Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Itu Bukan Dia !


__ADS_3

POV Kyara


Aku menjalani hariku tanpa semangat. Pikiranku semakin kacau. Ditambah lagi mimpi-mimpi burukku yang seolah nyata, membuatku semakin tidak pernah bisa melupakan bayangan kakang.


Hari ini aku bertekad untuk memperbaiki semuanya. Aku tahu, aku tidak boleh hanya menunggu saja. Aku harus segera bertindak jika ingin rumah tanggaku selamat. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya.


Dulu aku membiarkan sebuah permasalahan berlarut-larut hanya karena aku tidak ingin memaksakan kehendakku. Tapi ternyata aku salah, diamku malah dijadikan kesempatan oleh Ajay untuk pindah ke lain hati.


Dan sekarang, akan aku pastikan semua itu tidak akan terjadi lagi. Aku mencintainya, jadi aku harus bertindak untuk mempertahankan cintaku. Dan aku juga yakin jika kakang mencintaiku.


Baiklah, sebagai langkah awal, aku akan menemui kak Gunawan dan meminta bantuan kak Gun untuk mencari kakang. Aku sengaja memilih kak Gun, agar tidak terjadi salah paham antara aku dan kak Indah. Jika aku menceritakan semua masalah rumah tanggaku kepada kak Indah, aku takut kak Indah tidak bisa menerimanya dan menyalahkan aku, meskipun aku sadar jika semua ini memang salahku.


Aku mengabari kak Gun jika aku ingin bertemu dengannya. Syukurlah, kak Gun pun memiliki waktu untuk mau bertemu denganku.


Setelah mengirimkan pesan untuk kak Gun, aku pun kembali mengajar. Meski tak bersemangat, namun aku harus tetap melaksanakan kewajibanku. Sejenak, anak-anak didikku bisa menghiburku hingga aku bisa melupakan semua kesedihanku. Tingkah mereka yang polos, selalu bisa membuatku tertawa.


Sepulang sekolah, aku segera memesan taksi online. Setelah taksi datang, aku pun segera menaikinya dan meminta sopir taksi melajukan sedikit lebih kencang agar aku bisa segera sampai di perusahaan kak Gun.


45 menit perjalanan, akhirnya aku tiba di perusahaan kak Gun. Saat aku memasuki lobi perusahaan, aku melihat asisten kakang turun dari mobil. Dengan wajah yang penuh kecemasan, dia setengah berlari menuju lift CEO. Awalnya aku ingin menyapanya, namun saat aku lihat dia begitu tergesa-gesa, aku pun mengurungkan niatku. Akhirnya aku hanya bisa mengikutinya.


Tiba di ruangan kak Gun, aku melihat pintu ruangan sedikit terbuka. Saat aku hendak mengetuk pintu, tanpa sengaja aku mendengar mereka sedang membicarakan berita kematian kakang Bagas. Aku pun berteriak...


"Ti... tidak...! Tidak...! Tidak mungkin...!"


Doni dan Gunawan segera menoleh ke arah pintu. Mereka tersentak kaget saat mendapati Kyara sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang telah pucat pasi.


Gunawan segera menghampiri Kyara.


"Kya, tenanglah...! Semua ini mungkin tidak benar ! Sekarang juga kami akan pergi ke Samarinda untuk memastikannya. Kak Gun mohon, tenanglah !"


Kyara menatap Gunawan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ky... Kya ikut kak !" ujarnya.


"Tidak, Kya tunggu saja di rumah bersama kak Indah. Sopir kakak akan mengantarkan Kya ke rumah."


Kyara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak...! Kya mau ikut ! Kya ingin memastikan sendiri, kak ! Kya yakin itu bukan kakang ! Kya mohon...!" ujar Kyara mengatupkan kedua tangannya.


Gunawan diam. Tiba-tiba...


Drrtt.... drrtt....


Ponsel Gunawan bergetar. Dia kemudian merogoh saku dalam jasnya.


"Khumairaku..." gumamnya sambil menatap Doni.


"Bagaimana ini Don ? Apa yang harus aku katakan kepada istriku ?" tanya Gunawan.


Doni hanya bisa menggedikkan kedua bahunya. Sementara itu dia sendiri menghampiri Kyara untuk memapahnya ke sofa dan memberikan air mineral untuk istri bosnya itu.


Gunawan segera mengangkat telpon dari istrinya.


"Assalamualaikum, ya Khumaira !" sapanya, berusaha menetralkan suaranya.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan di ujung telpon. Gunawan pun tertegun. Apa mungkin berita tentang kematian Bagas telah sampai pada Indah ? batin Gunawan.


