Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Curiga


__ADS_3

Kyara duduk termenung di bawah pohon beringin. Raganya memang berada di sini, namun entah jiwanya. Pandangannya menatap kosong ke arena taman bermain. Tanpa terasa, sudah hampir setahun dia menjalani ikatan pertunangan ini.


Omongan ayahnya tentang tanggal pernikahan masih terus mendengung di telinganya. Bukan...! Bukan maksud Kyara untuk mengulur waktu, tapi kesepakatannya memang sudah seperti itu.


"Hhhh...."


Kyara menghela napasnya. Mencoba menenangkan hati yang terus rapuh karena ketidakpastian. Semalam Bima menelpon, dan tiba-tiba saja dia menyuruh Kyara untuk segera menikah dengan Ajay. Kyara tidak mengerti maksud perkataan Bima, namun dari nada bicaranya, Kyara bisa merasakan jika Bima memiliki alasan yang kuat kenapa dia melakukan hal itu.


"Bima mohon kak, segeralah menikah dengan kak Ajay ?"


"Tapi Bim, kakak sudah janji jika pernikahannya akan dilaksanakan setelah kakakmu lulus kuliah."


"Tapi kak, tidak ada yang tahu ke depannya akan seperti apa..?"


"Maksud kamu...?"


Hening...


"Bim...! Bima...! Kamu masih dengar suara kakak ?"


"I...iya...! Bima...mmm, Bima cuma ingin kak Kya segera tinggal di sini...! Biar nanti, Bima punya teman curhat..!"


"Ish..., kamu ini..! Masak hanya gara-gara nggak ada teman curhat, kamu jadi maksa kakak nikah..! Meskipun kakak di sini, tapi kan kamu bisa telpon kakak kalau mau curhat."


"Pokoknya kakak harus segera nikah ! Kalau nggak..!"


"Kalau nggak, kenapa...?


"Bima nggak mau tahu, kakak harus segera tinggal di sini..! Harus...!"


Tut...tut...tut...


"Hallo...! Bim...! Bima...!"


Tak ada jawaban.


Ish..., sebenarnya apa maksud Bima...?


"Duuaallll....."


Tiba-tiba tepukan kuat di pundak Kyara membuyarkan lamunan Kyara tentang percakapannya dengan Bima semalam.


"Astaghfirullah...!" Kyara menoleh, tampak Kiki sedang tertawa senang karena berhasil mengagetkannya.


"Aih Kiki..., kenapa bikin bunda kaget..? Sampai mau copot jantung bunda." ujar Kyara sambil memegang dadanya, merasai degup jantungnya yang berdetak kencang.


"Ha...ha...ha..."

__ADS_1


Kiki sang gadis cilik pemilik pipi chubby itu masih tertawa renyah membuat Kyara semakin gemas melihatnya.


"Eh..., kamu malah ngetawain bunda ya...! Ayo sini..! Bunda hukum kamu...!" ujar Kyara sambil merangkul gadis cilik itu, kemudian menggelitiknya.


"Haa...ha...ha...., ampun buna....stop...ampun...ha..ha...!" Kiki tertawa sambil terus berteriak.


Kyara semakin gemas. Ah seandainya gadis kecil itu tidak pernah hadir dalam hidupnya, Kyara tidak tahu harus seperti apa menjalani hari-harinya.


***


Andin duduk menikmati senjanya di tepi jendela kamarnya. Pikirannya berkelana pada kejadian beberapa hari ke belakang ini. Semenjak dia pulang dari liburannya, dia sama sekali belum pernah menikmati waktunya bersama Ajay. Hanya sesekali bertemu di kampus, dan itu pun jika Andin yang mencarinya ke kelas Ajay. Namun tiba di kelas, Ajay selalu tampak sibuk, sehingga membuat Andin diacuhkan begitu saja.


Andin mencoba untuk bersabar dan memahami kesibukan Ajay dalam menjalani bimbingan skripsinya. Namun ada hal yang membuat Andin tak habis pikir, kenapa Ajay tak pernah punya waktu untuk mengangkat telponnya. Ya...! Wajar jika dia sibuk, tapi apa harus sampai tidak mengangkat telpon segala...?? pikir Andin.


"Hhh...."


Helaan napas Andin terasa berat. Terlebih lagi saat dia teringat ucapan Mita kemarin.


"Ndin, gue lihat Ajay lagi makan bareng noh ma Cecilia di kantin...!" ujar Mita saat dia kembali dari toilet.


"Oh ya...! Ya, sudahlah...! Biarkan saja.." Andin tak menghiraukan ucapan Mita. Dia kembali fokus membaca modulnya.


"Lo harus hati-hati sama dia, Ndin..!" Mita kembali berbicara sesuatu yang menurut Andin tidak masuk akal.


"Mungkin mereka hanya kebetulan ketemu saja, Mit !" jawab Andin mencoba membela kekasih dan sahabatnya.


"Maksud kamu...?" Andin bertanya seraya mengernyitkan dahinya karena tak mengerti akan ucapan Mita.


"Ini sudah keempat kalinya aku melihat dia makan bareng di kantin. Masak iya, kejadian yang berulang sebanyak itu, hanya sebuah kebetulan saja...! Aku curiga, jangan-jangan mereka ada main di belakang kamu...! Apalagi kata Laura..., dia sempat mergokin mereka jalan bareng waktu kamu liburan di L. A...."


