
Kya, apa kau tidak lupa untuk menghubungi Ajay hari ini ?
-Nita
Kyara menghela napasnya saat membuka pesan dari sahabatnya. Ya Allah..., kya... Kya...? Kau sendiri tidak tahu kapan masalahmu dengan suamimu akan selesai, sekarang kau malah menambah masalah baru..., gerutu Kyara dalam hati
Kyara segera mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian menekan nama Ajay, telpon pun tersambung.
"Assalamualaikum...!" (Kyara)
"Waalaikumsalam, hai Kya apa kabar ? Kenapa baru menghubungi sekarang ?" (Ajay)
"Maaf, aku baru punya waktu. Bagaimana keadaanmu ? (Kyara)
"Aku baik-baik saja. Apa kau tahu, sekarang aku sudah berteman dengan Nita." (Ajay)
"Nita..?" (Kyara, terlihat heran)
"Iya, dokter Nita, temanmu itu !" (Ajay)
"Ah, Nita..!! Ya... ya...!" (Kyara)
"Kenapa ? Apa kau cemburu ?" (Ajay)
"Ah, tidak...! He...he...! Bagaimana mungkin aku cemburu. Dia adalah temanku. Aku senang kau bisa berteman baik dengan Nita." (Kyara)
Hening...
"Hallo...! Ajay, kau masih mendengarku !" (Kyara)
"Iya, aku mendengarkanmu ! Kya, sepertinya kau sangat senang jika aku mempunyai teman wanita, apa itu tidak mengganggumu ?" (Ajay)
"Sama sekali tidak. Kau berhak untuk berteman dengan siapa pun." (Kyara)
"Apa kau tidak mencintaiku lagi ?" (Ajay)
"Jay, bisakah kita tidak membahas itu lagi ?" (Kyara)
"Tapi kenapa Kya ? Aku hanya ingin tahu perasaanmu." (Ajay)
"Suatu saat, kau pasti akan mengetahuinya. Aku tutup dulu ya ! Aku harus kembali ke kelas. Assalamualaikum !"
Tanpa menunggu jawaban dari Ajay, Kyara pun menutup telponnya. Kyara melirik jam tangannya, sudah pukul 12.44, kenapa sama sekali tidak ada kabar darinya...? Ya Tuhan, di mana suamiku ? Kenapa hatiku merasa tidak tenang ? Hamba mohon, lindungilah suamiku....
Bel masuk pun berbunyi, Kyara kembali ke kelasnya dengan perasaan yang tidak menentu.
***
Samarinda 13. 32, Bagas tiba di hotelnya. Dia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, Bagas melaksanakan solat dzuhur. Selesai solat, Bagas merebahkan dirinya. Bagas memejamkan matanya, sesaat rasa sesal menyeruak di dadanya.
Apa aku sudah sangat keterlaluan terhadap Kyara. Semalam aku membentaknya, dia pasti sangat sedih. Aku harus menelponnya dan meminta maaf padanya.
Bagas meraih ponselnya di atas nakas. "Ish, lowbat !"
Bagas pun segera mengeluarkan charger dari dalam tasnya. Segera dia pun mencharge ponselnya. Bagas mengeluarkan dompetnya. Dia menatap foto Kyara yang terselip di dompetnya. "Nona, aku sangat merindukanmu.." gumamnya.
Karena rasa kantuk mulai menyerangnya, Bagas pun kembali terlelap, berharap mimpi akan membawanya kepada istri tercintanya.
***
"Bagaimana ? Semuanya sudah siap ?" ujar pria bertato di lengannya.
"Siap bos ! Hanya tinggal menunggu perintah." jawab pria berambut cepak.
"Berapa orang anak buah kita ?" si pria bertato kembali bertanya.
"Cukup banyak bos, sekitar 10 orang. Dan mereka orang-orang terbaik kita." si pria berambut cepak kembali menjawab.
"Bagaimana dengan jalur eksekusi ?" tanya pria bertato itu lagi.
"Beres bos ! Anak buah kita sudah mengatur semuanya." kali ini pria bertubuh pendek yang ikut berbicara.
"Bagus !" pria bertato itu melirik ponselnya. "Oke, sebentar lagi pukul 16.00. Teman kita akan mengantarkan target menuju tempat eksekusi. Bersiaplah ! Semuanya berpencar !"
"Siap bos !"
***
Pukul 16.00
Tok...tok...tok...
