Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
PDKT


__ADS_3

Semenjak pertemuannya di bandara, hubungan Ajay dan Cecilia pun semakin erat terjalin. Sesekali Ajay mengunjungi apartemen Cecilia hanya sekedar mampir untuk makan siang. Terlebih lagi sampai saat ini Andin tak pernah sekalipun memberikan kabar.


"Ayo tebak...!" ujar Ajay yang tiba-tiba menutup mata Cecilia dari belakang.


Sore itu, seperti biasanya, Cecilia sedang membersihkan meja bekas pelanggannya makan. Tiba-tiba saja seseorang menutup matanya dari belakang. Sejenak Cecilia kaget, tapi begitu mendengar suara yang sudah tidak asing lagi, dia pun tersenyum.


Cecilia menyimpan lap tangannya. Dia pun meraba tangan yang sedang menutupi wajahnya.


"Aaahh..., ini pasti Edo...!" ujar Cecilia, sengaja menebak orang yang salah.


"Ish.., kamu ini...!" Ajay melepaskan tangannya, "Sudah dua minggu kita sering berjumpa, masak kau tak mengenali suaraku..!" protes Ajay dengan wajah cemberut.


Cecilia tak tahan melihat ekspresi Ajay yang seperti anak kecil sedang merajuk.


"Waduh... waduh...my big baby...! Ngambek ya...!" ujar Cecilia mencubit kedua pipi Ajay.


Ajay pun mendaratkan bokongnya di atas kursi, "Hhh..." desahan napasnya terasa berat.


"Kau kenapa ?" tanya Cecilia ikut duduk berhadapan dengan Ajay.


"Sudah 2 minggu lebih Andin pergi, tapi dia sama sekali tidak pernah memberiku kabar.." ujar Ajay. Suaranya terdengar berat menahan kesedihan.


"Sepertinya kau sangat mencintainya, sampai baru ditinggal 2 minggu saja, sudah gelisah seperti ini.." ujar Cecilia. Ada nada kecewa dalam suaranya.


Ajay tersenyum, "Entahlah..., yang aku tahu, aku sangat merindukan bercinta dengannya...!"


Tanpa merasa malu, Ajay mengutarakan hal yang tabu untuk diceritakan kepada orang lain.


Sejenak Cecilia menatap tajam netra Ajay. Mencoba mencari sesuatu di matanya. Apa dia tulus mencintai Andin, atau hanya sekedar memiliki ketertarikan pada fisiknya saja...? Seandainya engkau bisa melirikku sedikit saja, aku pun bisa memenuhi semua kebutuhanmu, baik jasmani dan rohani...batin Cecilia.


"Ayolah...! Mungkin memang Andin sedang bersenang-senang melepaskan penatnya selama dia kuliah satu semester ini. Berilah dia sedikit kebebasan, bukankah ada aku yang bisa menemani liburanmu..?" ujar Cecilia.


Ajay tersenyum, "Ya..., kau benar. Malam ini, maukah kau dinner denganku...?" tanya Ajay.


"Apa ini sebuah ajakan untuk berkencan ?" gurau Cecilia.


"Ha...ha...ha...! Anggap saja seperti itu ! Kau single, aku single untuk saat ini..., lalu kenapa tidak kita buat menjadi couple...?" ujar Ajay seraya mengedip-ngedipkan matanya.


"Ish...! Kau ini...!" Cecilia menonyor pelan bahu Ajay. Mereka pun tertawa bersama.


"Bagaimana ?"tanya Ajay lagi.


Cecilia tersipu malu, dia pun mengangguk, menerima ajakan Ajay.


"Baiklah.., aku jemput kamu jam 7 malam !" ujar Ajay.


"Oke...!"


***


"Bagaimana Kya, apa kau sudah punya keputusan ?" tanya bu Hana.

__ADS_1


"Kya mohon maaf, bu. Sampai detik ini, calon suami Kya, belum memberikan jawaban. Jika Kya, mengambil keputusan sendiri, Kya takut salah, bu.." jawab Kyara.


