
Assalamualaikum readers....
Masih semangat di pagi ini yaaa...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Waktu terus berlalu. Siang berganti malam, begitupun sebaliknya. Dua minggu sudah Kyara berada di kampung halamannya. Namun selama dua minggu ini, Kyara masih tak mau keluar rumah. Kerjaannya hanya mengurung diri di kamarnya. Kyara hanya akan keluar untuk pergi ke kamar mandi, atau menyiapkan makanan untuk kedua orang tuanya. Setelah pekerjaan rumahnya selesai, dia pun kembali ke kamarnya.
Bu Ratna merasa sangat sedih melihat perubahan Kyara. Namun beliau enggan bertanya, karena takut menyinggung perasaan anak semata wayangnya. Sedangkan pak Ahmad, sikapnya masih tetap sama. Diam, tanpa mau peduli akan perubahan yang terjadi pada diri Kyara. Meskipun hati kecilnya sangat merindukan keceriaan anaknya, namun rasa sakit di hatinya menutupi semua keinginan untuk memeluk Kyara. Setidaknya, untuk saat ini.
***
Di kota B
Bagas dan Wawan masih terus bolak-balik ke pasar TM untuk mencari informasi tentang keberadaan Kyara. Entah berapa ratus orang yang mereka tanya, namun jawabannya masih tetap sama. Tak ada satupun yang pernah melihat Kyara. Hingga pada akhirnya, Bagas mulai menyerah dan memasrahkan segala urusannya sesuai takdir Illahi.
"Maafkan aku Ar, aku tidak bisa menjaga amanat mu...!" Hanya kalimat itu yang selalu Bagas gumamkan saat dia teringat akan Aaron, sahabatnya.
***
"Pak, kemarin saya melihat Aneng di depan rumah. Apa memang Aneng sudah pulang ?" tanya Jaka, salah satu teman sopir pak Ahmad.
Jaka adalah seorang pemuda yatim. Terlahir dari keluarga yang serba kekurangan tak menjadikan dia patah semangat untuk bertahan hidup. Ditinggalkan ayah sejak umur 10 tahun, membuat Jaka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Hal inilah yang membuat pak Ahmad terkesan akan sosok Jaka.
"Iya nak Jaka. Dua minggu yang lalu, Aneng kembali." jawab pak Ahmad.
"Alhamdulillah. Syukurlah pak, saya ikut senang mendengarnya. Apa Aneng sedang cuti kerja, pak ?" tanya Jaka.
Pak Ahmad menarik napasnya, "Sepertinya, Aneng benar-benar pulang nak. Dia bilang sama ibunya, dia tidak akan kembali ke kota lagi." jawab pak Ahmad.
"Oh, begitu ya pak." ujar Jaka. Ada sedikit senyum terukir di sudut bibirnya.
"Sudah sore nak Jaka, bapak pulang dulu ya ?" pamit pak Ahmad. "Kalau nak Jaka ada waktu malam ini, mainlah ke rumah !" ujar pak Ahmad.
"Benarkah ? Bapak izinkan saya ke rumah ?" tanya Jaka, merasa senang.
Pak Ahmad tersenyum, "Bapak tahu, nak Jaka menyukai Aneng. Berusahalah ! Semoga kalian berjodoh." ujar pak Ahmad.
"Terima kasih pak. Sudah mengizinkan saya untuk mendekati Aneng." ucap Jaka.
Pak Ahmad tersenyum, kemudian melajukan angkotnya untuk pulang.
***
Di rumah Kyara.
"Neng...! Aneng..., ibu pulang nak !" ujar bu Ratna.
Kyara keluar dari kamarnya untuk menyambut ibunya yang baru pulang kerja.
"Ini ! Tolong bawa ke dapur, nak ! Alhamdulillah..., majikan ibu tadi panen sayuran, dan beliau membagikannya dengan para pekerja." ujar bu Ratna seraya memberikan plastik hitam yang berisi berbagai jenis sayuran.
"Ibu, Aneng kan sudah bilang, ibu jangan bekerja lagi. Pakai saja uang Aneng untuk mencukupi kebutuhan kita !" ucap Kyara yang merasa tak tega melihat ibunya bekerja.
"Teu sawios atuh neng...! Malahan panangan ibu sok cararangkeul mun teu gawe !" ( Tidak apa-apa neng...! Malahan tangan ibu suka pegal kalau tidak bekerja ! ) ujar bu Ratna.
"Ah ibu mah, aya-aya wae..." ( Ah ibu mah, ada-ada aja ) ujar Kyara, tersenyum.
"Ayo, masuk ! Ibu mau bersih-bersih dulu, setelah itu kita masak buat ayah kamu." ajak bu Ratna.
__ADS_1
"Ibu istirahat saja, biar Aneng yang masak." kata Kyara.
Bu Ratna tersenyum, kemudian membelai rambut Kyara, "Baiklah..."
Bu Ratna masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara itu, Kyara pergi ke dapur untuk memasak.
Pukul 5 sore, pak Ahmad tiba di rumahnya. Beliau langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, beliau duduk bersantai di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi buatan istrinya.
Bu Ratna menghampiri suaminya dengan sepiring pisang goreng di tangannya. "Pisang gorengnya, pak !" tawar bu Ratna kepada suaminya.
Pak Ahmad tersenyum, kemudian mencomot pisang goreng yang ada di piring, "Terima kasih, bu." ujarnya.
"Sama-sama, pak." jawab bu Ratna.
"Bu, apa ibu masih ingat dengan nak Jaka ?" tanya pak Ahmad.
"Nak Jaka putranya bu Ratmi, pak ?" bu Ratna malah balik bertanya.
"Iya." jawab pak Ahmad.
