Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Depresi


__ADS_3

BRAKK....!


PRANGG...!


BRUGH....!


"Astaghfirullah hal adzim... ! Ada apa lagi ini, bik...?" tanya Bima saat dia sedang mampir ke rumah kakaknya.


"Sepertinya den Ajay ngamuk lagi, den !" jawab bi Surti


"Ya Allah...!"


Bima segera berlari menuju kamar kakaknya.


Tok....tok...tok...!


Bima mengetuk pintu kamar Ajay, namun tak ada jawaban.


Tok...tok....tok...


Kembali Bima mengetuknya, masih tak ada jawaban.


"Bug....bug...bug...


Kali ini Bima menggedor pintu kamar kakaknya, namun masih tetap tak ada jawaban. Karena merasa cemas, akhirnya Bima berusaha mendobrak pintu kamarnya Ajay.


Brugh....


Brugh....


Brugh....


Dalam dobrakan ketiga, pintu kamar baru bisa terbuka. Di sekeliling ruangan itu tampak seperti kapal pecah. Beberapa barang sudah tergeletak di lantai tak karuan. Asbak telah mendarat di meja rias bersama pecahan cermin yang berserakan di sekitarnya. Sepertinya Ajay melemparkan benda itu ke arah cermin.


"Kakak, apa yang kau lakukan !" teriak Bima saat melihat Ajay tergelak di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya.


Bima berusaha menyingkap tangan kanan Ajay yang menutupi pergelangan tangan kirinya. Saat tangan itu terhempas, tampak darah yang keluar dari pergelangan tangan kakaknya.


"Astaghfirullah hal adzim...., apa kau sudah gila !" teriak Bima


Sreekk....!


Dengan cepat Bima meraih sprei, kemudian merobeknya sedikit. Setelah itu dia mengikat pergelangan tangan kakaknya menggunakan sprei tersebut untuk menghentikan darah yang terus mengalir.


"Lepas....! Lepaskan aku...! Aku ingin mati...! Aku ingin menemui anakku... ! Lepaskan aku...!"


Ajay berteriak-teriak dan berusaha melepaskan ikatan sprei tersebut dari tangannya. Namun Bima menahannya.


"Bik, tolong panggilkan mang Ujang, cepat !" perintah Bima.


"I... iya den...!" jawab bi Surti.


Bik Surti segera berlari untuk memanggil penjaga keamanan di rumah tuan besarnya.


"Ada apa bik ? Kenapa berlari seperti itu ?" tanya nyonya Diana yang kebetulan baru pulang dari arisannya.


"I..itu nyonya...., anu..., den Ajay..., den Ajay ngamuk lagi ! Dia..., dia mau bunuh diri lagi, nyonya !" jawab bi Surti.


"Apa ! Pak cepat belokkan mobilnya ke rumah Ajay !" perintah nyonya Diana.


Mobil pun kembali berbalik arah menuju rumah Ajay. Begitu tiba di halaman depan, nyonya Diana segera turun dari mobilnya. Dia langsung menuju kamar Ajay.


"Astaga...! Apa yang terjadi Bim !" tanya nyonya Diana panik.


"Kak Ajay mencoba bunuh diri, mih ! Kita harus bawa dia ke rumah sakit ! Sepertinya lukanya sangat dalam, mih ! Darahnya tidak mau berhenti !" jawab Bima yang juga sangat panik ketika pergelangan tangan Ajay terus mengeluarkan darah.


"Lepaskan aku...! Kya...aku mohon, maafkan aku...., maafkan aku....! Lepaskan aku ! Aku ingin bertemu anakku ! Maafkan papa nak ..! Papa sudah tega mengambil hidupmu...! Maafkan papa...!"


Ajay terus meracau lemah. Tubuhnya sudah terasa lemas.


"Ayo cepat, angkat dia Bim ! Kita bawa dia ke rumah sakit !" perintah nyonya Diana.


Bima mengangkat tubuh lemah kakaknya dan membawanya memasuki mobil mamihnya. Sejurus kemudian mobil pun melaju cepat menuju rumah sakit.


"Bik, tolong beritahu tuan untuk segera menyusul kami ke rumah sakit Insan Medika !" perintah nyonya Diana sebelum dia memasuki mobilnya.


Setengah jam kemudian, mobil pun tiba di rumah sakit. Di depan lobi rumah sakit tampak dua orang perawat yang tengah bersiap menunggu kedatangan mereka. Sebelumnya nyonya Diana menghubungi pihak rumah sakit agar Ajay bisa segera ditangani.


