Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pagi yang heboh


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam. Namun Ajay masih belum menunjukkan perkembangan apa pun.


Bantuan peralatan medis masih terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Kedua orang tuanya sudah sangat pasrah ketika dokter menyatakan kemungkinan yang sedang terjadi sekarang. Ya ! Sepertinya Ajay mengalami koma pasca operasi yang dilakukannya.


Nyonya Diana terus menangis meratapi nasib anaknya. Dia benar-benar tidak percaya dengan tragedi yang menimpa putra sulungnya.


"Ajay, sayang...! Sadarlah nak...! Jangan pernah tinggalin mamih...!" ujar nyonya Diana lirih.


Bima mendekati nyonya Diana. Dia kemudian memeluknya.


"Sabarlah mih ! Kita bantu do'a yuk ! Supaya kak Ajay cepat sadar." ujarnya.


Nyonya Diana menatap putra bungsunya, sejurus kemudian dia pun mengangguk.


Bangun kak....! Gue emang benci sifat lo yang egois dan sudah menyakiti wanita lembut seperti kak Kya. Tapi ngeliat kondisi lo sekarang, gue bener-bener sedih, kak ! Ayo, bangunlah ! Berjuanglah ! gumam Bima dalam hati.


***


Malam semakin larut, Kyara sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Kata-kata Bagas masih terus terngiang di telinganya.


Ish...., kenapa kak Bagas keras kepala sekali ? Kenapa dia harus menghabiskan waktunya hanya untuk pernikahan terpaksa ini. Aaahhh...., ibu...! Kenapa harus menempatkan Aneng pada situasi seperti ini...? batin Kyara.


Kyara memiringkan tubuhnya ke arah Bagas. Pemandangan di bawahnya benar-benar meneduhkan. Bagas telah terlelap dalam buaian mimpi. Tidurnya terlihat sangat damai, seperti seorang anak kecil yang tak pernah memiliki masalah. Sekilas, senyum tipis tersungging di bibirnya Kyara.


Pandangan Kyara tak pernah beralih dari wajah suaminya. Hingga akhirnya, rasa kantuk mulai menyerangnya. Kyara pun terlelap dengan posisi masih memiringkan badannya ke arah Bagas.


Waktu terus berjalan. Semakin malam, cuaca semakin terasa dingin. Bagas berguling ke sana kemari untuk mencari posisi yang bisa membuatnya nyaman. Namun dinginnya malam semakin menusuk tulangnya.


Bagas terbangun karena rasa dingin yang terus mengusik tidurnya. Dia pun duduk dan menyandarkan punggungnya di tepi ranjang Kyara.


Ish..., benar-benar kota yang sangat aneh. Tadi selepas isya, perasaan cuacanya panas banget, kenapa sekarang terasa dingin bagaikan di kutub sih...!


Bagas mendengus kesal. Namun dia sendiri tidak tahu harus menyalahkan siapa untuk perubahan cuaca yang dirasakannya sekarang.


Bagas meraih ponselnya yang dia letakkan di atas bantalnya.


"Jam 2 dini hari...! Sebaiknya aku salat tahajud dulu deh !" gumam Bagas.


Bagas segera membuka pintu kamarnya. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu dia pun melaksanakan solat tahajud.


Selepas solat, Bagas melirik ke arah istrinya. Terlihat Kyara tidur nyaman sekali dalam balutan selimut tebal yang sudah bisa dipastikan akan memberikan kehangatan.

__ADS_1


Hmm...., curang sekali kamu nona ! Kamu membiarkan aku, suamimu yang tampan ini harus tidur kedinginan di atas lantai, sedangkan kamu ? Ah...., sepertinya nyaman sekali tidur di sana...! Apa aku ikut juga tidur di atas ranjang ya...? Tapi kalau dia marah, gimana ?


Bagas berjalan mondar-mandir untuk menimbang apa yang harus dilakukannya. Namun karena rasa dingin dan kantuk yang terus menerpanya, Bagas pun memutuskan untuk ikut tidur di atas ranjang bersama istrinya.


Dengan sangat hati-hati, Bagas menaiki ranjang itu. Dia menyelusup ke dalam selimut tebal yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh Kyara. Setelah berhasil masuk, perlahan Bagas mulai menarik pelan selimut itu, sehingga dia pun bisa merasakan kehangatan dalam balutan selimut yang sama.


Perlahan, Bagas mulai membenahi tidurnya. Dia memiringkan badannya ke arah Kyara. Seperti seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya, Bagas pun membelai lembut rambut Kyara.


Jari telunjuk Bagas mulai menyentuh pipi Kyara dan mengusap-usapnya dengan perlahan.


Lembut sekali kulitmu, nona....!


Kyara menggeliat merasakan sentuhan tangan dingin di pipinya. Namun rasa kantuknya membuat dia enggan untuk membuka matanya. Kyara hanya membalikkan tubuhnya membelakangi Bagas.