Andin terhenyak, tanpa sadar dia menjatuhkan bukunya. "Apa kamu bilang...??" teriaknya.


"Ups...! Sorry Ndin...!" ujar Mita lirih. Duh ni mulut...! Kenapa harus ember sih...!! gerutu Mita dalam hati merutuki kebodohannya yang tidak bisa menjaga rahasia. Padahal dulu Laura berwanti-wanti untuk merahasiakan hal ini dari Andin.


"Katakan..., apa yang lo tahu tentang Ajay dan Cecilia ?"


Laura yang baru datang ke kelas langsung ditodong pertanyaan yang menohok hatinya.


Deg...deg...deg...


Detak jantung Laura mulai tak normal berirama. Dia melirik ke arah Mita yang menatapnya sendu sambil merapatkan kedua telapak tangannya.


"Hhhh..."


Laura menarik napas panjang. Dia pun mulai mengerti situasi yang terjadi pada kedua sahabatnya. "Duduklah..! Akan aku ceritakan semuanya, tapi berjanjilah, kau harus bisa menjaga emosimu..!"


Mereka bertiga pun duduk melingkar. Andin sudah tidak sabar ingin mendengar sebuah kebenaran dari mulut sahabatnya.

__ADS_1


"Sebenarnya, saat kamu sedang berada di L.A, aku sempat beberapa kali memergoki Ajay sedang makan bareng dengan Cecilia. Awalnya aku hanya mengira ini mungkin sebuah kebetulan. Tapi di saat aku mergokin mereka untuk yang kesekian kalinya, aku mulai iseng mengikuti mereka. Saat itu, setelah mereka makan, mereka pergi nonton, dan pulang bersama ke rumahnya Ajay. Cukup lama aku menunggu Cecilia keluar dari rumahnya Ajay, tapi menjelang pukul 9 malam pun, aku tidak melihat bayangan Cecilia keluar dari sana."


Laura menarik napasnya kembali, kemudian menghembuskannya perlahan. "Maaf Ndin, saat itu aku tidak bisa mengambil bukti apa pun, karena ponselku lowbat. Aku hanya sempat mengambil fotonya saat mereka sedang makan." ujar Laura sambil menyerahkan ponselnya.


Andin mengambil ponsel milik Laura. Dia pun menggulirkan beberapa foto dalam galeri tersebut. Di sana tampak Ajay dan Cecilia sedang makan di sebuah restoran milik eyang Mahesa.


Andin menarik napasnya. Hanya makan saja, dan kelihatan normal, tidak tampak seperti seorang pasangan. Ini belum bisa dijadikan bukti jika Ajay berselingkuh darinya. Terlebih lagi, Cecilia adalah sahabatnya. Tidak mungkin jika Cecilia berbuat sesuatu yang akan menghancurkan persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil.


Andin pun mengembalikan ponselnya, "Maaf Ra, tapi aku belum bisa percaya sebelum aku membuktikannya dan melihat dengan mata kepalaku sendiri." ujarnya lirih.


Laura kembali menghela napasnya. "Semuanya terserah kamu, Ndin. Aku sudah mengatakan sejujurnya. Tapi apa kamu sama sekali nggak curiga, Ndin ? Kenapa, tiba-tiba saja Cecilia pindah ke kampus kita ? Padahal, kamu sendiri tahu, jika jurusan pendidikan yang diampunya dulu, itu tidak ada di kampus kita. Bahkan dia sampai rela mengulang kembali dari awal ? Apa itu tidak aneh, Ndin ?"


Andin diam. Tak berhasil menemukan jawabannya.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Andin.


"Sayang...! Apa mama boleh masuk...?" tanya nyonya Mira dari balik pintu.


"Iya, masuk ma...! Pintunya tidak dikunci..." teriak Andin.


Ceklek


Pintu terbuka. Nyonya Mira menghampiri Andin yang sedang duduk di tepi jendela.


"Kamu lagi ngelamun ya..! Dari tadi mama ketok-ketok pintu, kok nggak dibuka-buka...?" ujarnya menyentuh lembut pipi putri semata wayangnya.


"Maaf, ma...!" hanya itu yang keluar dari mulut Andin.


"Ya sudah...! Tidak apa-apa. Oh iya, di luar ada Mita sama Laura, katanya kalian mau pergi ya...!"


"Iya ma...! Kita pergi ke perusahaan-perusahan di kota ini. Mau cari tempat magang buat PKL..." jawab Andin.


"Kenapa kalian nggak magang di perusahaan papa saja?" tanya nyonya Mira.


"Aah..., nggak seru ma...! Nggak ada tantangannya...! Yang ada entar senior malah ngerasa segan ke Andin, karena selalu nganggap Andin anak bosnya..." jawab Andin.


"Ya sudah, mama terserah kamu saja. Yang penting kamu nyaman, sama kegiatan kamu..!" ujar nyonya Mira sambil mengusap pundak Andin.


"Andin berangkat dulu ya ma, assalamualaikum..!" pamitnya.


"Waalaikumsalam..!" jawab nyonya Mira.


Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan like, vote n komennya 🙏🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2