
Ajay diam tak bergeming mendengar perkataan Bagas. Sedangkan Kyara, dia benar-benar terkejut, ternyata Bagas memang telah mengetahui semuanya.
"Shitt...!" umpat Ajay seraya berlalu dari hadapan mereka.
"Kau tidak apa-apa...?" tanya Bagas.
Kyara menggelengkan kepalanya.
Bagas membuka bajunya, kemudian memberikannya kepada Kyara untuk menutupi bagian tubuh Kyara yang terlihat.
"Maaf..., agak sedikit basah." ujar Bagas.
"Ti... tidak apa-apa...! Te.. terima kasih..!" jawab Kyara, menerima pakaian tersebut kemudian memakainya.
"Ayo...! Aku antar kamu pulang...!" tawar Bagas.
Kyara menggelengkan kepalanya, "Aku... aku tidak mau pulang ke rumah om Ali. Aku tidak mau orang rumah melihatku dalam keadaan begini." ujar Kyara.
"Baiklah...! Kita ke rumahku saja..! Di sana aman, kau bisa tenangkan dirimu di sana..! Ayo..!" ajak Bagas meraih tangan Kyara dan memapahnya menuju rumahnya.
Tiba di rumah, Bagas membawa Kyara ke sebuah kamar.
"Ini kamar kakakku. Kamu istirahatlah di sini ! Di lemari ada pakaian kakakku, kamu bisa menggunakannya untuk mengganti bajumu yang basah. Kamar mandinya ada di belakang lemari itu." tunjuk Bagas.
Kyara mengangguk.
"Baiklah...! Aku keluar dulu..!" pamit Bagas.
Dia kemudian pergi ke dapur untuk membuat segelas teh lavender yang bisa menenangkan pikiran Kyara. Bagas yakin jika saat ini pikiran Kyara tidak sedang baik-baik saja. Karena itu dia berinisiatif untuk memberinya teh lavender. Orang jaman dulu bilang, segelas teh lavender bisa menenangkan jiwa yang sedang kalut.
Sementara di kamar, Kyara membuka lemari pakaian. Dia mengambil pakaian yang dianggapnya pantas untuk dikenakannya.
Dia kemudian pergi ke kamar mandi. Kyara tertegun menghadap bayangannya di depan cermin. terdapat warna kemerahan di seputar dada Kyara yang sempat dijelajahi oleh tangan Bagas. Kyara semakin benci melihat tubuhnya.
"Aarrgghh....!!!
Dia berteriak keras.
"Dasar bodoh....! Aku benar-benar bodoh...! Aku benci tubuhku...! Aku benci..!" teriaknya.
Dia membuka kran shower dan berdiri di bawahnya. Berharap kucuran air bisa sedikit membantu membersihkan kekotorannya.
Cukup lama Kyara mengurung diri di kamar mandi. Hingga akhirnya terdengar ketukan di pintu kamar mandi.
"Nona...! Apa kau baik-baik saja..!" teriak Bagas dari luar.
"I... iya kak...!" jawab Kyara
"Baguslah...! Kalau begitu, cepatlah keluar..! Jangan sampai kau pingsan di kamar mandi, karena aku sudah tak punya tenaga untuk menggendongmu..!" ujar Bagas.
Hening....
Tok...tok...tok...
"Nona, apa kau mendengarku...!" teriak Bagas.
Ceklek...
Kyara membuka pintu. Dia berdiri di hadapan Bagas mengenakan long dress berwarna saleem milik kakaknya Bagas. Rambut basahnya masih terurai hingga tetesan air dari rambutnya jatuh menyusuri kulit pipinya yang merona.
__ADS_1
Bibir mungilnya yang tipis, tampak kebiruan, menggigil karena terlalu lama berada di kamar mandi.