"Hhhh..." bu Hana menghela napasnya. "Padahal ibu berharap banyak padamu, nak...!" ujarnya lirih.


"Kya..., Kya akan coba tanyakan sekali lagi, bu..! Mudah-mudahan dia mengizinkan Kya melanjutkan pendidikan Kya.." jawabnya.


"Baiklah..., ibu tunggu kabar baiknya, ya sayang...!"


"Baik bu. Kalau begitu, Kya permisi...!"


Kyara pun kembali ke tempat kerjanya. Tiba di ruang bermain, Anti menodongnya dengan pertanyaan.


"Gimana Kya, apa kata bu Hana ?" tanya Anti.


"Beliau hanya menanyakan keputusanku, mbak.." jawab Kyara.


"Lalu, kamu bilang apa ?" tanya Anti lagi.


"Aku hanya bilang, aku sedang menunggu jawaban dari calon suamiku." jawab Kyara enteng.


"Ish, kamu ini.. ! Kenapa tidak kamu terima saja tawaran bu Hana !" ujar Anti, kesal.


Sejenak Kyara diam, "Aku hanya takut saja, mbak."


"Takut apa ?" tanya Anti penasaran.


"Aku takut jika di tengah jalan, tiba-tiba saja Ajay mengajakku menikah. Jika itu terjadi, maka kuliahku akan terhenti setengah jalan, dan pada akhirnya, aku akan mengecewakan pihak panti yang telah membiayaiku.." jawab Kyara lirih.


"Aku mengerti.." ujar Anti seraya menggenggam tangan Kyara.


***


Pukul 6 sore, Ajay melajukan motornya menuju apartemen Cecilia. Dia sengaja menggunakan motor agar lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Maklumlah, sekarang malam minggu. Sudah bisa dipastikan, jika jalanan pasti akan ramai oleh kendaraan.


Dan perkiraan Ajay pun tidaklah salah. Karena padatnya kendaraan di sepanjang jalan, akhirnya Ajay tiba di tempat Cecilia pukul 19.25.


Cecilia sudah menunggu Ajay di lobi apartemen. Dia sudah tampak rapi dengan dress selutut berwarna pink. Dia sedikit memoles wajahnya dengan riasan yang tampak natural. Rambut pirangnya yang panjang dia kepang menjadi dua dan membiarkan beberapa helai bagian depan tergerai begitu saja.


"Maaf aku terlambat !" ujar Ajay seraya membetulkan jam tangannya yang hampir terlepas, Ajay menunduk sejenak.


Deg...deg...deg...


Kya....! batinnya. Ajay menggosok kedua matanya, memastikan jika yang berada di hadapannya adalah Kyara. Sekilas Ajay tersenyum, melihat bayangan Kyara sedang berdiri di hadapannya...


"Ah, tidak apa-apa...!"


Suara Cecilia membuat senyuman Ajay sirna seketika. Dia bukan Kya...! batinnya. Entah kenapa terkadang ada beberapa hal dalam diri gadis itu yang mengingatkannya pada Kyara.


Ajay menarik napasnya panjang, mencoba melepaskan bayangan Kyara dan kembali menghadapi kenyataan jika orang yang berdiri di sampingnya adalah orang yang berbeda. Dia Cecilia, Jay...bukan Kyara..! Ayo sadarlah...! batin Ajay.


Cecilia tersenyum, "Bagaimana penampilanku...?" tanyanya seraya berputar-putar menunjukkan dress nya kepada Ajay.

__ADS_1


"Cantik dan menarik...!" ujar Ajay seraya mengacungkan kedua jempolnya.


Cecilia tertawa renyah, "Baiklah pangeran, sekarang kau akan membawaku kemana ?" gurau Cecilia.


"Aku akan mengajakmu makan malam di restoran terkenal, setelah itu kita pergi nonton. Bagaimana tuan putri, apa kau siap ?" tanya Ajay seraya mengulurkan tangannya.


