Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Bertemu Andin


__ADS_3

Bagas tersenyum. "Kita mampir dulu ke restoran eyang untuk makan siang," ujarnya.


Satu jam kemudian, mereka singgah di sebuah restoran yang cukup mewah di pusat kota Bekasi. Bagas memarkirkan mobilnya, setelah itu dia mengajak Kyara memasuki restoran.


"Duduklah!" perintah Bagas kepada Kyara. "Aku temui manager dulu untuk menyampaikan pesan eyang," lanjutnya.


Kyara mengangguk. Dia kemudian memilih meja di sudut kanan. Sebuah meja yang menghadap ke taman buatan di pojok kanan restoran. Kyara duduk dan menunggu Bagas.


Bagas memanggil salah seorang pelayan sebelum dia pergi ke ruangan manager.


"Iya, ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan itu.


Bagas menunjuk ke arah Kyara. "Kamu lihat gadis itu?" Tolong layani dia dengan baik, ya. Dia calon istrinya Ajay, cucunya tuan Mahesa," ujar Bagas.


"Baik Tuan, saya mengerti. Kalau begitu, saya ke mejanya dulu, Tuan. Mau menawarkan makanan untuk beliau," pamit sang pelayan.


Bagas menepuk pundak pelayan itu. "Pergilah!"


Sang pelayan mengangguk, dia pergi menghampiri meja Kyara. Sementara Bagas berjalan kembali menuju ruangan manager.


"Selamat siang, Nona! Silakan, ini menunya!" ujar pelayan itu.


Kyara tersenyum. "Boleh saya tunggu teman saya dulu, Mas?" jawab Kyara.


"Maaf, Nona. Tadi tuan Bagas bilang, saya harus melayani Nona dengan baik. Jika Nona ingin memesan makanan terlebih dahulu, silakan! Tuan Bagas sedang pergi ke ruangan manager dulu." Pelayan itu memberikan penjelasan kepada Kyara.


Kembali Kyara tersenyum ramah. "Saya tahu Mas. Tapi saya ingin menunggu kak Bagas dulu. Setelah dia datang, baru Mas, nanti saya panggil. Tidak apa-apa kan?"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu!" pamit pelayan itu.


Setengah jam berlalu. Bagas tiba di meja Kyara. Dia merasa heran karena meja itu masih terlihat kosong.


"Kamu belum pesan makanan?" tanya Bagas.


"Belum," jawab Kyara.


"Apa tidak ada pelayan yang menghampirimu? Ish, kemana dia, padahal aku sudah menyuruhnya untuk melayanimu," ujar Bagas sambil membalikkan badannya berniat untuk memanggil pelayan tadi.


"Tunggu!" Kyara memegang tangan Bagas. "Duduklah! Aku memang sengaja belum memesan makanan karena aku menunggumu. Kita makan sama-sama," ujar Kyara mencegah Bagas.


Bagas duduk, kembali gelanyar aneh itu menjalar hangat di hatinya. Kata-kata Kyara sempat menghipnotis Bagas untuk terbuai dalam kelembutan sikap seorang gadis. Tidak! Dia calon iparku! Aku tidak boleh seperti ini, batinnya.

__ADS_1


Kyara mengangkat tangannya. "Mas!" panggilnya kepada pelayan tadi.


Sang pelayan menghampiri meja Bagas dan Kyara. "Iya, Nona. Apa mau pesan sekarang?" tanya pelayan tadi.


Kyara mengangguk. "Aku mau pesan cumi saus tiram sama jus jambu. Kak Bagas mau pesan apa?" tanya Kyara.


"Samakan saja!" jawab Bagas.


"Baiklah, cumi saus tiram dan jus jambunya 2 ya, Mas!" ujar Kyara.


"Baik, ditunggu ya, Nona, Tuan!" jawab sang pelayan.


Kyara dan Bagas mengangguk.


"Kak Bagas, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Kyara.


Bagas mengangguk sambil memainkan ponselnya.


"Waktu ... aku sadar, aku ... aku ...ti-tidak melihat Aaron, a-apa ... dia tahu keadaanku saat i-itu?" tanya Kyara terbata-bata.


"Kamu pikir, siapa yang membawamu ke rumah sakit waktu itu?!" jawab Bagas, ketus.


Kyara menundukkan wajahnya. Merasa sedih dengan jawaban Bagas yang terkesan judes.


"Maafkan aku," ujar Bagas.


Helaan napasnya terasa berat kala mengingat kejadian dulu. Masih tampak jelas bayangan Kyara yang tergeletak bersimbah darah di kamar kostnya. Juga Teriakan-teriakan histeris Kyara saat depresi dulu.


"Ti-tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf, karena sudah merepotkan kalian."


