Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Extra Part 3 Double A


__ADS_3

"Apa kau yakin dengan keputusanmu, nak ?"


"Aku yakin pih."


"Tapi kenapa harus pergi sampai sejauh itu, nak ? Apa kamu tega meninggalkan papih dan mamihmu yang tua renta ini ?"


Ajay menghampiri nyonya Diana. Setelah itu dia berjongkok di hadapan ibunya. Ajay pun merebahkan kepalanya dalam pangkuan ibunya.


"Mih, Papua itu masih deket kok ! Cuma lintas provinsi doang, bukan lintas negara. Mamih nggak usah lebay deh..!"


"Tapi Jay, mamih nggak bisa. Bima merintis usahanya di kota lain, dan sekarang...? Sekarang pun kamu akan pergi dengan misi kemanusiaan kamu, terus mamih sama papih gimana ? Siapa yang bisa jagain kita di saat kita sudah tua renta begini ?" ujar nyonya Diana pilu memikirkan nasibnya yang akan ditinggalkan anaknya.


"Ajay mohon mih...?" ucap Ajay seraya menatap sendu wajah ibunya.


"Sudahlah mih ! Toh ini juga buat kebaikan anak kita. Mungkin Ajay juga butuh suasana baru untuk menata kembali kehidupannya." ujar tuan Ali.


Ajay menatap ayahnya dengan senyum manisnya. "Makasih pih !" ujarnya.


Nyonya Diana menangkupkan tangannya di kedua pipi anaknya.


"Baiklah, kapan kamu berangkat ?"


"Jadi mamih mengizinkan ?" ujar Ajay dengan mata berbinar.


"Mamih izinkan, nak ! Mamih ingin kau bahagia. Jika keputusan yang kamu ambil ini bisa membuat hidupmu nyaman, tentu saja mamih akan mengizinkannya." ujar serak nyonya Diana dengan mata berkaca-kaca.


Ajay berdiri dan memeluk nyonya Diana. "Makasih, mih ! Ajay yakin, ini jalan yang terbaik buat Ajay." ujarnya lirih.


Nyonya Diana hanya bisa tersenyum seraya mengusap-usap punggung anaknya.


Penolakan dokter Nita membuat Ajay tersadar jika dia memang belum pantas untuk dicintai. Perlahan Ajay mulai melepaskan cinta dari genggamannya. Mungkin ini karma. Dia telah begitu bodoh menyia-nyiakan orang yang mencintainya, hingga tanpa sadar, kemanapun dia melangkah, dia tetap terperangkap dalam cinta yang sama. Cinta seorang Kyara. Cinta yang telah dimiliki oleh sahabatnya sendiri.


Namun Ajay yang sekarang, bukanlah Ajay yang egois seperti dulu. Dia sadar dia sudah kalah. Dan dia pun menerima kekalahannya dengan lapang dada. Karena ternyata, sang pemenang adalah orang yang benar-benar pantas mendapatkan cinta suci Kyara.


Merasa nyaman menjalani kebersamaannya dengan dokter Nita, Ajay pun mulai memberanikan diri untuk membuka hatinya. Terlebih lagi dia melihat sosok Aleah yang bisa menghangatkan hatinya. Namun sayang, jodoh tak berpihak padanya. Ternyata dokter Nita menerima lamaran dokter Firman, karena memang telah lama mereka saling menyukai.


Ajay pun kembali membuktikan dirinya yang sekarang. Dia tidak seegois dulu yang dengan terang-terangan menantang dan membenci saingannya. Sekarang, Ajay hanya bisa kembali menerima kekalahannya dalam balutan senyum do'a untuk wanita yang dicintainya.


Perusahaan yang dipimpinnya hendak membangun sebuah rumah sakit dan juga perumahan sederhana untuk masyarakat daerah terpencil di provinsi Papua. Ajay sengaja terjun langsung ke lapangan karena dia ingin mengikuti jejak sang kakek yang selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja. Terlebih lagi, ini adalah misi kemanusiaan. Jadi Ajay ingin segala sesuatunya berjalan sempurna.


