
Malam ini Bagas menginap di rumah Aaron. Orang tua Aaron sedang mengunjungi kakaknya Aaron yang berada di Singapore. Karena itu, Aaron meminta Bagas untuk menemaninya di rumah.
"Hey... cewek lo apa kabar, Ar....?" tanya Bagas sambil memainkan gitarnya.
Aaron yang sedang mengangkat barbel langsung berhenti, "Siapa...? Kya...?" tanyanya.
"Siapa lagi...." jawab Bagas.
"Ha...ha...ha..., seandainya benar dia cewek gue, mungkin pertanyaan lo nggak akan sampai menyinggung perasaan gue..." jawab Aaron lebay.
"Ha...ha...ha... bisa aja lo...!" mereka berdua pun tertawa lepas.
***
Sementara itu, di kamar kost Kyara...
Kyara mulai bangkit. Dia mengambil bathrobe yang tergantung di dekat pintu, kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kyara menyalakan shower, dan membiarkan air dingin shower mengguyur seluruh tubuhnya.
Kyara terduduk di bawah siraman air shower. Seperti biasanya, dia menekuk kedua lututnya dan menggoyang-goyangkan badannya. Tatapan matanya terlihat kosong. Perasaannya benar-benar kacau.
Astaghfirullah....Ya Tuhan.... apa yang telah aku lakukan...?! Untuk kesekian kalinya, aku hanya menjadi pemuas nafsun laki-laki bejat itu. Aku benar-benar kotor...Tuhan... Aku benci tubuhku...! Aku benci...!!
Kyara mengguyur tubuhnya dengan sabun cair. Menggunakan sponge bath, dia menggosok tubuhnya dengan kuat, sehingga tampak kemerahan di seluruh permukaan kulitnya. Dia merasa jijik akan tubuhnya, dan berharap apa yang dilakukannya bisa mengurangi sedikit kekotoran yang melekat di tubuhnya. Meskipun dia sadar, bahwa hal itu mustahil. "Aarrhhh..." Kyara berteriak dan melempar sponge bath tersebut. Kembali dia menundukkan kepalanya, menangis tersedu-sedu di bawah guyuran dinginnya air shower.
Cukup lama Kyara terduduk di bawah siraman air shower, hingga tiba-tiba, dia merasakan kram di perutnya. Astaghfirullah.... ada apa dengan perutku, kenapa rasanya sakit sekali....
Kyara memegang perutnya, "Aarrgghh..." dia sedikit mengerang, merasakan sakitnya yang dahsyat. Segera dia bangkit, membersihkan tubuhnya, kemudian mematikan kran shower.
Saat hendak melangkah untuk mengambil bathrobe, dia merasakan cairan hangat keluar dari organ intimnya. Kyara menunduk, darah...! Ya Tuhan... kenapa ada darah yang keluar...apa yang terjadi denganku... apa ini pengaruh dari... astaghfirullah... Kyara segera memakai bathrobe, kemudian dia keluar dari kamar mandi.
Kyara melangkahkan kakinya... syerr darah segar kembali mengalir di kedua pangkal pahanya. Semakin cepat dia melangkah, semakin banyak pula darah yang keluar. Tiba-tiba..."Aargghhhh...sakit sekali Tuhan..." gumam Kyara dengan bibir bergetar menahan rasa sakit. Rasa kram di perutnya semakin tak tertahankan. Bulir keringat dingin mulai berjatuhan membasahi tubuh Kyara.
__ADS_1
Saat hendak membuka pintu kamar, Kyara merasakan sesuatu yang bergumpal meluncur bebas melalui pangkal pahanya... apa ini, Ya Tuhan...gumpalan darah... batinnya. Astaghfirullah...aarghh, Ya Tuhan... tolong aku....
Dengan kepala yang semakin terasa berat, Kyara pun membuka pintu kamar. Namun kakinya sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya. Dan pada akhirnya, Kyara terjatuh ke lantai. Dengan sedikit kekuatan yang masih tersisa, Kyara merangkak, mencoba meraih ponselnya yang berada di atas meja rias.
Kyara melihat jam yang tertera di layar ponsel, pukul 00.15. Ya Tuhan.... semoga Sisil belum tidur.... Kyara menekan nomor kontak Sisil, "Tut...tut...tut.." telpon tersambung, tetapi tidak diangkat. Kyara kembali menghubungi Sisil... Aarghh... Tuhan....sakit sekali... tangan satunya memegangi perutnya, bertahanlah sayang.... bunda mohon... bertahanlah...!!
"Hallo... Ra...!" terdengar suara serak khas orang bangun tidur di sebrang telpon.
