
Assalamualaikum readers....
Mohon maaf banget nih, telat banget up nya...
Soalnya author mesti keluar kota dulu buat jemput suami....π€π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Ma...maaf...saya...mm... saya tidak bisa menerima lamaran ini...!!"
"Aneng....!" bu Ratna.
"Kya...!" Jaka
"Adistya....!" pak Ahmad.
Semuanya terkejut, tak terkecuali bu Ratmi. Wajahnya memerah menahan amarah, karena merasa dipermalukan oleh sikap Kyara. Tanpa basa-basi, bu Ratmi memegang tangan Jaka, kemudian berdiri.
"Ayo Jaka, pulang !" ujar bu Ratmi penuh emosi.
"Tapi bu ?" Jaka mencoba menahan bu Ratmi. Dia menarik tangan ibunya agar duduk kembali.
"Cukup Jaka !! Kita memang orang miskin, tapi bukan berarti kita tidak punya harga diri !" seru bu Ratmi.
"Saya mohon bu, jangan diambil hati omongan anak saya. Mungkin Aneng merasa bingung dengan lamaran yang memdadak ini. Ini salah kami karena tidak memberi tahunya terlebih dulu." ujar bu Ratna.
"Kenapa tidak diberi tahu ? Apa kalian sengaja hendak mempermalukan kami ?" tuding bu Ratmi semakin emosi.
"Ibu tenanglah dulu. Kita bicarakan baik-baik, ya ! Duduklah, aku mohon bu..." Jaka kembali memohon agar ibunya duduk kembali.
Tapi sayangnya, hati ibunya sudah sangat tersakiti. Bu Ratmi mengibaskan tangan Jaka.
"Ya sudah ! Silakan tetaplah di sini jika kamu ingin menjadi anak durhaka ! Ibu tidak sudi berhubungan lagi dengan keluarga ini !" ujar bu Ratmi seraya pergi keluar dan membanting pintu depan.
"Bu ..! Ibu... tunggu...!" Jaka segera bangkit dan berlari mengejar ibunya.
Pak Ahmad diam. Hanya diam yang bisa dia lakukan. Jawaban Kyara membuat dia syok hingga tak mampu berkata apapun. Sungguh dia benar-benar tidak menyangka akan penolakan anaknya terhadap lamaran ini.
Sedangkan bu Ratna, dengan berlinang air mata dia menatap sendu pada Kyara. Kenapa neng...? Kenapa kamu menolak lamaran ini ? Apa kamu tidak pernah mencintai nak Jaka ? batin bu Ratna.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan di benak bu Ratna. Namun dia enggan untuk mengungkapkannya. Bu Ratna takut, semuanya hanya akan memperkeruh suasana.
"Astaghfirullah hal adzim.... Tuhan, ampuni hamba yang tak pernah bisa mendidik anak hamba." gumam pak Ahmad sambil memegang dada kirinya yang mulai terasa sakit.
Mendengar gumaman sang ayah, hati Kyara bagai tersayat sembilu. Segera dia menghambur ke arah pak Ahmad, berlutut di kedua kaki pak Ahmad.
"Maafkan Aneng yah...! Aneng tidak bermaksud untuk mempermalukan ayah. Aneng....Aneng hanya...hiks...hiks..." Kyara mulai terisak.
"Cukup !" ujar pak Ahmad, lemah. Dadanya semakin terasa sakit. "Bu, bantu bapak ke kamar !" ujar pak Ahmad seraya mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Bu Ratna menghampiri suaminya. Dia kemudian membantu pak Ahmad berdiri dan memapah suaminya untuk masuk dan beristirahat di kamarnya.
Tiba di kamar, bu Ratna membantu suaminya untuk berbaring di atas ranjang. "Istirahatlah pak !" ujarnya seraya menyentuh lembut tangan suaminya.
"Apa dosaku bu ? Ke... kenapa tak henti-hentinya anak itu menyakiti perasaanku, bu ?" tanya pak Ahmad merasa putus asa.
Baru kali ini bu Ratna menyaksikan sikap tak berdaya suaminya. Baru kali ini bu Ratna menyaksikan air mata jatuh dari pelupuk mata suaminya. Ada rasa sakit yang bu Ratna rasakan. Tapi sungguh, diapun tidak bisa menyalahkan keputusan Kyara. Bu Ratna merasa terjebak di antara kekecewaan suaminya dan kasih sayangnya terhadap putri semata wayangnya.
"Jangan seperti ini pak, ibu mohon ! Bapak harus kuat ! Mungkin bukan maksud Aneng untuk mempermalukan kita." kata bu Ratna mencoba menenangkan hati suaminya.
"Pergilah bu ! Tinggalkan bapak sendiri !" pinta pak Ahmad.
"Tapi pak..." jawab bu Ratna penuh kekhawatiran.
"Pergilah ! Bapak baik-baik saja." ujar pak Ahmad penuh keyakinan.
Bu Ratna pun pergi. Dia kembali ke ruang tamu untuk membereskan jamuan yang tak tersentuh tamunya.
Sementara itu, di kamarnya, Kyara hanya mampu menangis tersedu-sedu. Dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan kembali menorehkan luka di hati kedua orang tuanya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Bayangan pernikahan telah musnah dari ingatannya. Impian untuk menikah dan memiliki keluarga, telah ia kubur dalam-dalam.
"Maafkan aku ayah, maafkan aku..." gumamnya dalam isak tangisnya. Cukup lama Kyara menangis, hingga akhirnya dia merasa lelah dan tertidur.
