Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Di Antara 2 Bayangan


__ADS_3

Tiba di rumahnya, Ajay segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bayangan gadis itu terus melintas di benaknya. Ish..., kenapa wajahnya mirip Kyara...? batin Ajay. Tiba-tiba dia teringat akan Kyara. Ah yaa, Kyara...! Aku harus buat perhitungan dengannya...!


Ajay segera keluar dari kamarnya. Dia bergegas menuju kamar Kyara.


Brakk...!


Dengan kasar, Ajay membuka pintu kamar Kyara.


"Kya...! Kya...! Di mana kamu..?" teriaknya sambil menjelajahi isi kamar. Namun bayangan Kyara tak terlihat sama sekali.


Klek...!


Ajay membuka pintu kamar mandi. Kosong...! Lantainya pun terlihat kering, pertanda tak pernah tersentuh oleh air.


"Shitt...! Di mana dia...? Apa mungkin di rumah itu..!"


Ajay keluar dari kamar Kyara, dia pun berlari menuruni tangga dan pergi ke rumah barunya. Tiba di rumah barunya, Ajay mendapati pintu pagar tergembok dengan rapi.


Jika pagarnya di gembok, berarti Kyara memang tidak ada di dalam. Kemana dia...?


Ajay kembali lagi ke rumahnya.


"Bik...! Bik Nah...!" Ajay berteriak memanggil asisten rumah tangganya.


"Iya...! Saya, den...!" ujar mbok Nah, tergopoh-gopoh.


"Apa bibik lihat Kyara ?" tanya Ajay.


"Itu...! Anu..., non Kya..., non Kya sudah pergi, den..!" jawab mbok Nah.


"Pergi kemana ?" tanya Ajay, heran.


"Dia sudah pulang..!" ujar tuan Mahesa yang telah berdiri di belakang Ajay.


"Eyang...!" ujar Ajay seraya membalikkan badannya.


"Darimana kamu Ajay...? Sampai dua hari tidak pulang ke rumah..?" tanya tuan Mahesa, geram.


"A... Ajay kecelakaan, eyang. Ajay tidak sadarkan diri, jadi Ajay tidak bisa kasih kabar ke rumah." jawab Ajay.


"Kecelakaan...! Astaghfirullah..., kamu tidak apa-apa, nak..? Ada yang masih sakit..?" tanya nyonya Aini, panik.


"Tidak apa-apa, eyang....! Cuma lecet sedikit.. !" jawab Ajay.

__ADS_1


"Ya Tuhan..., kok bisa sampai kecelakaan sih, nak..! Jangan ngebut-ngebut kalau sedang bawa kendaraan, sayang...! Ya, sudah...! Kamu istirahatlah..! Ayo.., eyang antar ke kamarmu..!" ujar nyonya Aini.


Ajay mengangguk. Dia pun kembali ke kamarnya.


Dengan telaten, nyonya Aini menyelimuti Ajay. "Nak..! Boleh eyang bicara...?" tanya nyonya Aini, hati-hati.


Ajay mengangguk.


"Eyang tidak pernah tahu seperti apa hubunganmu dengan Kyara, dulu. Yang eyang tahu, jika memang kalian sampai terlalu jauh melangkah, eyang yakin kalian pernah saling mencintai." nyonya Aini menghela napasnya.


"Nak, jika memang ada suatu permasalahan yang membuat hubungan kalian renggang, cobalah bicarakan baik-baik ! Saling terbukalah ! Sampaikan apa yang menjadi keinginan kalian masing-masing. Komunikasi itu sangat penting, nak ! Terlebih lagi, saat ini kalian jauh terpisah. Jangan sampai pihak lain mencampuri hubungan kalian. Jika kamu merasa kecewa terhadapnya, ingatlah kebaikannya, masa-masa indah yang pernah kalian lewati. Jangan kotori hatimu dengan kebencian dan dendam. Karena itu akan semakin menyesatkanmu, nak !" ujar nyonya Aini, mencoba memberi nasihat untuk kebaikan hubungan Ajay dan Kyara.


"Eyang...! Ajay capek..., boleh Ajay istirahat..!" ujar Ajay.


Nyonya Aini tersenyum, dia mengerti jika saat ini, Ajay tidak ingin menerima nasihatnya.


"Baiklah..! Istirahatlah..! Eyang keluar dulu..!" ujar nyonya Aini. Dia pun pergi meninggalkan Ajay seorang diri.


Ajay diam, mencoba mencerna apa yang dikatakan nyonya Aini. Dia pun kembali mengingat semua kenangan bersama Kyara.