Di samping itu, Ajay juga berharap jika kesibukan akan membuat dia melupakan semua rasa cinta yang ada di hatinya.


***


"Bagaimana Ros, apa file untuk presentasi nya sudah siap ?" tanya Matteo kepada anak buahnya.


"Siap bos !"


"Baiklah, Ros ! Aku percayakan semuanya padamu." ujar Matteo lagi.


"Tenang saja, bos ! Ros tahu apa yang harus dia lakukan. Bukankah selama ini, dia selalu memenangkan tender untuk perusahaan kita ?" ujar Clara, rekannya.


Matteo hanya tersenyum.


"Masalahnya, meeting kali ini, CEO-nya sendiri yang akan turun tangan langsung untuk mengambil keputusan. Jadi aku mohon, persiapkan sebaik mungkin ya, Ros !"


"Oke boss ! Don't worry...!" ucap gadis yang dipanggil Ros seraya menyesap kopi hitamnya.


***


D'Calosta cafe 10.10


Matteo kembali melirik jam yang melingkar di tangannya. Astaga, sudah lewat 10 menit. Kemana dia ? Biasanya dia selalu tepat waktu, batin Matteo, CEO dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur.


Matteo melirik ke arah sekretarisnya. "Kau sudah menghubungi Ros ?" tanyanya.


"Aku sudah menghubunginya bos, tapi ponselnya tidak aktif." jawab Clara.


"Bagaimana tuan Matteo ? Apa pertemuannya sudah bisa di mulai ?" tanya tuan Ibrahim, pemimpin perusahaan cabang Sanjaya Group.


"Maaf pak, arsitek saya belum sampai. Mungkin dia terjebak kemacetan." jawab Matteo.


Sejenak, terlihat tuan Ibrahim saling berbisik dengan atasannya.


"Baiklah, kami tunggu 5 menit lagi. Jika dalam 5 me...."


Brakkk...!


"Permisi..., hah...hah..., Maaf..., sa...hah...saya terlambat !"


Seorang gadis berambut panjang yang diikat ke belakang, tiba-tiba membuka pintu dengan kasar. Dia berdiri di belakang sang CEO. Dengan napas tersengal-sengal, dia meminta maaf seraya membungkukkan badannya berkali-kali.


Su...suara itu....??


Jantung Ajay berdegup kencang mendengar suara yang tak asing di telinganya. Namun saat Ajay hendak membalikkan badannya untuk melihat si pemilik suara, tiba-tiba Matteo sudah angkat bicara.


"Ah, Ros ! Akhirnya kau datang juga !" ujar Matteo.


Ros....? Hmm, jadi itu bukan dia...


Sejenak Ajay memejamkan matanya mengingat orang yang memiliki suara yang sama dengan gadis yang baru saja datang.


Tuan Ibrahim menoleh ke arah gadis yang bernama Ros yang ternyata seorang arsitek yang bekerja di perusahaan Matteo.


"Silakan nona Ros ! Bisa kita mulai presentasinya ?" tanya tuan Ibrahim.


"Baiklah tuan ! Sebentar, saya persiapkan dulu file-nya !"


Ros melangkah ke depan. Dia pun menyerahkan benda kecil ke tangan Clara. Setelah itu dia mulai membenahi blazer nya dan melangkah ke depan untuk mempresentasikan hasil karyanya.


Sejurus kemudian, tampak di layar putih 2 buah desain gambar bangunan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh ! Selamat pagi menuju siang tuan-tuan yang terhormat. Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas keterlambatan saya dalam pertemuan kali ini. Perkenalkan nama saya Rosalinda..."


Seketika Ajay mengangkat wajahnya begitu mendengar nama Rosalinda. Matanya membulat sempurna melihat gadis yang tengah berdiri di depan.

__ADS_1


"Andin !" gumam Ajay yang masih bisa di dengar oleh para peserta rapat.


