
Assalamualaikum readers....
Mohon maaf, author telat up ya...π
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bagas kembali menarik napas, panjang. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi. Nona, kemana aku harus mencarimu...?
"Mas !" seru Bagas sambil melambaikan tangannya.
Seorang pelayan menghampirinya, "Ada yang bisa saya bantu, pak ?"
"Billnya mana, mas ?"
"Oh, sebentar pak, saya ambil dulu." pelayan itu pergi ke meja kasir untuk mengambil bill. Tak lama kemudian, dia menyerahkannya kepada Bagas.
Setelah membayar semuanya, Bagas menuju tempat parkir dan melajukan motornya ke bengkel. Di perjalanan, terdengar azan maghrib berkumandang. Bagas segera membelokkan motornya ke masjid terdekat untuk melaksanakan solat maghrib.
Ya Tuhan, beri hamba petunjukMu untuk menemukan Kyara..., pinta Bagas dalam do'anya. Selesai solat, Bagas melanjutkan perjalanannya menuju bengkel.
Tiba di bengkel. Setelah memarkirkan motornya, Bagas masuk ke ruang kerjanya, kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kedua tangannya dia jadikan bantal. Matanya terpejam, pikirannya masih terus dipenuhi pertanyaan, kemana sebenarnya Kyara pergi...?
Wawan yang melihat ekspresi Bagas, merasa cemas. Abang kenapa ya...? Kelihatannya kusut banget, apa lagi punya masalah...? batin Wawan.
Wawan membuat secangkir kopi hitam kesukaan Bagas. Kemudian membawanya ke ruang kerja.
Tok...tok...tok...
"Bang ! Wawan boleh masuk ?" tanya Wawan sambil mengetuk pintu
Bagas mengerjapkan matanya, begitu mendengar suara Wawan, "Masuk, wan...!"
Ceklek....
Wawan membuka pintu, "Ini bang, Wawan bawakan kopi kesukaan abang." ujar Wawan seraya menyodorkan cangkir kopi tersebut.
"Terima kasih, Wan." Bagas menerimanya, kemudian menyeruput kopinya tersebut.
"Bang...! Maaf nih sebelumnya, Wawan lihat kok abang hari ini kusut banget, lagi ada masalah ya...?" tanya Wawan hati-hati, karena takut menyinggung perasaan Bagas.
Bagas meletakkan cangkir kopinya di atas meja, "Kyara hilang, Wan." jawabnya, lesu.
"Kyara ! Kyara siapa, bang ?" Wawan heran, karena selama ini Bagas tidak pernah menyebut nama seorang wanita, selain mbak Indah, kakaknya.
"Teman abang yang waktu di rumah sakit." jawab Bagas.
"Oh... bidadari itu, bang ! Ya Tuhan, kok bisa bang ? Berarti, bidadarinya sudah sadar dong...! Abang sudah cari belum di sekitar rumah sakit ? Atau tanya ke teman-temannya...?" ujar Wawan terus nyerocos.
__ADS_1
"Ish, kamu tuh..., kalau ngomong sudah kayak kereta api saja !" tegur Bagas. "Abang sudah cek rekaman CCTV. Dia pergi pakai taksi. Abang sudah tanya ke temannya, tapi ternyata dia tidak menemui temannya. Abang nggak tahu harus mencarinya kemana ?"
"Hmm....itu mah cetek bang ! Gitu aja, kok repot !" ujar Wawan, menganggap sepele masalah yang sedang dihadapi bosnya.
"Maksud kamu ?" tanya Bagas, heran.
"Abang tinggal tanya saja sama sopir taksinya. Abang sudah catat plat nomornya, kan ?" tanya Wawan.
"Astaghfirullah...! Abang lupa, Wan ! Abang pergi dulu, ya ?" ujar Bagas tergesa-gesa.
"Mau kemana, bang ?" tanya Wawan, heran.
"Ke rumah sakit, mau lihat rekaman CCTV lagi, abang mau catat plat nomornya." jawab Bagas.
"Ih abang, jangan norak deh ! Ini sudah malam, besok aja !" cegah Wawan.
"Tapi, Wan...?"
"Iya, Wawan tahu, abang tuh lagi cemas banget, tapi harus tahu waktu juga, bang ! Apa kata pihak rumah sakit nanti, kalau abang datang jam segini cuma buat lihat rekaman CCTV doang. Besok Wawan temani deh ke rumah sakit. Lagian, rekamannya nggak bakalan hilang, bang. Kalau sekarang, yang ada abang malah gangguin orang doang !"
Bagas menggaruk tengkuknya yang tak gatal, benar juga omongan nih bocah... batinnya. Bagas tersenyum mesem, merasa malu dengan sikapnya yang terlihat sangat berlebihan.
***
Malam mulai menjelang. Kyara baru tiba di depan rumahnya. Setelah membayar ongkos ojek, perlahan Kyara mulai mendekati pintu rumahnya. "Akhirnya, aku pulang," gumamnya lirih. Kyara menarik napasnya, panjang, dan menghembuskannya secara perlahan.
Tok...tok...tok...
Kyara mengetuk pintu, "Assalamualaikum...!"