Tubuh lemah Ajay segera dibaringkan di atas brankar. Setelah itu kedua perawat tadi mendorong brankar itu menuju ruang IGD. Bima segera menuju ruang pendaftaran. Sementara itu nyonya Diana mengikuti perawat yang membawa Ajay ke ruang IGD.


Tiba di ruang IGD, dokter Firman yang tak lain putra dari dokter Joni sahabatnya almarhum eyang Mahesa, segera menangani Ajay. Ya ! Sejak dokter Joni pensiun, posisi dokter keluarga Sanjaya diwariskan kepada dokter Firman.


"Gimana, mih ?" tanya Bima setelah selesai mengurus administrasi kakaknya.


"Ma... masih ditangani dokter di dalam, Bim !" ujar nyonya Diana cemas.


"Tidak usah khawatir, kak Ajay pasti sembuh, mih !" ujar Bima merangkul pundak ibunya.


"Semoga saja, Bim ! Mamih cemas Bim, ini sudah ketiga kalinya kakakmu mencoba untuk bunuh diri." ujar nyonya Diana penuh kesedihan.

__ADS_1


"Apa...! Kenapa mamih nggak cerita ke Bima ?" tanya Bima kaget.


Ya ! Selama ini Bima memang tidak tinggal di rumahnya, karena Bima melanjutkan pendidikannya di kota J. Dia pun memutuskan untuk nge kost di sana.


"Maaf Bim, mamih dan papih hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi belajarmu. Karena itu mamih tidak memberitahumu tentang kondisi Ajay yang sebenarnya."


"Terus, apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Bima.


"Kamu tahu kan seminggu setelah kakakmu keluar dari rumah sakit, dia selalu mengurung diri di kamarnya ?"


Bima mengangguk.


"Setelah kamu kembali ke kota J, tepatnya 2 minggu setelah kepergianmu, kakakmu mulai sering mengamuk di kamarnya. Dia selalu melemparkan apa yang bisa dia gapai. Setelah lelah, dia pun mulai menangis dan memanggil nama Kyara. Terkadang dalam tidurnya dia meracau meminta maaf karena telah membunuhnya. Mamih sendiri tidak tahu apa maksudnya."


Nyonya Diana menghela napasnya kala mengingat kembali deretan peristiwa yang menimpa putra sulungnya.


"Mamih bingung harus berbuat apa lagi. Puncak kekacauannya terjadi pada saat mamih menyuruh Surti untuk membuang seluruh mainan Danisa. Tiba-tiba saja Ajay menyambar sebuah boneka baby, dan menganggapnya jika itu adalah anaknya. Ajay menjaga boneka itu penuh kasih sayang. Terkadang dia mengajak boneka itu berbicara, namun terkadang dia menangisi boneka itu dan meminta maaf. Mamih pernah meminta dokter Firman untuk memeriksanya. Tapi dokter Firman malah menyuruh mamih untuk membawa Ajay ke seorang psikiater. Tentu saja mamih menolaknya, karena mamih merasa, Ajay bukan orang gila. Tapi mamih benar-benar tidak menyangka jika Ajay tega menyakiti dirinya sendiri. Mamih bingung, Bim...!" ujar nyonya Diana menjelaskan apa yang terjadi pada diri anaknya selama ini.


"Sudahlah mih...! Untuk saat ini, kita do'akan saja semoga luka kak Ajay tidak terlalu serius. Ke depannya, kita konsul lagi dengan dokter Firman apa yang harus kita lakukan untuk menyembuhkan kakak." Bima berusaha menenangkan ibunya.


Selang beberapa menit, tuan Ali pun tiba di rumah sakit. Setelah mencari tahu tentang keberadaan putranya, tuan Ali segera pergi ke ruang IGD. Tiba di sana, dia melihat istri dan anak bungsunya tengah duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaannya, Bim ?" tanya tuan Ali pada anak bungsunya.


"Masih ditangani dokter, pih." jawab Bima.


"Ya Allah...., cobaan apalagi ini ?" gumam tuan Ali sambil mengusap kasar wajahnya.


"Sabar, pih !" ujar Bima.


Satu setengah jam kemudian pintu ruang IGD terbuka.


"Bagaimana dok ?" tanya tuan Ali.


"Kita bicarakan di ruanganku, om ! Mari !" ujar dokter Firman.


"Apa kakakku sudah boleh dijenguk, dok ?" tanya Bima.


"Sebentar lagi kakakmu akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Sebelum kalian menjenguk Ajay, sebaiknya kalian ikut saya ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan." ujar dokter Firman.


Setelah itu mereka pun berjalan beriringan menuju ruangannya dokter Firman.