Gadis yang bernama Rosalinda seketika menoleh mendengar namanya di panggil dari arah samping kanan.


Deg....deg...deg...


Jantung Ros yang ternyata Andin, berdetak lebih cepat mendapati lelaki yang selalu hadir dalam benaknya. Namun secepat kilat dia mengalihkan pandangannya dan mulai fokus kembali pada tugasnya, kenapa dia berdiri di tengah-tengah pertemuan ini.


Dengan lugas dan tegas, Andin mempresentasikan hasil karyanya. Seperti biasa, semua orang riuh bertepuk tangan memuji hasil desainnya. Tapi tidak dengan Ajay.


Tanpa banyak bicara, Ajay segera berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan rapat yang belum menghasilkan keputusan. Sikap Ajay sontak membuat kaget para peserta rapat. Tuan Ibrahim segera keluar untuk menyusul atasannya.


"Permisi !" ujarnya seraya berlari keluar.


Terlihat raut kecemasan di wajah Matteo. "Bagaimana ini Ros ? Apa dia tidak menyukai desain hasil karyamu ?" tanya Matteo.


"A...aku tidak tahu, pak !" jawab Andin.


Andin menghempaskan bokongnya di kursi samping Clara. Dia menengadahkan wajahnya seraya memejamkan matanya.


Aku yakin dia masih membenciku ? Bagaimana jika tender ini gagal hanya karena dia masih membenciku ? Padahal Matteo sudah sangat berharap banyak dengan tender ini. Ya Tuhan...? Apa yang harus aku lakukan...?


Beberapa menit kemudian, tuan Ibrahim kembali ke ruangan rapat.


"Mohon maaf pak Matteo, atasan saya belum bisa memberikan keputusan. Untuk sementara rapat ditunda. Kami akan memberitahukan kembali jika sudah ada perintah dari atasan kami. Permisi !"


Akhirnya pertemuan pun berakhir tanpa keputusan. Dan itu menambah kekecewaan di raut wajah Matteo.


"Bos, bagaimana ini ?" tanya Clara.


"Sudahlah ! Lebih baik sekarang kita kembali ke kantor. Satu lagi anak-anak ! Kita jangan terlalu berharap banyak dengan tender ini. Takutnya kalian akan kecewa jika tender ini tidak jatuh ke tangan kita." jawab Matteo.


Andin dan Clara diam. Tidak bisa dipungkiri, mereka memendam kecewa dengan apa yang sedang saat ini terjadi. Terlebih lagi Andin. Baru kali ini dia merasa gagal sebagai seorang arsitek.


"Hei...! Kenapa semuanya murung ! Ayo semangat ! Tak apa kita tak mendapatkan tender dari perusahaan properti terbesar itu. Yang terpenting, perusahaan kita masih bisa berjalan, meskipun hanya menangani tender-tender kecil. Ayo semangat ! Kita kembali ke kantor !" ujar Matteo menyemangati karyawannya.


Andin pun semakin merasa bersalah. Dia tahu Ajay bersikap seperti itu karena masalahnya dengan dirinya.


"Bos ! Boleh aku izin hari ini ?" tanya Andin.


Matteo yang merasa Andin pasti tengah kecewa karena desainnya telah ditolak mentah-mentah oleh CEO besar itu, akhirnya mengizinkan Andin untuk tidak masuk kerja hari ini.


Matteo menghampiri Andin. Dia menepuk pelan pundak karyawan emasnya itu.


"Pergilah ! Aku tahu kau butuh ketenangan !" ujar Matteo.


Andin tersenyum, sejurus kemudian dia pergi meninggalkan ruang pertemuan.


***


Debayya Apartemen


Ajay menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Debaran jantungnya berpacu dengan cepat setelah melihat kembali gadis yang pernah mengisi harinya. Ajay memejamkan matanya. Kenangannya bersama Andin kembali melintas dalam ingatannya. Ada perasaan bersalah di hati Ajay saat dia dengan sepihak memutuskan hubungannya dan memilih Cecilia menjadi pendampingnya.