"Ibu ingat. Memangnya ada apa dengan nak Jaka ?" tanya bu Ratna.
"Sepertinya dia menyukai Aneng, bu. Bapak berencana untuk mendekatkan mereka." jawab pak Ahmad.
"Maksud bapak, bapak ingin menjodohkan mereka ?" tanya bu Ratna.
"Apa salahnya bu ! Nak Jaka anak yang baik." jawab pak Ahmad.
"Tidak ada yang salah. Tapi kita juga harus tanya perasaan Aneng, pak. Apa Aneng juga menyukai nak Jaka ?"
"Bapak tahu, tapi seperti pepatah bilang, cinta tumbuh dalam kebersamaan. Bukankah ibu juga dulu begitu, tapi lama-lama, karena sering bersama, eh.. jadi juga tuh si Aneng..." gurau pak Ahmad.
"He...he...he..., tak apa bu, biar tambah mesra." ujar pak Ahmad menggoda istrinya.
"Huh, dasar...! Aki-aki...! Sudah, ibu mau ke dalam dulu, mau menyiapkan makanan buat makan malam nanti !"
Pak Ahmad tersenyum menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. "Siapkan yang banyak ya, bu..! Nanti malam, nak Jaka main kemari !" teriak pak Ahmad.
"Ya..."
***
Pukul 07.00 malam, seperti yang sudah dijanjikannya kepada pak Ahmad, Jaka pun pergi ke rumah pak Ahmad untuk menemui Kyara.
Tok...tok... tok...
"Assalamualaikum...!" sapa Jaka.
"Waalaikumsalam.." bu Ratna membuka pintu, "Eh nak Jaka. Mari masuk !"
"Terima kasih bu." jawab Jaka.
"Silakan duduk ! Sebentar, ibu panggil bapak dulu." ujar bu Ratna.
"Iya, terima kasih bu." Jaka pun duduk di kursi tamu.
Tak lama kemudian, pak Ahmad datang.
"Apa kabar nak Jaka ?" tanya pak Ahmad berbasa-basi, padahal baru tadi sore dia bertemu Jaka.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik pak." jawab Jaka sambil celingukan, seperti ada yang dicari.
"Nak Jaka cari Aneng ?" tanya pak Ahmad yang sudah sangat paham apa maksud Jaka bertamu.
"Eh...anu... nggak... saya..." Jaka gelagapan.
"Bu...! Ambu...! Suruh Aneng bawain minum buat tamu bapak !" perintah pak Ahmad.
Kyara yang mendengar namanya disebut, segera keluar kamar. "Ada apa, bu ?" tanya Kyara begitu melihat ibunya yang sedang sibuk menata meja.
"Ayahmu mengundang nak Jaka untuk makan malam. Tolong buatkan teh manis untuk nak Jaka !" perintah bu Ratna.
"Jaka ? Jaka siapa bu ?" tanya Kyara mengernyitkan dahinya.
"Ish, kamu lupa ya ? Itu, teman kecil kamu..." jawab bu Ratna. "Makanya, biar nggak penasaran, sok antar minuman sama cemilannya ke depan !" perintah bu Ratna.
Kyara menurut, dia kemudian pergi ke ruang tamu untuk menyuguhkan minuman dan cemilan.
Tiba di ruang tamu, wajah ayahnya terlihat begitu lembut dan menyejukkan hati. "Ah, Aneng...sini nak !"
Kyara mengangguk. Setelah meletakkan makanannya di atas meja, dia pun duduk di samping pak Ahmad.
"Masih ingat dengan nak Jaka ? Teman kamu waktu kecil." ujar pak Ahmad.
Kyara memberanikan diri menatap pria yang ada di hadapannya. Seorang pria tampan berkulit sawo matang, tampak sedang tersenyum kepadanya.
"Apa kabar, neng ?" tanyanya.
"Baik." jawab Kyara, sambil mengernyitkan dahinya. Mencoba berpikir keras untuk mengingat laki-laki itu.
Rupanya Jaka paham arti kerutan di wajah Kyara.
"Kang Jaka, Aneng hoyong balon nu aya di warung mak Ijah !" ( Kak Jaka, Aneng mau balon yang ada di warung mak Ijah ! )
"Kang Jaka, candak langlayangan itu !" ( Kak Jaka, ambil layangan itu ! )
"Kang Jaka, akod !" ( Kak Jaka, gendong ! )
"Ah..., muhun..., **** ayeuna mah. Kang Jaka putrana bu Ratmi, kan ?" ( Ah..., iya..., sekarang sudah ingat. Kak Jaka anaknya bu Ratmi, kan ? )
"Tepat !" Jaka mengangguk. "Kyara makin besar makin cantik, ya !" puji Jaka.
Kyara tersipu malu mendengar ucapan Jaka yang terang-terangan memujinya di hadapan ayahnya.
"Ehm...ehm..., sepertinya ibu memanggil ayah. Ya sudah, kalian ngobrol saja dulu ! Ayah mau ke belakang.
Pak Ahmad meninggalkan Jaka dan Kyara di ruang tamu. Berharap dengan cara ini, hubungan mereka bisa lebih dekat.
Setelah cukup lama ngobrol, tiba-tiba bu Ratna memanggil Jaka dan Kyara untuk makan malam. Suasana makan malam yang terasa hangat, karena kedua orang tua itu bisa menyaksikan kembali senyum dan tawa di wajah putrinya.
Ya ! Pertemuan Kyara dengan teman masa kecilnya, membuat dia sedikit lupa akan kejadian pahit dalam hidupnya.
Bersambung...
Jangan lupa boomlike nya yaaa...
Semoga masih suka ceritanya...
πππ
__ADS_1