"Sil....to...long....sa...sa...kit...aarghh...tut...tut...tut"
"Hallo....hallo...! Ra...hallo...!" Ya Tuhan.... ada apa dengan Kyara... Sisil segera bangkit dari tempat tidurnya. Dia menyambar jaketnya yang tergantung di balik pintu kamarnya. Segera dia menuju kamar kost Kyara. Tak lupa dia mengunci kamar kostnya terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kamar kost Kyara.
"Tok...tok...tok.." Sisil mengetuk pintu kamar kost Kyara pelan, takut membangunkan penghuni kost yang lainnya. Maklum saja, ini sudah tengah malam. Sisil meraih gagang pintu, menekannya.."klek" pintunya tidak terkunci, apa Kyara lupa mengunci pintunya... batin Sisil.
Sisil masuk dan segera menutup kembali pintunya. Ish... kebiasaan nih Kyara, suka memadamkan lampu kalau malam-malam... kan gelap jadinya...huh, dimana lagi nih saklarnya...? Tangan Sisil terus meraba-raba dinding. Ah... ketemu juga... "Trek" lampu menyala, dan .... "Masya Allah.... darah..." gumam Sisil saat mendapati ceceran darah di sepanjang lantai. Sisil mengikuti ceceran darah tersebut dengan matanya, terlihat dari mulai depan pintu kamar mandi hingga kamar..."Kyara.." gumamnya
Segera Sisil berlari menuju kamar Kyara. Sesampainya di depan pintu kamar yang terbuka, Sisil melihat Kyara tergeletak di lantai dengan bersimbah darah di bagian kakinya. "Astaghfirullah.... Ra...!" Sisil segera berlari menghampiri Kyara. Dia memegang kepala Kyara, dan meletakkannya di pangkuannya, "Ra...bangun Ra...!" Sisil menepuk pipi Kyara pelan, berharap hal itu bisa menyadarkan Kyara. Tapi sia-sia, Kyara tetap tak sadarkan diri, wajahnya terlihat pucat. Rambutnya basah, sekujur tubuhnya terasa dingin. Ya Tuhan... bagaimana ini... apa yang harus aku lakukan... kepanikan mulai melanda Sisil.
****
"Ar...lo nggak hubungi dia ?" tanya Bagas.
"Hey..! Kenapa jadi lo yang bersemangat ? Biasanya lo cuek urusan cewek...!" jawab Aaron.
"Bukannya gitu Ar, terakhir bertemu, perasaan dia kan lagi kacau. Sampai detik ini, nggak ada kabarnya. Lo nggak takut dia bunuh diri..?" ujar Bagas seenaknya.
"Huss...!! Lo ini...! Jangan ngaco deh... ! Kyara bukan cewek yang tipis imannya ya...!" jawab Aaron
"Who know...?!" ujar Bagas sambil menggerakkan kedua bahunya.
"Ah...lo mah malah bikin hati gue kacau aja.... Tapi, beneran nih...ganggu nggak ya...? Ini kan sudah malam..!" jawab Aaron ragu.
__ADS_1
"Coba aja dulu...!" kata Bagas. Entah kenapa hatinya merasa tak tenang. Bayangan Kyara yang sedang menangis terus membekas dalam ingatannya.
"Oke...!" jawab Aaron. Setelah itu, dia menekan nomor kontak Kyara.
***
Sisil semakin panik melihat darah terus mengalir di kedua paha Kyara. "Ya Tuhan.... Ra... apa yang terjadi...? Sadar Ra...!" gumamnya sambil terus memeluk Kyara. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tiba-tiba....
"Drrt...drrt... drrt.." terdengar bunyi ponsel bergetar. Sisil melihat ke arah ponsel Kyara. "Aaron.." gumamnya. Segera Sisil mengangkat sambungan telpon dari Aaron.
"Hallo...!" (Sisil)
"Hay Kya...! Kenapa belum tidur...?" (Aaron)
"Tu...tuan..tolong saya...!" (Sisil)
"Siapa kamu...? Mana Kyara...?!" (Aaron) tampak cemas.
"Saya Sisil.... tolong kemari tuan...! Kyara pingsan, di...dia berdarah...!" (Sisil) suaranya bergetar penuh kepanikan.
"Apa...!! Oke, aku segera ke sana...!" Aaron memutuskan sambungan telponnya, dia terlihat panik.
"Kenapa Ar...?" tanya Bagas heran melihat tingkah Aaron setelah menelpon Kyara.
Sesuatu terjadi pada Kya...! Ayo, cepat Gas...!" Aaron melemparkan kunci mobilnya ke arah Bagas, kemudian menyambar jaket yang tergantung. Begitu pula dengan Bagas. Mereka pun segera pergi....
bersambung....
Author ngebut nih gaiss ngetiknya...🤭🤭
Semoga bisa segera di up ya...
__ADS_1
Jangan lupa, like vote n komennya...🙏🙏
satu episode lagi untuk hari ini ya....🤗🤗