Puas bermain dalam kenangan, Ajay yang merasa lelah, akhirnya mulai terlelap dalam tidurnya.


Di waktu yang sama, Andin memutuskan untuk mencari keberadaan Ajay. Dia merasa bersalah karena telah menjadi penyebab gagalnya tender yang diimpikan Matteo. Setelah mendapatkan informasi tempat Ajay menginap. Andin pun memutuskan untuk menemuinya.


Setelah berkeliling selama hampir 2 jam, akhirnya Andin berhasil menemukan apartemen yang Ajay sewa selama dia tinggal di Papua. Sebuah apartemen yang sangat sederhana, jauh berbanding terbalik dengan apa yang dimiliki seorang Ajay Sanjaya dulu.


Ting tong....


Ting tong...


Andin menekan bel di pintu apartemen dengan nomor kamar 202.


Ceklek...


Pintu terbuka


"Aaaaahhhhhh..."


Andin berteriak saat dia melihat lelaki yang membukakan pintu ternyata tengah bertelanjang dada. Secepat kilat Andin pun membalikkan tubuhnya.


Ajay tersenyum kecil melihat tingkah Andin.


"Masuklah !" perintah Ajay.


"Tidak ! Anda pakailah pakaian Anda ! Biar saya menunggu di sini." jawab Andin tanpa membalikkan badannya.


Ajay semakin tersenyum dengan ulah Andin yang terlihat canggung. Andin yang biasanya liar dan penuh gairah ketika melihat Ajay seperti itu, kini berubah menjadi gadis yang pemalu.


Ajay segera pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia kembali menghampiri Andin.


"Masuklah !"


Andin masih tetap membelakanginya.


"Jangan khawatir, aku sudah memakai pakaianku."


Andin pun membalikkan badannya. Sejenak dia memicingkan matanya untuk memastikan apa yang diucapkan lelaki itu. Sejurus kemudian, Andin tampak menghela napasnya ketika melihat Ajay telah mengenakan pakaiannya.


Andin memasuki apartemen itu. Sebuah apartemen yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Hanya terdapat beberapa ruangan di apartemen tersebut. Bahkan untuk ruang tamu dan dapurnya pun hanya terhalang oleh sebuah minibar. Apartemen itu hanya memiliki 1 kamar tidur dan 2 kamar mandi.


"Duduklah ! Sebentar, aku ambilkan minum dulu !"


Andin hanya bisa mengangguk.


Selang beberapa menit, Ajay pun kembali dengan membawa nampan yang berisi camilan dan 2 buah gelas berisi orange juice.


Andin tampak termenung dengan sikap Ajay. Orange juice ? Biasanya di hotelnya dia akan menyuguhkan wine, karena hanya itu yang dia miliki. Tapi sekarang...? Ish, apa dia telah berubah...?


" Maaf, hanya ada ini di lemari pendinginku !" ujar Ajay seraya meletakkan nampan itu di atas meja. Setelah itu, Ajay duduk berhadapan dengan Andin.


"Ah.., tidak apa-apa !" jawab Andin. "Ma.. maaf, mengganggu waktu istirahat anda, tu..tuan !" ujar Andin terbata.

__ADS_1


"Tak perlu terlalu formal, Ndin ! Panggil aku seperti biasanya saja !" ujar Ajay.


"Ba... baiklah, A... Ajay...!"


Darah Andin berdesir mengucapkan kembali nama itu. Nama yang sering dia gumamkan dalam tidurnya. Ya, selama 7 tahun, Andin sering bermimpi tentang laki-laki itu, hingga tanpa sadar, nama itu selalu lolos keluar dari mulutnya di saat dia tengah tertidur.


Tanpa sadar, Andin menggigit bibir bawahnya karena menahan sesaknya kerinduan. Jika diizinkan, dia sangat ingin sekali memeluk laki-laki itu. Tapi Andin cukup tahu diri. Laki-laki itu telah beristri.