Sejenak Bagas terpana melihat kecantikan alami yang terpancar dari wajah Kyara. Benar-benar kecantikan yang sempurna...! Subhanallah...! Sungguh indah mahakaryaMu....Tuhan...! gumam Bagas dalam hati.
Tiba-tiba gemeletuk gigi Kyara menyadarkan Bagas dari keterpanaannya. Dia segera mengambil teh lavender yang tadi disimpannya di atas nakas.
"Minumlah...! Ini sangat bagus untuk menghangatkan tubuhmu...!" ujar Bagas.
Kyara pun menerimanya, kemudian mereguk teh itu. Kyara mengernyitkan dahinya membaui aroma yang berbeda dari teh yang biasanya.
Bagas tersenyum, "Habiskan...! Jangan khawatir, aku tidak sedang meracunimu...!" ujarnya seenaknya.
***
Sementara itu di rumah baru. Ajay tampak berjalan mondar-mandir karena keterkejutannya.
Bagaimana Bagas bisa tahu apa yang telah aku lakukan..? Apa mungkin Kya yang telah memberitahu semuanya..? Tidak...! Tidak mungkin...! Kya bukan orang seperti itu...! Tapi bagaimana bisa dia mengetahui apa yang telah aku perbuat pada Kyara...! Jika itu benar, berarti saat itu dia mengalami keguguran...! Shitt...!! Sekarang apa yang harus aku lakukan...? Jika dia keguguran, aku tidak harus menikahinya, tapi sekarang aku sudah terjebak oleh kesepakatanku dengan eyang. Aarrgghh... pusing...!!
Ajay menjambak rambutnya sendiri. Pikirannya benar-benar kacau. Terlebih lagi saat dia tadi melihat Bagas memapah Kyara. Entah kenapa hatinya seperti terbakar api yang sangat panas.
Ya..! Dia memang sudah tidak mencintai gadis itu. Tapi dia juga tidak bisa menerima lelaki lain menyentuh gadis yang pernah menjadi miliknya.
Brakk...!!
Ajay membuka pintu. Dia segera pergi ke rumahnya untuk mengambil motornya. Setelah itu dia melajukan motornya dengan kencang.
Tanpa arah dan tujuan, Ajay terus mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Seorang gadis menyeberang dengan tiba-tiba. Ajay segera membanting setang motornya ke arah kiri untuk menghindar agar motornya tidak menabrak gadis itu. Naasnya, motor yang telah kehilangan kendali itu pun menabrak pembatas jalan.
Gadis itu menghampiri Ajay yang telah terkapar di tepi jalan.
"Ya Tuhan..., darah...!" gumam gadis itu yang melihat darah merembes dari arah kepala belakang Ajay.
Gadis itu membuka helm Ajay. "Tuan...! Kau tidak apa-apa ?" tanyanya cemas.
Sedetik kemudian. Ajay pun sudah tidak mampu mengingat apa-apa lagi.
"Ya Tuhan...! Dia pingsan...! Bagaimana ini...?" gumam gadis itu. "Tolong....! Tolong...!" teriaknya.
"Cecilia...! Kenapa...!" ujar seorang ibu paruh baya, bertanya pada gadis itu.
Ya ! Gadis itu adalah Cecilia. Saat itu dia sedang menghindari kejaran bodyguard papanya, karenanya dia menyeberang jalan tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
"Mungkin karena menghindariku, dia... dia terjatuh, bu..!" jawab Cecilia.
"Ya sudah..! Kamu tunggu dulu di sini..! Ibu akan cari bantuan untuk membawa dia ke rumah sakit !"
Tak lama kemudian, ibu tadi yang merupakan tetangga apartemennya Cecilia, tiba dengan menggunakan taksi.
Mereka pun segera membawa Ajay ke rumah sakit terdekat.
Tiba di rumah sakit. Ajay segera dimasukkan ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan. Cecilia dan tetangganya tadi, menunggu di luar dengan perasaan cemas.