Senyuman tipis tersungging di bibirnya saat terbayang wajah gadis cantik yang mengenakan seragam abu putih, dengan rambutnya yang dikepang dua, sedang berlari terburu-buru hingga menabrak dirinya sampai terjerembab ke tanah. Bukannya minta maaf, gadis itu malah bersumpah serapah memarahi dirinya.


"Apa kamu tidak punya mata ! Lihatlah ! Semua makalah yang telah kususun jadi berceceran seperti ini..!" seru gadis itu sambil memunguti lembaran kertas yang berceceran.


"Hei, nona..! Kau yang lari kencang, kau yang menabrakku, terus kenapa kau yang marah-marah..! Harusnya aku yang marah, kau lihat, celanaku yang mahal ini jadi kotor, akibat jatuh karena kau tabrak !"


Gadis itu menarik tangan Ajay. Mau tidak mau, Ajay pun ikut berjongkok dan memunguti kertas-kertas milik gadis itu.


Ajay memperhatikan wajah gadis itu, sungguh wajah yang sangat sempurna. Meskipun baju putihnya tampak lusuh karena telah berubah warna menjadi putih tulang, tapi tidak mengurangi kecantikan di wajahnya.


Bibinya yang mungil terus saja bergerak mengatakan kekhawatirannya jika sampai telat mengumpulkan tugasnya. Bibir mungil berwarna pink yang merekah, membuat Ajay tanpa sadar mengecup bibir yang masih bersumpah serapah itu.


Cup....


Ciuman sekilas yang membuat Ajay merasa bersalah dan lari terbirit-birit karena merasa malu dengan perbuatannya. Sedangkan, gadis itu hanya diam tak bergeming mendapat serangan dari bibir Ajay.


Ajay tersenyum tat kala membayangkan ekspresi Kyara saat itu. "Kya...., aku merindukanmu...!" gumam Ajay seraya memejamkan matanya, berharap dia bisa bertemu dengan bayangan Kyara lagi. Tapi...


"Apa kau tahu, tuan...? Jodoh terjadi akibat pertemuan tak terduga...!"


Tiba-tiba saja, kata-kata itu terngiang di telinganya. Ah..., siapa gadis itu....? Kenapa tatapannya begitu tajam..? Kenapa sikapnya begitu aneh...? Kepolosan dan wajah cerianya hampir mirip dengan Kyara saat sekolah dulu, tapi terkadang, kata-katanya penuh teka-teki. Sikapnya yang berani juga, mengingatkan aku pada sosok Andin. Ah, gadis seperti apa dia..., Kenapa terkadang tatapannya seolah menantangku untuk melakukan sesuatu, tapi apa...? Cecilia....! Dia bilang, namanya Cecilia...! Nama yang lembut, namun menyimpan misteri...


Tok...tok... tok..

__ADS_1


Suara ketukan di pintu kamarnya, tiba-tiba membuyarkan lamunan Ajay.


"Masuk...!" teriak Ajay.


Ceklek...!


Pintu terbuka.


"Ajay..., anak kesayangan mamih...! Kamu kemana saja, nak...? Kenapa waktu mamih pulang dari luar kota, kamu tidak ada di rumah..? Mamih kira, kamu nginep di hotel sama Andin, tapi waktu mamih tanya Andin, dia malah tidak tahu...! Sebenarnya, dua hari ini kamu kemana saja..?" cerocos nyonya Diana.


Aaahh....mulai deh...! batin Ajay seraya menyelusupkan kepalanya ke bawah bantal...


***


"Bu Hana bicara apa ?" tanya Anti


"Oh, beliau menawarkan aku untuk kuliah, mbak ?" jawab Kyara.


"Jawabanmu..?"


"Aku belum jawab apa-apa, mbak."


"Kenapa kamu nggak terima aja tawarannya ?"


"Mbak sendiri, kenapa tidak menerima tawaran bu Hana ? Bukankah sebelum beliau menawari aku, beliau juga tawarkan dulu sama mbak, tentang kuliah ini..?"


"Ish.., kamu ini..! Ditanya kok malah balik nanya..!"


"He...he.., terus, kenapa mbak tolak tawaran bu Hana ?"


"IQ-ku di bawah rata-rata, jadi aku tolak tawaran bu Hana, aku takut tidak bisa memenuhi harapan bu Hana karena kebodohanku..! Beda sama kamu yang sangat cerdas, aku yakin, kamu bisa lulus tepat waktu..!"


"Ish..! Kok mbak malah merendah gitu, sih..! Nggak baik, loh mbak...!"


"Sudahlah..., terima saja tawaran bu Hana...! Mumpung ada kesempatan...!"


Kyara tersenyum, "Kya coba pikirkan dulu ya, mbak...!"


Anti hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Kyara...


Bersambung...


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankannya..

__ADS_1


Semoga berkah...🤲🤲


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🙏


__ADS_2