
Aku harus pulang, sesuatu sedang terjadi pada diri Arumi ! Aku tidak bisa membiarkan Arumi tumbuh menjadi gadis pembangkang seperti yang diucapkan gurunya tadi
Batin Bagas sambil mengemasi barang-barangnya. Akhirnya Bagas memutuskan untuk pulang. Rasa cintanya terhadap keponakannya telah mengalahkan keegoisannya untuk tetap bertahan di negara ini.
Bagas segera menekan nomor Gerald.
"Assalamualaikum, pak !" (Gerald)
"Waalaikumsalam. Besok aku akan kembali ke Indonesia. Kau kemarilah, dan urus perusahaan di sini !" (Bagas)
"Baik pak !" (Gerald)
"Ya sudah, aku tutup telponnya. Istirahatlah !" (Bagas)
Bagas pun mengakhiri pembicaraannya. Dia harus beristirahat, menyiapkan tenaganya untuk penerbangan esok hari.
***
Di Singapore.
"Apa hari ini Sisil tidak kemari ?" tanya nyonya Silvi kepada anaknya.
"Tidak ma, mungkin dia sedang sibuk." jawab Aaron.
"Ah sayang sekali, padahal mama ingin memasak dengannya.
"Sudahlah ! Gadis manja seperti dia tuh tidak akan pernah bisa diajari masak."
"Ish kamu ini, kenapa bawaannya sewot terus setiap kali mama menanyakan Sisil. Apa kamu mencintainya.
"Hufs...! bhua... ha.. ha...!" Aaron tertawa keras. "Udah deh ma, jangan mengada-ada. Mana mungkin Aaron mencintai gadis urakan seperti dia!" lanjutnya.
Wajah nyonya Silvi berubah sendu.
"Sayang sekali, padahal mana ingin segera punya mantu perempuan." jawab nyonya Silvi.
"Sudahlah ma, Aaron ke kantor dulu." ujarnya seraya melipat koran yang sedari tadi dibacanya.
***
Tiba di Indonesia. Bagas tidak langsung pulang ke rumah. Dia justru pulang ke apartemen yang telah dibelinya beberapa bulan yang lalu melalui asistennya.
Bagas segera membuka pintu apartemen itu. Begitu tiba di ruang tamu, dia merebahkan dirinya di atas sofa. Bagas melirik jam di tangannya.
Sudah terlalu siang, sebaiknya esok saja aku ke sekolahnya Arumi.
Sementara itu di sekolah Mutiara Bangsa. Kyara tampak begitu kesal karena ternyata walinya Arumi tidak datang.
Ish...., benar-benar ayah yang tidak bertanggungjawab. Dia lebih mementingkan perjalanan bisnisnya ketimbang putrinya sendiri. Ah Arumi yang malang. Sebaiknya aku hubungi istrinya saja.
Kyara segera menemui wali kelas Arumi untuk meminta nomor ibunya Arumi. Tak berapa lama, dia pun kembali ke ruangannya. Dia kemudian menghubungi ibunya Arumi. Panggilan tersambung.
__ADS_1
"Assalamualaikum !" ( Kak Indah)
"Waalaikumsalam. Dengan bu Indah ?" (Kyara)
"Iya saya sendiri. Maaf, siapa ya ?" (kak Indah)
"Saya guru konselingnya Arumi." (Kyara)
"Konseling ? Apa Arumi berbuat kesalahan di sekolahnya ?" (kak Indah terlihat panik)
"Ah tidak ! Saya hanya ingin berbicara tentang perkembangan putri ibu saja. Kemarin saya sudah menghubungi ayahnya dan memintanya untuk datang ke sekolah. Tapi sampai sekarang beliau tidak datang. Apa mungkin beliau lupa ?" (Kyara)
"Ah maaf bu, abinya Arumi memang sangat pelupa. Mungkin dia sibuk. Nanti saya sampaikan kembali pada abinya Arum." (kak Indah)
"Oh berarti beliau sudah pulang dari perjalanan bisnisnya?" (Kyara)
Kak Indah kebingungan.
Siapa yang sedang melakukan perjalanan bisnis ?
"Baiklah bu, tolong bilang kepada beliau. Besok saya tunggu di sekolah pukul 10, assalamualaikum !" (Kyara)
"Baik bu, nanti saya sampaikan kepada abinya Arum. Waalaikumsalam." (kak Indah)
***
Keesokan harinya. Sebelum pergi ke sekolahnya Arumi untuk memberikan kejutan, Bagas pergi dulu ke mall. Ini pertemuan pertamanya dengan keponakan kesayangannya setelah 3 tahun dan Bagas ingin memberikan dia hadiah.
Tok...tok...tok...
"Masuk !"
Ceklek !
Pintu terbuka.
"Assalamualaikum !" sapa Bagas.