Tiga puluh menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Ba... bagaimana keadaannya, dok...?" tanya Cecilia.
"Alhamdulillah, lukanya tidak ada yang serius. Hanya saja kami harus memberikan sedikit jahitan di ujung pelipisnya saja, karena agak sedikit robek." jawab sang dokter.
"Apa dia sudah sadar...?" tanya Cecilia lagi.
__ADS_1
"Untuk sementara dia masih di bawah pengaruh obat bius. Mungkin setengah jam lagi, dia akan segera sadar. Baiklah..! Saya permisi dulu..!" pamit sang dokter.
"Terima kasih, dok...!" ucap Cecilia.
"Sama-sama.."
"Nak Cecil, ibu pulang dulu ya..! Nak Cecil tidak apa-apa kan, kalau ibu tinggal sendirian..?"
"Iya, tidak apa-apa, bu. Terima kasih atas bantuannya..!"
"Sama-sama, mari nak..! Assalamualaikum..!"
"Waalaikumsalam...!"
"Permisi bu..! Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, mari ikut saya....!" ujar salah seorang perawat menghampiri Cecilia.
"Baiklah, sus...!" jawab Cecilia.
Dia pun mengikuti para perawat yang tengah memindahkan Ajay ke ruang perawatan. Dua puluh menit kemudian, Ajay mulai sadar. Dia menatap langit-langit kamar.
"Di mana aku..?" gumamnya.
Cecilia menghampiri Ajay. "Syukurlah, tuan sudah sadar..!" ucapnya.
Kyara....? Bukan...! Dia bukan Kyara...! Siapa gadis ini ? Sepintas, wajahnya memang mirip Kyara, tapi rambutnya... rambut dan bibirnya beda...! gumam Ajay dalam hati.
"Si.. siapa kamu...?" tanya Ajay. "Ish...,!" dia memegang pelipisnya yang mulai terasa nyeri.
"Tenanglah, tuan..! Jangan banyak bergerak dulu..! Luka tuan baru saja dijahit, jika tuan banyak bergerak, nanti jahitannya bisa kembali terbuka !" jawab Cecilia.
Gadis ini perhatian, seperti Kyara..., batin Ajay. "Siapa kamu ?" Ajay kembali bertanya.
"Oh iya, perkenalkan...! Namaku Cecilia, tuan..! Tuan..?" ujar Cecilia mengulurkan tangannya.
"Namaku Ajay..!" jawab Ajay.
"Apa tuan tahu..?" tanya Cecilia.
"Tahu apa..?" Ajay balik bertanya.
"Mungkin kita jodoh...!" jawab Cecilia tanpa canggung.
Ajay mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti arah pembicaraan gadis itu.
"Orang bilang, ikatan jodoh terjadi akibat pertemuan tak terduga. Ya.., mungkin saja pertemuan ini awal dari ikatan jodoh di antara kita...!" ucap Cecilia.
Ajay hanya melongo mendengar perkataan Cecilia. Tiba-tiba,....
"Ha...ha...ha...! Lihatlah wajahmu, tuan...! Lucu sekali...!" Cecilia tertawa melihat raut wajah Ajay yang tampak seperti orang bodoh mendengar gurauannya.
"Tenang saja, tuan.. ! Aku hanya bercanda..! Apa kau pikir aku akan percaya pada mitos seperti itu...! Aah.. .itu hanya tahayul saja....! He..he..!" ujar Cecilia sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ha..ha..., kau benar...! Itu hanyalah mitos..!" jawab Ajay ikut tertawa kecil.
Cecilia menatap tajam ke arah Ajay. Aku tidak peduli tuan, mitos ataupun bukan, tapi akan aku pastikan jika kamu akan menjadi jodohku...! batin Cecilia sambil tersenyum.
Bersambung...
Semoga masih suka ceritanya...
__ADS_1
Dimohon like, vote n komen seikhlasnya...
🙏🙏🙏