"Dengan senang hati..." jawab Cecilia menyambut uluran tangan Ajay.


Mereka pun pergi untuk makan malam romantisnya di salah satu restoran milik eyang Mahesa.


Tiba di restoran. Ajay mengajak Cecilia pergi ke salah satu private room yang ada di restoran itu.


Cecilia menatap tak percaya pada ruangan yang telah didekorasi dengan sangat indahnya. Tampak kelopak bunga mawar bertebaran di atas hamparan karpet merah yang menuju meja makan. Ya.., meja yang akan mereka jadikan tempat makan malamnya. Dua buah kursi saling berhadapan. Di atas meja terdapat vas yang berisi sekuntum mawar merah yang segar. Di keempat sudut ruangan itu terdapat lilin yang menyala samar.


Aah ternyata dia orang yang sangat romantis... batin Cecilia.


"Apa kau suka ?" bisik Ajay di telinga Cecilia.


Cecilia memejamkan matanya merasakan kehangatan hembusan napas Ajay di sekitar tengkuknya. Dia pun menoleh, tampak wajah Ajay tepat berada di hadapannya dengan jarak sekitar 2 atau 3 centi. Sejenak Cecilia memejamkan matanya, mengira jika Ajay hendak menciumnya. Namun sayang, ternyata Cecilia salah duga.


"Kemarilah...!" ujar Ajay yang telah duduk di atas kursi itu.


Cecilia terhenyak, dia pun membuka matanya, dan terkejut mendapati Ajay telah duduk di kursi itu.


Ish..., apa yang sebenarnya aku pikirkan...?" rutuk Cecilia dalam hati.


Cecilia pun berjalan mendekati Ajay. Dia kemudian duduk di kursi yang telah di sediakan. Musik mengalun syahdu bertepatan dengan dia mendaratkan bokongnya di atas kursi itu.


Tak berapa lama, beberapa pelayan datang untuk menghidangkan makanan terbaik yang ada di restoran itu. Setelah semuanya siap. Mereka pun menyantap makan malamnya diiringi musik romantis yang mengalun merdu.


"Mau berdansa ?" tawar Ajay.


Cecilia mengangguk. Mereka kemudian berdiri dan saling berhadapan merapat. Ajay meraih kedua tangan Cecilia dan meletakkannya di atas pundaknya. Sedangkan tangannya sendiri, dia letakkan di pinggul Cecilia.


Semakin erat dan merapat, hingga mereka pun bisa saling merasakan hembusan napas masing-masing.


Ajay mendekatkan bibirnya, Cecilia tertegun menatap bibir sexy itu. Tidak bisa dipungkiri, dia pun ingin mengecap kenyalnya bibir tebalnya Ajay. Tapi tunggu..! Jika aku bertindak terlalu jauh saat ini, maka dia akan menganggapku cewek gampangan. Aku harus menahan diri, dan aku harus berpura-pura untuk tidak tertarik padanya. Batin Cecilia.


Cecilia memalingkan wajahnya saat Ajay hendak menciumnya. Alhasil, Ajay pun hanya mencium udara.


"Bu... bukankah kita akan pergi nonton ?" tanya Cecilia, mencoba menghindari keadaan yang bisa membuat keyakinannya runtuh.


"Ah, ya...! Kita akan pergi ke bioskop sekarang. Kau suka nonton film apa ?" tanya Ajay.


"Aku suka film horor ! Ayo, kita nonton film La Casa, aku dengar, filmnya sudah tayang, loh...!" ujar Cecilia seraya menarik tangan Ajay untuk segera pergi ke bioskop.


Horor....!! batin Ajay.


Dengan perasaan tak karuan, Ajay pun mengikuti langkah Cecilia.


Bersambung...

__ADS_1


yuk readers...., vote, like n komen lagi yuk


🙏🙏🤭


__ADS_2