Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kau Sempurna di Mataku


__ADS_3

Sebulan pernikahan telah mereka lewati, meski tak banyak yang berubah dari hubungan mereka. Saat ini Bagas dan Kyara sepakat untuk membiarkan hubungan ini mengalir ibarat air. Tak ada yang saling memaksakan satu sama lain.


Kyara mulai sibuk dengan persiapan ujian kenaikan kelas yang seminggu lagi akan dilaksanakan. Sementara Bagas pun masih sibuk dengan proyek-proyek barunya dalam mengembangkan sayap perusahaannya. Tak jarang Bagas harus pulang larut malam karena kesibukannya mengevaluasi proyek yang telah berjalan.


Namun sesibuk apapun Bagas, sebagai seorang suami Bagas selalu menyempatkan untuk mengantar jemput istrinya. Saat itulah mereka akan saling bercerita tentang pekerjaan mereka masing-masing.


***


Kak Indah sangat senang dengan kehadiran Kyara sebagai istri adiknya. Terlebih lagi Arumi, anak sulungnya sangat menyayangi Kyara. Kak Indah merasa, jika keluarganya hampir mendekati sempurna.


"Kau tahu Kya ? Keluarga ini akan semakin lengkap jika kalian segera memiliki momongan !" ujar kak Indah saat mereka tengah berkumpul di rumah kak Indah di hari Minggu.


"Uhuk...! Uhuk... !"


Kyara tersedak mendengar ucapan kak Indah. Matanya menatap Bagas yang tengah bermain bola bersama kakak ipar dan kedua keponakannya. Tampak Bagas menggendong Nata di pundaknya sembari menggiring bola. Mereka tertawa bersama saat bola berhasil Bagas masukkan ke gawang kakak iparnya. Sungguh benar-benar pemandangan yang meneduhkan.


Namun tiba-tiba saja, cairan hangat mulai menggenang di kedua sudut mata Kyara.


"Kakak, aku permisi ke kamar mandi dulu !" ujar Kyara segera pergi ke belakang.


Kak Indah hanya menatap heran Kyara yang terlihat bersedih.


Tiba di kamar mandi.


Brugh...!


Kyara duduk terjatuh...


"Anakku....hu..hu..., anakku...! Maaf....! Bunda minta maaf nak....hiks... hiks.....!" isak pelan Kyara.


Ah, sepertinya Kyara tengah teringat masa lalunya. Dia pun mulai menelungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya. Kembali Kyara terisak pelan.


Di taman bermain.


"Istriku dimana, kak ?" tanya Bagas sambil menyerahkan Nata ke pangkuan kakaknya.


"Tadi sih, dia bilang mau ke kamar mandi. Coba kamu lihat, Gas ! Sepertinya dia sudah lama sekali perginya !" ujar kak Indah.


Bagas pun masuk ke dalam rumahnya. Saat dia hendak mengetuk pintu kamarnya, dia mendengar isak tangis dari dalam kamar mandi.


"Kya, apa kau di dalam ?"


Ceklek...


Pintu terbuka, tampak Kyara berdiri di ambang pintu dengan matanya yang terlihat merah.


"Bisakah kita pulang sekarang ?" pinta Kyara.


"Ada apa ?"


"Kepalaku sakit."


"Baiklah, kita istirahat di kamarku !"


Kyara memegang tangan Bagas seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku ingin pulang kang !"


Bagas menghela napasnya.


"Baiklah, ayo !"


Bagas membawa Kyara kembali ke taman. Dengan alasan istrinya sakit, Bagas kemudian berpamitan kepada kakak dan kakak iparnya.


"Tunggu sebentar, Kya !"


Kak Indah masuk ke kamarnya, tak lama kemudian dia kembali dengan tangan yang menenteng paper bag berwarna coklat.


"Ini hadiah untukmu dari aku dan mas Gun !" ujar kak Indah seraya melirik nakal suaminya.


Gunawan hanya terkekeh kecil melihat tingkah istrinya. Meskipun terasa aneh, namun Kyara tetap menerima pemberian kakak iparnya.


"Terima kasih, kak !" ujarnya.


"Sama-sama, pulang dan istirahatlah !" ujar kak Indah


Bagas mengangguk, setelah berpamitan mereka pun pergi meninggalkan rumah kakaknya.


Di tengah jalan, Bagas menepikan mobilnya di bawah pohon yang rindang.


"Kenapa sayang ? Apa yang kau pikirkan ?" tanya Bagas.


"Tidak apa-apa ! Aku hanya merasa pusing saja !" ujar Kyara.


"Nona, kau bukan orang yang pandai berbohong, katakanlah !" ujar Bagas seraya menggenggam tangan Kyara.


"Apa kau menginginkan seorang anak ?"


Bagas terkejut mendengar pertanyaan Kyara. Dia kemudian menatap Kyara lembut.


"Setiap pasangan yang telah menikah pasti mendambakan keturunan, nona !"


Kyara menundukkan wajahnya.