Seseorang mengetuk pintu hotel yang ditempati Bagas. Bagas segera mengerjapkan matanya. Dia bangun dan berjalan untuk membuka pintu.
Ceklek.. !
Tampak seorang pria seumurannya memakai seragam sopir. Bagas pun mengerti, mungkin dia adalah sopir yang diperintahkan rekan bisnisnya untuk menjemputnya.
"Permisi tuan ! Saya diperintahkan oleh pak Anto untuk menjemput tuan !
"Ah, baiklah ! Sebentar ya mas, saya solat dan ganti baju dulu !" ucap Bagas.
Bagas mempersilakan supir itu masuk. Dia sendiri kemudian pergi ke kamar mandi, berwudhu dan segera solat. Bagas pikir, tak ada waktu untuk mandi, waktunya sudah terlalu mepet. Dia dan pak Anto memang sudah memiliki janji temu pukul 16.00.
__ADS_1
Setelah siap, Bagas segera meraih jasnya yang tersampir di sofa. Setelah itu dia mengambil beberapa dokumen penting, surat perjanjian dan juga tas yang berisi uang tunai. Karena menurut pak Anto, ada sebagian masyarakat yang menuntut uang cash untuk pembebasan lahannya.
"Mari mas!" ajak Bagas kepada sopir yang menjemputnya itu.
Sang sopir mengangguk, seringai kecil tersungging di kedua sudut bibirnya.
Tiba di tempat parkir, sang sopir membukakan pintu belakang untuk Bagas. Tanpa menaruh curiga, Bagas pun duduk santai di mobil itu. Setelah menutup kembali pintu belakang. Sang sopir memutar ke belakang untuk membuka pintu depan. Setelah itu dia melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
Setengah jam kemudian tiba-tiba mobil berbelok ke arah yang belum pernah dilewati oleh Bagas.
"Maaf, sepertinya kita salah jalan, mas !" ujar Bagas.
"Tuan tenang saja, ini memang jalan pintas. Kalau kita menggunakan jalur biasa, maka akan lebih lambat tiba di tempat." jawab sang sopir.
"Begitu ya !"
Bagas pun kembali menyandarkan punggungnya. Bersabarlah sayang, mudah-mudahan pekerjaanku bisa selesai sampai malam ini, jadi besok aku bisa pulang. Ah Kya, aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku janji sayang, aku akan selalu mendukung keputusanmu, dan kita pasti bisa melewati semua ini bersama.
Ciiiiiitttt....!
Tiba-tiba, mobil yang ditumpangi Bagas berhenti mendadak.
"Ada apa mas !"
"Waduh, maaf tuan ! Sepertinya ada pohon tumbang." jawab sang sopir.
Bagas melihat kaca depan, tampak sebuah pohon sawit melintang di tengah jalan. Bagasi mengedarkan pandangannya, terlihat banyak sekali pohon sawit berjajar di kiri dan kanan. Sepertinya jalanan ini memang melewati perkebunan sawit.
"Bagaimana ini tuan, jika kita putar balik, tanggung, soalnya ini sudah lebih dari setengah jalan." ujar sang sopir tampak cemas.
Bagas menghela napasnya.
"Ya sudah, kita pindahkan saja pohonnya !" ajak Bagas.
"Tuan yakin ? Pohonnya besar loh tuan !"
"Sudahlah, tidak usah cerewet ! Ayo keluar !" perintah Bagas.
Akhirnya sang supir mengalah. Dia pun mulai mengikuti Bagas menuju pohon itu. Saat Bagas mulai menunduk karena hendak mengangkat pohonnya, tiba-tiba...
BUK....!
Seseorang memukul tengkuk Bagas dengan sebatang tongkat kayu yang cukup besar. Bagas terjatuh tak sadarkan diri.
"Cepat angkat !" ujar pria bertato.
Kemudian kelima anak buahnya segera mengangkat tubuh Bagas dan membawanya ke sebuah mobil Van. Dua orang anak buahnya segera menuju mobil yang tadi ditumpangi Bagas dan segera membawa tas milik Bagas.
Semua orang melihat ke arahnya. Matanya seakan menyiratkan, 'apa lagi ?'
"Bagianku mana ?" ucap sang sopir sambil menadahkan tangannya.
"Ish, kau ini !" sungut lelaki bertato itu.
"Ambil semua yang ada di tubuhnya, tapi jangan sampai kau bawa apa yang ada dalam tasnya !" lanjut pria bertato itu.
