Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kabar Buruk


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Suka dan duka datang silih berganti. Kisah cinta yang terlalu rumit untuk dijalani. Gadis yang selama ini mengiringi setiap lamunannya, kini telah ada di depan matanya. Namun entah kenapa, terlalu sulit bagi Bagas untuk menjangkau gadis itu.


Dia telah berubah. Sangat berubah. Bahkan terkadang Bagas seperti tidak pernah mengenal Kyara. Entah kemana hilangnya Kyara yang dulu penuh kelembutan, meskipun derita selalu menderanya.


Derita...! Ya ! Mungkin ini karena derita. Perubahan yang terjadi pada dirinya, akibat dari derita yang selalu datang menghampirinya. Ketika mengingat hal itu, Bagas pun bisa memakluminya jika Kyara sampai berubah.


6 purnama telah berlalu. Namun perjuangan Bagas untuk meraih hati Kyara, belum juga menampakkan hasil. Bahkan semakin hari Kyara semakin menjauh. Setiap kali Bagas mengantar atau menjemput Arumi, Kyara tidak pernah muncul di hadapannya.


Setiap usaha untuk menemuinya selalu saja mengalami kegagalan. Apa mungkin Kyara memang sibuk, atau hanya sekedar menghindari aku ? Begitu yang selalu Bagas pikirkan jika dia tidak sempat bertemu Kyara di sekolahnya Arumi.


Siang ini, sepulang bertemu klien di perusahaan M, Bagas singgah di sekolahnya Arumi. Kebetulan, alamat perusahaan itu masih satu arah dengan sekolahnya Arumi. Dan kebetulan juga jika sekarang adalah jamnya semua siswa untuk beristirahat.


Bagas tiba bertepatan dengan bel istirahat kedua berbunyi.


"Hai, baby Arum !" teriak kecil Bagas saat melihat Arumi menghambur keluar kelas bersama teman-temannya yang lain.


"Uncle.. !" teriak Arumi seraya berlari kecil ke arah Bagas.


Perlahan namun pasti Arumi telah kembali menjadi anak gadis yang ceria. Usaha Bagas untuk memberikan pengertian kepada Arumi tentang perubahan kasih sayang yang dirasakan Arumi, alhamdulilah membuahkan hasil. Kini Arumi telah sangat mengerti kenapa ibunya begitu menjaga adiknya sedemikan rupa. Nata, bocah kecil yang kini berusia 1,5 tahun ternyata mengalami gagal jantung sedari lahir. Hal itu yang membuat umi dan abinya Arum memberikan perhatian ekstra untuk adiknya. Kini Arumi tidak cemburu lagi terhadap adiknya, dia justru semakin menyayangi Nata, dan selalu berdo'a untuk kesembuhan Nata.


"Ada apa uncle kemari ?" tanya Arumi.


"Kebetulan uncle baru selesai meeting di kantor temennya uncle. Karena kantornya dekat sama sekolahan baby Arum, akhirnya uncle mampir. Mau ngajakin baby Arum makan siang, nih !" jawab Bagas sambil menunjukkan plastik yang dibawanya.


Arumi meraih plastik itu, kemudian membukanya.


"Waahh..., dimsum ayam...!! Yeeayyy..., Arum suka...!" teriak Arumi saat melihat makanan kesukaannya.


Bagas tersenyum senang saat melihat kegembiraan terpancar di wajah Arumi.


"Kita makan di taman belakang, yuk !" ajak Bagas.


Arumi mengangguk. Mereka pun berjalan beriringan menuju taman belakang. Tiba di taman belakang, seperti biasa, mereka duduk di bangku sudut taman.


Saat mereka sedang asyik makan. Tiba-tiba mereka melihat murid-murid dari kelas Kyara keluar berhamburan sambil menggendong tas nya.


"Eh, kenapa kelasnya ibu syantik sudah pulang ? Apa mungkin ada rapat ?" tanya Arumi pada Bagas.


Bagas menggedikkan bahunya.


"Kenapa tanya uncle ? Yang sekolah kan kamu ?" jawab Bagas.

__ADS_1


"Eh iya-ya..." hehehe..."


Bagas dan Arumi pun tergelak, mentertawakan kebodohan mereka sendiri.


Setelah semua anak pulang. Kyara segera bergegas keluar sambil membawa tas nya.


"Uncle, kenapa ibu syantik terlihat terburu-buru begitu ?" tanya Arumi sambil menyenggol lengan Bagas.


Bagas yang matanya fokus ke arah makanan, langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Arumi. Memang benar, tampak Kyara keluar dari kelasnya dengan tergesa-gesa. Dia pun menentang tasnya.


Apa mungkin kelasnya telah selesai ? Tapi, bukannya pulang sekolah itu jam 15. 30. Kenapa juga Kyara terlihat terburu-buru melangkah seperti itu. Tunggu...! Kenapa wajahnya terlihat panik..., batin Bagas sambil terus memperhatikan langkah Kyara.