Melihat gerakan bibir tebal Andin. Membuat hawa panas menjalar di sekujur tubuh Ajay. Bayangan masa lalunya kembali berkelebat dalam benaknya. Namun Ajay mencoba menahannya. Dia tahu jika Andin tidak akan mungkin kembali dijangkaunya.


"Aku mohon, jangan libatkan orang lain dalam pertikaian kita !"


Tiba-tiba, Andin membuka suaranya. Dia tidak ingin terus berlama-lama berada di apartemen ini bersama laki-laki yang masih sangat dicintainya.


"Maksud kamu ?" tanya Ajay heran.


"Jangan libatkan Matteo ! Dia sudah berharap banyak dengan proyek ini ! Aku mohon, jika kau memang ingin menggagalkan proyek ini karena rancangan desainku kurang bagus, aku berjanji aku akan memperbaikinya. Tapi aku mohon, berikan tender ini pada perusahaannya !"


"Apa Matteo kekasihmu ?"


Andin menggelengkan kepalanya.


"Apa dia suamimu ?"


"Bukan ?"


Secepat kilat Andin menjawab pertanyaan Ajay.


"Apa kau mencintainya ? Sampai-sampai kau rela datang kemari hanya untuk memohon kepadaku.


Andin mengalihkan pandangannya.


"Aku sudah tidak memiliki rasa itu ?" ujarnya lirih.


Tanpa dia sadari, Ajay bergerak menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Kenapa ?" bisik Ajay tepat di telinga Andin.


Andin bergidik merasakan hembusan napas Ajay di telinganya.


"Aku....a..aku...!"


Sungguh Andin tak mampu menjawab pertanyaan Ajay.


Tangan Ajay meraih dagu Andin, menariknya pelan hingga tatapan mereka saling beradu. Ajay bisa melihat tatapan kerinduan pada diri gadis itu.


"Apa kau merindukanku ?" tanya Ajay serak.


Andin terkejut, namun dia pun tak bisa memungkirinya. Andin mengangguk pelan seraya memejamkan matanya.


Ajay mulai mendekatkan wajahnya. Mencoba menyatukan bibirnya dengan bibir sensual Andin. Kehangatan mulai menjalari tubuh kedua insan itu. Perlahan Ajay mulai mengulum bibir kenyal Andin, menyesapnya sedikit demi sedikit.


Andin membulatkan matanya melihat perlakuan Ajay. Tangannya mulai mendorong tubuh Ajay agar menjauhinya. Tapi percuma, Ajay malah semakin menekankan ciumannya hingga membuat mereka jatuh terjerembab di atas sofa dengan posisi Ajay berada di atas tubuh Andin.


Sejenak, Ajay melepaskan pagutannya.


"Ku mohon..! Biarkan seperti ini, Ndin ! Aku..., aku merindukanmu !"


Andin menatap mata Ajay, mencoba mencari kebohongan dari setiap ucapan Ajay. Namun Andin tak menemukannya. Andin hanya menemukan kesedihan dalam tatapan teduh lelaki yang masih memiliki hatinya.


"A.., aku juga merindukanmu !" ujar Andin pasrah


Ajay kembali me****t bibir Andin, memagutnya lebih dalam, menggigitnya pelan sehingga Andin tanpa sadar membuka mulutnya dan memberikan celah bagi lidah Ajay untuk mengabsen rongga mulutnya.


Dengan lincah tangan Ajay mulai membuka kancing kemeja Andin satu persatu. Setelah itu tangannya kembali menyusup ke belakang untuk membuka pengait bra milik Andin. Bukit kembar yang masih tampak kenyal terpampang jelas di hadapannya.


Ajay menelan salivanya melihat pemandangan di hadapannya. Tubuh Andin yang setengah telanjang telah membuat birahinya memuncak. Ajay pun menegakkan badannya untuk membuka bajunya. Setelah itu dia mendekap tubuh polos Andin bagian atas.