"Silakan duduk om, tante, Bima juga !"


Dokter Firman mempersilakan tamunya untuk duduk. Mereka pun duduk berhadapan dengan dokter Firman.


"Begini tante, sebenarnya Firman merasa cemas dengan keadaan Ajay. Jika dihitung, ini perbuatan Ajay yang ketiga kalinya. Dan kali ini lukanya pun cukup serius. Menurut Firman, sebaiknya Ajay segera dibawa ke psikiater. Jika tidak segera ditangani, maka depresinya akan semakin fatal."


"Jika kami membawanya ke psikiater, apa ada kemungkinan untuk sembuh, nak ?" tanya tuan Ali.


"Untuk pasien yang mengalami gangguan psikis, tingkat kesembuhannya tergantung pada usaha si pasien itu sendiri. Tapi setidaknya, jika Ajay ditangani orang yang tepat, dia bisa sedikit lebih tenang sehingga tidak berbuat sesuatu yang akan membahayakan dirinya, om."


"Bagaimana ini pih ?" ujar nyonya Diana cemas.


"Saya memiliki kenalan seorang psikiater yang sangat hebat. Alhamdulillah, selama ini sudah banyak pasien yang sembuh di tangannya. Beliau melakukan terapi pengobatannya melalui hypnotheraphy."


Dokter Firman kemudian mengambil kartu nama dari dalam laci mejanya.


"Ini kartu nama dan alamat prakteknya. Jika om dan tante berkenan, saya bisa menghubungi beliau untuk membuat jadwal terapi. Untuk sementara, kita harus bisa menyembuhkan psikis nya dulu, setelah itu baru kita bisa berupaya untuk kesembuhan fisiknya." ujar dokter Firman.


"Baiklah nak, nanti kami akan coba pikirkan kembali."


"Iya om, hanya itu yang ingin Firman sampaikan. Firman harap, om bisa secepatnya mengambil keputusan. Mudah-mudahan Ajay bisa segera sembuh.


"Aamiin, kalau begitu kami permisi dulu !"


Tuan Ali, nyonya Diana dan Bima pun keluar dari ruangan dokter Firman. Mereka kemudian menuju kamar rawatnya Ajay. Tiba di sana, mereka sangat terguncang melihat Ajay terbaring lemah tak berdaya. Nyonya Diana segera menghambur untuk memeluk anaknya.


Merasa ada sesuatu yang menimpa tubuhnya, Ajay pun membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"A...aku... pasti..ber..buat bodoh... lagi, ya mih...!" ujar Ajay mencoba tersenyum.


"Sayang, mamih mohon..., jangan seperti ini terus ! Hati mamih sakit melihatnya, nak ! Hiks.... hiks...!" ujar nyonya Diana sembari terisak dalam pelukan putranya.


"Ma..mamih...! A... apa anak Ajay, bi... bisa memaafkan per... perbuatan Ajay pa... padanya...?" tanya Ajay terbata-bata.


"Sadarlah nak ! Danisa bukan anakmu, dan kematian Danisa, bukan kesalahanmu ! Mamih mohon, jangan terlalu menyiksa dirimu dengan perasaan bersalahmu, nak !" ujar nyonya Diana.


"Bu.. bukan Danisa...mih, ta... tapi anak Ajay..., satu... satunya a... anak Ajay mih...! Ajay membunuhnya....! Se... setiap malam, di... dia bertanya pada Ajay, ke... kenapa Ajay membunuhnya...! A... Ajay bersalah..., A.. Ajay khi... khilaf mih...., sayang... maafin pa..pa nak...hu...huuuu...!"


Ajay kembali meracau tentang sesuatu yang sama sekali tidak pernah di mengerti oleh kedua orang tuanya.


Bima tampak berpikir keras tentang apa yang baru saja didengarnya.


Anak....? Membunuhnya...? Bukan Danisa...? Lalu siapa anak yang dimaksud oleh kak Ajay ? Kenapa kak Ajay begitu meratapi kematian anak itu...? Siapa anak yang di maksud oleh kak Ajay...?


Setelah mendapatkan suntikan penenang, akhirnya Ajay pun mulai bisa tertidur.


"Apa Bima boleh melihat kartu nama dokter psikiater itu pih ?" tanya Bima.

__ADS_1


Tuan Ali merogoh saku kemejanya dan menyerahkan kartu nama yang tadi diberikan dokter Firman.


Bima mengamati kartu nama tersebut.


"Sepertinya Bima tahu alamat ini. Apa tidak sebaiknya kita bawa kak Ajay ke sana saja, pih !" tanya Bima lagi.