"Khumaira istriku, ada apa sayang ? Kenapa kamu menangis ?" tanya Gunawan.


Kak Indah menjawab diiringi dengan isak tangisnya. Gunawan pun semakin terkejut mendengar jawaban kak Indah.


"I...iya sayang, mas juga sudah tahu. Sabar ya, ini, mas sama Doni mau pergi ke Samarinda untuk memastikannya." jawab Gunawan.


Kak Indah kembali bertanya di ujung telpon.


"Kya..., Kya juga sudah tahu dan dia memaksa untuk ikut. Mas tutup dulu telponnya ya sayang, jaga anak-anak ! Mas akan segera memberi kabar begitu sampai di sana. Assalamualaikum...!"


Gunawan segera menutup telponnya. Dia kembali menghampiri adik iparnya. Dia duduk di meja dan berhadapaan dengan Kyara.


"Apa kau yakin ingin ikut bersama kami ?" tanya Gunawan.


"Kya yakin, kak !" jawab Kyara.


"Apa kau kuat, jika kemungkinannya benar ?" kembali Gunawan bertanya.


Sejenak Kyara merasa bimbang, namun dia pun merasa harus memastikan sendiri jasad suaminya. Akhirnya, tanpa ragu, Kyara kembali menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya pergi ke bandara. Dalam perjalanan menuju bandara, Gunawan segera menghubungi asistennya untuk menyiapkan jet pribadi beserta pilotnya.


Setelah melewati 30 menit perjalanan, mereka pun tiba di bandara dan segera menuju tempat pesawat pribadinya. Pesawat itu pun akhirnya lepas landas membawa mereka menuju Samarinda.


Sepanjang perjalanan Kyara tampak diam, namun sesekali tangannya menyeka air mata yang meleleh di kedua pipinya. Pikirannya benar-benar kosong, hanya dadanya yang semakin sesak. Seolah terhimpit oleh benda yang sangat besar dan berat.


Tiba di Samarinda, mereka langsung menuju rumah sakit kota Samarinda. Tiba di lobi rumah sakit, Gunawan segera menuju bagian informasi, sedangkan Doni dan Kyara menunggunya di sofa lobi. 10 menit kemudian, Gunawan mengajak Doni dan Kyara untuk pergi ke ruang jenazah.


Sepanjang perjalanan, jantung Kyara berdegup kencang. Sebenarnya kakinya terasa lemas untuk berjalan. Namun rasa penasarannya memaksa dia harus tetap kuat. Tiba di kamar jenazah, mereka melihat 2 orang polisi yang sedang berjaga di depan pintu kamar.


"Selamat malam, pak ! Perkenalkan, mereka adalah keluarga dari almarhum Bagas Anggara, salah satu korban kecelakaan kemarin sore." ujar perawat yang mengantarkan Gunawan, Doni dan Kyara ke kamar jenazah.


"Oh, senang bertemu kalian. Mari, silakan ikut saya !" jawab salah seorang polisi tersebut.


"Kya, sebaiknya kamu tunggu di sini bersama Doni. Biar kak Gun saja yang masuk !"


"Tapi, kak !"


"Sudahlah, nona ! Kita ikuti saja perintah tuan Gunawan !" bujuk Doni meskipun dia sendiri merasa penasaran dan ingin masuk untuk memastikan jasad bosnya.


Kyara pun mengangguk.


Gunawan beserta salah seorang polisi dan perawat yang mengantarnya tadi, segera memasuki kamar jenazah.


"Mari silakan, pak ! Ini jenazah atas nama Bagas Anggara." ujar polisi itu seraya membuka kain putih penutup jenazah.


Gunawan tersentak kaget melihat kondisi jenazah yang sudah tidak bisa dikenali. Tapi jika dilihat dari postur tubuhnya, jenazah itu memanglah mirip dengan adik iparnya, hanya sedikit lebih kurus.


"Ba.... bagaimana anda bisa yakin jika ini jenazah adik saya ?" ujar Gunawan.


"Kami meyakininya karena kami menemukan identitas dirinya di dalam pakaiannya yang sudah terbakar. Ini, silakan bapak periksa !" ujar polisi itu segera meraih bukti-bukti yang menyatakan identitas korban dari bawah brankar.


