,


"Jadi gimana ? Reuneuh Mundingeun nya jadi nggak ?" tanya bik Mar.


"NO....!!"


Jawab Bagas dan Kyara serempak.


Bersambung...

__ADS_1


Mohon maaf ya...! Baru bisa up malam, soalnya othor sudah kembali masuk kerja...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2