Sang sopir langsung saja menggeledah semua yang ada dalam tubuh Bagas. Mulai dari ponsel, dompet, dan jam tangannya.
"Tapi bos, semua ini masih kurang ! Apa kau tahu jika resiko pekerjaan ini sangat tinggi !" keluh sang sopir.
"Kau ini, perhitungan banget sih !" timpal si rambut cepak.
"Kasih aja bos ! Keburu korbannya sadar nih !" si pria bertubuh pendek ikut menimpali.
"Dengar, mobil yang kau pakai, itu adalah mobil milikku. Mulai sekarang, itu akan menjadi mobilmu. Dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi !" ujar si pria bertato.
"Oke ! Deal ! Senang bekerja sama dengan anda, bos !" ujar sang supir tersenyum sumringah.
"Sudah... sudah...! Enyah kau dari sini ! Dan jangan pernah kau temui aku lagi !" ujar si pria bertato seraya mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh sopir itu pergi.
Sang sopir pun mulai menepi, dan mulai memberikan jalan kepada mobil Van itu.
"Kita pergi kemana bos ?" tanya pria yang berambut cepak.
"Gudang tengah hutan ! Kau, tutup matanya dan ikat kedua tangan dan kakinya. Jangan sampai dia kabur setelah sadar nanti !" perintah pria bertato kepada si tubuh pendek.
Sedangkan pria yang berambut cepak itu mengangguk dan segera melajukan mobilnya membelah jalanan hutan belantara itu.
***
Prang....!
Sebuah pigura foto Kyara dan Bagas yang terpajang di dinding, tiba-tiba jatuh.
"Astaghfirullah hal adzim...!" gumam Kyara.
Kyara yang sedang menonton TV tersentak kaget. Dia pun segera berdiri dan menghampiri ke arah pigura yang terletak di lantai. Pecahan kacanya hancur berserakan menjadi serpihan yang kecil.
Satu persatu Kyara memunguti pecahan kaca pigura itu. "Ish...!" Kyara meringis dan segera menarik tangannya saat telunjuknya terkena pecahan kaca. Seketika, darah segar mulai keluar dari telunjuk Kyara yang terluka.
Deg.... deg... deg...
Jantung Kyara berpacu tak beraturan. Hatinya benar-benar tidak tenang. Pikirannya kacau. Haiss..., apa yang terjadi padaku ? Kenapa aku merasa tak enak hati. Kakang Bagas....! batin Kyara memanggil suaminya...
__ADS_1
"Astaghfirullah hal adzim, bu...! Ini fotonya kenapa, bu ?"
Bik Lilis datang tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Piguranya jatuh, bik ! Padahal nggak ada angin." jawab Kyara.
"Eleuh-eleuh..., mungkin itu pertanda yang kurang bagus, bu !'
"Ish, jangan seperti itu bik ! Jangan selalu suudzon tentang takdir. Tak baik !"
"Ish bu ! Kalo di kampung saya, ini teh namanya kila-kila, yah semacam pertanda buruk ke depannya gitu !"
"Jangan terlalu dipercaya, bik ! Itu takhayul namanya. Kalau kita terlalu mempercayai takhayul, maka akan dikatakan musyrik."
"Iya bu. Ya sudah, biar bibik yang bereskan. Ibu, obati saja luka ibu !"
"Makasih ya, bik !"
Kyara berdiri, dia kemudian mengambil kotak p3k, dan segera membersihkan lukanya untuk diberi Betadine dan juga plester.
Kyara termenung, perasaannya benar-benar tidak karuan. Ya Allah..., kenapa pikiran ku tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang kang Bagas...
Kyara merasa sedih dengan pertemuan terakhirnya dengan suami. Seumur berumah tangga, baru kali ini mereka bertengkar. Kyara berpikir suaminya tidak pulang ke rumah karena masih merasa marah padanya. Kyara tidak tahu jika Bagas sedang melakukan perjalanan dinas.
Di waktu yang sama, di kediaman kak Indah dan Gunawan.
Prang....!
Gelas yang sedang dipegangnya tiba-tiba terlepas begitu saja dari tangan kak Indah.
"Ya Khumaira ! Apa yang terjadi ?" teriak Gunawan dari kamarnya.
Hening...
Karena tak mendapat jawaban, Gunawan pun segera pergi ke dapur.