Gunawan menerima bungkusan plastik itu. Seketika tubuhnya terasa lemas mendapati beberapa kartu identitas yang masih jelas terbaca atas nama Bagas Anggara. Akhirnya Gunawan tak mampu membendung perasaannya lagi. Dia pun segera memeluk jenazah itu. Bahunya terlihat naik turun pertanda dia sedang menangis.


"Sudah, pak ! Yang sabar ya, mungkin ini sudah takdir Yang Maha Kuasa." ujar polisi itu menyentuh bahu Gunawan.


Gunawan berdiri, dia pun menyeka air matanya.


"Lalu, apa..., apa korban yang lainnya telah diketahui identitasnya, pak ?" tanya Gunawan.


"Ya, mereka atas nama saudara Anwar dan saudara Jeremy. Untuk saudara Anwar sendiri, pihak keluarga korban sudah menjemputnya tadi siang. Sedangkan untuk korban bernama Jeremy, pihak keluarganya akan datang esok hari, mengingat mereka tinggal di London. Jadi memakan banyak waktu untuk bisa datang."


Setelah dapat dipastikan jika jenazah itu adalah adik iparnya. Gunawan pun segera keluar untuk menemui Doni dan Kyara.


Di luar ruangan, Kyara tampak berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas. Sedangkan Doni tampak berbincang dengan polisi yang menjaga kamar. Doni terlihat serius sekali mendengarkan polisi itu asyik bercerita pada saat tim nya melakukan evakuasi terhadap korban.


Doni tidak habis pikir, bagaimana bos nya bisa berada di daerah itu, padahal tempat itu sama sekali bukan tempat yang mereka kunjungi untuk pembukaan pabrik barunya.


Kyara segera menghambur ke arah Gunawan begitu melihat kakak iparnya itu keluar dari kamar jenazah.


"Bagaimana kak ?" tanya Kyara.


Bukannya menjawab, Gunawan malah menarik Kyara ke dalam pelukannya.


"Kamu yang sabar, Kya...! Kakak yakin kamu pasti kuat melewati semua ujian ini !" ujar Gunawan,serak.


Kyara meronta meminta Gunawan melepaskan pelukannya. Dia menatap Gunawan yang matanya terlihat sedikit sembab. Kyara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak...! Itu pasti bukan kakang ! Itu bukan suami Kya, kan ? Katakan, itu bukan kang Bagas !" ujar Kyara seraya menarik-narik jas Gunawan.


Gunawan hanya bisa menundukkan wajahnya.


Doni yang melihat tangan Gunawan memegang bungkusan plastik bening, segera mendekatinya dan mengambil plastik itu dari tangan Gunawan. Doni segera membuka bungkusan plastik itu. Matanya terbelalak begitu melihat isi plastik yang ternyata barang-barang milik bos nya.


"Di...dia memang bos, nona. I...ini...semua barang-barang miliknya." ujar Doni.


Kyara segera mengalihkan pandangannya menatap Doni yang sedang memegang plastik itu. Sejurus kemudian, Kyara menyambar plastik itu dan segera memeriksa isinya. Tubuhnya seketika lemas begitu dia melihat semua barang milik suaminya. Tiba-tiba...


"Di mana cincinnya ?" ujar Kyara menatap Doni.


Doni hanya melongo mendapati pertanyaan seperti itu dari Kyara.


"Di mana cincinnya Don ?" kembali Kyara bertanya yang hanya dijawab oleh gelengan kepala dari Doni.


Kyara segera berlari ke ruang jenazah.


"Kya....!"

__ADS_1


"Nona....!"


Panggil Gunawan dan Doni berbarengan. Namun mereka kalah cepat dan tak bisa menghentikan Kyara.


Tiba di ruang jenazah, jantung Kyara semakin berdegup kencang saat melihat kedua jenazah berada di hadapannya. Kyara segera menghampiri salah satu jenazah yang di depan brankar nya tertera nama suaminya.


Dengan langkah gemetar, Kyara mendekati jenazah itu. Tangannya mulai terulur untuk membuka kain yang menutupi wajah jenazah itu.


"Jangan Kya !" ujar Gunawan segera memegang tangan Kyara.


Kyara menatap Gunawan yang sedang menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak akan kuat melihatnya, Kya." ujar kak Gunawan.


Kyara menepiskan tangan Gunawan. Sejurus kemudian Kyara menyingkap kain itu. Matanya terbelalak melihat kondisi jenazah yang tak bisa dikenali. Perlahan Kyara kembali menyingkap kain putih itu hingga sampai di bagian lengan yang tersilang di atas dada jenazah.


Kyara tertegun, namun detik kemudian, seberkas senyum terukir di bibirnya.