Kyara berhenti di ruang kantor kepala sekolahnya. Setelah mengetuk pintu, Kyara pun masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Bagas semakin dibuat penasaran dengan tingkah kyara.


"Baby Arum tunggu sebentar ya, uncle lihat bu syantik dulu !"


Arumi mengangguk.


Bagas segera menyusul Kyara ke ruang kepala sekolah. Namun di saat dia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba ruangan itu terbuka. Kyara keluar dari ruangan itu dengan mata yang terlihat sembab. Bagas semakin penasaran dibuatnya.


Kyara melangkahkan kakinya menuju gerbang utama. Dia mengeluarkan ponselnya. Dengan tangan gemetar dia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Deraian air mata terus mengalir di pipinya.


Dengan perasaan cemas Bagas berlari mengikutinya.


Namun, jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Kyara masih terus berjalan, tidak ! Kali ini dia mulai berlari kecil sambil memeluk buku besar di dadanya.


Bagas masih tidak menyerah. Dia pun ikut berlari untuk mengimbangi langkah Kyara.


Tiba di tepi jalan, Kyara kembali mengeluarkan ponselnya, sambil sesekali melirik ke kiri dan ke kanan jalan raya.


"Ada apa nona ?"


Kyara masih tidak menjawabnya. Hanya air mata yang terus membanjiri wajahnya. Kyara hendak melangkahkan kakinya menuju halte bus. Namun karena merasa gemas, akhirnya Bagas menarik tangan Kyara hingga Kyara berbalik menghadapnya.


"CUKUP NONA ! JANGAN UJI KESABARANKU ! KATAKAN, ADA APA !"


Kyara menatap Bagas. Pandangannya mulai buram karena terhalang air mata.


"Ibuku masuk rumah sakit ! Kau puas !" jawab Kyara sambil berusaha membalikkan badannya.


Usaha Kyara terlihat sia-sia. Bagas masih mencekal lengannya. Tanpa basa-basi, dia menarik tangan Kyara dan menyeretnya menuju tempat parkir.

__ADS_1


"Aww..., lepaskan ! Kau menyakiti tanganku !" teriak Kyara sambil berjalan terseok-seok mengikuti langkah Bagas yang lebar.


Bagas menghempaskan Kyara begitu dia tiba di depan mobilnya. Dia menekan tombol, pintu mobil terangkat ke atas.


"MASUK !" ujarnya penuh penekanan.


Kyara menatap Bagas sejenak. Dia enggan untuk memasuki mobil Bagas, karena itu dia masih tetap berdiri di hadapan Bagas.


"Kau tahu jika aku tidak akan memberi perintah untuk yang kedua kalinya, nona ! Apa kau lupa ?" tanya Bagas masih dengan nada dingin.


Sejenak Kyara merasa ketakutan mendapati tatapan mata Bagas yang tajam. Ya ! Tatapan mata yang sama seperti saat pertama kali dia menemukan Kyara dulu setelah menghilang dari rumah sakit.


Kyara akhirnya masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Bagas yang juga memasuki mobilnya. Bagas segera duduk di belakang kemudi, dia kemudian menekan tombol hingga pintu mobil tertutup. Sejurus kemudian Bagas melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir. Tiba di jalan raya, Bagas menambah kecepatan mobilnya hingga mobil itu melesat membelah jalanan ibukota.


Dalam perjalanan, Bagas menekan tombol yang berada di depan kemudi. Sepertinya itu alat untuk menghubungi seseorang, mungkin ibarat ponsel. Namun Kyara terlihat enggan memperhatikannya. Dia tetap fokus menatap ke depan.


"Assalamualaikum Fazar ! Nanti tolong jemput Arumi di sekolah !"


Sekali lagi, Bagas terlihat mengotak-atik alat itu. Kali ini terlihat nama Doni di layar mini itu.


"Assalamualaikum ! Doni, tolong kau urus dulu perusahaan ! Undur semua jadwal meeting ku untuk esok hari !"


….........


"Aku tidak tahu, aku tidak bisa memastikan. Nanti aku hubungi lagi !


...........


"Oke, Don ! Thanks !"


Setelah itu, Bagas pun mulai fokus menyetir. Kabar buruk tentang ibu Kyara yang masuk rumah sakit membuat perasaan Bagas semakin kacau. Terlebih saat dia menengok ke sampingnya, terlihat tubuh Kyara mulai berguncang.


Bagas menyentuh tangan Kyara. Dia menggenggam nya, mencoba memberikan kekuatan.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja !" ujar Bagas.


Kyara menoleh ke arah Bagas. Tanpa sadar dia pun mulai meremas tangan Bagas. Jari jemari mereka bersatu, perasaan hangat kembali menjalar di hati Bagas.


Bersambung...


Lanjut nanti malam yaaa...

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya...🙏🙏


__ADS_2