"Ya khumairaku, kamu kenapa sayang ?" tanya Gunawan cemas, terlebih lagi melihat pecahan beling di sekitar kaki istrinya.
"Entahlah, mas. Tiba-tiba, perasaanku tidak enak. Aku ingat Bagas, mas ! Aku khawatir sama dia !"
"Ya sudah, kamu duduk dulu, ya ! Nanti kita telpon Bagas. Sekarang, mas mau beresin pecahan belingnya dulu, takut nanti terinjak !" ujar Gunawan.
Gunawan memapah istrinya ke ruang keluarga. Dia kemudian mendudukan istrinya di atas sofa. Setelah itu Gunawan kembali lagi ke dapur untuk membersihkan pecahan beling.
Ya Tuhan...., lindungilah adikku dari segala marabahaya !
***
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, memasuki kawasan hutan belantara, akhirnya mobil Van tersebut tiba di sebuah gubuk sepi tak berpenghuni.
"Bawa dia masuk, dan ikat kedua tangan dan kakinya di kursi !" perintah pria bertato itu.
"Siap bos !" ujar si pria botak.
"Dengar, aku harus pergi dulu ! Kalian jaga dia dengan baik ! Jangan sampai lolos ! Kalian akan tahu akibatnya jika kalian lalai. Paham !!" si pria bertato melanjutkan perintahnya.
"Siap bos !" jawab anak buahnya serempak.
"Oke ! Dua hari lagi aku akan kembali ! Jangan katakan apa pun jika setelah sadar dia bertanya macam-macam kepada kalian ! Kalian cukup bilang jika kalian hanya orang-orang suruhan yang mendapatkan bayaran tinggi."
"Tapi, bagaimana jika dia memberontak bos !"
"Dasar bodoh ! Ikat talinya yang kuat ! Awas, jangan pernah membuka tutup matanya. Aku tidak mau dia melihat kalian ! Mengerti !!"
"Siap bos !!
Setelah memberikan perintah, lelaki bertato itu pun pergi meninggalkan gubuk yang berada di tengah hutan belantara itu.
Setelah kepergian bosnya. Para preman yang berjumlah 10 orang itu pun saling berbagi tugas. 3 diantaranya pergi ke pusat kota untuk membeli persediaan makanan. Karena gubuk yang mereka tempati adalah sebuah gubuk di kawasan yang sangat terpencil. Mereka diberikan perintah membeli makanan untuk beberapa hari ke depan.
Tiga orang yang lainnya, ditugaskan untuk berjaga-jaga di luar gubuk. Ditakutkan ada para petani sawit yang akan melewati gubuk tersebut. Bagaimanapun juga, hutan belantara ini terdapat di kawasan salah satu perkebunan sawit milik pemerintahan setempat. Namun karena daerahnya masih terlalu rawan, hutan ini jarang sekali di datangi oleh para petani.
Sisanya berjaga di dalam gubuk. Bagaimanapun juga Bagas adalah seorang pemuda yang tangguh. Tidak menutup kemungkinan jika dia sadar nanti, dia akan memberontak.
Dalam keadaan tak sadarkan diri, Bagas pun diikat
di sebuah kursi kayu dengan kuat. Tubuhnya yang terkulai, mereka sandarkan pada sandaran kursi. Matanya masih tertutup kain hitam.
"Huh ! Sungguh menyusahkan saja !" gumam pria botak yang bertugas untuk mengikat kedua tangan dan kaki Bagas.
"Sudahlah, jangan mengeluh ! Lakukan saja ! Kencangkan ikatannya ! Apa kau mau bos mu marah karena kau tidak kuat mengikatnya !" tegur si tubuh pendek.
"Iya-iya, cerewet sekali ! Eh, apa kau tahu siapa dia ?"
"Entahlah, dan aku rasa itu bukan urusanku, yang terpenting aku dapat uang banyak dari bos ! Dan kamu juga, sebaiknya kamu tidak usah ikut campur !"
"Bukannya begitu, aku hanya penasaran saja ! Sepertinya dia orang baik, aku tidak percaya jika dia bisa memiliki masalah dengan bos ! Sungguh malang nasibnya, bagaimana jika dia mempunyai anak dan istri ?"
"Kenapa kau jadi melankolis begitu ! Sudah, cepatlah ikut dengan benar ! Jika dia sudah bangun, baru tahu rasa kamu !!"
Bersambung....
Jangan lupa like vote n komennya 🙏
__ADS_1