Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Bertemu Tuan Mahesa


__ADS_3

Cecilia kembali ke apartemennya dengan perasaan yang tidak karuan. Dadanya bergemuruh melihat kemesraan yang tampak di foto yang ditunjukkan oleh detektif tadi.


Bagaimanapun juga, aku harus membuat pertunangan mereka hancur ! Tapi bagaimana caranya ? Aku tidak bisa memaksa Ajay untuk memutuskan pertunangannya. Jika itu kulakukan, dia akan berbalik membenciku. Aargghh..., apa yang harus kulakukan..?? batin Cecilia gelisah.


Kata-kata sang detektif tentang pernikahan mereka yang akan dilakukan beberapa bulan lagi, membuat Cecilia semakin frustasi. Jika memang semua itu benar adanya, maka usahanya menjebak Ajay untuk mengakui anaknya, akan sia-sia. Tidak.... tidak...! Itu tidak boleh terjadi ! Aku telah terlanjur jauh melangkah, jadi aku tidak boleh menyerah. Aku harus mencari cara agar Ajay segera menikahiku... tekadnya dalam hati.


***


"Ji, bagaimana dengan design yang akan kita perlihatkan untuk pembangunan proyek Sanjaya group, apa sudah jadi ?" tanya CEO muda perusahaan Delona Group.


"Kebetulan yang merancang design-nya anak magang itu bos, yang bernama Andin." jawab sang asisten.


"Oh, ya..! Bagaimana menurutmu ?" kembali sang CEO bertanya.


"Bos lihatlah sendiri !"


Sang asisten kemudian memperlihatkan video rekaman Andin yang sedang melakukan presentasi untuk mengenalkan hasil rancangannya.


CEO terlihat manggut-manggut dan tersenyum senang pada saat video itu telah berakhir ditontonnya. Sepertinya anak ini berbakat, hmm...aku harus merekrutnya nanti, jika dia sudah lulus kuliah.


"Oke, good job...!" puji sang CEO. "Katakan padanya, hari ini dia ikut meeting dengan perusahaan Sanjaya untuk mempresentasikan secara langsung di hadapan pemilik Sanjaya group !" perintah CEO itu.


"Baik bos !"


Sang asisten segera pamit untuk memberitahukan Andin tentang keinginan bos nya.


"Apa..?? Ja..jadi aku harus ikut meeting siang ini ?" ujar Andin kaget saat sang asisten menemuinya di biliknya untuk menyampaikan keinginan bos perusahaan.


"Iya, Ndin ! Bos bilang, karena rancangan itu hasil karyamu, jadi alangkah lebih baik jika kamu yang mempresentasikannya langsung. Bagaimana ?"


"Tapi..., apa aku bisa, pak ? Bagaimana jika tidak berhasil, dan kita malah kehilangan proyeknya ?" tanya Andin ragu.


"Dicoba saja dulu, Ndin ! Kita nggak akan bisa mengukur sejauh mana kemampuan kita, jika kita belum pernah mencobanya. Yang penting kita lakukan yang terbaik, urusan hasilnya, serahkan saja pada Tuhan !" ujar sang asisten.


Kalimat yang cukup bijak. Membuat Andin sangat bersemangat untuk melakukannya. Benar juga, tidak ada salahnya aku coba... batinnya.


Pukul 11.00.


Andin bersama asisten dan bos perusahaan Delona Group, tiba di lokasi meeting tepat waktu. Seorang pelayan restoran mempersilakan mereka untuk memasuki sebuah ruangan yang memang telah direservasi oleh pihak Sanjaya group.

__ADS_1


10 menit berlalu. Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka. Seorang pria yang sudah berumur lebih dari setengah abad tampak memasuki ruangan.


Seketika tubuh Andin merasa lemas, saat menyadari pria tua yang masih terlihat ketampanannya itu, tak lain adalah eyang Mahesa, kakek dari mantan pacarnya.


Begitu juga dengan tuan Mahesa. Pandangannya terkunci pada sosok Andin yang telah dikenalnya sedari kecil. Sosok yang mulai tidak dia sukai saat mengetahui hubungannya dengan cucunya yang telah bertunangan.


Tapi ini dunia bisnis. Dia tidak boleh mencampur adukkan urusan bisnis dengan urusan pribadinya. Bagaimanapun juga, sosok Mahesa adalah sosok teladan bagi para pengusaha. Dan dia tidak mungkin harus menodai image-nya hanya karena ketidaksukaannya terhadap partner bisnisnya.


"Selamat datang tuan ! Saya benar-benar merasa tersanjung karena ternyata CEO Sanjaya Group, telah meluangkan waktunya untuk memimpin langsung pertemuan kita kali ini !" ujar sang CEO itu sambil menjabat tangan tuan Mahesa.


"Ah, tidak usah terlalu sungkan, tuan. Ini memang sudah kewajiban saya untuk terlibat langsung pada setiap proyek besar yang sedang saya jalankan. Mari..mari..! Silakan duduk, kita mulai acaranya !"