***
Senja mulai menunjukkan temaramnya. Kyara terbangun, segera dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Di ruang tengah, dia berpapasan dengan ibunya yang hendak mengantarkan makanan ke kamar ayahnya.
Bu Ratna tersenyum, "Tidak apa-apa neng, biar ibu saja." ujar bu Ratna.
"Apa ayah marah, bu ?" tanya Kyara, gusar.
Bu Ratna menggelengkan kepalanya, "Ayah hanya merasa kecewa saja, nak. Sebentar lagi juga baikan. Bersabarlah !"
"Maafin Aneng, bu..." kembali Kyara terisak.
"Sstt... sudahlah nak. Qadarullah...! Semuanya telah terjadi, sabarlah !" ujar bu Ratna lembut seraya mengusap kepala Kyara. "Sana, mandilah ! Kamu belum salat kan ?" perintah bu Ratna.
Kyara mengangguk, kemudian pergi ke kamar mandi.
***
Setelah kejadian lamaran itu, Kyara memutuskan untuk meminta izin tidak masuk kerja dulu. Perasaannya benar-benar kacau melihat ayahnya yang kembali tak menghiraukannya. Hati Kyara merasa sakit dengan situasi seperti ini. Tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa.
Hari ini adalah hari ketiga Kyara tidak masuk kerja. Karena tak kunjung juga berangkat ke panti, bu Ratna akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Kyara perihal alasan menolak lamaran pemuda malang itu.
"Neng, ini sudah hari ketiga kamu tidak masuk kerja. Apa bu Hana tidak akan marah ?" tanya bu Ratna membuka pembicaraan saat melihat Kyara sedang memasak di dapur.
Kyara menggelengkan kepalanya, "Aneng sudah minta izin bu. Lagipula bu Hana sudah mengizinkan Aneng sampai Aneng benar-benar siap meninggalkan ayah dan ibu. Aneng nggak bisa tenang kalau harus meninggalkan ayah dalam keadaan ayah masih marah sama Aneng. " jawab Kyara.
"Ngomong-ngomong neng, boleh ibu tanya sesuatu ?" tanya bu Ratna, hati-hati.
__ADS_1
"Iya bu...." jawab Kyara sambil terus mengaduk sop ayam di dalam panci.
"Apa kamu tidak suka sama nak Jaka ?" tanya bu Ratna lagi.
Kyara menghela napasnya. "Tidak ada alasan bagi Aneng untuk tidak menyukai kang Jaka. Dia pria yang cukup baik, pekerja keras dan bertanggungjawab. Tapi rasa suka Aneng hanya sebatas teman saja, bu." jawab Kyara, jujur.
"Kenapa neng ? Bukankah cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu ? Contohnya ibu dan ayahmu. Hubungan kami terjadi atas perjodohan. Tapi dikarenakan terus bersama, akhirnya cinta itu tumbuh diantara kami.
"Tidak semudah itu, bu !" jawab Kyara, sendu. "Sudahlah bu, Aneng tidak mau membicarakan hal ini lagi. Aneng mohon, jangan paksa Aneng untuk menerima lamaran kang Jaka, bu !"
"Kenapa neng ? Beri ibu satu alasan yang masuk akal, kenapa kamu menolak lamaran nak Jaka ?" tanya bu Ratna, mendesak Kyara.
Kyara tertunduk, "Karena.... karena Aneng takut mengecewakan bu."
"Maksudmu ?" bu Ratna semakin penasaran.
"Sudahlah bu, jangan paksa Aneng. Aneng hanya tidak ingin menikah. Bukan hanya dengan kang Jaka, tapi dengan laki-laki manapun. Aneng tidak mau !" ujar Kyara penuh penegasan.
Bu Ratna mendekati Kyara, semakin tidak mengerti arah pembicaraan anaknya, "Katakan dengan jelas, apa maksud ucapanmu, nak !" tanyanya lembut, namun penuh ketegasan.
Kyara mematikan kompornya. Kemudian menyenderkan kepalanya di bahu ibunya. "Maafkan Aneng bu, Aneng mohon, maafkan Aneng..." katanya sambil mulai kembali menangis.
Bu Ratna mengusap pipi anaknya, "Bicaralah nak !"
"Ibu...hiks...hiks... ibu janji..hiks... ibu tidak akan marah ?" lanjut Kyara semakin terisak.
"Bicaralah !" kembali bu Ratna memberikan perintah.
"Aneng takut bu. Aneng takut mengecewakan suami Aneng. Tidak akan ada pria yang sudi menerima ketidaksempurnaan Aneng, bu..."
"A...apa maksud kamu ? Jangan berbelit-belit nak " ujar bu Ratna semakin tak mengerti.
Kyara memeluk ibunya, erat. "Ampuni Aneng bu...! Aneng...Aneng... tidak bisa menjaga diri Aneng. Aneng tidak bisa menjaga kehormatan Aneng.... Aneng sudah tidak suci lagi, bu... Aneng...hiks...hiks...." Kyara semakin terisak dalam tangisnya.
"Ma... maksud kamu..? Kamu...kamu...su...dah tidak perawan lagi ?!" tanya bu Ratna. Ada rasa sesak di dadanya.
Kyara mengangguk.
Prang.....!!!
Bersambung ....
Nantikan episode selanjutnya ya...
Semoga nanti malam bisa up kembali...
jangan lupa like vote n komennya
π€πππ
__ADS_1