
"Apa yang ingin kau akhiri ?"
DEG....!!
Kyara benar-benar terkejut mendengar suara Bagas. Seketika dia menoleh ke belakang, tampak Bagas tengah berdiri di ambang pintu masih lengkap dengan pakaian muslimnya.
Saat itu Bagas baru kembali dari masjid. Dia mencoba mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada jawaban. Saat dia memasuki kamarnya, tampak Kyara tengah melamun di depan cermin riasnya. Awalnya Bagas ingin memeluknya untuk memberikan kejutan. Namun niatnya dia urungkan karena mendengar gumaman Kyara yang dirasanya akan menjadi masalah.
Kyara masih menatap Bagas. Jantungnya mulai berdetak kencang. Lidahnya terasa kelu untuk mengutarakan maksudnya. Kata-kata yang telah dirangkainya seolah menguap begitu mendapati Bagas berdiri di hadapannya. Dia pun memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan penuh selidik dari Bagas.
Setelah menyimpan sejadah dan pecinya, Bagas mendekati Kyara.
"Apa yang ingin kau akhiri, nona ?" tanya Bagas sekali lagi seraya berjongkok di hadapan Kyara.
"Bukan apa-apa !" jawab Kyara menghindari tatapan Bagas.
"Aku tahu, sejak dulu kau tidak pernah pandai untuk berbohong. Bicaralah ! Akan aku dengarkan." ujar Bagas seraya duduk bersila di lantai.
Kyara mengikuti cara duduk Bagas untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bagas. Dia pun duduk di lantai.
"Kita harus bicara !" ujar Kyara membuka suara.
"Oke ! Akan kudengarkan, nona !" Bagas mengulang kalimatnya.
"I...ibu, telah...mmm... ibu telah meninggal...."
Kyara menghentikan kalimatnya.
Bagas masih menunggu Kyara untuk melanjutkan pembicaraannya. Namun selang beberapa detik Kyara masih tetap diam.
"Lalu...?" tanya Bagas.
Kyara menarik napasnya panjang.
"Aku rasa, kita tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan pernikahan ini." ujar Kyara masih dengan mode menundukkan kepalanya.
Kyara merasa bersalah, dia tidak sanggup menatap wajah tampan suaminya.
"Hhhh....!"
Bagas menghela napasnya. Sudah kuduga....! batinnya.
"Nona, bagiku pernikahan bukan sekedar main-main. Janji yang telah aku ucapkan telah berdiri di atas 2 kalimat syahadat. Itu artinya, aku bukan hanya telah berjanji kepada ibumu saja, tapi aku berjanji pada Rabb ku. Lalu sanggupkah aku mengingkari janji pada pemilik hidupku ?" ujar Bagas.
Kyara semakin menundukkan kepalanya. Ya ! Dia mengakui bahwa apa yang dikatakan Bagas adalah kebenaran. Dia sendiri tidak ingin mempermainkan sebuah ikatan suci yang yang diridhai Allah. Bagaimanapun juga, menikah adalah ibadah. Namun dengan kecacatan yang dia miliki, dia merasa tidak sanggup untuk berdampingan dengan seorang lelaki.
"Katakan nona ! Apa sebenarnya arti pernikahan bagimu ?" tanya Bagas tegas.
__ADS_1
"Aku....aku tidak tahu ! Yang aku tahu, aku tidak pernah bermimpi untuk membina rumah tangga. Semua mimpiku menguap bersama hilangnya harga diriku. Aku akui, dulu aku menginginkan sebuah pernikahan yang terjadi sekali dalam seumur hidupku. Tapi masa laluku telah menghapus semua impianku." ujar Kyara tertunduk.
"Lalu, arti pernikahan ?" tanya Bagas seraya meraih dagu Kyara untuk melihat manik kecoklatan yang penuh keteduhan itu.
Sejenak netra mereka bertemu, mencoba saling menyelami kejujuran satu sama lain. Namun saat Kyara menemukan kehangatan terpancar di manik mata milik suaminya, seketika itu, dia pun mengalihkan pandangannya.
"Pernikahan...., pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Ikatan suci yang dijalani untuk mendapatkan ridho Allah. Pernikahan salah satu bentuk ibadah dan juga sunnah Rasul." ujar Kyara.
"Alhamdulillah...., itu , kamu sudah mengerti tentang arti pernikahan." jawab Bagas tersenyum.
"Tapi kak...!" Kyara masih mencoba menyanggahnya.
"Apa kau tidak mencintaiku ?" tanya Bagas.
Kyara diam. Dia sendiri tidak mengerti dengan hatinya. Baginya cinta itu telah mati untuk selamanya. Entah cinta untuk Bagas ataupun laki-laki lain. Luka yang dilaluinya karena cinta, membuat dia sudah tidak ingin mempercayai lagi apa itu cinta.
"Diammu kuanggap jawaban iya, nona." ujar Bagas. "Baiklah, kau tidak perlu mencintaiku ! Cukup aku saja yang akan selalu mencintaimu." lanjutnya.
"Tapi kau berhak mendapatkan seorang gadis yang lebih baik untuk mendampingi hidupmu !" ujar Kyara.
Bagas menggenggam tangan Kyara.