"Waalaikumsalam. Silakan duduk, pak !"
Bagas melangkahkan kakinya, dia kemudian duduk di kursi yang telah disediakan untuk para tamu. Bagas membuka kacamatanya.
Pak Budi yang kebetulan kawannya semasa sekolah di SMP langsung terkejut begitu mengenali tamunya.
"Ya Tuhan...! Mimpi apa saya semalam..! CEO BA Group, salah satu perusahaan besar yang merajai bisnis otomotif dunia bisa mampir kemari !" ujar pak Budi girang.
"Ah sudahlah, tidak perlu berlebihan !" jawab Bagas.
"He...he..he, siap bos ! Ada angin apa lo datang kemari ? kapan lo balik dari Jerman ?" tanya pak Budi lagi.
"Kemarin gue baru tiba di sini. Gue pengen ngasih kejutan buat ponakan gue, apa lo bisa bantu ?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Ah ya, Arumi ! Baguslah lo datang. Ada yang harus kita bicarakan tentang Arumi. Tapi untuk lebih jelasnya lo bisa hubungi guru konselingnya nanti. Oke, sekarang apa yang bisa gue bantu ?"
"Tolong beritahu Arum untuk menemui gue di taman belakang. Tapi lo jangan kasih tahu dia kalau gue yang datang !"
"Iya..., iya..., gue ngerti. Sekarang lo pergi ke taman. Gue mau ke kelas ponakan lo itu !"
Mereka berdua pun pergi. Bagas pergi ke taman belakang, sedangkan pak Budi pergi ke kelasnya Arumi.
Tiba di taman. Bagas segera duduk di kursi sudut taman. Tak lama kemudian.
"Maaf, om siapa ? Kenapa om ingin bertemu saya ?"
Ah suara itu...., batin Bagas. Dia pun segera membalikkan badannya.
"Uncle....!" teriak Arumi seraya berlari ke arah Bagas dan memeluknya.
Arumi benar-benar tidak menyangka jika seorang om yang dikatakannya tadi oleh bapak kepala sekolah ternyata orang yang sangat dirindukannya. Arumi pun menangis di pelukan Bagas.
"Hey, baby Arum ! Kenapa menangis ?" tanya Bagas setelah melonggarkan pelukannya.
"Ke... kenapa uncle...hiks...hiks... uncle lama sekali perginya...hu...hu...hu...?"
"Cup... cup...! Sudahlah sayang, sekarang uncle sudah ada di sini buat baby Arum. Sudah ya, jangan nangis lagi !" Bagas berusaha menenangkan Arumi yang sedang menangis karena kerinduan.
"Uncle jangan pergi lagi !" pinta Arumi.
"Iya, uncle tidak akan pergi lagi. Uncle akan selalu ada buat baby Arum. Oh iya, lihatlah ! Uncle bawa sesuatu buat baby Arum. Nih, bukalah !" ujar Bagas seraya menyerahkan kotak besar yang terbungkus rapi.
"Terima kasih uncle !"
Sementara itu. Kyara hendak memberikan laporan perkembangan siswa siswi yang sedang mengalami permasalahan kepada kepala sekolah. Dia memutuskan untuk lewat jalan belakang karena cuaca hari ini cukup tidak bersahabat. Taman belakang selalu memberikan warna dan kesejukan tersendiri bagi orang-orang yang melewatinya.
Tiba-tiba pandangan Kyara menangkap sosok mungil Arumi bersama seorang pria yang hanya terlihat punggungnya saja.
"Hmm, baguslah dia sudah datang !" guman Kyara. "Aku tidak sabar, orang seperti apa dia, yang tega mengabaikan putrinya demi bisnis. Huh, awas saja !" kembali Kyara bergumam. Tanpa sadar, dia sudah berada di dekat mereka.
"Ehm..., permisi ! Apa saya mengganggu ! Saya tidak tahu ya, kalau ternyata tuan orang yang tidak pernah konsisten terhadap waktu. Apa anda tahu, kemarin saya menunggu anda hingga sekolah usai, tapi anda tidak pernah muncul. Dan hari ini, saya meminta anda untuk datang jam 10 pagi, namun anda malah datang jam segini. Saya heran, kenapa orang yang tidak pernah bisa menghargai waktu seperti anda, bisa menjadi seorang pengusaha sukses...!" ujar Kyara geram, yang tanpa sadar karena emosi, dia telah berbicara panjang lebar.
Suara itu....!
Bagas hanya bisa diam mendengar suara panjang lebar seorang wanita di belakangnya. Suara yang tidak pernah hilang dari ingatannya. Dia pun segera membalikkan badannya untuk memastikan pemilik dari suara yang selalu mengisi otaknya setiap malam.
DEG....!
BRAKK....!
"Nona....!"
"Kak Bagas...!
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya ya....