"Bukan dia ! Itu bukan dia !" ujar Kyara dengan mata yang berbinar memancarkan kelegaan.


Gunawan segera menghampiri Kyara. "Apa maksudnya Kya ?" tanya Gunawan heran.


"Ha ..ha...! Itu...itu bukan dia, kak ! Itu bukan kang Bagas ! Tidak ada cincin di jari manis jenazah itu, pasti itu bukan kakang !" ujar Kyara


"Maaf nyonya, mungkin saja pada saat kejadian, suami nyonya sedang tidak memakai cincin. Karena itu kami tidak menemukan cincin di jasadnya." ujar salah seorang polisi.


"Tidak.. ! Tidak mungkin ! Suami saya tidak pernah melepaskan cincin kawinnya, meskipun cincin kami hanya berupa giok. Tapi ini sangat berharga bagi kami, dan saya sangat yakin jika suami saya tidak akan melepaskan cincinnya." ujar Kyara penuh emosi.


Polisi itu tersenyum melihat pengakuan Kyara.


"Nyonya, mungkin cincinnya terlepas dan terbakar, karena itu tidak ditemukan. Di mohon kerjasamanya nyonya, kasihan suami anda jika harus lebih lama lagi dibiarkan di ruang jenazah." bujuk polisi tersebut.


"Sudahlah Kya ! Kita harus segera membawa jenazahnya. Kasihan Bagas !" ujar Gunawan merangkul pundak Kyara dan mengajaknya keluar ruangan.


Tiba di luar ruangan, Gunawan segera memerintahkan Doni untuk menghubungi asisten Gunawan agar segera pergi ke rumahnya untuk membantu menyambut kepulangan jenazah. Sedangkan Gunawan sendiri pergi ke bagian administrasi untuk mengurusi kepulangan jenazah.


Kyara sendiri segera berjalan menuju lobi rumah sakit dengan di antar perawat tadi. Di tengah jalan, tiba-tiba Kyara merasa pusing, matanya mulai berkunang-kunang. Kyara menghentikan langkahnya, karena dia merasa kepalanya sudah sangat berat.


"To... tolong saya...!" ujarnya lemah.


Sedetik kemudian, Kyara pun limbung tak sadarkan diri. Namun dengan sigap, perawat itu menahan tubuh Kyara agar tidak terjatuh. Perawat itu memanggil salah seorang temannya yang sedang berjalan membawa kursi roda kosong. Mereka akhirnya membawa Kyara ke ruang IGD.


Doni segera berlari ke ruang IGD begitu mendapatkan kabar tentang Kyara dari perawat yang mengantarnya tadi. Tiba di sana, Doni melihat jika Kyara sedang diperiksa oleh seorang dokter perempuan. Doni kemudian menunggunya di luar seraya berjalan mondar-mandir.


Ceklek...


Pintu ruang IGD terbuka. Dokter perempuan yang tadi memeriksa Kyara pun keluar.


Doni segera menghampirinya, "Bagaimana, dok ?" tanya Doni.


"Alhamdulillah, istri bapak tidak apa-apa, janinnya juga sangat kuat. Tapi tolong di jaga perasaannya ya pak ! Jangan sampai ibu merasakan stress. Di usia kehamilannya yang baru menginjak trimester pertama, stress bisa saja memicu terjadinya keguguran pada ibu yang sedang hamil muda."


Doni tersentak kaget. Hamil....? Jadi nona muda sedang hamil...? Ya Tuhan...., malang sekali nasibnya.


"I...iya, dok ! Saya akan menjaganya dengan baik." ujar Doni.


"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu !" pamit dokter itu.


Doni pun hanya bisa mengangguk. Saat dia hendak melangkahkan kakinya menuju ruang Kyara. Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo, tuan !" ujar Doni begitu tahu siapa yang menelponnya.


"Di mana kamu ?" tanya Gunawan di ujung telpon.


"Saya sedang berada di ruang IGD tuan, tadi nona Kyara pingsan dan dibawa kemari." jawab Doni.


"Pingsan ? Sekarang, bagaimana keadaannya ?" Gunawan bertanya.


"Nona masih belum sadar. Tuan, ada satu hal yang harus sampaikan, ini tentang nona Kyara." ujar Doni.


"Ada apa dengan Kyara ? Apa dia baik-baik saja ?" tanya Gunawan.


"Nona Kyara baik-baik saja, tapi....mmm...saat ini, nona Kyara sedang hamil."


"Apa....!!!"


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2