"Hanya aku yang berhak untuk memutuskan siapa gadis terbaik yang akan mendampingi hidupku hingga ujung usiaku. Aku telah memilihmu, nona ! Aku yakin dengan pilihanku, tidak masalah kau tidak mencintaiku. Aku akan kembali mengajarkan arti cinta padamu." ujar Bagas penuh keyakinan.
"Tapi kak, pernikahan bukan hanya sekedar menyatukan cinta. Namun juga untuk memiliki keturunan, dan kau tahu aku tidak akan pernah bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang istri ! Aku tidak siap ! Aku takut tidak bisa melayani dengan sempurna. Kau lebih tahu pasti tentang masa laluku, kak ! Aku hanya wanita kotor !" ujar Kyara. Bening air mata mulai menggenang di kedua sudut matanya.
"Tidak masalah, aku tidak akan menuntut apa pun darimu. Yang terpenting sekarang, aku bisa menjagamu. Sudah malam, tidurlah ! Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri pernikahan kita, karena aku sudah mengambil keputusan untuk selalu mempertahankan ikatan suci ini !" ujar Bagas penuh penekanan. "Kecuali jika suatu hari nanti kau bisa menemukan orang yang kau cintai sepenuh hatimu, aku ikhlas untuk melepaskanmu." lanjutnya lirih.
Kyara hanya mampu diam mendengar semua kalimat yang diucapkan Bagas.
Bagas berdiri, dia melepaskan baju muslim yang dikenakannya. Setelah itu dia mengambil bantal kemudian pergi ke ruang tengah. Tiba di ruang tengah, Bagas berpapasan dengan bi Irah yang hendak mengunci pintu depan.
"Eh, cep Bagas mau kemana, itu bawa bantal segala ?"
"Mmm, Bagas mau tidur di sofa bi !" ujar Bagas kikuk.
"Ah, pasti karena kasurnya kesempitan ya...! Sebentar atuh...!"
"Bu... bukan begitu bi ! Bagas hanya..."
Belum sempat Bagas menyelesaikan kalimatnya, bi Irah sudah menghilang dari hadapannya. Bagas pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Bi Irah memasuki kamar Aneng.
"Neng, bangun !" ujarnya ketika dilihat keponakannya sudah memejamkan mata.
"Kenapa bi ?" tanya Kyara seraya duduk.
__ADS_1
"Ayo, cepat pindah tidurnya !" perintah bi Irah seraya menarik tangannya.
"Eh, pindah kemana...! Tunggu atuh bi, ini bantal kesayangan Aneng belum dibawa !" Kyara merenggut.
"Ish, bantal sudah kucel begitu, masih saja dipakai. Sudah cepat sana ambil !" perintah bi Irah.
Kyara segera mendekati kasurnya untuk mengambil bantal kesayangannya. Setelah itu dia mengikuti bi Irah keluar kamar.
"Emang kita mau tidur di mana, bi ?" tanya Kyara seraya menguap. Dia sudah benar-benar mengantuk.
"Bukan kita ! Tapi kamu dan nak Bagas ! Tidak baik pengantin baru tidur terpisah. Ayo !" bi Irah kembali menarik tangan Kyara.
"Apa ! Tapi bi...!"
"Sudah nggak ada tapi-tapian !"
Bi Irah membuka pintu kamar almarhum ibunya Kyara yang memang lebih luas dibandingkan kamar Kyara.
"Sudah, ayo cepat masuk !" bi Irah mendorong tubuh Kyara ke dalam kamar. "Ayo, kamu juga cep ! Ikuti istrimu !" perintah bi Irah pada Bagas.
Bagas semakin kikuk. Mau tidak mau, dia menuruti perintah bibinya.
"Iya bi !"
Bagas memasuki kamar itu. Begitu tiba di dalam, tatapan horor kembali dia dapatkan dari istrinya. Bagas menelan salivanya, dia bergedik melihat tatapan dingin Kyara.
"Sudah malam nona ! Kita tidur, protesnya besok saja !" ujar Bagas seraya mendekati ranjangnya.
"Tunggu !"
Kyara segera membuka lemari ibunya. Dia mengambil sebuah cover bed yang sangat tebal. Kemudian menyerahkannya kepada Bagas.
"Kau tidurlah di bawah !" ujar Kyara ketus.
Bagas hendak protes, tapi begitu dia melihat tatapan Kyara yang seolah ingin membunuhnya, dia pun mengurungkan niatnya. Dengan pasrah, Bagas mengambil selimut tebal itu dari tangan Kyara. Dia kemudian menggelarnya di atas lantai.
"Sesuai dengan perintahmu, ratuku !" ujarnya seraya tersenyum.
Bagas pun merebahkan dirinya di atas selimut itu. Dia tidak merasa keberatan karena cuacanya memang agak panas. Tidur di lantai membuat dia sedikit merasa nyaman, walau agak keras.
"Selamat tidur Kya, mimpi yang indah ya...!" ucapnya manis.
Namun Kyara hanya mendengus kesal mendengar kata-kata unfaedah nya Bagas.
Bersambung...
Lanjut....!!
__ADS_1
Jangan lupa untuk like vote n komen cerita ini 🙏🤗