"Maafkan aku !" ujarnya lirih.


Bagas meraih dagu istrinya.


"Jangan terlalu dipikirkan, nona ! Aku tidak akan pernah memaksamu ! Dengan atau tanpa anak, aku akan selalu di sisimu." ujar Bagas seraya mengecup lembut kening Kyara.


Tubuh Kyara semakin berguncang karena menangis, Bagas segera memeluknya.


"Tenanglah ! Kita lakukan semuanya perlahan. Lagipula untuk saat ini, kita sama-sama sibuk !"


"A...aku bu... bukan istri yang sempurna un..untukmu...hu...hu..., a..aku takut, kang...! Aku takut tidak bisa memberikanmu keturunan...! Maafkan aku, aku belum siap untuk menjadi istri seutuhnya...! A..aku masih me.. merasa jijik akan tubuhku...! Aku takut, kang ! Aku takut tidak bisa membahagiakanmu...hiks... hiks...!"


Kyara semakin terisak di dada suaminya. Bagas pun mendekapnya erat.


"Ssstt....! Jangan pernah berpikir seperti itu, kau sempurna untukku ! Kau istri yang sempurna ! Dan kau akan selalu sempurna di mataku ! Jika memang kau belum siap, jangan terlalu memaksakan diri ! Aku mencintai semua kelebihan dan kekuranganmu ! Jangan terlalu bebani dirimu oleh masa lalu ! Lihat aku !" ujar Bagas seraya melonggarkan pelukannya.


Kyara menatap mata suaminya yang penuh cinta.

__ADS_1


"Aku adalah masa depanmu, sejak kita menikah dan selamanya, aku tetap akan menjadi masa depanmu ! Berjalanlah bersamaku Kya, jangan pernah melihat lagi ke belakang ! Cukup pegang erat tanganku untuk menyambut masa depan kita !"


Kyara mengangguk.


"Berjanjilah kau tidak akan pernah mengungkit masa lalumu lagi !"


Kembali Kyara mengangguk.


Bagas tersenyum, dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Kyara.


"Aku mencintaimu, istriku !" ujar Bagas,


Bibirnya mulai menyentuh pelan bibir Kyara. Tampak Kyara memejamkan matanya. Bagas tahu itu adalah tanda jika Kyara tidak akan menolak perbuatannya. Bagas pun mulai mengulum lembut bibir istrinya. Mengecap manisnya bibir mungil berwarna cherry itu.


Puas saling melepaskan cintanya melalui ciuman, Bagas menyentuh kening Kyara dengan keningnya. Dia menatap lekat mata Kyara yang sudah sembab karena tangisan.


"I love you my beloved wife...!" bisik lirih Bagas.


Blush....


Wajah Kyara bersemu merah mendengar kembali kata-kata cinta yang terucap dari mulut suaminya.


***


Di kota B.


"Ayolah kakak ! Sudah sebulan kakak hanya menghabiskan waktu dengan berbaring tak berguna ! Apa kau tahu ! Kak Kyara memang benar, kau memang seorang pengecut !"


"Dokter lihatlah, jarinya bergerak lagi begitu mendengar nama kak Kyara !" ujar Bima.


"Bicara lagi, katakan lagi tentang dirinya, mungkin dengan mendengar namanya, akan memancing emosinya untuk kembali ke alam sadarnya !" perintah dokter.


Ya ! Saat itu Bima sedang bertugas untuk menjaga kakaknya. Tanpa sengaja dia menyebutkan nama Kyara, karena dia sedang teringat pada Kyara dan memandangi foto Kyara di ponselnya. Setelah mendengar nama Kyara, terlihat jika jari kelingking Ajay mulai bergerak. Bima pun segera memanggil dokter yang menangani Ajay. Akhirnya mereka melakukan terapi masa lalunya untuk memancing kesadaran Ajay.


"Kau hanya selalu pasrah menerima nasibmu ! Sedikit pun kau tidak pernah berjuang untuk sesuatu yang hal yang berharga ! Karena itulah kau selalu kehilangan segalanya ! Kau tahu kakak ? Apa kau tahu seberapa dalam aku membencimu ! Aku sangat membencimu, gara-gara kelemahanmu aku kehilangan kakak iparku, satu-satunya kakak iparku, kak Kyara.


Tiit...tiit...tiit ..


Tiba layar monitor berbunyi. Tampak Ajay mulai membuka matanya. Dokter segera memeriksa kondisi Ajay. Sedangkan Bima berlari keluar untuk segera menghubungi kedua orang tuanya.


Setengah jam kemudian, kedua orang tua Ajay tiba di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan kakakmu, Bim ?" tanya nyonya Diana.


"Alhamdulillah, kak Ajay sudah sadar. Sekarang dokter sedang memeriksanya, mih !"


Tiba-tiba...


"Tidak...! Anda bohong ! Anda pasti bohong ! Ini tidak mungkin ! Ini tidak boleh terjadi !"


Bersambung....


Nanti lanjut ya gaiss...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2