"Waalaikumsalam, antos sakedap..!" ( Waalaikumsalam, tunggu sebentar ! ) terdengar langkah seseorang dari dalam menghampiri pintu.
Ceklek...
Pintu terbuka. Tampak seorang wanita tua berdiri di ambang pintu.
"Ibu.." gumam Kyara lirih, tak kuasa menahan air matanya.
"Ya Allah..., Kyara...! Ieu teh Aneng, putra ibu tea...?" ( Ya Allah... Kyara ! Ini Aneng, anak ibu ? )
Kyara mengangguk, "Muhun ibu, ieu Kyara..., Anengna ibu." ( Iya bu, ini Kyara..., Anengnya ibu. )
"Masya Allah ! Yap kadieu bageur..., ibu mani sono !" ( Masya Allah ! Kemari sayang..., ibu sangat rindu ) kata bu Ratna sambil merentangkan tangannya.
Kyara menghambur ke dalam pelukan ibunya. Pelukan terhangat di dunia. Kyara sudah tak kuat lagi menahan air matanya, dia pun terisak di pelukan ibunya.
"Saha ambu ?" ( Siapa bu ? ) tanya suara laki-laki yang tak lain adalah pak Ahmad, ayah Kyara.
__ADS_1
"Ieu aya Aneng, bapana...! Yap kadieu...!" ( Ini ada Aneng, yah...! Kemarilah...! ) jawab bu Ratna.
Pak Ahmad segera keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat sangat datar. Masih teringat jelas dalam benaknya, bagaimana keras kepalanya Kyara saat dilarang pergi merantau ke kota B. Tidak dipungkiri, hatinya masih sangat sakit mengingat kejadian itu.
"Akhirnya kamu ingat juga sama kedua orang tuamu, Kya !" ujar pak Ahmad, ketus.
"Huss ! Bapana..., ulah kitu ! Kieu-kieu oge, budak urang ngan hiji-hijina ieu teh !" ( Huss ! Ayah..., jangan sepert itu ! Bagaimanapun juga, dia anak kita satu-satunya ! ) tukas bu Ratna.
"Ya ! Anak tidak tahu diri !" gerutu pak Ahmad sambil melangkahkan kakinya, hendak kembali ke kamar.
"Ayah, maafin Kya...?" gumamnya lirih.
Pak Ahmad kembali membalikkan badannya, "Kenapa Kya ? Apa kamu harus menunggu kami terluka dulu, baru kamu datang ? Apa kamu tidak merasakan sakitnya hati kami, ketika harus menerima keputusanmu yang tega meninggalkan kami yang sudah tua renta ini, hanya demi cita-citamu ! Apa sekarang, cita-citamu sudah tercapai, nak ?!" tanya pak Ahmad, lembut namun penuh ketegasan.
Kyara semakin terisak dalam pelukan ibunya.
"Atos atuh bapana, budak balik geuning kalah diambek !" ( Sudah yah, anak pulang kok malah dimarahi ! ) ujar bu Ratna.
"Terserah ibu !" pak Ahmad pergi meninggalkan istri dan anaknya.
"Sok neng, kalebet ! Dimana barang-barangna, ku ambu wang pangnyandakkeun !" ( Mari masuk, neng ! Dimana barang-barangnya, biar ibu yang bawa ! )
Kyara menggelengkan kepalanya, "Aneng teu ngabantun nanaon, bu...!" ( Aneng nggak bawa apa-apa, bu ! )
"Astaghfirullah ! Kunaon neng...? Aya masalah di kota ?" ( Astaghfirullah ! Kenapa neng ? Apa ada masalah di kota ? )
Kyara semakin menangis dalam pelukan ibunya.
"Ya sudah... sudah atuh neng, kalau belum mau cerita mah, ibu tidak akan memaksa. Yang penting kamu sudah pulang dalam keadaan selamat." bu Ratna mencoba menenangkan Kyara.
"Iya, bu. Kya sudah pulang, Kya nggak mau tinggal di kota lagi." ujar Kyara dalam isak tangisnya.
Bu Ratna mengusap punggung Kyara, "Alhamdulillah, kamu sudah mau pulang, nak. Sudah mau tinggal sama kami lagi. Ibu dan ayah sangat merindukanmu."
"Apa ayah masih marah sama Aneng, bu ?" tanya Kyara, merasa bersalah.
Bu Ratna melonggarkan pelukannya, dia mengangkat dagu Kyara, menyeka air mata Kyara. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ayah mungkin kecewa, tapi dia sangat menyayangimu, nak. Masuk dan beristirahatlah !"
Kyara mengangguk, dan segera pergi ke kamarnya. Aku pulang ! Aku sudah pulang dan tidak akan pernah kembali lagi. Satu-satunya keinginanku adalah mengembalikan senyum ayah dan ibu. Aku janji, aku tidak akan mengecewakannya kembali, aku tidak akan menoreh luka lagi di hati mereka. Aku tidak akan pernah membuat mereka malu lagi..., aku janji !
Bersambung...
Terima kasih karena sudah setia menunggu kelanjutan ceritanya.
Jangan lupa like, vote n komennya...
Makasih atas dukungannya...ππ
__ADS_1