"Setelah operasi itu, Aaron pergi ke Singapura. Saat itu om Damian terkena serangan jantung, dan ibunya Aaron sangat mengharapkan kehadiran Aaron di sisinya. Aaron menitipkanmu padaku, karena itu aku benar-benar hampir gila saat kamu pergi. Aku tidak bisa membayangkan rasa kecewanya dia nanti, saat tiba di Indonesia dan tak mendapatimu. Sungguh, aku tidak pernah ingin memikirkan hal itu. Tapi syukurlah, sekarang kamu sudah kembali. Setidaknya, aku tidak harus berbohong lagi kepada Aaron," ujar Bagas panjang lebar.


Kyara semakin merasa bersalah.


"Ba-bagaimana ke-keadaan papanya Aaron sekarang?" tanya Kyara.


"Aku sendiri tidak tahu, sejak kamu menghilang, aku selalu menghindari telepon dari Aaron. Dan selama 6 bulan terakhir ini, Aaron pun tidak pernah menghubungiku," jawab Bagas. "Nona, boleh aku tanya sesuatu?" lanjut Bagas.


Sekarang, giliran Kyara yang mengangguk.


"Sebenarnya, apa yang terjadi padamu saat itu? Kenapa kamu bisa mengalami pendarahan?" tanya Bagas hati-hati, karena takut membuat Kyara kembali terluka mengingat kejadian dulu.

__ADS_1


"Aku ... aku ...."


Belum sempat Kyara menjawab pertanyaan Bagas, pelayan tadi sudah datang dengan membawa pesanan mereka.


"Silakan dinikmati, Tuan, Nona!" ucapnya.


"Terima kasih," jawab Bagas dan Kyara serempak.


Akhirnya mereka pun menikmati makanannya, sehingga lupa pada apa yang sedang dibicarakan. Ketika sedang asyik-asyiknya menyantap makanan, tiba-tiba ....


"Wah-wah-wah ... coba lihat siapa gadis hebat ini?" teriak seseorang mendekati meja Kyara dan Bagas.


Dia adalah Andin. Bersama ketiga sahabatnya, Andin hendak makan siang di restoran eyang, karena dia memang ada janji untuk bertemu Ajay di sini. Pada saat dia masuk, pandangannya langsung tertuju ke arah Bagas yang sedang duduk bersama seorang gadis.


Awalnya Andin dan ketiga sahabatnya ingin sedikit memberi kejutan kepada Bagas. Karena sungguh, ini pertama kalinya Andin melihat Bagas duduk dengan seorang gadis. Tapi, begitu Andin mendekati meja itu, justru dia yang merasa terkejut. Ya! Ternyata gadis yang sedang duduk di hadapan Bagas, adalah orang yang dibencinya. Orang yang selalu dianggapnya sebagai ancaman atas hubungannya dengan Ajay.


"Hey, teman-teman! Apa kalian tahu siapa dia?" teriak Andin. "Dia adalah gadis yang sangat hebat! Dengan anggunnya, dia berhasil menjebak kekasihku, Ajay. Namun sayangnya, Ajay lebih memilihku karena dia jauh lebih mencintaiku. Tak berhasil mendapatkan cintanya Ajay, dia pun beralih mendekati Aaron. Sampai-sampai, hubungan persahabatan antara KEKASIHKU dan Aaron harus hancur." Andin sengaja menekankan kata kekasihku untuk menegaskan kepemilikannya terhadap Ajay.


"Dan sekarang ... lihatlah! Aaron pergi ke Singapura untuk mengurusi ayahnya. Eehh..., dia malah mendekati sahabatnya Aaron," ejek Andin kepada Kyara. "Aku heran, sebenarnya wajah kamu itu terbuat dari apa sih? Tembok banget! Benar-benar tidak tahu malu! Nemplokin cowok-cowok ganteng yang kaya raya, lo berharap naik kasta ya? Mana bisa! Sekali upik abu, ya tetap upik abu lah ..." Andin semakin gencar menghina Kyara.


"Ha-ha-ha, ...."


Ketiga temannya tertawa girang mendengar semua hinaan Andin kepada Kyara.


BRAKK!


Bagas menggebrak meja, dia pun berdiri. "Cukup!" ujarnya. Rahangnya mengeras menahan amarahnya.


Kyara memegang tangan Bagas. "Kita pergi, Kak!" ujarnya.


Bagas mengangguk. Dia mengalihkan pegangan Kyara ke genggaman tangannya. Dia pun menarik tangan Kyara dan segera pergi dari restoran itu. Di pintu restoran, tiba-tiba ....


Bugh!


Bersambung...


Alhamdulillah bisa kembali up yaa...


Terima kasih atas kunjungan ke karya ini.


Ditunggu boomlike nya yaaa..

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2