"Ah, ya...! Baiklah tuan. Sebelumnya, perkenalkan ini karyawan baru kami. Design yang akan digunakan untuk proyek pembangunan apartemen mewah anda, kebetulan hasil rancangannya. Untuk itu, saya sengaja ajak dia untuk mempresentasikan langsung hasil karyanya. Silakan Andin !" ujar sang CEO.


Andin pun berdiri, kemudian membungkukkan badannya di hadapan para tamu bosnya. Setelah dirasa cukup memperkenalkan dirinya, dia pun kemudian mempresentasikan hasil rancangannya untuk proyek yang akan dibangun oleh Sanjaya Group.


Prok...prok...prok...


Semua peserta meeting bertepuk tangan riuh saat Andin mengakhiri presentasinya. Tidak bisa dipungkiri, tuan Mahesa pun sangat tertarik dengan hasil presentasi Andin. Tak lama kemudian, kesepakatan pun mulai terjalin di antara kedua perusahaan itu.


"Baiklah tuan, penandatanganan kontrak kerja sama kita telah selesai. Jika tidak ada yang harus dibicarakan lagi, kami hendak pamit dulu." ujar sang CEO perusahaan Delona Group.


"Maaf, boleh saya berbicara empat mata dengan karyawan baru anda ?" tanya tuan Mahesa seraya menatap Andin.


"Anda tidak usah khawatir, nanti sopir saya yang mengantarkan karyawan anda pulang !" lanjut tuan Mahesa.


"Baiklah, kalau begitu, kami permisi dulu !" pamitnya.


Akhirnya, CEO perusahaan beserta asistennya pulang dan meninggalkan Andin di tempat itu.


"Tolong tinggalkan kami berdua !" perintah tuan Mahesa kepada asistennya.


Renald, asisten kepercayaan tuan Mahesa, mengangguk dan segera meninggalkan tuannya beserta gadis itu.


Andin diam dengan perasaan yang tidak menentu. Kira-kira, apa yang akan dibicarakan eyang Mahesa ? batinnya.


"Ehm...! Baiklah nak Andin, eyang tidak akan berbasa-basi. Eyang tahu hubunganmu dengan cucu eyang. Asal kamu tahu nak, Ajay sudah memiliki tunangan. Eyang harap, kamu bisa mengerti dan mulai menjauhi Ajay. Eyang tidak mau jika pada akhirnya, kamu akan tersakiti. Karena, bagaimanapun juga, Ajay akan menikahi tunangannya. Kamu paham, nak !"


Andin hanya mampu terdiam mendengar kata demi kata yang meluncur dari mulut tuan Mahesa. Kata-kata lembut namun penuh ketegasan.

__ADS_1


"Se... sebelumnya, Andin... Andin minta maaf eyang, karena sudah menjadi duri dalam hubungan cucu eyang dengan kekasihnya. Tapi percayalah, jika saat ini eyang meminta Andin untuk menjauhi Ajay, maka permintaan eyang sia-sia." ujar Andin.


"Apa ini artinya, kamu tidak akan melepaskan Ajay ?" tanya tuan Mahesa.


"Bu...bukan eyang. Bukan seperti itu ! Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu, hubungan kami telah berakhir." jawab Andin, menundukkan kepalanya.


"Maksud kamu, nak..?"


"Mungkin..., mungkin.. ini karma Andin karena telah merebut Ajay dari Kyara. Dan sekarang, Andin pun merasakan sakit ini eyang... hiks... hiks...!" Andin mulai terisak.


Tuan Mahesa menatap tajam Andin.


"Katakan !"


Andin menyeka air matanya, dia menatap sayu ke arah tuan Mahesa. Sejenak dia menghela napasnya, berat.


"Ajay..., Ajay telah berselingkuh ! Dan wanita yang saat ini dekat dengannya, adalah sahabat Andin sendiri, namanya Cecilia Maharani. Jadi jika eyang meminta Andin untuk menjauhi Ajay, semua itu percuma ! Seharusnya eyang meminta hal ini dari Cecilia. Karena saat ini, Cecilia lah orang yang dekat dengan Ajay.


Deg...


Tuan Mahesa memegang dada kirinya yang mulai terasa sakit. Kabar perselingkuhan cucunya mulai mempengaruhi kesehatan jantungnya.


"Renald...!!" teriaknya.


Asisten tuan Mahesa segera memasuki kembali ruangan itu.


"Saya, tuan !" ujarnya seraya membungkukkan badannya.


"Telpon Rahmat untuk segera mengantar nona Andin kembali ke perusahaan tempat dia bekerja. Dan kau, antarkan aku pulang !" perintahnya.


"Baik tuan !"


Renald pun segera menghubungi sopir pribadi tuannya.


"Baiklah, nak Andin. Terima kasih atas informasinya !"


Tuan Mahesa pergi sambil tangannya terus memegangi dada sebelah kirinya yang semakin terasa sakit.


Bersambung...

__ADS_1


Pagi semuanya...


Jangan lupa untuk selalu dukung karya ini dengan cara like vote n komen...🙏🙏


__ADS_2