Dada bidangnya mulai dia ge****n di bukit kembar milik Andin, sehingga hawa panas mulai terasa di tubuh keduanya. Andin memeluk tubuh Ajay erat, seolah sedang menyalurkan kerinduannya. Lidahnya mulai bermain di sekitar leher Ajay membuat Ajay kembali mengingat semua permainan yang pernah mereka lakukan dulu.


Ajay membenamkan wajahnya di sekitar dada Andin. Dia mulai menciumi bagian itu, menghisap dan menggigitnya meninggalkan jejak kepemilikan di sekitar bukit itu.


Andin mulai mendesah merasakan kenikmatan yang telah dilupakannya. Tanpa sadar dia pun meremas rambut Ajay untuk menahan gairah yang tengah bergelora di dadanya.


Karena sudah tidak sanggup lagi, Ajay pun kembali menegakkan tubuhnya, dia mulai melucuti pakaian Andin tak bersisa. Kini tubuh polos itu terlentang di hadapannya. Ajay menatap nanar area terlarang milik wanita itu. Dengan mata terpejam, tangannya mulai menjamah area itu.


Andin mendesah merasakan kenikmatan yang tiada tara. dia menarik tangan Ajay dan menaruh di dadanya. Ajay mulai mengerti dengan bahasa tubuh Andin. Dia pun membenamkan wajahnya di area terlarang itu, lidahnya mulai bermain-main di sana. Sesekali tangannya me****s bukit itu bergantian. Andin merasakan sensasi yang luar biasa hingga tanpa sadar dia pun mulai melakukan pelepasannya.


Ajay tersenyum, dia menerima pelepasan Andin tanpa merasa jijik. Dia kembali mengangkat wajahnya dan mulai memposisikan tubuhnya di atas Andin. Kaki Ajay mulai menggeser salah satu kaki milik Andin untuk memberikan jalan penyatuan. Namun, saat miliknya mulai menyentuh area terlarang Andin, seketika Ajay menghentikan perbuatannya. Dia bangkit, kemudian kembali mengenakan celana boxernya. Setelah itu Ajay duduk di tepi sofa dekat kedua kaki Andin.


Melihat sikap Ajay yang seperti itu, seketika Andin pun tersadar akan keberadaan Cecilia. Dia pun mulai bangkit dan memunguti pakaiannya. Meski merasa canggung dan malu, Andin pun terpaksa memakai pakaiannya di depan Ajay. Sekali lagi, harga dirinya telah hancur berkeping-keping. Cinta telah menggelapkan matanya sehingga dia begitu mudahnya terlena dengan sentuhan lelaki yang teramat dicintainya.


Setelah merapikan bajunya, Andin meraih tasnya. "Permisi !" ujarnya seraya melangkahkan kakinya tanpa melihat Ajay yang masih duduk termenung.


"Ayo kita menikah !" ujar Ajay yang seketika menghentikan langkah Andin.


Ajay bangkit, dia menghampiri Andin dan memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku ! Aku tidak ingin melakukannya sebelum kau halal menjadi istriku !" ucap Ajay lembut di telinga Andin. "Aku pulang, Ndin ! Aku ingin kau menjadi rumahku ! Menikahlah denganku !"


Ya Tuhan....., nikmat apalagi yang bisa aku dustakan ! Meskipun hidupku berlumur dosa, namun Engkau masih berbaik hati untuk memberikan kebahagiaan kepadaku. Aku mencintainya....


"Cecil....?" hanya satu kata yang keluar dari mulut Andin.


Ajay melepaskan pelukannya. Dia membalikkan tubuh Andin hingga menghadapnya.


"Ada banyak waktu yang telah kamu lewatkan, Ndin. Namun satu yang pasti, aku berani jamin, jika saat ini aku adalah pria lajang. Karena itu, will you marry me ?" ujar Ajay berjongkok dan meraih tangan Andin.


"Yes, i will marry with you."


Bersambung....


Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏


Semoga tidak direvisi 🙈🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2