Posisi seperti itu malah menguntungkan bagi Bagas. Perlahan dia mulai menggeser tidurnya semakin mendekati Kyara. Dengan hati-hati dia melingkarkan tangannya di perut Kyara. Wajahnya mulai menyentuh rambut dan tengkuk Kyara. Semerbak wangi aroma rambut Kyara mulai menyeruak. Bagas semakin menenggelamkan wajahnya, hingga akhirnya dia pun mulai terlelap karena kehangatan yang diberikan selimut itu padanya.


"Ah ibu, Aneng kangen pelukan ibu. Rasanya nyaman sekali tidur dalam pelukan ibu...." gumam Kyara.


Kyara bermimpi bertemu ibunya. Di mimpi itu, dia sedang tertidur nyaman dalam pelukan ibunya. Dia mulai mengigau tentang mimpinya, kemudian membalikkan badannya. Kyara pun semakin menyusupkan wajahnya di dada bidang suaminya yang dianggap ibunya. Dia juga mulai melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


Akhirnya mereka pun tidur saling berpelukan. Hingga suara kokokkan ayam jantan membangunkan Kyara.


"Ish.., kenapa ayamnya berisik sekali ? Padahal aku masih ngantuk !" gumam Kyara.


Kyara terhenyak mendengar suara serak seorang pria tepat di telinganya. Secepat kilat dia membuka matanya.


Deg...deg...deg...


Jantung Kyara berdetak kencang saat dia menyadari posisi tidurnya yang terasa nyaman semalam.


"Jadi yang semalam memelukku, bukan ibu ?" gumam Kyara


"Ish nona, bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa memelukmu. Ayo tidur lagi, sepertinya tidurmu sangat nyaman jika kupeluk." ujar Bagas seraya kembali meraih pinggang istrinya.


"Aaaaahhhhhh......!" Kyara berteriak ketika kesadarannya sudah benar-benar kembali.


"Aaaaahhhhhh....!" Bagas pun ikut berteriak saat mendengar teriakkan Kyara.


"Ada apa nona ? Kenapa kau berteriak ?" tanya Bagas dengan wajah bantalnya.


"Kau ! Apa yang kau lakukan di ranjang ini ?" tanya Kyara geram.

__ADS_1


"Ish nona ! Apalagi kalau bukan tidur. Bukankah fungsi ranjang ini sebagai tempat tidur ?" ujar Bagas seraya membaringkan kembali tubuhnya.


"Aku tahu, tapi bukan itu maksudku ! Hei..! Mau apa kau ? Bangun...! Ayo cepat bangun !" teriak Kyara yang mulai panik ketika melihat Bagas kembali menarik selimutnya.


"Nona, aku masih mengantuk !" ujar Bagas lirih.


"Aku tidak peduli ! Bangun, atau kutendang kau dari sini !"


Bagas bangkit.


"Nona, kenapa harus marah-marah ?"


"Wajar aku marah, kau tidur dan memelukku tanpa izin ! Dasar pria mesum ! Aku sudah menyuruhmu untuk tidur di lantai, tapi kenapa kau malah pindah kemari ? Pakai acara peluk-pelukan segala lagi ! Kau memang sengaja ya, mengambil kesempatan di atas kesempi....., hummpphh....!"


Melihat bibir mungil berwarna pink yang bergerak sangat cepat, membuat Bagas tak bisa menahan diri. Dia kemudian menyentuh bibir mungil itu dengan bibirnya. Sepersekian detik dia mengulum bibir istrinya.


Hmm..., manis sekali....!


Kyara hanya mampu terpaku mendapati perbuatan Bagas yang menciumnya tiba-tiba.


"Kenapa diam ? Apa kau ingin merasakannya lagi ?" bisik Bagas di telinga istrinya.


Kyara bergedik merasakan hawa panas Bagas menerpa telinganya.


"Kau...!"


Dengan sekuat tenaga, Kyara mendorong tubuh Bagas agar menjauh dari hadapannya. Dorongan Kyara sangat kuat, sehingga membuat Bagas jatuh terjerembab di lantai. Namun, karena tubuh mereka masih sama-sama berada dalam balutan satu selimut, Kyara pun ikut terjatuh menimpa tubuh Bagas, dan tanpa sengaja bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir suaminya.


"Ah nona, jangan menyakiti dirimu ! Kau tidak harus ikut jatuh jika hanya ingin menciumku kembali !"


Bagas menggoda Kyara yang sudah semakin memerah raut wajahnya.


"Kau...!!"


Kyara hendak berdiri, namun Bagas segera melingkarkan kedua tangannya untuk menahan tubuh Kyara agar tetap berada dalam posisinya. Hingga...


"Ada apa pagi-pagi kalian sudah heboh ?"


Bersambung....


Mohon maaf, semalam author tidak sempat menepati janji untuk up, karena author benar-benar harus mengerjakan tugas yang sudah sangat mepet waktunya..🙏

__ADS_1


Semoga masih suka ceritanya yaaa...


Jangan lupa like vote n komennya


__ADS_2