"Papih juga berpikir seperti itu, tapi bagaimana dengan mamih. Bukankah mamih tidak mengizinkan Ajay dirawat oleh psikiater ?" tanya tuan Ali kepada istrinya.


"Eng... enggak pih ! Sekarang mamih setuju Ajay ditangani oleh dokter psikiater. Mamih nggak mau Ajay tambah depresi. Mamih ingin Ajay sembuh, pih !" jawab nyonya Diana.


"Iya, mih ! Setelah keluar dari sini, kita akan segera membawa Ajay untuk diobati. Semoga saja Ajay bisa segera sembuh." ujar tuan Ali.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tampak Kyara dan Bagas tidur terlentang di rumput sintetis yang berada di tengah-tengah taman kota.


"Apa kau mau pulang sekarang ?" tanya Bagas kepada istrinya yang masih menikmati suasana malam di taman.


"Apa kita tidak bisa lebih lama lagi menikmati bintang-bintang itu, kang ?" Kyara malah balik bertanya.


"Ish sayang, ini sudah malam. Anginnya sudah tidak baik untuk kesehatanmu. Lagipula kamu tidak memakai jaket. Kita pulang saja ya ? Kita bisa menikmati bintang-bintang itu dari balkon apartemen kita." bujuk Bagas kepada istrinya.


"Baiklah, ayo kita pulang. Tapi sebelum itu, aku mau beli martabak dulu, boleh ya ?" ujar Kyara melirik suaminya.


"Tentu saja boleh, nyonya Anggara...!" jawab Bagas seraya menarik pelan hidung Kyara.


"Ish, kakang...! Saakiit...!" rengek Kyara sambil mengerucutkan bibirnya.


Melihat hal itu, Bagas tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia pun mengecup sekilas bibir mungil istrinya.


Setelah membeli martabak kesukaannya, akhirnya Bagas dan Kyara memutuskan untuk pulang. Namun di tengah jalan,


Tes....


Tes...


Tes...


"Sepertinya hujan, nona !" ucap Bagas.


"Iya kang...! Ish, hujannya tambah deras lagi !" jawab Kyara.


"Aku kan sudah bilang, sebaiknya tadi kita gunakan mobil saja !" ujar Bagas terkesan menyalahkan keinginan Kyara.


"Ish kakang, aku kan tidak tahu jika cuacanya akan seperti ini. Bukankah pada saat berangkat, cuacanya cerah-cerah saja ? Ya mana kutahu akan terjadi hujan !" gerutu Kyara kesal karena Bagas seperti sedang menyalahkannya.


"Iya-iya, aku tidak menyalahkanmu sayang. Lalu bagaimana, apa kita berteduh dulu ?" tanya Bagas.


"Nggak usah kang ! Kita lanjut pulang saja !" ajak Kyara.


"Apa kau yakin ? Ini hujannya deras loh !" jawab Bagas.


"Aku yakin kang ! Nggak apa-apa, sekali-kali kita main hujan-hujanan saja...he...he...he..." Kyara malah terkekeh gembira.


"Ish, bagaimana jika nanti kamu sakit ! Kita neduh dulu, ya ?" bujuk Bagas.


"Tanggung kang, bentar lagi sampai !" jawab Kyara.


"Ya sudah, terserah kamu saja !"


Akhirnya Bagas pun menyerah dan mulai mengikuti keinginan istrinya.


Bagas semakin menambah kecepatan laju motornya agar segera sampai di apartemennya.


Kyara merentangkan kedua tangannya. Dia menengadahkan wajahnya membiarkan air hujan terus menetes di wajahnya. Dia benar-benar merasa bebas.


"Aaaaaahhhhhh.....!" teriak Kyara lepas.


"Tuhaaaaannnn....., terima kasih untuk semuanyaaa....!" kembali Kyara berteriak.


Setelah itu kedua tangannya memeluk Bagas dengan erat. Dia mulai menyandarkan wajahnya di punggung Bagas.


"Terima kasih kakang...! Terima kasih sudah datang di hidupku...!" bisiknya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Bagas.


Bagas tersenyum. Dia pun menarik tangan kyara dan mengecupnya.


Terima kasih nona ! Terima kasih kau telah mengizinkan aku mendampingi hidupmu...!


Setengah jam kemudian mereka tiba di apartemennya.


"Cepat mandilah pakai air hangat, supaya tidak masuk angin !" perintah Bagas.


Kyara mengangguk. Setelah itu....


Bersambung...


🤭🤭 Lanjut nanti malam ya gaiss....


Jangan lupa like vote n komennya 🙏

__ADS_1


__ADS_2